5 Perbedaan Gereja Ortodoks Timur Dengan Ortodoks Oriental

Artikel ini membahas tentang 7 perbedaan utama antara Gereja Ortodoks Timur dengan Gereja Ortodoks Oriental.

Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Ortodoks Oriental adalah dua aliran gereja besar dalam agama Kristen.

Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Ortodoks Oriental termasuk gereja-gereja Kristen yang sudah sangat tua.

Kedua gereja tersebut merupakan Gereja Timur, pecahan dari Gereja Katolik pada abad ke-5 dan abad-11 Masehi.

Baca juga: 7 Perbedaan Gereja Katolik Dengan Gereja Ortodoks Timur

Seperti halnya gereja Katolik, kedua gereja ini juga mengklaim bahwa mereka adalah gereja satu-satunya, yang kudus, katolik (umum), dan yang apostolik, yang didirikan oleh Tuhan Yesus, dan bahwa bishop-bishop mereka adalah para pengganti rasul-rasul.

Sepintas, kedua gereja besar ini sangat mirip.

Tetapi, sekalipun masih sama-sama Kristen Ortodoks, Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Ortodoks Oriental mempunyai sejumlah perbedaan yang bisa dikenali.

Perbedaan-perbedaan tersebut mencakup sejarah, tradisi, ajaran/doktrin, ritus, liturgi/tata ibadah, dan organisasi gereja.

Baca juga: 30 Perbedaan Kristen Katolik Dengan Kristen Protestan

Mulai dari perbedaan kecil dalam hal budaya dan liturgi, hingga perbedaan yang sangat besar, yang mencakup perbedaan dalam doktrin/ajaran gereja.

Perbedaan-perbedaan antara Gereja Ortodoks Timur dengan Gereja Ortodoks Oriental ini terutama timbul karena cara yang berbeda dalam hal menafsir Alkitab dan dalam hal tradisi gereja.

Baca juga: 7 Perbedaan Gereja Pentakosta Dengan Gereja Karismatik

Namun banyak orang, bahkan jemaat Gereja Ortodoks Timur dan Ortodoks Oriental sendiri, yang belum tahu perbedaan di antara Gereja Ortodoks Timur dengan Gereja Ortodoks Oriental.

Karena itulah artikel kali ini akan membahas tentang 5 perbedaan utama antara Gereja Ortodoks Timur dengan Gereja Ortodoks Oriental.

Apa sajakah kelima perbedaan tersebut?

Berikut daftarnya dan sedikit penjelasannya.

 

1. Perbedaan Dalam Hal Kristologi

Perbedaan antara Gereja Ortodoks Timur dengan Gereja Ortodoks Oriental yang pertama adalah dalam hal Kristologi.

Gereja-gereja Ortodoks Oriental memisahkan diri dari gereja Katolik (Gereja Ortodoks Timur saat itu masih bagian dari gereja Katolik) tahun 451 Masehi.

Penyebabnya, Gereja-gereja Ortodoks Oriental tidak setuju dengan hasil konsili gereja di Kalsedon (Chalcedon), yakni Konsili Kalsedon tahun 451 M.

Konsili Kalsedon, atau konsili ekumene keempat gereja, memutuskan bahwa Kristus mempunyai satu pribadi dengan dua natur yang berbeda, yakni yang ilahi dan yang insani, yang bersatu sedemikian tanpa terpisahkan, tetapi tidak berbaur.

Inilah yang disebut dengan istilah duopisit (Dyophysite).

Gereja-gereja Ortodoks Oriental menolak hasil Konsili Kalsedon ini dan mengajukan pandangan monopisit (monophysite) atau belakangan memakai istilah miapisit (miaphysite).

Monopisit berpandangan bahwa setelah berinkarnasi, Kristus hanya mempunyai satu (mono) natur, yakni natur ilahi atau natur ‘gabungan’ ilahi dan insani.

Gereja-gereja Ortodoks Oriental hanya mengakui tiga konsili gereja yang pertama (konsili Nicea, tahun 325 M, konsili Konstantinopel yang pertama, tahun 381, dan konsili Efesus, tahun 431).

Mereka tidak mengikuti/mengakui lagi konsili-konsili gereja berikutnya, sejak konsili kekempat di Kalsedon.

Karena Gereja-gereja Ortodoks Timur masih menjadi bagian dari gereja Katolik pada saat Konsili Kalsedon tahun 451 Masehi, maka tentu mereka juga menganut Kristologi Duopisit.

 

2. Perbedaan Dalam Hal Denominasi Gereja

Perbedaan antara Gereja Ortodoks Timur dengan Gereja Ortodoks Oriental yang kedua adalah dalam hal denominasi gereja.

Gereja Ortodoks Timur terdiri dari 16 gereja yang kedudukannya setara satu sama lain.

Ke 16 Gereja Ortodoks Timur tersebut adalah: Gereja Ortodoks Rusia, Yunani, Ukraina, Bulgaria, Rumania, Polandia, Siprus, Georgia, Serbia, Ceko-Slovakia, Amerika Serikat, Albania, Alexandria, Yerusalem, Antiokhia, dan Konstantinopel.

Gereja-gereja ini banyak yang menjadi gereja negara, seperti di Rusia, Yunani, dan Ukraina.

Sedangkan Gereja Ortodoks Oriental hanya  terdiri dari 6 gereja yang masing-masing dipimpin oleh bishop/uskup, tetapi kedudukannya setara, sama halnya dengan Gereja Ortodoks Timur (tidak ada pimpinan tertinggi seperti Paus di gereja Katolik).

Keenam gereja Oriental tersebut adalah: gereja Koptik (Mesir), Gereja Armenia, Gereja Antiokhia Siria, gereja Ethiopia, gereja Eritrea, dan gereja Malankara (India).

Gereja-gereja ini juga ada yang menjadi gereja negara, seperti di Armenia.

 

3. Perbedaan Dalam Hal Ritual Ibadah

Perbedaan antara Gereja Ortodoks Timur dengan Gereja Ortodoks Oriental yang ketiga adalah dalam hal ritual ibadah.

Baik Gereja Ortodoks Timur maupun Gereja Ortodoks Oriental, masing-masing mempunyai ritual ibadah/tata ibadah/liturgi sendiri.

Gereja Ortodoks Timur misalnya, mempunyai 5 macam liturgi, termasuk untuk ibadah harian.

Ritual ibadah tersebut cukup seragam di antara Gereja-gereja Ortodoks Timur.

Sementara ritual ibadah di antara Gereja-gereja Ortodoks Oriental cukup beragam satu sama lainnya.

 

4 komentar untuk “5 Perbedaan Gereja Ortodoks Timur Dengan Ortodoks Oriental”

  1. Ardi M. Bhaswara

    Shalom. Trims atas Infonya. Sungguh mencerahkan dan membuka wawasan pengetahuan terhadap realita perjalanan rohani saudara/i seiman dari gereja lain. Kalau bisa, boleh semakin diperdalam terhadap kompleksitasnya dan lebih komprehensif. Teruslah berkarya. Trims.

  2. Terima kasih, sangat mencerahkan pemahaman saya tentang dua aliran gereja Ortodoks ini. Bahkan menghapus anggapan negatif tentang gereja Kristen Ortodoks Syiria. Kita semua bersaudara.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!