7 Cara Berdoa Yang Benar Menurut Alkitab

2-11-black-woman-purple-jumper-praying-11

Ketika kita berdoa kepada Tuhan, kita harus berdoa dengan cara yang berkenan kepadaNya. Dalam doa Kristen, masalah tempat, waktu, durasi, dan frekuensi doa sebenarnya tidaklah mengikat dan kaku, kita fleksibel dalam hal-hal tersebut, sebagaimana bisa kita lihat di Alkitab.

Namun demikian, ketika kita menghadap Tuhan dalam doa, kita sudah seharusnya berdoa dengan cara yang benar.

Baca juga: 7 Syarat Agar Doa Dikabulkan

Baca juga: 7 Penghalang Sehingga Doa Tidak Dikabulkan

Doa seperti apakah yang benar dan berkenan kepada Tuhan? Alkitab mencatat beberapa contohnya. Dan di sini akan dicantumkan 7 di antaranya.

Berikut pembahasannya.

 

1.Memandang Allah Sebagai Bapa

Cara pertama dalam berdoa yang benar adalah dengan memandang Allah sebagai Bapa kita.

Doa adalah hubungan komunikasi antara kita dengan Allah, antara kita sebagai anak-anakNya dengan Allah sebagai Bapa kita. Allah adalah Bapa kita dan kita adalah anak-anakNya karena kepercayaan kita kepada Tuhan Yesus (Yohanes 1:12).

Kita harus memandang Allah itu sebagai Bapa kita. Ketika kita memandangNya sebagai Bapa sorgawi kita, maka doa bagi kita seharusnya bukanlah sesuatu yang bersifat formil. Ketika kita berdoa berarti kita sedang berkomunikasi dengan Bapa kita, seperti kita berkomunikasi dan berbincang-bincang dengan bapa kita secara jasmani.

Dalam khotbah Tuhan Yesus, yang terkenal sebagai “Khotbah di bukit”, Dia mengajar murid-muridNya agar memandang Allah itu sebagai Bapa mereka.

“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah namaMu.” (Matius 6:10).

Karena itu kita tidak boleh mendatangi Allah dalam doa seperti orang yang berhadapan dengan seorang raja yang menakutkan. Di dalam doa kita, kita tidak perlu dan tidak boleh merasa takut kepadaNya. Malahan sebaliknya, kita harus merasa senang, karena kita bertemu dengan Bapa sorgawi kita.

Dan karena itu pula kita tidak perlu menghadapNya dengan mengatur kata-kata kita sedemikian rupa, apalagi menghafalkannya, agar Ia mendengarkan doa kita.

Dalam banyak agama atau kepercayaan, ada kalanya doa itu dipandang seperti mantera, yang harus menggunakan kata-kata tertentu agar doanya manjur. Namun dalam doa Kristen, kita berhadapan dengan “seorang” Pribadi, yaitu Bapa kita.

Karena itu kita tidak perlu menggunakan kata-kata tertentu untuk berbicara denganNya. Ketika kita berbicara dengan bapa jasmani kita, kita tidak perlu menggunakan kata-kata tertentu agar kita didengarkannya bukan?

Tidak heran, dalam setiap pengajaranNya kepada murid-muridNya, Tuhan Yesus selalu memakai istilah “Bapa” atau “Bapamu”, bukan “Allah” atau “Tuhan”, yang kesannya lebih formil.

Demikian juga dalam hal doa, Yesus selalu memakai istilah “Bapa”, termasuk dalam doa yang diajarkanNya kepada murid-muridNya, yang terkenal sebagai doa “Bapa Kami”, seperti yang dikutip sebagian dalam ayat di atas.

Kita menyebut: “Bapa” kami yang di Sorga, bukan: “Allah” atau ”Tuhan” kami yang di Sorga, sekalipun menyebutkan Allah atau Tuhan dalam doa kita juga tidak salah. Tetapi menyebut/memanggil Allah sebagai Bapa adalah ajaran yang lebih umum dari Yesus kepada murid-muridNya.

Oleh karena itu, di dalam doa-doa kita, kita sudah seharusnya lebih akrab lagi berbicara kepada Allah, sebab Ia adalah Bapa sorgawi kita.

 

2. Memiliki Hati Yang Bersih

Tuhan ingin agar kita mempunyai hidup yang bersih di hadapanNya tanpa dikotori oleh hal-hal yang tidak berkenan kepadaNya.

Kepada Timotius, gembala jemaat di kota Efesus, rasul Paulus berkata,

“Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.” (1 Timotius 2:8).

(Firman Tuhan di atas tentu tidak hanya berlaku untuk laki-laki saja, tetapi juga untuk perempuan, walaupun firman itu dahulu ditujukan kepada laki-laki).

Dalam agama-agama/kepercayaan-kepercayaan lain, sangat ditekankan pentingnya kebersihan tubuh/jasmani ketika mereka menghadap Tuhan dalam doa mereka. Namun dalam kekristenan, kita dituntut untuk membersihkan hidup (hati dan pikiran) kita di hadapanNya.

Kebersihan fisik/tubuh tidaklah berarti di hadapan Tuhan jika kita mempunyai hidup yang tidak bersih/kotor. Tentu saja kita perlu menjaga kebersihan tubuh dalam berdoa, khususnya dalam doa bersama dengan orang lain, namun kebersihan hati dan pikiranlah yang dilihat oleh Tuhan.

Kekristenan berbicara mengenai hal-hal batiniah (hati/pikiran), bukan hal-hal yang lahiriah, seperti penampilan fisik dan kebersihan tubuh jasmani. Sebab kita menghadap Allah yang Maha Kudus.

Ketika kita berdoa hendaklah kita memeriksa terlebih dahulu hidup kita, apakah masih ada hal-hal yang mencemari hidup, hati dan pikiran kita, yang membuat kita tidak layak menghadap Tuhan. Jika ada, kita harus meminta Ia membersihkanNya terlebih dahulu, agar kita bisa menghadapNya dengan layak.

 

3. Menghormati Tuhan

Kita harus hormat kepada Tuhan dalam berdoa. Kita harus bersungguh-sungguh dalam doa kita, kita tidak boleh bermain-main dalam berdoa. Memang Allah adalah Bapa kita, namun Ia juga adalah Tuhan yang Besar, yang Agung, yang layak untuk dihormati.

Fakta bahwa Ia adalah Bapa kita tidak bisa mengurangi rasa hormat kita kepadaNya. Malahan sebaliknya, karena Dia adalah Bapa kita maka kita harus lebih menghormati Dia lagi. (kita tidak menjadi kurang hormat kepada bapa jasmani kita hanya karena ia adalah bapa kita bukan?).

Penulis Surat Ibrani berkata,

“Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (Ibrani 12:28).

Memang kita tidak perlu takut kepadaNya, tetapi kita harus menghormatiNya. Takut dalam pengertian umum, yang membuat kita tidak berani menghadapNya, adalah sikap yang salah. Tetapi “takut” kepadaNya dalam pengertian bersikap “hormat” adalah sebuah keharusan. (dalam pengertian inilah Alkitab mengajarkan kita untuk takut kepada Tuhan).

Di dalam setiap ibadah kita, termasuk di dalam doa, kita harus senantiasa menaruh rasa hormat kita kepada Tuhan. Di satu sisi kita tidak boleh terlalu formal dalam berdoa, tetapi di sisi yang lain kita juga tidak boleh bermain-main dalam doa kita.

 

4. Mengampuni Orang Lain

Cara berdoa lainnya yang berkenan kepada Tuhan adalah berdoa dengan mengampuni orang lain. Ini adalah ajaran Tuhan Yesus kepada murid-muridNya.

Tuhan Yesus mengajarkan murid-muridNya tentang hubungan antara doa dengan pengampunan. Ia mengajarkan mereka agar mengampuni orang lain terlebih dahulu sebelum mereka berdoa kepada Tuhan.

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (Markus 11:25).

Dalam kutipan ayat firman Tuhan di atas disebutkan bahwa jika kita berdoa, dan kita masih mempunyai sesuatu yang mengganjal dalam hati kita terhadap orang lain, misalnya kebencian, sakit hati, maka kita harus mengampuni orang tersebut terlebih dahulu.

Maksudnya, kalau kita tidak beres hubungannya dengan orang lain maka tidak ada gunanya kita berdoa kepada Tuhan. Dengan kata lain, hubungan yang benar dengan sesama kita sangat penting dalam membangun hubungan yang benar (melalui doa) dengan Tuhan.

Jika kita berdoa dengan cara tidak mengampuni orang lain, maka Tuhan tidak akan berkenan pada doa kita. Dalam ayat selanjutnya dari firman Tuhan di atas (Markus 11:26) disebutkan kita tidak akan diampuni Tuhan jika kita sendiri tidak mengampuni orang lain.

 

5. Tidak Pamer Kepada Orang Lain

Ada orang yang suka pamer dalam berdoa dengan harapan dilihat oleh orang lain dan mendapat pujian dari mereka. Tetapi cara seperti ini adalah cara berdoa yang tidak berkenan kepadaTuhan.

Doa pamer adalah doa yang biasa dilakukan oleh orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat Yahudi. Mereka suka berdoa dengan berdiri di rumah-rumah ibadat dan di tikungan-tikungan jalan raya dengan motivasi yang salah. Mereka berdoa di tempat-tempat tersebut dengan tujuan agar dipuji oleh orang lain bahwa mereka adalah orang yang saleh dan rajin berdoa.

Karena itu Tuhan Yesus melarang murid-muridNya berdoa dengan cara seperti itu. Tuhan Yesus menyebut orang-orang yang berdoa seperti itu sebagai orang-orang munafik.

Tuhan Yesus mengingatkan murid-muridNya,

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6:5).

Sebaliknya, Ia mengajarkan murid-muridNya berdoa di dalam kamar mereka sendiri, sebab Bapa sorgawi akan mendengar doa yang seperti itu (Matius 6:6). Kita tidak berkenan kepada Tuhan jika kita berdoa agar dilihat dan dipuji oleh orang lain.

 

6. Tidak Bertele-Tele

Cara berdoa lainnya yang tidak berkenan kepada Tuhan adalah berdoa dengan bertele-tele.

Berdoa dengan bertele-tele adalah cara berdoa yang tidak benar, karena orang menganggap doa itu seperti mantera. Mereka menganggap bahwa kuasa doa terletak pada “kata-katanya”. Semakin sering “kata-kata” dalam doanya diulang-ulang maka makin manjurlah doanya.

Pada hal dalam doa Kristen, kuasa itu terletak pada Tuhan, dan akan diberikanNya jika kita berdoa dengan hubungan yang benar dengan Dia, bukan karena panjangnya/diulang-ulangnya atau indahnya kata-kata doa kita.

Berdoa secara bertele-tele adalah berdoa dengan mengulang-ulang mengucapkan doa/kata-kata yang sama (seperti mantera), seperti yang dilakukan oleh para penyembah berhala.

Misalnya para penyembah baal pada zaman nabi Elia yang mengucapkan doanya berulang-ulang, memanggil nama baal dari pagi sampai tengah hari, dengan berkata: “Ya Baal, jawablah kami!” (1 Raja-raja 18:26).

Tuhan Yesus mengingatkan murid-muridNya agar mereka tidak berdoa secara bertele-tele.

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” (Matius 6:7).

Jika kita berdoa dengan mengulang-ulang kata-kata doa kita dengan anggapan agar lebih berkhasiat maka itu adalah cara berdoa yang tidak benar.

 

7. Tidak Munafik

Berdoa dengan munafik adalah cara terakhir dalam berdoa yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Tuhan Yesus mengingatkan hal ini kepada murid-muridNya.

“Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.” (Markus 12:38-40).

Di sini Tuhan Yesus berbicara mengenai ahli-ahli taurat Yahudi yang melakukan berbagai macam kejahatan, antara lain adalah dengan menipu para janda-janda dan merampas rumah mereka.

Untuk menutupi kejahatan mereka itu, para ahli taurat tersebut suka melakukan ibadah-ibadah, antara lain dengan doa yang panjang-panjang. Mereka mengira bahwa dengan berdoa yang panjang-panjang, orang lain akan berpikir yang baik-baik tentang mereka.

Mereka pikir bahwa bukan saja orang lain akan menganggap mereka adalah orang saleh yang rajin berdoa, tetapi juga akan menganggap mereka sebagai orang yang benar/baik, yang tidak mungkin melakukan kejahatan. Itulah kemunafikan mereka.

Jika kita menjadikan doa sebagai topeng kita untuk menutupi dosa dan kejahatan kita dari orang lain, maka itu adalah cara berdoa yang tidak benar di hadapan Tuhan.

 

Itulah 7 cara berdoa yang benar menurut Alkitab.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia di artikel ini. Terima kasih. GBU.

6 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!