7 Ciri Doa Gereja Yerusalem Yang Patut Diteladani

 

Artikel ini membahas 7 ciri doa gereja Yerusalem atau gereja mula-mula yang patut diteladani.

Gereja Yerusalem adalah gereja yang pertama kali lahir di muka bumi ini. Gereja tersebut adalah gereja perdana atau gereja purba yang ada di kota Yerusalem, seperti yang dicatat di Alkitab. Namun demikian benih-benih gereja juga sudah ada ketika Tuhan Yesus masih ada di bumi ini, walaupun baru pada Hari Pentakostalah gereja tersebut ”diresmikan”.

Jadi walaupun baru pada Hari Pentakosta (Hari Pencurahan Roh Kudus) gereja lahir, namun “benih-benih”nya sudah ada ketika Tuhan Yesus memilih murid-muridNya yang pertama, yaitu dua belas rasulNya ditambah dengan orang-orang lain yang percaya kepadaNya.

Baca juga: 7 Ciri Doa Tuhan Yesus Yang Patut Diteladani

Oleh karena itu gereja Yerusalem yang dimaksud di sini adalah kumpulan murid-murid Tuhan Yesus yang pertama sebelum kenaikanNya ke sorga dan gereja perdana di Yerusalem dan sekitarnya, seperti yang tertulis dalam kitab Kisah Para Rasul pasal 1 sampai dengan pasal 12.

Jadi gereja-gereja lainnya sesudah gereja Yerusalem, seperti gereja di Antiokhia, yang juga tertulis di kitab Kisah Para Rasul tidak termasuk di sini.

Baca juga: 10 Ciri Gereja Yang Ideal Menurt Alkitab

Gereja  Yerusalem, sebagaimana bisa kita baca di Alkitab, adalah gereja yang berdoa. Hidup gereja mula-mula Yerusalem diwarnai dengan kehidupan doa. Hal itu bisa kita lihat baik dalam kehidupan jemaat secara kolektif maupun dalam kehidupan pribadi para pemimpin gereja mula-mula, terutama Petrus, sebagai pemimpin terkemuka di jemaat tersebut.

Jika kita teliti lebih lanjut di Alkitab, maka kita bisa menemukan paling tidak ada 7 ciri doa gereja Yerusalem yang patut diteladani, kita sebagai gereja Tuhan masa kini.

Di sini akan diuraikan 7 ciri doa gereja Yerusalem yang patut diteladani tersebut.

 

1. Berdoa Dengan Tekun

Ciri doa gereja Yerusalem yang patut diteladani pertama adalah bahwa mereka berdoa dengan tekun. Kumpulan jemaat Kristen mula-mula adalah orang-orang yang tekun berdoa. Paling tidak tiga kali disebutkan secara eksplisit di Alkitab bahwa gereja mula-mula berdoa dengan tekun.

Ketika para murid Yesus yang pertama kembali dari bukit Zaitun ke kota Yerusalem, segera setelah kenaikanNya ke sorga, mereka “bertekun” dalam doa di “ruang atas” di tempat mereka menumpang di Yerusalem (Kisah Para Rasul 1:14, lihat poin 2 di bawah).

Kemudian dalam Kisah Para Rasul 2:42 dijelaskan bahwa gereja mula-mula, yaitu 120 orang murid-murid Tuhan Yesus yang berdoa menjelang pencurahan Roh Kudus, ditambah dengan sekitar 3000 orang murid-murid/jemaat yang baru saja bertobat pada Hari Pentakosta, bertekun dalam doa.

“Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”

Walaupun jumlah anggota jemaat saat itu sudah bertambah banyak menjadi kira-kira 3000 orang, namun hal itu tidak mengurangi ketekunan mereka dalam berdoa (meskipun tentu mereka dibagi dalam beberapa kelompok).

Kita juga bisa melihat ketekunan gereja mula-mula dalam berdoa pada saat Petrus, pemimpin utama gereja mula-mula, ada di penjara. Ketika Petrus ditahan di penjara oleh raja Herodes, jemaat dengan “tekun” berdoa untuknya.

“Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.” (Kisah Para Rasul 12:5).

Ketika itu gereja mula-mula berdoa di rumah salah satu anggota jemaat, yaitu rumah Maria, ibunya Yohanes Markus (Kisah Para Rasul 12:12). Itulah Markus penulis Injil Markus. Mungkin rumah Maria ini sering juga dipakai gereja mula-mula sebagai tempat mereka berdoa, karena mungkin rumah tersebut cukup besar.

Allah mengabulkan doa jemaat. Melalui seorang malaikatNya, Allah melepaskan Petrus secara ajaib, tanpa diketahui oleh para penjaga yang menjaganya (Kisah Para Rasul 12:6-11).

 

2. Berdoa Dengan Sehati

Ciri doa gereja Yerusalem yang patut diteladani kedua adalah bahwa mereka berdoa dengan sehati.

Hal yang paling banyak disinggung di Alkitab mengenai doa gereja mula-mula adalah masalah doa kelompok/bersama.

Dalam gereja mula-mula tampaknya doa kelompoklah yang terutama. Di gereja mula-mula di Yerusalem, doa individu jemaat agak jarang disinggung. Doa-doa individu gereja mula-mula yang dicatat di Alkitab hanyalah doa Petrus dan Yohanes, serta doa Stefanus pada akhir hidupnya.

Hal ini tentu tidak berarti bahwa anggota jemaat lain di gereja mula-mula tidak berdoa secara pribadi dan hanya berdoa secara bersama dengan anggota jemaat lainnya. Mereka pastilah berdoa dalam doa pribadi mereka, hanya saja tidak dicatat di Alkitab. Hal ini mungkin karena kebersamaan jemaatlah (termasuk dalam hal doa) yang ditekankan di dalam gereja mula-mula.

Ketika para murid Kristus yang pertama kembali dari bukit Zaitun ke kota Yerusalem, segera setelah kenaikanNya ke sorga, mereka “sehati” dalam doa di ruang atas di tempat mereka menumpang di Yerusalem. Jumlah mereka saat itu adalah 120 orang (Kisah Para Rasul 1:15).

“Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.” (Kisah Para Rasul 1:14).

Sebenarnya murid-murid Tuhan Yesus saat itu sudah sangat banyak. Menurut 1 Korintus 15:6, Tuhan Yesus pernah menampakkan diri kepada lebih dari 500 orang muridNya, segera setelah kebangkitanNya dari kematian.

Namun seperti sudah disebut di atas, hanya 120 orang dari mereka yang ikut dengan para rasul berdoa dan menanti-nantikan kuasa Roh Kudus tercurah atas mereka. Sedangkan 380 orang lagi tidak ikut berdoa bersama mereka, dengan alasan yang tidak kita ketahui.

Sebelumnya Tuhan Yesus telah memerintahkan agar murid-muridNya tersebut tidak meninggalkan kota Yerusalem sebelum mereka diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi, yaitu dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus, seperti yang dijanjikan oleh Bapa (Lukas 24:49; Kisah Para Rasul 1:4).

Seperti telah disebutkan, jumlah murid-murid yang berkumpul dan berdoa tersebut ada sekitar 120 orang banyaknya. Tentu ini bukanlah jumlah yang sedikit untuk ukuran orang-orang yang berdoa dengan sehati. Namun kita melihat bahwa gereja mula-mula berhasil melakukannya. Mereka bersehati dalam doa mereka, dengan mengabaikan segala perbedaan yang ada dalam diri mereka.

Mereka sejenak melupakan pergumulan pribadi mereka masing-masing serta sehati untuk berdoa bagi pergumulan bersama mereka, yaitu pergumulan yang sedang dihadapi gereja (ditinggal Tuhan Yesus sebagai pemimpin utama dan menantikan kuasa Roh Kudus untuk memampukan mereka memberitakan Injil).

 

3. Berdoa Bagi Calon Pemimpin

Ciri doa gereja Yerusalem yang patut diteladani ketiga adalah bahwa mereka berdoa bagi para pemimpin.

Pemimpin gereja sangat sentral bagi sebuah gereja lokal. Jatuh bangunnya sebuah gereja sangat tergantung pada para pemimpinnya. Karena itu sangat penting untuk memilih para pemimpin gereja.

Dalam kaitan ini, berdoa bagi calon para pemimpin gereja adalah satu langkah yang tepat untuk ditempuh. Dengan demikian gereja tidak salah memilih pemimpinnya, sebaliknya, dapat menghasilkan para pemimpin yang berkualitas.

Langkah itulah yang dulu ditempuh oleh gereja mula-mula di Yerusalem dalam memilih calon pemimpin baru.

Ketika Yudas Iskariot berkhianat kepada gurunya dan gantung diri, maka kepemimpinan gereja mula-mula menjadi berkurang sehingga perlu ditambahkan satu orang lagi dari antara jemaat.

Tujuannya adalah agar pelayanan terhadap jemaat bisa maksimal. Di samping itu, juga supaya para pemimpin gereja genap berjumlah 12 orang, karena angka 12 adalah sesuatu yang “sempurna” bagi orang Yahudi, mengikuti jumlah suku Israel yang 12.

Gereja mula-mula pun mengusulkan dua orang yang memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh para rasul, yakni orang yang telah bersama-sama para rasul sejak baptisan Yohanes sampai Tuhan Yesus terangkat ke sorga. Kedua orang tersebut adalah Yusuf Barsabas dan Matias.

Kemudian mereka berdoa bersama kepada Tuhan, siapa dari kedua orang tersebut yang dipilihNya.

”Mereka semua berdoa dan berkata: Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya.” (Kisah Para Rasul 1:24-25).

Tuhan menjawab doa mereka dengan memilih Matias lewat undian yang mereka lakukan. Dengan demikian, Matias resmi ditambahkan ke bilangan para rasul untuk menggantikan posisi Yudas Iskariot sebagai salah satu pemimpin gereja mula-mula (Kisah Para Rasul 1:26).

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!