Loading...

7 Ciri Doa Gereja Yerusalem Yang Patut Diteladani

Loading...

 

4. Berdoa Bagi Pemberitaan Injil

Ciri doa gereja Yerusalem yang patut diteladani lainnya adalah bahwa mereka berdoa bagi pemberitaan Injil. Mereka menjadikan doa sebagai solusi pertama ketika mereka menghadapi masalah di seputar penginjilan.

Di dalam Kisah Para Rasul 4:1-22 dikisahkan bagaimana Petrus dan Yohanes, para pemimpin gereja mula-mula, dihadapkan pada Mahkamah Agama Yahudi untuk diadili. Penyebabnya adalah karena mereka memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi di Bait Allah.

Di hadapan Mahkamah Agama, mereka diinterogasi dan diperintahkan agar mereka tidak lagi berbicara tentang Tuhan Yesus kepada orang banyak. Bahkan mereka diancam dengan keras.

Walaupun mereka belum mengalami penganiayaan secara fisik, namun tentu hal itu menjadi ancaman yang serius bagi gereja yang masih muda itu, yang baru saja ditinggal pemimpin utamanya, yaitu Tuhan Yesus, yang telah naik ke sorga.

Setelah dilepaskan oleh Mahkamah Agama, Petrus dan Yohanes pergi memberitahukan hal yang baru saja mereka alami kepada teman-teman mereka/jemaat. Masalah yang mereka hadapi tentulah bukan perkara ringan, sebab dapat mengakibatkan tantangan yang lebih keras dalam hidup mereka dan gereja mula-mula, yaitu tekanan, penganiayaan, bahkan kematian mereka.

Tetapi jika mereka menuruti apa yang dikatakan penguasa Yahudi tersebut, agar mereka tidak lagi memberitakan Injil, maka gereja tidak bisa bertumbuh dan melakukan Amanat Agung Tuhan Yesus (Matius 28:19-20). Pada hal Tuhan Yesus berkata agar mereka bisa menjadi saksiNya hingga ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8).

Oleh karena itu reaksi pertama gereja mula-mula atas pemberitahuan Petrus dan Yohanes adalah mereka berdoa kepada Allah, menyerahkannya semuanya kepada Dia, agar mereka diberikanNya keberanian memberitakan Injil di tengah–tengah ancaman pihak penguasa, pemimpin agama serta rakyat Yahudi.

“Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka. Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah,….” (Kisah Para Rasul 4:23-24a).

Di samping itu mereka juga meminta dalam doa mereka agar Allah menyertai mereka dalam memberitakan Injil dengan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizatNya. Allah menjawab doa mereka tersebut. Dan akibat doa itu adalah mereka menjadi berani dalam memberitakan firman Allah (Kisah Para Rasul 4:31).

 

5. Berdoa Dengan Mengutip Firman Tuhan

Ciri doa gereja Yerusalem yang patut diteladani selanjutnya adalah mereka mengutip firman Tuhan ketika mereka berdoa.

Seperti telah disebutkan di atas, ketika gereja mula-mula mendapat ancaman dari para penguasa Yahudi untuk tidak lagi memberitakan Injil kepada orang Yahudi, mereka berdoa bersama-sama kepada Tuhan.

Mereka berseru bersama-sama dalam doa kepada Allah. Saat itu, ketika mereka berdoa, mereka mengutip firman Tuhan dari kitab Mazmur, yang ditulis oleh Daud. tentang bangsa-bangsa dan raja-raja yang berkumpul untuk melawan Allah dan orang yang diurapiNya (Mazmur 2:1-2).

“Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya. Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi” (Kisah Para Rasul 4:25-27).

Dengan mengutip perkataan Daud pada zamannya, gereja mula-mula menggambarkan bahwa apa yang sedang mereka alami saat itu adalah sama seperti apa yang tertulis dalam firman Tuhan dalam kitab Mazmur tersebut, yaitu bahwa Herodes, Pilatus, dan orang-orang Israel, sedang berkumpul melawan Allah dan “yang diurapiNya”, yaitu Tuhan Yesus, dengan cara mengancam gerejaNya.

Mungkin saat itu gereja mula-mula tidak bermaksud mengatakan bahwa apa yang sedang mereka alami (ancaman dari orang-orang Yahudi) adalah merupakan penggenapan langsung dari firman Tuhan yang mereka kutip tersebut. Artinya mereka mungkin tidak memaksudkan bahwa apa yang sedang mereka alami saat itu adalah benar-benar telah dinubuatkan sebelumnya.

Akan tetapi maksud mereka adalah bahwa apa yang sedang mereka alami pada saat itu pada dasarnya bukanlah hal yang baru lagi, sebab sudah sering terjadi sebelumnya, seperti yang terjadi pada masa Daud.

Artinya dengan mengutip firman Tuhan tersebut mereka hendak mengatakan bahwa hal-hal yang tidak baik, seperti yang sedang mereka alami, adalah biasa terjadi pada orang-orang benar/orang percaya, sebagaimana terjadi pada zaman Daud.

Dan hal ini akan membuat mereka semakin kuat dalam menjalani masalah tersebut, sebab mereka sadar bahwa hal tersebut adalah umum dialami oleh orang-orang benar di segala zaman dan tempat, bukan hanya dialami oleh mereka saja.

Akan tetapi bukan berarti bahwa dengan demikian orang benar akan “berdiam diri” saja terhadap keadaan yang mereka alami. Demikian juga dengan jemaat mula-mula. Mereka tidak berdiam diri walaupun mereka tahu bahwa hal jahat yang menimpa mereka adalah suatu hal yang lumrah terjadi bagi orang benar. Justru sebaliknya, mereka “bereaksi” untuk hal tersebut, dan reaksi utama mereka adalah doa.

Salah satu hal yang bisa kita lakukan dalam mengutip firman Tuhan ketika kita berdoa adalah “memperkatakan” janji-janji Tuhan dalam hidup kita. Ada banyak contoh seperti ini di Alkitab, terutama dalam Perjanjian Lama. Salah satunya adalah Musa (Bilangan 14:13-19).

Allah menyuruh dua belas pengintai ke Tanah Kanaan untuk melihat negeri itu; namun mereka, kecuali Yosua dan Kaleb, membawa kabar buruk yang menakutkan, yang membuat bangsa Israel enggan memasukinya dan ingin kembali ke Mesir. Mereka tidak percaya pada janji Tuhan atas mereka, sehingga murka Tuhan bangkit atas mereka dengan mengancam akan membinasakan bangsa itu seluruhnya.

Karena itu Musa berdoa kepada Tuhan agar Ia kiranya mengampuni umatNya, bangsa Israel. Di sini Musa berdoa dengan mengutip firman yang pernah diucapkan Allah sendiri kepadanya, bahwa Ia adalah Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasihNya dan setiaNya, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa. (Bilangan 14:17-18).

Di sini jelas Musa sedang “mengklaim” firman Tuhan yang pernah diucapkanNya sendiri kepada Musa pada masa lalu (Keluaran 34:6-7). Dan Allah mengabulkan doa Musa tersebut, Ia mengampuni bangsa Israel, walaupun hanya anak-anak yang berumur di bawah 20 tahunlah yang akan memasuki Tanah Perjanjian, itu pun dengan pengembaraan selama 40 tahun di padang gurun (Bilangan 14:20-38).

 

6. Berdoa Diteladankan Para Pemimpin Gereja

Ciri doa gereja Yerusalem yang patut diteladani lainnya adalah bahwa para pemimpin gereja merupakan teladan dalam hal berdoa.

Hal ini tampak terutama dalam diri Petrus. Petrus adalah pemimpin utama gereja mula-mula. Mungkin ini sesuai dengan nubuat Tuhan Yesus tentang arti namanya (dalam bahasa Yunani, “Petrus” artinya adalah “batu karang”), dan ini bisa kita terima sebagai nubuat atas peran utama Petrus dalam gereja mula-mula (Matius 16:17-19).

Dan setelah kebangkitanNya, Tuhan Yesus juga memulihkan kembali kedudukan/kepemimpinan Petrus sebagai gembala umatNya (Yohanes 21:15-17), setelah kejatuhannya dengan tiga kali menyangkali Tuhan Yesus di hadapan orang banyak.

Petrus jelas adalah seorang pendoa. Bagaimanapun juga pastilah ia mewarisi sifat Tuhan Yesus yang suka berdoa. Dia adalah salah satu dari tiga murid Tuhan Yesus yang paling menonjol dan dekat dengan Tuhan Yesus, selain Yakobus dan Yohanes bersaudara, selama kurang lebih tiga setengah tahun pelayanan Tuhan Yesus di bumi.

Petrus, bersama Yakobus dan Yohanes bersaudara, sering bersama-sama dengan Tuhan Yesus dalam berbagai peristiwa penting, sementara murid-murid lainnya tidak ikut. Dan dua kali dari kebersamaan mereka dengan Tuhan Yesus di luar murid-murid lainnya, adalah ketika mereka berdoa.

Sekali di atas gunung, di mana Tuhan Yesus dimuliakan (Lukas 9:28), dan sekali lagi di taman Getsemani, sesaat sebelum Tuhan Yesus ditangkap untuk disalibkan (Matius 26:36-37).

Selama bertahun-tahun masa pelayanan Tuhan Yesus di dunia, Petrus dan murid-murid yang lain setiap hari bersama Tuhan Yesus. Tentu Petrus telah sering juga melihat Tuhan Yesus berdoa (misalnya Lukas 9:18), selain berdoa bersama dengan Tuhan Yesus di dua peristiwa yang telah disebut di atas.

Salah satu peristiwa doa Petrus yang dicatat di Alkitab adalah saat ia berdoa pada pukul 12 tengah hari di rumah Simon, penyamak kulit, tempat ia menumpang di kota Yope. Ini mengikuti waktu sembahyang orang Yahudi.

“Keesokan harinya ketika ketiga orang itu berada dalam perjalanan dan sudah dekat kota Yope, kira-kira pukul dua belas tengah hari, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa.” (Kisah Para Rasul 10:9).

Waktu itu, ketika Petrus sedang berdoa, ia mendapat penglihatan tentang visi penginjilan kepada bangsa-bangsa lain, yaitu melalui Kornelius. Lewat doanya inilah (dan penglihatan yang didapatnya ketika berdoa) ia mengubah konsepnya yang salah tentang kasih Allah kepada bangsa-bangsa lain, yaitu bahwa Injil adalah untuk semua bangsa, bukan hanya untuk bangsa Yahudi saja, seperti yang dipahaminya selama ini.

Selain itu hampir bisa kita pastikan bahwa Petrus berdoa juga setiap hari, bahkan beberapa kali dalam sehari, mengikuti tradisi/aturan agama Yahudi, yaitu tiga kali sembahyang dalam sehari (pukul 9 pagi, pukul 12 siang, dan pukul 3 petang). Jadi besar kemungkinan bahwa Petrus berdoa juga pada jam-jam tersebut tiap-tiap hari.

Seperti lazimnya pria Yahudi saleh yang berdoa tiga kali sehari, pastilah Petrus mengikuti hal tersebut, walaupun ia berdoa dengan konsep yang sudah baru, yaitu berdoa secara Kristen, dalam nama Tuhan Yesus, kepada Bapa di sorga.

Walaupun hanya doa Petrus yang banyak disebut di Alkitab, namun kita tidak bisa mengatakan bahwa para rasul/pemimpin gereja mula-mula yang lainnya tidak tekun dalam berdoa.

Dalam Kisah Para Rasul 6:4 misalnya, disebutkan bahwa para pemimpin gereja (tentu termasuk semua rasul) ingin memusatkan pikiran mereka dalam doa. Sebab mereka merasa terganggu dalam berdoa dengan makin banyaknya persoalan jemaat yang harus ditangani sehingga perlu mengangkat para pemimpin baru (lihat poin 7 di bawah).

 

7. Berdoa Sebagai Tugas Utama Pemimpin Gereja

Ciri doa gereja Yerusalem yang patut diteladani yang terakhir adalah mereka menjadikan doa itu sebagai salah satu dari dua tugas utama pemimpin gereja. Dengan kata lain, salah satu tugas utama pemimpin gereja adalah berdoa.

Hal ini akan bisa menjadi lebih jelas jika kita menyimak Kisah Para Rasul 6:1-7.

Alkisah, di gereja mula-mula ada sungut-sungut yang timbul dari jemaat berbahasa Yunani/perantauan (Hellenis) terhadap jemaat berbahasa Ibrani. Penyebabnya adalah karena pelayanan sosial diabaikan terhadap janda-janda jemaat Yunani (sebagai kelompok “minoritas” di gereja mula-mula).

Pemicunya tentulah karena makin banyaknya jumlah jemaat saat itu. Laki-laki saja sudah mencapai 5000 orang (Kisah Para Rasul 4:4); bila termasuk perempuan dan anak-anak mungkin lebih dua kali lipat.

Dengan demikian makin banyak juga jemaat yang tidak terlayani dengan baik, terlebih jumlah pemimpin/rasul sangat terbatas, hanya 12 orang. Dua belas orang pemimpin melayani 5000 orang anggota jemaat laki-laki (atau bahkan sekitar 10.000 orang bila termasuk perempuan dan anak-anak) tentulah kurang ideal.

Oleh karena itu respons para rasul terhadap hal ini adalah bahwa mereka harus menambah pemimpin-pemimpin baru sebanyak 7 orang, yang akan ditetapkan sebagai pelayan (diaken) untuk membantu para rasul dalam bidang sosial/kebutuhan jasmani jemaat.

Dengan demikian rasul-rasul bisa lebih fokus pada tugas utama mereka: doa dan pelayanan firman. Jadi di satu sisi tugas para rasul dalam pemberitaan firman dan berdoa tidak terganggu, di sisi yang lain pelayanan sosial jemaat juga bisa dimaksimalkan.

“Dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.” (Kisah Para Rasul 6:4).

Dan akhirnya jemaat pun memilih 7 orang pelayan baru (diaken) sebagai pembantu para rasul untuk mengurusi kebutuhan-kebutuhan sosial jemaat.

Dalam kasus di atas kita melihat bahwa para rasul/pemimpin gereja mula-mula menyerahkan pelayanan sosial jemaat kepada para diaken, sehingga mereka tetap dapat berdoa dengan fokus.

Para pemimpin gereja mula-mula tidak menyerahkan “pelayanan doa” kepada para pelayan baru, tetapi “pelayanan sosial”. Artinya, doa sangat penting bagi para pemimpin gereja sehingga tidak boleh hanya diwakilkan kepada para pelayan lain di bawah mereka.

Berdoa adalah tugas utama pemimpin gereja, bukan tugas para diaken atau majelis gereja.

 

Itulah 7 ciri doa gereja Yerusalem yang patut diteladani.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!