Categories: FAKTA ALKITAB

7 Fakta Makanan Halal Dan Haram Di Perjanjian Baru

 

Artikel ini berisi tentang makanan halal dan haram menurut Perjanjian Baru.

Makanan halal dan haram menurut Perjanjian Baru, sangat penting kita ketahui.

Masalah makanan halal dan haram terdapat dalam sejumlah agama dan kepercayaan, bahkan dalam berbagai budaya tertentu.

Dalam konteks agama, peraturan tentang makanan halal dan haram ini tertulis dalam kitab suci agama yang bersangkutan.

Baca juga: 10 Fakta Tentang Sabat Menurut Alkitab

Sedangkan dalam berbagai budaya peraturan tersebut merupakan tradisi turun-temurun.

Sebenarnya, bagaimanakah pandangan Alkitab Perjanjian Baru tentang makanan halal dan haram?

Apakah orang Kristen masih terikat oleh aturan makanan halal dan haram?

Baca juga: 10 Fakta Tentang Surga Menurut Pandangan Kristen

Bagaimanakah ajaran Tuhan Yesus tentang makanan halal dan haram?

Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini, dan banyak pertanyaan lain seputar makanan halal dan haram menurut Perjanjian Baru, akan diberikan dalam artikel ini.

Artikel ini akan menguraikan secara jelas tentang fakta-fakta penting seputar makanan halal dan haram menurut Perjanjian Baru.

Baca juga: 10 Fakta Tentang Neraka Menurut Pandangan Kristen

Fakta-fakta apa sajakah yang perlu kita tahu tentang makanan halal dan haram menurut Alkitab Perjanjian Baru?

Berikut pembahasannya.

1. Tuhan Yesus Mengatakan Bahwa Semua Makanan Adalah Halal

Berbeda dengan di Perjanjian Lama, peraturan tentang makanan halal dan haram ini tidak berlaku lagi di Perjanjian Baru.

Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan bahwa semua makanan itu adalah halal.

Hal ini dikatakanNya ketika Ia terlibat perdebatan dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang sangat berpegang teguh pada Hukum Taurat.

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat  tersebut bertanya kepada Tuhan Yesus kenapa murid-muridNya tidak mencuci tangan sebelum makan.

Sebenarnya hal mencuci tangan sebelum makan tidak ada diatur dalam Hukum Taurat Yahudi. Itu merupakan aturan yang ditambahkan kemudian.

Karena itu, bagi orang-orang Yahudi, seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat ini,  orang yang tidak mencuci tangan sebelum makan maka orang tersebut menjadi najis.

Namun Tuhan Yesus menjawab mereka bahwa yang membuat seseorang najis bukan apa yang masuk ke dalam seseorang (makanan), melainkan apa yang keluar dari seseorang (dosa atau kejahatan yang timbul dari dalam hatinya).

Dengan demikian Tuhan Yesus mengatakan bahwa semua makanan adalah halal atau boleh dimakan (Markus 7).

 

2. Tuhan Yesus Telah Menggenapi Seluruh Hukum Taurat, Termasuk Aturan Makanan Halal Dan Haram

Salah satu tujuan kematian Tuhan Yesus di kayu salib adalah untuk menggenapi seluruh Hukum Taurat Yahudi (Matius 5:17; Efesus 2:15), termasuk soal makanan halal dan haram.

Menggenapi artinya adalah melakukannya secara sempurna sehingga tidak perlu dilakukan lagi.

Sejak Hukum Taurat diberikan kepada manusia (bangsa Israel), tidak ada seorang pun manusia yang mampu melakukannya secara sempurna.

Karena itulah Tuhan Yesus datang untuk melakukannya dan menggenapinya bagi kita (Roma 8:3).

Jika Tuhan Yesus telah menggenapi Hukum Taurat, termasuk soal makanan halal dan haram, maka kita orang Kristen tidak perlu lagi menuruti aturan-aturan makanan halal dan haram ini.

 

3. Tuhan Mengatakan Kepada Rasul Petrus Bahwa Tidak Ada Makanan Yang Haram

Alkisah rasul Petrus, pemimpin utama gereja mula-mula di Yerusalem,  sedang  berdoa pada pukul 12 tengah hari.

Hal ini jelas mengikuti waktu sembahyang orang Yahudi.

Waktu itu Petrus sedang menumpang di rumah Simon, seorang penyamak kulit di kota Yope.

Dan ketika Petrus sedang berdoa, tiba-tiba ia merasa lapar dan ingin makan.

Dan ketika makanan dihidangkan, ia diliputi kuasai ilahi.

Petrus mendapat sebuah penglihatan. Ia melihat langit terbuka dan turunlah sebuah benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya.

Di dalamnya terdapat berbagai jenis hewan yang haram menurut peraturan Hukum Taurat Yahudi.

Lalu terdengarlah oleh Petrus suatu suara, “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!”

Jelas ini adalah suara Tuhan.

Tetapi Petrus, yang memegang teguh aturan makanan halal dan haram dalam Hukum Taurat menjawab, “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.”

Maka kedengaranlah suatu suara untuk kedua kalinya, “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.”

Hal itu terjadi sampai tiga kali. Kemudian benda tersebut terangkat kembali ke langit.

Sementara Petrus sedang bertanya-tanya tentang penglihatan tersebut, muncullah tiga orang utusan Kornelius, seorang perwira Romawi penganut agama Yahudi  yang saleh.

Ternyata Tuhan telah menampakkan diri kepada Kornelius dan menyuruhnya untuk menjemput Petrus.

Maka Petrus pun datang dan memberitakan Injil kepada seisi rumah Kornelius sehingga mereka semua percaya kepada Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 10).

Dari kisah ini jelas bahwa makanan halal dan haram tidak lagi relevan bagi orang percaya di Perjanjian Baru. Tuhan sendiri yang mengatakannya kepada Petrus.

Dan makanan Halal dan haram, yang sebelumnya menjadi pembeda antara orang Yahudi dengan orang non-Yahudi tidak lagi relevan.

Hal ini dibuktikan dengan Injil yang diberitakan kepada orang-orang non-Yahudi yang menghalalkan segala makanan (Kornelius sekeluarga).

 

4. Roh Kudus Memutuskan Bahwa  Orang Kristen Tidak Lagi Terikat Dengan Aturan Makanan Halal Dan Haram

Sejumlah orang Kristen Yahudi di Yudea pernah mengajarkan ajaran sesat di Antiokhia (jemaat mayoritas non-Yahudi) dengan mengatakan bahwa untuk bisa diselamatkan, maka seseorang harus menuruti Hukum Taurat.

Karena itu gereja melakukan “konsili” atau rapat umum pertama para pemimpin gereja  (rasul-rasul dan para penatua) di Yerusalem.

Para pemimpin gereja yang melakukan rapat di sini adalah perwakilan gereja Antiokhia dan gereja Yerusalem. Namun hasil sidang itu dikirimkan kepada gereja-gereja lainnya di berbagai kota.

Dan pada sidang Yerusalem ini diambil keputusan penting yang menyangkut orang-orang percaya dari bangsa-bangsa lain/non-Yahudi, yakni mereka tidak perlu  melakukan Hukum Taurat (termasuk aturan makanan halal dan haram) agar bisa diselamatkan.

Memang orang-orang Kristen non-Yahudi tersebut diberi beberapa aturan, namun semata-mata demi kelancaran hubungan mereka dengan orang-orang Kristen Yahudi (Kisah Para Rasul 15).

Artinya, orang Kristen tidak perlu lagi mengikuti aturan soal makanan halal dan haram, yang merupakan bagian integral dari sistem Hukum Taurat Yahudi.

Menarik untuk disimak, keputusan tersebut ternyata bukan hanya keputusan para pemimpin gereja (yang semuanya adalah orang Yahudi yang pasti mengikuti aturan makanan halal-haram), melainkan juga keputusan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 15:28).

Jadi bahwa aturan makanan halal dan haram tidak lagi mengikat orang Kristen pada dasarnya bukanlah ketetapan manusia, tetapi ketetapan Allah sendiri.

 

Page: 1 2