7 Fakta Tentang Diaken Filipus

Diaken Filipus adalah salah satu figur penting di Perjanjian Baru dan di gereja mula-mula di Yerusalem. Kisah hidup dan pelayanan Diaken Filipus dicatat di kitab Kisah Para Rasul, kitab yang merekam kelahiran gereja di bumi dan perluasannya ke berbagai kota dan bangsa.

Diaken Filipus yang dimaksud di sini bukanlah rasul Filipus, salah satu dari 12 murid/rasul Tuhan Yesus. (Baca: 7 Fakta Tentang Rasul Filipus)

Tetapi ini adalah Filipus diaken gereja Yerusalem, yang di kemudian hari lebih dikenal sebagai Filipus Pemberita Injil, karena pelayanannya yang “sukses” dalam memberitakan Injil Tuhan Yesus.

Bagaimana latar belakang Diaken Filipus? Bagaimana pelayanannya sebagai pemberita Injil? Seberapa besar pengaruh Filipus sebagai pemberita Injil di gereja mula-mula di Yerusalem bahkan di kota lainnya?

Semuanya ini akan dibahas dalam artikel ini. Di sini dicatat 7 fakta penting seputar Diaken Filipus. Fakta-fakta apa sajakah itu? Berikut pembahasannya.

 

1. Filipus Adalah Salah Satu Dari 7 Diaken Gereja Yang Pertama

Ketika jumlah jemaat di gereja mula-mula di Yerusalem semakin bertambah, maka timbullah sungut-sungut di antara jemaat yang berbahasa Yunani terhadap jemaat yang berbahasa Ibrani. Penyebabnya adalah karena pelayanan sosial diabaikan terhadap janda-janda jemaat yang berbahasa Yunani.

Baca: 7 Diaken Gereja Yang Pertama

Karena itu, para rasul mengusulkan penambahan pemimpin baru sebanyak tujuh orang, untuk membantu mereka dalam pelayanan sosial jemaat, sehingga para janda tersebut terlayani dengan baik dan tugas-tugas para rasul dalam pelayanan firman dan doa tidak terganggu.

Para rasul memberi tiga syarat bagi orang-orang yang akan dipilih itu, yakni terkenal baik, penuh Roh, dan penuh hikmat. Akhirnya, tujuh orang pun terpilih dari antara jemaat dan “ditahbiskan” oleh para rasul. Salah satu dari mereka yang terpilih itu, yang dalam tradisi disebut sebagai para diaken, adalah Filipus (Kisah Para Rasul 6:1-6).

Karena syarat para diaken yang dipilih tersebut adalah terkenal baik, penuh Roh dan penuh hikmat, sedangkan Filipus terpilih menjadi salah satu dari tujuh diaken itu, berarti Filipus pastilah seorang Kristen yang terkenal baik, penuh Roh, dan penuh hikmat. Jika tidak, tentu Filipus tidak akan masuk kualifikasi untuk dipilih menjadi salah satu diaken di gereja mula-mula.

Lalu, berdasarkan nama-nama 7 diaken gereja Yerusalem yang terpilih itu, dapat diketahui bahwa semuanya adalah dari jemaat berbahasa Yunani. Hal ini mungkin disengaja, dikarenakan para janda dari golongan merekalah yang kurang mendapatkan bantuan sosial jemaat.

Jadi selain sebagai orang Kristen yang dikenal baik oleh jemaat dan masyarakat sekitarnya, hidup dipimpin oleh Roh Kudus dan memakai hikmat Tuhan, Filipus juga adalah seorang Yahudi berbahasa Yunani.  Artinya Filipus adalah orang Yahudi perantauan (diaspora) yang kemudian menetap di Yerusalem.

Hanya ini latar belakang Filipus yang dapat kita ketahui.

 

2. Ketika Terjadi Penganiayaan Terhadap Gereja Di Yerusalem, Filipus Pergi Memberitakan Injil Ke Samaria

Tatkala Stefanus, salah satu dari tujuh diaken gereja mula-mula, dihukum mati oleh orang-orang Yahudi, maka mulailah timbul penganiayaan yang hebat terhadap jemaat gereja mula-mula atau gereja Yerusalem. Inilah salah satu penganiayaan terbesar sejak kelahiran gereja Tuhan di bumi. (Baca: 7 Fakta Tentang Stefanus)

Hal ini membuat semua anggota jemaat gereja mula-mula, kecuali rasul-rasul, terpaksa pergi meninggalkan Yerusalem dan tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria untuk menghindari penganiayaan tersebut.

Namun, ternyata penganiayaan ini justru menjadi peluang bagi gereja mula-mula dalam memberitakan Injil di wilayah Yudea, Samaria, dan wilayah-wilayah lainnya di luar wilayah Israel. Dengan demikian, tanpa mereka sadari, mereka sedang menggenapi perintah Tuhan Yesus untuk membawa Injil hingga ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8).

Demikian juga dengan Filipus, ia pergi ke salah satu kota di Samaria (Kisah Para Rasul 8:1b, 4, 5).

Tidak disebutkan nama kota yang dituju oleh Filipus. Tetapi Justinus Martir, seorang bapa gereja yang hidup pada abad kedua Masehi, mengatakan bahwa kota tersebut adalah Gitta, karena inilah kota asal Simon si penyihir yang dilayani oleh Filipus (Kisah Para Rasul 8:9). Baca: 7 Fakta Tentang Simon Orang Samaria.

Sementara pakar Alkitab yang lain mengatakan bahwa kota yang dituju Filipus adalah Sebaste, kota Samaria kuno yang telah dipugar oleh raja Herodes, yang juga menjadi ibu kota wilayah Samaria.

Pendapat mana pun yang benar, yang jelas Filipus pergi ke wilayah Samaria, melampaui batas wilayah Israel di selatan, yakni Yudea, di mana terdapat kota Yerusalem.

Tidak disebutkan juga mengapa Filipus memilih kota tersebut, apakah Tuhan yang menyuruhnya ke situ ataukah atas pertimbangannya sendiri? Yang jelas, Filipus pergi ke salah satu kota di Samaria dengan satu tujuan: untuk memberitakan Injil Tuhan Yesus.

Penganiayaan atau penderitaan rupanya tidak membuat Filipus menjadi takut dan kecut hati, sekalipun hal itu membuatnya menjadi seorang pelarian! Sebaliknya, Filipus justru melihat kesulitan yang dihadapinya sebagai peluang untuk memberitakan Injil di luar Yerusalem.

 

3. Dengan Memberitakan Injil Kepada Orang Samaria, Yang Merupakan Musuh Abadi Bangsa Israel, Filipus Mendobrak Tradisi

Satu hal positif yang bisa kita pelajari dari Filipus adalah bahwa ia merupakan seorang pendobrak tradisi, yakni tradisi yang tidak alkitabiah. Filipus adalah orang yang tidak terpaku pada tradisi turun-temurun, ia mengubahnya jika tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Ketika Filipus memberitakan Injil di Samaria, sebenarnya ia bukan sekadar melewati batas wilayah, ras dan agama, tetapi juga mendobrak tradisi nenek moyang bangsanya yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Orang Samaria adalah musuh orang Israel, dan orang Israel tidak bergaul dengan mereka (Yohanes 4:9). Orang Samaria adalah campuran antara orang Israel dengan bangsa-bangsa lain yang didatangkan oleh Raja Asyur ke Samaria (2 Raja-raja 17:24-41).

Selain berbeda dalam hal ras, orang Israel juga berbeda dengan orang Samaria dalam hal agama. Agama orang Samaria adalah campuran antara agama orang Israel dengan agama-agama kafir. Mereka mempunyai tempat ibadahnya sendiri di Gunung Gerizim (Yohanes 4:20), berbeda dengan orang Israel yang mempunyai Bait Suci di Yerusalem.

Karena itulah orang Israel sangat membenci orang Samaria, dan hal ini sudah menjadi tradisi turun-temurun.

Tentu saja tradisi ini berasal dari nenek moyang orang Israel, bukan dari firman Tuhan. Sebab firman Tuhan mengajarkan orang Israel untuk mengasihi sesama manusia seperti diri mereka sendiri (Imamat 19:18).

Karena itulah, Filipus mendobrak tradisi tersebut dan kembali kepada ajaran firman Tuhan. Flipus menembus perbedaan dan menyudahi permusuhannya dengan orang Samaria. Filipus menawarkan Kabar Sukacita kepada orang-orang Samaria sehingga mereka beroleh keselamatan yang kekal.

Mungkin kita akan berpikir, bukankah sudah seharusnya Filipus memberitakan Injil ke segala bangsa, sebagaimana yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus? Itu memang benar.

Tetapi perlu diketahui bahwa seorang Yahudi yang menurut tradisi turun-temurun memusuhi orang Samaria, merangkul mereka demi Injil adalah suatu kemajuan besar. Sebab saat itu orang Yahudi masih beranggapan bahwa Injil ditujukan hanya bagi bangsa mereka sendiri, bukan untuk segala bangsa, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan.

Lihat saja misalnya rasul Petrus, ia begitu sulit pergi ke rumah Kornelius untuk menyampaikan Injil, karena dia bukan seorang Yahudi (Kisah Para Rasul 10:9-16). Demikian juga dengan orang-orang Kristen Yahudi lainnya, yang menjelajah sangat jauh sampai ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia, hanya memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi saja! (Kisah Para Rasul 11:19).

Jadi perginya Filipus ke Samaria untuk memberitakan Injil bukanlah hal yang biasa, tetapi sebuah kemajuan yang luar biasa, yang mendobrak tradisi yang tidak alkitabiah.

 

4. Sejak Pelayanan Ke Samaria, “Karier” Pelayanan Filipus Menanjak, Dari Seorang Diaken Menjadi Seorang Pemberita Injil

Sekalipun Filipus hanya seorang diaken, yang mengurusi malah-masalah sosial di jemaat Yerusalem, ternyata ia juga adalah seorang pemberita Injil yang efektif. Itulah sebabnya Filipus kemudian digelari sebagai Pemberita Injil (Kisah Para Rasul 21:8).

Selain untuk membedakannya dari Rasul Filipus, yang mempunyai nama yang sama, gelar itu pasti diberikan karena efektivitas pekerjaan Filipus dalam memberitakan Injil. Filipus telah bekerja jauh melebihi tugasnya sebagai diaken, yakni memberitakan Injil.

Filipus jelas telah “naik karier”, dari seorang diaken menjadi seorang pemberita Injil. Pemberita Injil di sini tentu bukan hanya sekadar sebutan saja, tetapi semacam jabatan resmi dalam gereja mula-mula, di bawah para rasul dan para nabi (Efesus 4:11).

Hal ini mengindikasikan bahwa Filipus, setelah bertahun-tahun “berkarier” dalam pemberitaan Injil di berbagai wilayah dan kota, diakui oleh gereja mula-mula sebagai seorang Pemberita Injil, bahkan mungkin “ditahbiskan” oleh mereka.

Pelayanan Filipus sebagai Pemberita Injil terutama terjadi di Samaria. Ia memperagakan mujizat-mujizat, seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan para rasul, sehingga sangat banyak orang Samaria yang percaya kepada Injil yang diberitakannya (Kisah Para Rasul 8:6-8).

Selain di Samaria, Filipus juga memberitakan Injil di kota-kota lain seperti di Asdod dan Kaisarea (Kisah Para Rasul 8:40), suatu jarak yang sangat jauh dari Yerusalem.

Dalam hal ini Filipus menyamai para rasul dalam luasnya jangkauan pelayanan dan banyaknya orang yang bertobat dalam pelayanannya. Bahkan dialah yang lebih dahulu daripada para rasul dalam memberitakan Injil di luar wilayah Yerusalem dan Yudea!

Sebagai murid-murid yang dilatih secara khusus oleh Tuhan Yesus, para rasul sudah sewajarnya melakukan pelayanan yang pertama kali ke luar wilayah Israel. Tetapi nyatanya Diaken Filipuslah yang Tuhan pakai untuk hal itu. Seorang diaken telah berubah menjadi seorang Pemberita Injil!

Lalu apa yang membuat Filipus bisa dipakai oleh Tuhan sampai sedemikian dalam pemberitaan Injil? Tentu jawabannya bukan karena ia mempunyai karunia khusus, walaupun ia memang mempunyai karunia-karunia Roh Kudus sebagaimana para rasul juga mempunyainya.

Jika demikian, apakah yang membuat cakupan pelayanan Filipus begitu luas dan banyaknya jiwa-jiwa yang bertobat dalam pelayananya? Jawabannya adalah karena Filipus tetap setia melayani Tuhan di masa yang paling sulit sekalipun, tanpa takut menghadapi penganiayaan yang terjadi. Tuhan memberkati pelayanan hambaNya yang setia!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!