Loading...
Loading...

7 Fakta Tentang Diaken Filipus

 

3. Dengan Memberitakan Injil Kepada Orang Samaria, Yang Merupakan Musuh Abadi Bangsa Israel, Filipus Mendobrak Tradisi

Satu hal positif yang bisa kita pelajari dari Filipus adalah bahwa ia merupakan seorang pendobrak tradisi, yakni tradisi yang tidak alkitabiah. Filipus adalah orang yang tidak terpaku pada tradisi turun-temurun, ia mengubahnya jika tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Ketika Filipus memberitakan Injil di Samaria, sebenarnya ia bukan sekadar melewati batas wilayah, ras dan agama, tetapi juga mendobrak tradisi nenek moyang bangsanya yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Orang Samaria adalah musuh orang Israel, dan orang Israel tidak bergaul dengan mereka (Yohanes 4:9). Orang Samaria adalah campuran antara orang Israel dengan bangsa-bangsa lain yang didatangkan oleh Raja Asyur ke Samaria (2 Raja-raja 17:24-41).

Selain berbeda dalam hal ras, orang Israel juga berbeda dengan orang Samaria dalam hal agama. Agama orang Samaria adalah campuran antara agama orang Israel dengan agama-agama kafir. Mereka mempunyai tempat ibadahnya sendiri di Gunung Gerizim (Yohanes 4:20), berbeda dengan orang Israel yang mempunyai Bait Suci di Yerusalem.

Karena itulah orang Israel sangat membenci orang Samaria, dan hal ini sudah menjadi tradisi turun-temurun.

Tentu saja tradisi ini berasal dari nenek moyang orang Israel, bukan dari firman Tuhan. Sebab firman Tuhan mengajarkan orang Israel untuk mengasihi sesama manusia seperti diri mereka sendiri (Imamat 19:18).

Karena itulah, Filipus mendobrak tradisi tersebut dan kembali kepada ajaran firman Tuhan. Flipus menembus perbedaan dan menyudahi permusuhannya dengan orang Samaria. Filipus menawarkan Kabar Sukacita kepada orang-orang Samaria sehingga mereka beroleh keselamatan yang kekal.

Mungkin kita akan berpikir, bukankah sudah seharusnya Filipus memberitakan Injil ke segala bangsa, sebagaimana yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus? Itu memang benar.

Tetapi perlu diketahui bahwa seorang Yahudi yang menurut tradisi turun-temurun memusuhi orang Samaria, merangkul mereka demi Injil adalah suatu kemajuan besar. Sebab saat itu orang Yahudi masih beranggapan bahwa Injil ditujukan hanya bagi bangsa mereka sendiri, bukan untuk segala bangsa, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan.

Lihat saja misalnya rasul Petrus, ia begitu sulit pergi ke rumah Kornelius untuk menyampaikan Injil, karena dia bukan seorang Yahudi (Kisah Para Rasul 10:9-16). Demikian juga dengan orang-orang Kristen Yahudi lainnya, yang menjelajah sangat jauh sampai ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia, hanya memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi saja! (Kisah Para Rasul 11:19).

Jadi perginya Filipus ke Samaria untuk memberitakan Injil bukanlah hal yang biasa, tetapi sebuah kemajuan yang luar biasa, yang mendobrak tradisi yang tidak alkitabiah.

 

4. Sejak Pelayanan Ke Samaria, “Karier” Pelayanan Filipus Menanjak, Dari Seorang Diaken Menjadi Seorang Pemberita Injil

Sekalipun Filipus hanya seorang diaken, yang mengurusi malah-masalah sosial di jemaat Yerusalem, ternyata ia juga adalah seorang pemberita Injil yang efektif. Itulah sebabnya Filipus kemudian digelari sebagai Pemberita Injil (Kisah Para Rasul 21:8).

Selain untuk membedakannya dari Rasul Filipus, yang mempunyai nama yang sama, gelar itu pasti diberikan karena efektivitas pekerjaan Filipus dalam memberitakan Injil. Filipus telah bekerja jauh melebihi tugasnya sebagai diaken, yakni memberitakan Injil.

Filipus jelas telah “naik karier”, dari seorang diaken menjadi seorang pemberita Injil. Pemberita Injil di sini tentu bukan hanya sekadar sebutan saja, tetapi semacam jabatan resmi dalam gereja mula-mula, di bawah para rasul dan para nabi (Efesus 4:11).

Hal ini mengindikasikan bahwa Filipus, setelah bertahun-tahun “berkarier” dalam pemberitaan Injil di berbagai wilayah dan kota, diakui oleh gereja mula-mula sebagai seorang Pemberita Injil, bahkan mungkin “ditahbiskan” oleh mereka.

Pelayanan Filipus sebagai Pemberita Injil terutama terjadi di Samaria. Ia memperagakan mujizat-mujizat, seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan para rasul, sehingga sangat banyak orang Samaria yang percaya kepada Injil yang diberitakannya (Kisah Para Rasul 8:6-8).

Selain di Samaria, Filipus juga memberitakan Injil di kota-kota lain seperti di Asdod dan Kaisarea (Kisah Para Rasul 8:40), suatu jarak yang sangat jauh dari Yerusalem.

Dalam hal ini Filipus menyamai para rasul dalam luasnya jangkauan pelayanan dan banyaknya orang yang bertobat dalam pelayanannya. Bahkan dialah yang lebih dahulu daripada para rasul dalam memberitakan Injil di luar wilayah Yerusalem dan Yudea!

Sebagai murid-murid yang dilatih secara khusus oleh Tuhan Yesus, para rasul sudah sewajarnya melakukan pelayanan yang pertama kali ke luar wilayah Israel. Tetapi nyatanya Diaken Filipuslah yang Tuhan pakai untuk hal itu. Seorang diaken telah berubah menjadi seorang Pemberita Injil!

Lalu apa yang membuat Filipus bisa dipakai oleh Tuhan sampai sedemikian dalam pemberitaan Injil? Tentu jawabannya bukan karena ia mempunyai karunia khusus, walaupun ia memang mempunyai karunia-karunia Roh Kudus sebagaimana para rasul juga mempunyainya.

Jika demikian, apakah yang membuat cakupan pelayanan Filipus begitu luas dan banyaknya jiwa-jiwa yang bertobat dalam pelayananya? Jawabannya adalah karena Filipus tetap setia melayani Tuhan di masa yang paling sulit sekalipun, tanpa takut menghadapi penganiayaan yang terjadi. Tuhan memberkati pelayanan hambaNya yang setia!

 

5. Filipus Tuhan Pakai Untuk Memenangkan Seorang Pejabat Etiopia Kepada Yesus

Suatu ketika Tuhan melalui seorang malaikatnya menyuruh Filipus untuk pergi ke sebuah jalan dari Yerusalem menuju Gaza, sebuah jalan yang sunyi. Walaupun saat itu perintah Tuhan tidak begitu spesifik bagi Filipus, karena Tuhan tidak menyebutkan maksudNya dengan perintah tersebut, namun ia menaatinya. Filipus pergi ke jalan tersebut tanpa banyak bertanya.

Ketika Filipus tiba di tempat yang diperintahkan oleh Tuhan, ternyata seorang sida-sida Etiopia yang baru saja pulang beribadah dari Yerusalem, sedang lewat dengan keretanya di jalan tersebut. Rupanya sida-sida itu adalah seorang pejabat tinggi, karena ia merupakan kepala perbendaharaan Ratu Etiopia. Jelas, ia adalah seorang proselit, penganut agama Yahudi dari bangsa lain.

Roh Kudus kemudian memerintahkan Filipus untuk mendekati kereta sida-sida tersebut, tanpa memberitahukan selanjutnya apa yang harus diperbuat oleh Filipus. Tetapi kali ini pun Filipus taat. Walau ia belum tahu apa yang akan dilakukannya selanjutnya, namun ia mendekati kereta sida-sida tersebut.

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!