7 Fakta Tentang Nabi Natan Di Alkitab

Nabi Natan di Alkitab adalah salah satu tokoh Alkitab yang penting, khususnya di dalam Perjanjian Lama.

Tetapi bagi sebagian orang Kristen nama nabi Natan mungkin masih terasa asing.

Padahal peran nabi Natan cukup penting pada zaman pemerintahan raja Daud dan di awal pemerintahan raja Salomo, anak Daud.

Baca juga: 7 Fakta tentang nabi Yesaya di Alkitab

Natan adalah salah satu nabi Israel yang berpengaruh di Alkitab, sekalipun namanya tidak sepopuler nabi-nabi besar lainnya, seperti Yeremia dan Daniel.

Kisah Nabi Natan sangat menarik untuk disimak.

Bukan saja karena ia adalah salah satu tokoh yang cukup penting di Alkitab, tetapi juga karena ia mempunyai kisah pelayanan yang menarik, yang patut untuk dipelajari.

Baca juga: 7 Fakta tentang nabi Yeremia di Alkitab

Kisah pelayanan Nabi Natan di Alkitab, khususnya dalam kaitannya dengan raja Daud, telah menjadi salah satu kisah pelayanan nabi di Alkitab yang paling banyak diingat oleh orang Kristen sepanjang masa.

Kisah pelayanan Nabi Natan di Alkitab terdapat di dalam kitab 2 Samuel dan 1 Tawarikh.

Lalu, bagaimanakah pelayanan Nabi Natan di Israel?

Bagaimana pelayanannya pada masa pemerintahan raja Daud sebagai raja Israel?

Baca juga: 7 Fakta tentang nabi Elia di Alkitab

Apa peran penting nabi Natan dalam menaikkan Salomo menjadi raja Israel menggantikan ayahnya, Daud?

Dan apa saja yang patut kita pelajari dari hidup nabi Natan?

Semua hal tersebut akan dibahas dalam artikel ini.

Di sini dicatat 7 fakta penting tentang nabi Natan menurut Alkitab.

Berikut pembahasannya.

 

1. Nabi Natan pertama kali muncul di Alkitab ketika Daud menyampaikan keinginannya kepadanya untuk membangun Bait Suci

Pertama sekali nabi Natan muncul di Alkitab adalah tatkala Daud mengutarakan niatnya untuk mendirikan rumah Tuhan atau Bait Suci.

Sebab raja Daud tidak tega melihat Tabut Perjanjian Tuhan tinggal dalam tenda sementara ia tinggal di dalam rumah dari kayu aras.

Dalam Kisah Para Rasul 7:46-47 bahkan dikatakan bahwa Daud memohon kepada Tuhan perihal keinginannya tersebut.

Ketika Daud menyampaikan keinginannya untuk mendirikan rumah Tuhan atau Bait Suci, maka nabi Natan menyetujuinya.

Nabi Natan jelas memandang niat baik Daud tersebut sebagai ide yang bagus dan memuliakan Tuhan.

Nabi Natan berkata kepada raja Daud,

“Lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab Allah menyertai engkau.” (1 Tawarikh 17:1-2).

 

2. Melalui nabi Natan Tuhan tidak mengizinkan Daud

membangun Bait Suci, tetapi anaknya, Salomo

Sekalipun niat Daud untuk mendirikan rumah Tuhan atau Bait Suci adalah niat yang baik, namun Tuhan ternyata tidak mengabulkannya.

Sebab anaknyalah, Salomo, yang kemudian membangun Bait Suci tersebut.

Hal itu disampaikan Tuhan kepada raja Daud melalui nabi Natan (1 Tawarikh 17:3-15).

Menurut 1 Tawarikh 22:7-8, alasan mengapa Tuhan menolak keinginan Daud adalah karena tangannya telah banyak menumpahkan darah (dosa pembunuhan).

Karena itu Tuhan akan memilih anak kandung Daud sendiri sebagai raja untuk menggantikannya dan dialah yang akan membangun rumah bagi Allah.

Dan hal ini tergenapi ketika Salomo, anak kandung Daud, bertakhta menggantikan dia sebagai raja Israel dan ia berhasil membangun Rumah Allah/Bait Suci (Baca: 7 Bait Allah di Alkitab dan penjelasannya).

Penolakan Allah atas doa Daud di satu sisi menunjukkan kehendak Allah agar Salomo yang membangun BaitNya.

Namun di sisi lain, juga karena Daud telah melakukan dosa sehingga tidak layak bagi Allah untuk membangun RumahNya, sekalipun ia adalah raja yang besar. (Baca: 7 Tokoh Alkitab Yang Doanya Tidak Dikabulkan)

 

3. Nabi Natan menegur raja

Daud ketika ia berzinah dengan Batsyeba

Setelah mapan menjadi raja Israel, Daud kemudian jatuh ke dalam dosa.

Ketika Daud berjalan-jalan di atas istananya, ia melihat Batsyeba sedang mandi.

Lalu Daud menyuruh memanggilnya dan melakukan hubungan seksual dengannya, padahal Batsyeba saat itu sudah menikah dengan Uria, salah satu prajurit Daud.

Untuk menutupi perbuatannya, Daud pun menyuruh Uria segera pulang ke rumahnya.

Tetapi sebagai prajurit sejati, Uria tidak mau pulang, sebab ia merasa “tidak enak” berada di rumah sementara teman-temannya yang lain masih ada dalam pertempuran.

Ketika siasatnya ini gagal, Daud pun merancangkan siasat yang lain, yang lebih licik.

Daud memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Uria dengan cara menempatkannya di bagian paling depan dalam pertempuran!

Setelah Uria mati, maka Daud mengambil Batsyeba menjadi istrinya.

Hal ini membuat Tuhan murka dan menghukum Daud.

Melalui nabi Natan, Tuhan menegur keras Daud dan menyampaikan hukumanNya.

Tuhan berkata bahwa pedang tidak akan berkesudahan dari keluarga Daud, dan bahwa istri-istri Daud akan diperkosa di hadapan umum.

Selain itu, anak hasil hubungan Daud dengan Batsyeba juga akan mati. (2 Samuel 12:1-12).

 

4. Nabi Natan menyampaikan pengampunan Tuhan kepada 

Daud ketika ia mengakui dosanya di hadapan Tuhan

Ketika Daud mendengar teguran Tuhan ia pun bertobat dan merendahkan diri di hadapanNya.

Mazmur 51 adalah doa pertobatan Daud.

Kendati demikian, konsekuensi dosa Daud, tetap ada.

Hukuman Tuhan atasnya tetap terjadi, seperti yang dikatakan nabi Natan. (2 Samuel 12:13-14).

Pembunuhan banyak terjadi dalam keluarga Daud, seperti Absalom membunuh Amnon, saudaranya, dan Salomo membunuh Adonia, saudaranya.

Istri-istri Daud diperkosa Absalom di hadapan bangsa Israel.

Dan anak Daud dan Batsyeba akhirnya meninggal ditulahi Tuhan.

 

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!