7 Fakta Tentang Nabi Yesaya Di Alkitab

 

Nama nabi Yesaya tentu sudah tidak asing lagi bagi kita, orang percaya. Ada banyak catatan tentang nabi Yesaya di Alkitab.

Yesaya adalah salah satu nabi terbesar di Perjanjian Lama.

Nabi Yesaya terutama kita kenal dari kitab yang ditulisnya, yakni kitab Yesaya. Selain berisi nubuat, kitabnya tersebut juga berisi profil Yesaya sendiri.

Kitab Yesaya, digolongkan pada kitab nabi-nabi besar, bersama Kitab Yeremia, Yehezkiel, dan Kitab Daniel. Hal ini disebabkan oleh tebalnya kitab mereka, serta luasnya jangkauan nubuat-nubuat mereka.

Baca juga: 7 Fakta Tentang Simson

Pengaruh Yesaya sebagai nabi di Yehuda/Israel Selatan sangat besar pada masanya.

Selain itu, Yesaya juga banyak bernubuat tentang kedatangan Mesias atau Juruselamat dunia, melebihi nabi-nabi lainnya. Juga bernubuat tentang akhir zaman.

Baca juga: 10 Nabi Terbesar Di Perjanjian Lama

Seperti apakah sebenarnya pribadi nabi Yesaya di Alkitab? Bagaimana pelayanannya selama menjadi nabi di Israel/Yehuda? Hal-hal apa saja yang bisa kita teladani dari dia?

Semuanya ini akan dibahas dalam artikel ini. Di sini dicatat 7 fakta penting seputar nabi Yesaya di Alkitab. Fakta-fakta apa sajakah itu? berikut pembahasannya.

 

1. Nabi Yang Rendah Hati

Pada tahun matinya Uzia, raja Yehuda, Nabi Yesaya melihat suatu penglihatan spektakuler tentang kemuliaan Tuhan. Ia melihat Tuhan duduk di tahta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahNya memenuhi Bait Suci.

Yesaya juga melihat para Serafim, yakni para malaikat, berdiri di sebelah atasNya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka, dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.

Dan mereka berseru seorang kepada yang lain, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan oleh suara para Serafim tersebut, dan ruangan itu pun penuh dengan asap.

Mendapat penglihatan tentang kemuliaan dan kekudusan Tuhan yang spektakuler tersebut, Yesaya pun menjadi takut. Ia menganggap dirinya celaka dan binasa, sebab dia telah melihat Tuhan, padahal tidak ada seorang manusia pun yang boleh melihat Tuhan.

Di sisi lain, Yesaya juga menyadari keberadaan dirinya yang tidak kudus, apalagi jika dibandingkan dengan kekudusan Tuhan, seperti yang diserukan oleh para Serafim tersebut. Yesaya merasa dirinya adalah seorang yang berdosa, orang yang najis bibir serta tinggal di antara orang-orang yang najis bibir.

Tentu hal ini tidak berarti bahwa Yesaya adalah seorang yang jahat secara moral. Dia hanya menyadari kekudusan Tuhan yang luar biasa serta membandingkannya dengan kekudusan dirinya sendiri.

Meski demikian, untuk menguduskan bibirnya yang dianggapnya najis, salah seorang dari Serafim tersebut terbang kepadanya dengan membawa bara yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah dan menyentuhkannya pada mulut Yesaya. Dengan demikian dosa Yesaya telah diampuni dan dia telah disucikan (Yesaya 6:1-7).

Api atau bara memang adalah lambang penyucian seseorang (Amsal 25:22; Roma 12:20).

Kesadaran Nabi Yesaya akan keberdosaannya adalah bentuk kerendahan hatinya di hadapan Tuhan.

Perlu diketahui bahwa ketika melihat penglihatan ini Yesaya sudah melayani sebagai nabi Tuhan. Sebab ia sudah melayani pada masa pemerintahan raja Uzia (Yesaya 1:1) atau sebelum Uzia meninggal. Sementara penglihatan ini dilihatnya pada tahun kematian Uzia, atau setelah Uzia meninggal (Yesaya 6:1).

Sebagai seorang nabi Tuhan, sudah pasti Yesaya dekat dengan Tuhan serta sering mendapat pesan dariNya untuk disampaikan kepada umat. Namun hal itu tidak membuatnya menjadi sombong rohani, merasa lebih dekat dengan Tuhan dibanding orang-orang lainnya.

Sebaliknya, Yesaya menyadari kelemahannya sebagai nabi, yang merasa belum mencapai level kekudusan yang Tuhan inginkan.

 

2. Nabi Yang Merespons Panggilan Tuhan

Ketika Nabi Yesaya mendapat penglihatan yang spektakuler, yang membuatnya menyadari keberdosaannya di hadapan Tuhan, Tuhan pun menantangnya.

Tuhan bertanya siapakah orang yang mau diutusNya. “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Sekalipun hanya Yesaya yang mendengar tantangan Tuhan tersebut, namun Tuhan bertanya dengan cara demikian.

Tuhan tidak bertanya secara langsung, “Apakah kamu mau Aku utus?” Tetapi pertanyaan itu bermaksud mengatakan demikian. Dan jawaban Nabi Yesaya adalah, “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8).

Seperti telah disebutkan,  panggilan Tuhan ini bukanlah yang pertama kali bagi Yesaya, sebab Yesaya saat itu sudah mejadi nabi. Karena itu panggilan ini adalah peneguhan atau katakanlah panggilan yang kedua bagi Yesaya.

Mungkin panggilan kedua ini diperlukan bagi Yesaya mengingat kematian Uzia, raja Yehuda yang hebat, membuat keadaan Yehuda semakin tak menentu, termasuk dalam hal keagamaan.

Tuhan ingin agar Yesaya siap menghadapi bangsa Yehuda yang semakin keras kepala usai kematian raja Uzia. Tetapi dengan memperlihatkan kemuliaanNya kepada Yesaya, Tuhan ingin menunjukkan kepada Yesaya bahwa kendali atas alam semesta ada di tanganNya.

Dan seperti telah disebut di atas, Yesaya merespons panggilan Tuhan tersebut secara spontan. Dia bersedia Tuhan utus kepada bangsa yang bebal. Yesaya merasa penglihatan yang dilihatnya tentang kebesaran Tuhan sudah cukup membuatnya merasa terhibur dan dikuatkan.

Jawaban Yesaya ini patut diapresiasi karena dua alasan. Pertama, Yesaya baru saja menyadari kenajisannya dan ketidak-layakannya di hadapan Tuhan, sekalipun Serafim sudah menyucikan mulutnya. Dia segera menanggapi panggilan Tuhan di saat yang sama ketika dia menyadari kelemahan dan kekurangannya.

Dia tidak merasa minder atau merasa tidak layak Tuhan utus. Bandingkan dengan Musa (Keluaran 4:10,13) dan Yeremia (Yeremia 1:6), yang berdalih ketika dipanggil oleh Tuhan, sehingga Ia harus “memaksa” mereka untuk bersedia Dia utus.

Berbeda dengan Yesaya. Ketika Tuhan memanggilnya, Yesaya langsung merespons, “Ini aku, utuslah aku!”

Kedua, mengingat keadaan bangsa Yehuda yang degil dan keras kepala, yang kepadanya Yesaya diutus.

Dalam pasal-pasal pertama kitab Yesaya telah dijabarkan tentang keadaan bangsa Yehuda yang murtad meninggalkan Tuhan. Yesaya jelas menyadari kepada orang-orang seperti apa ia diutus. Namun dia tidak takut dan berkecil hati, dia memberi dirinya diutus kembali. Ini adalah respons yang patut diapresiasi dari Nabi Yesaya.

 

3. Nabi Yang Siap Mengalami Penolakan

Setelah Yesaya memberi dirinya untuk melayani sebagai utusan Tuhan, maka Tuhan memerintahkannya untuk pergi menyampaikan pesanNya kepada bangsa Yehuda.

Tetapi berita yang akan disampaikan Yesaya bukanlah berita yang mendorong orang untuk percaya dan bertobat, tetapi berita yang membuat orang untuk tidak percaya dan tidak bertobat!

Berita yang harus disampaikan Yesaya adalah berita yang membuat bangsa Yehuda semakin keras kepala, bukannya membuat mereka merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Bukan hanya itu, ternyata hal ini berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama, sampai Yesaya “pensiun” dari pelayanannya!

Ketika Yesaya bertanya kepada Tuhan sampai kapan penolakan itu akan terjadi, Tuhan menjawab, “Sampai kota-kota telah lengang sunyi sepi, tidak ada lagi yang mendiami, dan di rumah-rumah tidak ada lagi manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi.” (Yesaya 6:9-13).

Ini mengacu pada zaman pembuangan yang akan dialami oleh bangsa Yehuda. Artinya, pemberitaan Yesaya yang ditolak itu terjadi sampai akhir pelayanannya!

Sebab Yesaya hanya melayani sampai masa pemerintahan Hizkia, atau paling banter sampai zaman Manasye, anak Hizkia, sebagaimana dicatat dalam tradisi. Padahal pembuangan itu terjadi pada zaman pemerintahan raja Zedekia, puluhan tahun setelah zaman pemerintahan Manasye berakhir atau masa pelayanan Yesaya.

Namun Yesaya harus tetap setia melayani bangsa Yehuda sekalipun ia tahu bahwa mereka akan menolak beritanya.

Lalu untuk apa Tuhan masih menyuruh Yesaya memberitakan firman Tuhan kepada bangsa Yehuda jika Dia sudah tahu bahwa mereka akan menolaknya? Tujuannya adalah untuk menunjukkan betapa degilnya hati mereka, dan agar mereka semakin “masak” untuk dihukum.

Memang, pelayanan seperti ini tentulah tidak menggembirakan. Sebaliknya, yang ada hanya kesedihan, kekecewaan, dan kejengkelan. Akan tetapi hal itu tidak boleh ditolak oleh Yesaya. Ia harus setia memberitakan firman itu kepada orang-orang yang akan menolaknya.

Mungkin mereka akan mencemoohnya, menghinanya, bahkan menganiaya dirinya, tetapi dia tidak boleh melarikan diri. Inilah pelayanan yang harus dijalankan oleh Yesaya, ia harus berhadapan dengan orang-orang keras kepala yang tidak mau bertobat.

Dengan memberi dirinya diutus Tuhan, maka Yesaya telah siap mengalami penolakan dari bangsanya sendiri. Dia memilih untuk taat pada perintah Tuhan.

 

4. Nabi Yang Melayani Bersama Keluarga

Alkitab tidak banyak memberi informasi tentang latar belakang kehidupan Nabi Yesaya. Dalam tradisi Yahudi memang Yesaya disebut berasal dari keluarga bangsawan, namun hal ini tidak dapat dipastikan, karena Alkitab tidak menyebut hal itu.

Tetapi Alkitab memberi informasi yang cukup jelas tentang keluarga Yesaya. Yesaya menikah dan mempunyai dua orang anak laki-laki. Kedua anaknya  itu diberi nama simbolis, yang berkaitan dengan nubuatnya.

Anak pertama Yesaya bernama Syear Yasyub (Yesaya 7:3), yang artinya, “Sisa itu akan kembali”, yang mengacu pada kembalinya orang Yehuda kelak dari pembuangan.

Nama anak Yesaya ini muncul ketika Tuhan mengutus Yesaya kepada raja Ahas. Tuhan ketika itu mengatakan agar Yesaya membawa serta anaknya, Syear Yasyub.

Saat itu bangsa Aram dan bangsa Israel Utara mau menyerang bangsa Yehuda. Akibatnya Ahas, raja Yehuda, beserta seluruh rakyatnya menjadi sangat takut. Karena itu, Tuhan mengutus nabiNya, Yesaya, untuk menyampaikan firmanNya kepada Ahas.

Melalui Nabi Yesaya, Tuhan mengatakan bahwa bangsa Aram dan Israel Utara tidak akan menyerang Yehuda.

Tidak jelas apa peran anak Yesaya di sini, mungkin hanya menemani ayahnya saja. Namun boleh jadi Syear Yasyub sudah terbiasa menemani ayahnya dalam pelayanannya.

Anak kedua Yesaya bernama Maher-Syalal Hasy-Bas, yang artinya, “Percepatlah merampas, bersegeralah merampok”. Nama ini muncul pertama kali ketika Tuhan memerintahkan Yesaya untuk menuliskan kata Maher-Syalal Hasy-Bas di atas batu tulis.

Kemudian ketika Istri Yesaya mengandung dan melahirkan anak, Tuhan memerintahkan agar Yesaya menamai anak tersebut Maher-Syalal Hasy-Bas. Tuhan mengatakan bahwa sebelum anak itu tahu memanggil: Bapa! atau Ibu! maka kekayaan Aram dan Israel Utara akan diangkut oleh bangsa Asyur.

Sementara istri Yesaya adalah seorang nabiah atau nabi perempuan. Dalam terjemahan Alkitab LAI hanya disebutkan bahwa Yesaya menghampiri “istriku”  (Yesaya 8:1-4).

Namun dalam bahasa aslinya, bahasa Ibrani, kata yang dipakai adalah “n’biy’ah” yang berarti nabiah atau nabi perempuan.

Pelayanan istri Yesaya memang tidak disebutkan, tetapi disebutnya dia sebagai nabiah mengindikasikan bahwa dia juga melayani sebagai nabi. Memang di Perjanjian Lama terdapat sejumlah nabiah yang melayani (Baca: 7 Nabi Perempuan Di Alkitab).

Tampaknya Yesaya telah membimbing istri dan anak-anaknya untuk mengenal dan melayani Tuhan dengan baik, sehingga mereka aktif terlibat dalam pelayanan.

Di Alkitab, khususnya di Perjanjian Lama, sangat jarang seorang pelayan Tuhan atau nabi melibatkan pasangannya atau anak-anaknya dalam melayaniNya. Karena itu boleh dikatakan bahwa Yesaya telah membawa anak-anak dan istrinya pada level pengenalan akan Tuhan serta pelayanan terhadapNya.

 

5. Nabi Yang Menghibur Dan Menguatkan

Nabi Yesaya melayani pada masa pemerintahan empat raja Yehuda, yakni Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia, namun Alkitab mencatat Yesaya mengadakan kontak secara langsung hanya dengan dua raja Yehuda, yakni Ahas dan Hizkia.

Salah satu pelayanan Yesaya kepada raja Ahas telah disinggung sebelumnya, di mana Yesaya pergi menjumpai Ahas bersama anaknya (lihat poin 4 di atas).

Pada saat itu Yesaya menyampaikan Firman Tuhan yang menghibur dan menguatkan hati, yakni bahwa bangsa Aram dan bangsa Israel Utara tidak akan menyerang Yehuda. Yesaya hanya meminta agar Ahas percaya kepada Tuhan.

Tetapi sayang, Ahas tidak mendengar perkataan Yesaya, dia malah meminta pertolongan kepada raja Asyur (2 Raja-raja 16:5-18), sehingga Tuhan mengizinkan bangsa Aram dan Israel Utara untuk menyerang Yehuda. Ahas memang dikenal sebagai raja yang jahat.

Salah satu pelayanan Yesaya kepada raja Hizkia, anak Ahas yang menggantikannya menjadi raja Yehuda, juga terjadi karena bangsa Yehuda akan diserang oleh bangsa lain, dalam hal ini bangsa Asyur.

Saat itu bangsa Asyur mengepung Yerusalem dan mereka mengancam akan menyerang Yehuda. Para utusan raja Asyur mendekati istana raja Hizkia dan mulai melakukan teror kepada segenap rakyat Yehuda. Hal ini membuat Hizkia dan para petinggi Yehuda serta rakyat Yehuda menjadi takut.

Karena itu raja Hizkia mengutus para bawahannya untuk menemui Nabi Yesaya. Tuhan, melalui Nabi Yesaya, mengatakan bahwa Asyur tidak akan berhasil menyerang Yehuda. Yesaya menasihati mereka untuk tidak takut serta percaya kepada Tuhan.

Dan, berbeda dengan ayahnya, Hizkia taat, ia percaya kepada Tuhan sehingga Dia meluputkan Yehuda dari tangan bangsa Asyur. Hizkia memang dikenal sebagai raja yang saleh dan takut akan Tuhan. (Baca: 10 Raja Israel Terbesar Di Alkitab)

Peristiwa lain di mana Yesaya melayani Hizkia adalah ketika raja tersebut sedang sakit dan memohon petunjuk Tuhan kepada Nabi Yesaya. Yesaya menyampaikan firman Tuhan bahwa ia akan mati, karena itu hendaklah ia memberikan pesan terakhirnya.

Mendengar hal ini maka Hizkia pun memohon kepada Tuhan untuk kesembuhannya, ia berdoa sambil menangis. Mendengar doa Hizkia ini maka melalui Yesaya Tuhan menyampaikan firmanNya bahwa Hizkia tidak akan mati, ia akan hidup selama 15 tahun lagi (Yesaya 37:1-38).

Dalam tiga peristiwa pelayanan Yesaya kepada dua raja Yehuda di atas, kita melihat bahwa pelayanan Yesaya adalah pelayanan penghiburan dan peneguhan umat Tuhan yang sedang lemah, sakit dan takut. Yesaya berusaha untuk menghibur dan menguatkan mereka.

Memang salah satu tugas pelayan Tuhan adalah menghibur dan menguatkan umat Tuhan. Bahkan itulah yang menjadi tugas utama mereka, termasuk nabi-nabi di Perjanjian Baru (1 Korintus 14:3).

 

6. Nabi Yang Tegas Dan Berani

Meski Nabi Yesaya banyak melakukan pelayanan penghiburan dan peneguhan bagi umat Tuhan, namun dia tidak lupa untuk memberi teguran terhadap berbagai penyimpangan yang terjadi.

Inilah suara kenabian yang sesungguhnya, yakni menyuarakan kebenaran di tengah-tengah ketidak-benaran dan penyimpangan terhadap firman Tuhan.

Yesaya adalah tipe hamba Tuhan yang tegas dan berani dalam menyuarakan kebenaran. Dia tidak akan segan-segan menegur keras para raja Yehuda yang dilihatnya bertindak secara tidak benar, sekalipun mereka adalah pemimpin tertinggi atas kerajaan Yehuda.

Ketegasan Yesaya ini dapat kita baca baik dalam nubuat-nubuatnya maupun dalam kisah yang dicatat dalam kitabnya, Kitab Yesaya.

Salah satu contoh ketegasan dan keberanian Yesaya dalam menyuarakan kebenaran adalah ketika ia menegur raja Hizkia.

Hizkia menerima banyak berkat Tuhan dalam hidupnya. Namun sayang, dalam perjalanan hidupnya selanjutnya, setelah menerima banyak berkat-berkat Tuhan, Hizkia menjadi angkuh dan tidak berterima kasih kepadaNya.

Hal ini berkenaan dengan tindakannya dalam memamerkan segala harta kekayaannya di istananya kepada utusan-utusan raja Babel.

Maksud kedatangan utusan-utusan raja Babel tersebut adalah untuk mengadakan persekutuan dengan Hizkia. Dan Hizkia menunjukkan semua harta kekayaannya kepada mereka untuk membuktikan bahwa ia adalah teman sekutu yang layak diperhitungkan oleh orang Babel.

Hal itu berarti bahwa Hizkia mulai mengandalkan orang Babel dalam peperangannya menghadapi musuh-musuhnya. Dengan demikian ia melupakan Tuhan dan tidak lagi mengandalkanNya.

Itulah sebabnya Yesaya menegur Hizkia dengan keras atas perbuatannya itu. Dan Yesaya menyampaikan hukuman Tuhan kepadanya dan kepada bangsa Yehuda.

Untunglah Hizkia tidak marah atas hardikan Yesaya tersebut. Ia cepat bertobat dan merendahkan diri di hadapanNya, sehingga hukuman yang Tuhan rancangkan tidak sempat ditimpakan kepada Hizkia dan bangsa Yehuda pada masanya, hukuman tersebut baru terjadi setelah kematian Hizkia (Yesaya 39:1-8).

Menjadi seorang pelayan Tuhan memang tidak bisa hanya menyampaikan kata-kata yang menghibur dan menguatkan, tetapi juga harus menyampaikan teguran bahkan kata-kata keras yang menghardik bilamana terjadi penyimpangan. Dan Yesaya adalah teladan yang baik atas hal ini.

 

7. Nabi Yang Setia Melayani Selama Puluhan Tahun

Dari Yesaya 1:1 kita dapat mengetahui bahwa nabi Yesaya melayani pada masa pemerintahan empat raja Yehuda (Israel Selatan), yakni: Uzia atau Azarya, Yotam, Ahas, dan Hizkia.

Uzia atau Azarya adalah ayah Yotam, Yotam adalah ayah Ahas, dan Ahas adalah ayah Hizkia. Sebagaimana dicatat di Alkitab, lamanya masa pemerintahan Uzia adalah 52 tahun, Yotam 16 tahun, Ahas 16 tahun dan Hizkia 29 tahun. Total keempat raja Yehuda ini memerintah selama 113 tahun.

Yesaya diperkirakan mulai melayani pada akhir masa pemerintahan raja Uzia hingga akhir pemerintahan raja Hizkia. Jika masa pemerintahan Uzia tidak dihitung pun, Yesaya telah melayani selama 61 tahun.

Tentu ini adalah suatu rentang waktu pelayanan yang sangat panjang. Yesaya adalah salah satu nabi Israel/Yehuda paling lama melayani, bersama Daniel, Yeremia dan Yehezkiel.

Selain salah satu nabi yang paling lama melayani, kitab yang ditulisnya, yakni kitab Yesaya, juga merupakan kitab paling panjang di antara kitab nabi-nabi di Alkitab, mencakup 66 pasal.

Di samping itu, nubuat Yesaya juga mempunyai cakupan yang paling luas. Nubuat Yesaya menjangkau sangat jauh ke depan, yakni pembuangan bangsa Yehuda ke Babel dan pemulangannya kembali ke Tanah Perjanjian, bahkan dicatat secara mendetail dengan menyebut nama raja Persia yang akan memulangkan bangsa Israel, yakni Koresh (Yesaya 40-48).

Bukan hanya itu, nubuat Nabi Yesaya mencakup juga kedatangan Mesias, akhir zaman, serta langit dan bumi yang baru (Yesaya 66). Di antara para nabi Israel, Yesayalah yang paling banyak bernubuat tentang Mesias, terutama penderitaan dan kematianNya, yang dalam kitab Yesaya disebut sebagai Hamba (Yesaya 52:13-53:12).

Dari hal-hal ini semua tidaklah  berlebihan jika kita mengatakan bahwa Yesaya adalah salah satu nabi terbesar yang ada di Alkitab.

Selama rentang waktu pelayanan Nabi Yesaya yang panjang, puluhan tahun, sudah pasti ia mengalami banyak tantangan yang dihadapi.

Seperti telah disebut sebelumnya, Yesaya harus memberitakan firman Tuhan kepada orang-orang Yehuda yang sudah pasti menolaknya (lihat poin 3 di atas).

Ia juga harus menegur raja-raja Yehuda bilamana mereka menyimpang dari firman Tuhan.

Dan pasti banyak hal lain lagi yang dihadapi Yesaya selama pelayanannya kepada bangsa Yehuda yang tidak tercatat di Alkitab. Apalagi pada zaman raja Ahas, salah satu raja Yehuda paling jahat, sudah pasti banyak tantangan yang dihadapi Yesaya.

Bahkan menurut tradisi, Yesaya mati digergaji pada masa pemerintahan raja Manasye, anak Hizkia. Dan Ibrani 11:37 sering dianggap mengacu pada kematian Yesaya tersebut, walau hal ini belum bisa dipastikan.

Yang jelas, nabi Yesaya setia selama puluhan tahun masa pelayanannya, ia tidak pernah mundur!

 

Itulah 7 fakta tentang Nabi Yesaya di Alkitab yang perlu kita tahu.

 

Catatan: Sebagian besar isi dari artikel ini diambil dari tulisan saya yang berjudul “Seminggu Bersama Yesaya”, yang telah terbit di renungan harian Manna Sorgawi.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

 

Tags:,

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!