7 Fakta Tentang Nabi Yesaya Di Alkitab

 

Nama nabi Yesaya tentu sudah tidak asing lagi bagi kita, orang percaya. Ada banyak catatan tentang nabi Yesaya di Alkitab.

Yesaya adalah salah satu nabi terbesar di Perjanjian Lama.

Nabi Yesaya terutama kita kenal dari kitab yang ditulisnya, yakni kitab Yesaya. Selain berisi nubuat, kitabnya tersebut juga berisi profil Yesaya sendiri.

Kitab Yesaya, digolongkan pada kitab nabi-nabi besar, bersama Kitab Yeremia, Yehezkiel, dan Kitab Daniel. Hal ini disebabkan oleh tebalnya kitab mereka, serta luasnya jangkauan nubuat-nubuat mereka.

Baca juga: 7 Fakta Tentang Simson

Pengaruh Yesaya sebagai nabi di Yehuda/Israel Selatan sangat besar pada masanya.

Selain itu, Yesaya juga banyak bernubuat tentang kedatangan Mesias atau Juruselamat dunia, melebihi nabi-nabi lainnya. Juga bernubuat tentang akhir zaman.

Baca juga: 10 Nabi Terbesar Di Perjanjian Lama

Seperti apakah sebenarnya pribadi nabi Yesaya di Alkitab? Bagaimana pelayanannya selama menjadi nabi di Israel/Yehuda? Hal-hal apa saja yang bisa kita teladani dari dia?

Semuanya ini akan dibahas dalam artikel ini. Di sini dicatat 7 fakta penting seputar nabi Yesaya di Alkitab. Fakta-fakta apa sajakah itu? berikut pembahasannya.

 

1. Nabi Yang Rendah Hati

Pada tahun matinya Uzia, raja Yehuda, Nabi Yesaya melihat suatu penglihatan spektakuler tentang kemuliaan Tuhan. Ia melihat Tuhan duduk di tahta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahNya memenuhi Bait Suci.

Yesaya juga melihat para Serafim, yakni para malaikat, berdiri di sebelah atasNya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka, dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.

Dan mereka berseru seorang kepada yang lain, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan oleh suara para Serafim tersebut, dan ruangan itu pun penuh dengan asap.

Mendapat penglihatan tentang kemuliaan dan kekudusan Tuhan yang spektakuler tersebut, Yesaya pun menjadi takut. Ia menganggap dirinya celaka dan binasa, sebab dia telah melihat Tuhan, padahal tidak ada seorang manusia pun yang boleh melihat Tuhan.

Di sisi lain, Yesaya juga menyadari keberadaan dirinya yang tidak kudus, apalagi jika dibandingkan dengan kekudusan Tuhan, seperti yang diserukan oleh para Serafim tersebut. Yesaya merasa dirinya adalah seorang yang berdosa, orang yang najis bibir serta tinggal di antara orang-orang yang najis bibir.

Tentu hal ini tidak berarti bahwa Yesaya adalah seorang yang jahat secara moral. Dia hanya menyadari kekudusan Tuhan yang luar biasa serta membandingkannya dengan kekudusan dirinya sendiri.

Meski demikian, untuk menguduskan bibirnya yang dianggapnya najis, salah seorang dari Serafim tersebut terbang kepadanya dengan membawa bara yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah dan menyentuhkannya pada mulut Yesaya. Dengan demikian dosa Yesaya telah diampuni dan dia telah disucikan (Yesaya 6:1-7).

Api atau bara memang adalah lambang penyucian seseorang (Amsal 25:22; Roma 12:20).

Kesadaran Nabi Yesaya akan keberdosaannya adalah bentuk kerendahan hatinya di hadapan Tuhan.

Perlu diketahui bahwa ketika melihat penglihatan ini Yesaya sudah melayani sebagai nabi Tuhan. Sebab ia sudah melayani pada masa pemerintahan raja Uzia (Yesaya 1:1) atau sebelum Uzia meninggal. Sementara penglihatan ini dilihatnya pada tahun kematian Uzia, atau setelah Uzia meninggal (Yesaya 6:1).

Sebagai seorang nabi Tuhan, sudah pasti Yesaya dekat dengan Tuhan serta sering mendapat pesan dariNya untuk disampaikan kepada umat. Namun hal itu tidak membuatnya menjadi sombong rohani, merasa lebih dekat dengan Tuhan dibanding orang-orang lainnya.

Sebaliknya, Yesaya menyadari kelemahannya sebagai nabi, yang merasa belum mencapai level kekudusan yang Tuhan inginkan.

 

2. Nabi Yang Merespons Panggilan Tuhan

Ketika Nabi Yesaya mendapat penglihatan yang spektakuler, yang membuatnya menyadari keberdosaannya di hadapan Tuhan, Tuhan pun menantangnya.

Tuhan bertanya siapakah orang yang mau diutusNya. “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Sekalipun hanya Yesaya yang mendengar tantangan Tuhan tersebut, namun Tuhan bertanya dengan cara demikian.

Tuhan tidak bertanya secara langsung, “Apakah kamu mau Aku utus?” Tetapi pertanyaan itu bermaksud mengatakan demikian. Dan jawaban Nabi Yesaya adalah, “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8).

Seperti telah disebutkan,  panggilan Tuhan ini bukanlah yang pertama kali bagi Yesaya, sebab Yesaya saat itu sudah mejadi nabi. Karena itu panggilan ini adalah peneguhan atau katakanlah panggilan yang kedua bagi Yesaya.

Mungkin panggilan kedua ini diperlukan bagi Yesaya mengingat kematian Uzia, raja Yehuda yang hebat, membuat keadaan Yehuda semakin tak menentu, termasuk dalam hal keagamaan.

Tuhan ingin agar Yesaya siap menghadapi bangsa Yehuda yang semakin keras kepala usai kematian raja Uzia. Tetapi dengan memperlihatkan kemuliaanNya kepada Yesaya, Tuhan ingin menunjukkan kepada Yesaya bahwa kendali atas alam semesta ada di tanganNya.

Dan seperti telah disebut di atas, Yesaya merespons panggilan Tuhan tersebut secara spontan. Dia bersedia Tuhan utus kepada bangsa yang bebal. Yesaya merasa penglihatan yang dilihatnya tentang kebesaran Tuhan sudah cukup membuatnya merasa terhibur dan dikuatkan.

Jawaban Yesaya ini patut diapresiasi karena dua alasan. Pertama, Yesaya baru saja menyadari kenajisannya dan ketidak-layakannya di hadapan Tuhan, sekalipun Serafim sudah menyucikan mulutnya. Dia segera menanggapi panggilan Tuhan di saat yang sama ketika dia menyadari kelemahan dan kekurangannya.

Dia tidak merasa minder atau merasa tidak layak Tuhan utus. Bandingkan dengan Musa (Keluaran 4:10,13) dan Yeremia (Yeremia 1:6), yang berdalih ketika dipanggil oleh Tuhan, sehingga Ia harus “memaksa” mereka untuk bersedia Dia utus.

Berbeda dengan Yesaya. Ketika Tuhan memanggilnya, Yesaya langsung merespons, “Ini aku, utuslah aku!”

Kedua, mengingat keadaan bangsa Yehuda yang degil dan keras kepala, yang kepadanya Yesaya diutus.

Dalam pasal-pasal pertama kitab Yesaya telah dijabarkan tentang keadaan bangsa Yehuda yang murtad meninggalkan Tuhan. Yesaya jelas menyadari kepada orang-orang seperti apa ia diutus. Namun dia tidak takut dan berkecil hati, dia memberi dirinya diutus kembali. Ini adalah respons yang patut diapresiasi dari Nabi Yesaya.

 

3. Nabi Yang Siap Mengalami Penolakan

Setelah Yesaya memberi dirinya untuk melayani sebagai utusan Tuhan, maka Tuhan memerintahkannya untuk pergi menyampaikan pesanNya kepada bangsa Yehuda.

Tetapi berita yang akan disampaikan Yesaya bukanlah berita yang mendorong orang untuk percaya dan bertobat, tetapi berita yang membuat orang untuk tidak percaya dan tidak bertobat!

Berita yang harus disampaikan Yesaya adalah berita yang membuat bangsa Yehuda semakin keras kepala, bukannya membuat mereka merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Bukan hanya itu, ternyata hal ini berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama, sampai Yesaya “pensiun” dari pelayanannya!

Ketika Yesaya bertanya kepada Tuhan sampai kapan penolakan itu akan terjadi, Tuhan menjawab, “Sampai kota-kota telah lengang sunyi sepi, tidak ada lagi yang mendiami, dan di rumah-rumah tidak ada lagi manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi.” (Yesaya 6:9-13).

Ini mengacu pada zaman pembuangan yang akan dialami oleh bangsa Yehuda. Artinya, pemberitaan Yesaya yang ditolak itu terjadi sampai akhir pelayanannya!

Sebab Yesaya hanya melayani sampai masa pemerintahan Hizkia, atau paling banter sampai zaman Manasye, anak Hizkia, sebagaimana dicatat dalam tradisi. Padahal pembuangan itu terjadi pada zaman pemerintahan raja Zedekia, puluhan tahun setelah zaman pemerintahan Manasye berakhir atau masa pelayanan Yesaya.

Namun Yesaya harus tetap setia melayani bangsa Yehuda sekalipun ia tahu bahwa mereka akan menolak beritanya.

Lalu untuk apa Tuhan masih menyuruh Yesaya memberitakan firman Tuhan kepada bangsa Yehuda jika Dia sudah tahu bahwa mereka akan menolaknya? Tujuannya adalah untuk menunjukkan betapa degilnya hati mereka, dan agar mereka semakin “masak” untuk dihukum.

Memang, pelayanan seperti ini tentulah tidak menggembirakan. Sebaliknya, yang ada hanya kesedihan, kekecewaan, dan kejengkelan. Akan tetapi hal itu tidak boleh ditolak oleh Yesaya. Ia harus setia memberitakan firman itu kepada orang-orang yang akan menolaknya.

Mungkin mereka akan mencemoohnya, menghinanya, bahkan menganiaya dirinya, tetapi dia tidak boleh melarikan diri. Inilah pelayanan yang harus dijalankan oleh Yesaya, ia harus berhadapan dengan orang-orang keras kepala yang tidak mau bertobat.

Dengan memberi dirinya diutus Tuhan, maka Yesaya telah siap mengalami penolakan dari bangsanya sendiri. Dia memilih untuk taat pada perintah Tuhan.

 

4. Nabi Yang Melayani Bersama Keluarga

Alkitab tidak banyak memberi informasi tentang latar belakang kehidupan Nabi Yesaya. Dalam tradisi Yahudi memang Yesaya disebut berasal dari keluarga bangsawan, namun hal ini tidak dapat dipastikan, karena Alkitab tidak menyebut hal itu.

Tetapi Alkitab memberi informasi yang cukup jelas tentang keluarga Yesaya. Yesaya menikah dan mempunyai dua orang anak laki-laki. Kedua anaknya  itu diberi nama simbolis, yang berkaitan dengan nubuatnya.

Anak pertama Yesaya bernama Syear Yasyub (Yesaya 7:3), yang artinya, “Sisa itu akan kembali”, yang mengacu pada kembalinya orang Yehuda kelak dari pembuangan.

Nama anak Yesaya ini muncul ketika Tuhan mengutus Yesaya kepada raja Ahas. Tuhan ketika itu mengatakan agar Yesaya membawa serta anaknya, Syear Yasyub.

Saat itu bangsa Aram dan bangsa Israel Utara mau menyerang bangsa Yehuda. Akibatnya Ahas, raja Yehuda, beserta seluruh rakyatnya menjadi sangat takut. Karena itu, Tuhan mengutus nabiNya, Yesaya, untuk menyampaikan firmanNya kepada Ahas.

Melalui Nabi Yesaya, Tuhan mengatakan bahwa bangsa Aram dan Israel Utara tidak akan menyerang Yehuda.

Tidak jelas apa peran anak Yesaya di sini, mungkin hanya menemani ayahnya saja. Namun boleh jadi Syear Yasyub sudah terbiasa menemani ayahnya dalam pelayanannya.

Anak kedua Yesaya bernama Maher-Syalal Hasy-Bas, yang artinya, “Percepatlah merampas, bersegeralah merampok”. Nama ini muncul pertama kali ketika Tuhan memerintahkan Yesaya untuk menuliskan kata Maher-Syalal Hasy-Bas di atas batu tulis.

Kemudian ketika Istri Yesaya mengandung dan melahirkan anak, Tuhan memerintahkan agar Yesaya menamai anak tersebut Maher-Syalal Hasy-Bas. Tuhan mengatakan bahwa sebelum anak itu tahu memanggil: Bapa! atau Ibu! maka kekayaan Aram dan Israel Utara akan diangkut oleh bangsa Asyur.

Sementara istri Yesaya adalah seorang nabiah atau nabi perempuan. Dalam terjemahan Alkitab LAI hanya disebutkan bahwa Yesaya menghampiri “istriku”  (Yesaya 8:1-4).

Namun dalam bahasa aslinya, bahasa Ibrani, kata yang dipakai adalah “n’biy’ah” yang berarti nabiah atau nabi perempuan.

Pelayanan istri Yesaya memang tidak disebutkan, tetapi disebutnya dia sebagai nabiah mengindikasikan bahwa dia juga melayani sebagai nabi. Memang di Perjanjian Lama terdapat sejumlah nabiah yang melayani (Baca: 7 Nabi Perempuan Di Alkitab).

Tampaknya Yesaya telah membimbing istri dan anak-anaknya untuk mengenal dan melayani Tuhan dengan baik, sehingga mereka aktif terlibat dalam pelayanan.

Di Alkitab, khususnya di Perjanjian Lama, sangat jarang seorang pelayan Tuhan atau nabi melibatkan pasangannya atau anak-anaknya dalam melayaniNya. Karena itu boleh dikatakan bahwa Yesaya telah membawa anak-anak dan istrinya pada level pengenalan akan Tuhan serta pelayanan terhadapNya.

2 komentar untuk “7 Fakta Tentang Nabi Yesaya Di Alkitab”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!