7 Fakta Tentang Pontius Pilatus

Berbicara tentang kisah penyaliban dan kematian Yesus, maka kita pasti bertemu dengan tokoh yang bernama Pontius Pilatus. Pontius Pilatus adalah salah satu figur terpenting di balik peristiwa penyaliban Yesus, sebagai wakil pemerintah Romawi di Israel.

Baca juga: 7 Fakta Tentang Simon Orang Kirene

Namun tidak mudah membaca kisah kehidupan Pontius Pilatus ini. Agak sulit untuk memperkirakan bagaimana sifat dan karakter Pilatus yang sebenarnya serta sejauh mana keterlibatannya dalam penyaliban Yesus.

Baca juga: 7 Fakta Tentang Rasul Filipus

Lalu siapakah sebenarnya Pontius Pilatus? Bagaimana sifatnya digambarkan di Alkitab dan dalam catatan sejarah? Bagaimana perannya dalam penyaliban Yesus? Bagaimana akhir hidupnya?

Semuanya ini akan dibahas dalam artikel ini. Di sini dicatat 7 fakta penting seputar Pontius Pilatus. Fakta-fakta apa sajakah itu? Berikut pembahasannya.

 

1. Pontius Pilatus Dikenal Sebagai Seorang Pemimpin Yang Kejam

Pada zaman Yesus hidup dan melayani di bumi, Pontius Pilatus adalah wali negeri atau wakil pemerintahan Romawi di Yudea (Lukas 3:1-2), yang mencakup wilayah Yudea dan Samaria. Pada masa itu memang orang Yahudi berada di bawah kekuasaan orang Romawi yang berkedudukan di kota Roma.

Pontius Pilatus mulai menjabat pada tahun 26 Masehi, pada zaman Kaisar Tiberius, dan berkedudukan di kota Kaisarea. Akan tetapi pada waktu-waktu tertentu, seperti pada saat perayaan Paskah Yahudi, Pilatus berkedudukan di istananya di kota Yerusalem, Yudea, yakni di benteng Antonia, dari mana ia bisa mengawasi Bait Suci.

Catatan Alkitab tentang Pilatus hampir seluruhnya berkaitan dengan peristiwa penyaliban Yesus. Namun, Alkitab mencatat satu kisah yang berkaitan dengan Pilatus sebelum masa penyaliban Yesus.

Diceritakan dalam Injil Lukas bahwa suatu ketika orang-orang melaporkan kepada Yesus tentang perbuatan kejam Pilatus yang mencampurkan darah orang-orang Galilea dengan korban persembahan mereka.

Dalam menanggapi hal ini, Yesus tidak membicarakan tindakan Pilatus tersebut atau membicarakan masalah politik. Ia hanya berbicara secara teologis dengan berkata bahwa orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus itu tidak berarti lebih besar dosanya daripada dosa-dosa orang Yahudi lainnya. Dan orang-orang Yahudi lain yang tidak bertobat akan mengalami penderitaan yang sama juga (Lukas 13:1-3).

Mungkin yang dimaksud Yesus dengan penderitaan di sini adalah pembunuhan dan penganiayaan terhadap orang Yahudi yang terjadi pada tahun 70 Masehi.

Apakah kisah kekejaman Pilatus yang dicatat di Alkitab ini dicatat dalam tulisan para sejarawan dunia pada masa itu? Kita tidak tahu secara pasti.

Namun, Yosefus Flavius (37-100 Masehi), sejarawan Yahudi terkemuka, mengatakan bahwa Pilatus pernah memakai uang perbendaharaan Bait Suci Yahudi untuk membangun saluran air ke Yerusalem dari suatu sumber air yang jaraknya 40 kilo meter.

Puluhan ribu orang Yahudi berdemonstrasi menentang proyek ini ketika Pilatus muncul di Yerusalem, tampaknya pada sebuah hari raya. Sebagai jawabannya, Pilatus mengirim tentaranya secara rahasia untuk menghabisi mereka, akibatnya banyak orang Yahudi yang mati terbunuh.

Banyak pakar Alkitab yang menganggap bahwa inilah kisah yang diacu dalam Lukas 13:1-2 di atas.

Namun seandainya pun tidak, peristiwa ini sudah cukup untuk mendukung fakta Alkitab bahwa Pilatus adalah seorang pemimpin yang kejam. (untuk fakta kekejaman lainnya dari Pilatus yang dicatat dalam sejarah, lihat poin 5 di bawah).

 

2. Dalam Mengadili Yesus, Pontius Pilatus Bertindak Secara Bijaksana

Ketika para pemuka Yahudi menangkap Yesus, mereka menyerahkanNya kepada Pilatus, wali negeri Yudea yang sedang berada di istananya, di benteng Antonia di Yerusalem, pada hari Paskah Yahudi.

Pada masa itu, orang Yahudi tidak berhak menghukum mati seseorang tanpa persetujuan pemerintahan Romawi. Karena itu, mereka membawa Yesus kepada Pilatus untuk diadili.

Mereka menuduhkan tiga kesalahan kepada Yesus, yakni menyesatkan rakyat, melarang orang membayar pajak, dan menyebut diriNya raja (Lukas 23:1-2). Kedua tuduhan terakhir, yakni melarang orang membayar pajak dan menyatakan diri sebagai raja, sangat sensitif bagi orang Romawi, karena dianggap sebuah tindakan subversif, melawan pemerintahan yang sah.

Namun demikian, Pilatus tidak serta merta memercayai tuduhan orang-orang Yahudi tersebut dan menjatuhkan hukuman kepada Yesus. Apalagi Pilatus tahu bahwa mereka menyerahkan Yesus karena dengki (Markus 15:10).

Jadi Pilatus terlebih dahulu mencari second opinion, baik dari Yesus sendiri sebagai pihak tertuduh, maupun dari pihak ketiga, di luar Yesus, serta dari orang-orang Yahudi yang menuduhNya. Dengan demikian Pilatus memiliki informasi yang lengkap dan berimbang sebelum mengambil keputusan.

Dalam hal ini ada dua hal yang dilakukan oleh Pilatus.

Pertama, Pilatus bertanya secara langsung kepada Yesus. Yesus sebenarnya tidak banyak berbicara kepada Pilatus, sebab Yesus merasa tidak ada artinya berbicara kepada Pilatus yang hanya memikirkan perkara-perkara duniawi, sementara Yesus sedang membawa perkara-perkara rohani. Dia hanya berbicara seadanya, yang Dia rasa penting untuk dijawab.

Ketika Pilatus bertanya kepada Yesus apakah benar Ia adalah seorang raja seperti yang dituduhkan oleh orang-orang Yahudi, Yesus menjawab secara diplomatis, “Engkau sendiri mengatakannya.”

Sebab, memang Yesus bukan raja politis seperti yang dimaksudkan oleh Pilatus, kerajaanNya bukan dari dunia ini (Yohanes 18:36). Yesus adalah raja secara rohani, dan raja eskatologis, pada masa nanti di akhir zaman.

 Kedua, Pilatus mengirimkan Yesus kepada Herodes. Ketika Pilatus mendengar bahwa Yesus adalah warga Galilea, maka Pilatus mengirimkanNya kepada Herodes, raja wilayah Galilea yang pada saat itu sedang berada di Yerusalem dalam rangka merayakan Paskah Yahudi.

Pilatus ingin mendapat second opinion dari Herodes. Mungkin Pilatus ingin tahu reaksi Herodes terhadap Yesus. Jika seandainya Yesus benar seorang pemberontak dan penyesat seperti yang dituduhkan oleh orang-orang Yahudi, maka tentu Herodes akan mengatakannya kepada Pilatus (Lukas 23:3-12).

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!