Loading...
Loading...

7 Fakta Tentang Pontius Pilatus

 

3. Setelah Melalui Serangkaian Pemeriksaan, Pontius Pilatus Memutuskan Bahwa Yesus Tidak Bersalah

Setelah Pilatus memeriksa dengan saksama perkara Yesus, maka Pilatus mulai menyimpulkan dan mengambil keputusan yang akan disampaikannya kepada orang-orang Yahudi yang mengadukanNya.

Pilatus wajib menyampaikan hasil penyelidikannya atas Yesus kepada orang banyak, sehingga mereka dapat memahami apa alasan Pilatus memutuskan perkara Yesus sebagai yang bersalah atau yang tidak bersalah.

Dan dari hasil penyelidikannya, ternyata Pilatus mendapati bahwa Yesus tidak bersalah, dan karena itu Ia harus dilepaskan. Kesimpulan Pilatus tersebut berdasarkan beberapa hal.

Pertama, hasil wawancara Pilatus dengan Yesus. Setelah Pilatus memeriksa Yesus secara teliti dan bertanya jawab denganNya, maka Pilatus tidak menemukan kesalahan apa pun padaNya, Ia bukanlah ancaman yang serius bagi kekuasaan Romawi, jadi tidak pantas diganjar dengan hukuman mati seperti yang dituduhkan oleh para pemuka Yahudi.

Pilatus mendapati bahwa Yesus bukanlah raja secara politis, tetapi raja secara rohani. Jadi, Pilatus berkeyakinan bahwa Yesus tidak bersalah, karena itu Ia harus dilepaskan.

Kedua, respons Herodes. Ketika Pilatus mengirimkan Yesus kepada Herodes, ternyata Herodes mengirimkanNya kembali kepada Pilatus. Herodes tidak memberikan rekomendasi apa pun kepada Pilatus perihal kesalahan Yesus. Herodes tidak mendapati kesalahan Yesus karena itu ia mengirimkan Yesus kembali kepada Pilatus.

Ketiga, pribadi Yesus sendiri. Pilatus merasa heran bahwa Yesus diam saja dari semua tuduhan orang Yahudi kepadaNya. Biasanya para terdakwa jika didakwa di hadapan hakim akan menyangkal mati-matian, tetapi Yesus tidak demikian.

Yesus juga tidak berbicara sedikit pun tentang politik dan kekuasaan. Yesus berbicara tentang kebenaran, yang tak dapat dipahami nalar Pilatus (Yohanes 18:37-38a) yang terbiasa dengan kekejaman dan kekerasan. (Baca: 7 Orang Non-Israel Yang Pernah Dilayani Yesus)

Dari figur Yesus, penampilanNya yang bersahaja dan kata-kataNya yang berwibawa serta jauh dari kesan seorang pemberontak, Pilatus berkeyakinan bahwa Yesus bukanlah seorang penjahat atau pemberontak seperti yang dituduhkan oleh orang-orang Yahudi.

Setelah Pilatus menyimpulkan temuannya atas kasus yang dihadapi Yesus, maka ia pun menyampaikannya kepada rakyat yang menanti jawabannya. Dan keputusan Pilatus adalah: Yesus tidak bersalah dan tidak layak dihukum mati; karena itu Ia harus dilepaskan! (Lukas 23:13-15).

Dari sini dapat kita ketahui bahwa Pilatus adalah orang yang bertindak secara adil, menyatakan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah.

 

4. Ketika Orang Yahudi Tidak Bisa Menerima Keputusan Pontius Pilatus, Ia Mulai Melakukan Kompromi

Keputusan Pilatus bahwa Yesus tidak bersalah, ternyata tidak dapat diterima sama sekali oleh orang-orang Yahudi yang mengadukanNya. Mereka begitu marah ketika Pilatus memutuskan bahwa Yesus, yang ingin mereka hukum mati, tidak bersalah!

Hal ini membuat Pilatus menjadi serba salah dan akhirnya membuka ruang kompromi dengan mereka.

Pertama, Pilatus menyesah Yesus. Dengan berbuat demikian maka Pilatus merasa bahwa Yesus telah menerima hukumanNya dan dapat memuaskan hati orang-orang Yahudi yang melihat Yesus disiksa (Lukas 23:16, 22).

Tentu saja hal ini tidak adil, sebab Yesus tidak punya kesalahan apa pun, Ia seharusnya sudah dibebaskan tanpa syarat apa pun. Tetapi, demi meredakan amukan massa yang semakin beringas, maka Pilatus pun melakukan hal itu sebagai jalan tengah.

Kendati demikian, orang Yahudi tidak mau menerima keputusan tersebut, sebab sejak awal tekad mereka hanya satu: Menghukum mati Yesus!

Kedua, Pilatus mempertentangkan Yesus dengan Barabas. Pada saat itu ada kebiasaan bahwa pada saat perayaan Paskah orang Yahudi, seorang tahanan dapat dibebaskan sebagai hadiah. Jadi, Pilatus memberi pilihan kepada orang Yahudi siapa yang akan ia bebaskan, Yesus atau Barabas, seorang penjahat berat yang sedang ditahan saat itu.

Tentu maksud Pilatus adalah agar orang Yahudi memilih Yesus daripada Barabas. Namun ini tentu tidak adil, seorang yang tidak bersalah dibandingkan dengan seorang penjahat berat.

Dan faktanya, di luar dugaan Pilatus, orang Yahudi lebih memilih Barabas, seorang penjahat besar, daripada Yesus yang jelas-jelas tidak bersalah! (Matius 27:15-17, 20-22).

Ketiga, Pilatus mempertontonkan Yesus di hadapan massa. Yesus berdiri di depan istana Pilatus dengan kepala bermahkota duri, tangan diborgol, dan tentu dengan tubuh yang penuh luka disesah, serta darah yang bercucuran.

Lalu Pilatus berseru kepada orang-orang Yahudi, “Ecce Homo!” Ini adalah istilah dalam Alkitab bahasa Latin, Vulgata. Artinya adalah, “Lihatlah manusia itu!”

Mungkin ada dua maksud Pilatus di sini. Pertama, agar timbul belas kasihan orang Yahudi kepada Yesus sehingga tidak lagi menuntutNya dihukum mati. Kedua, agar orang Yahudi melihat betapa bersahajanya Yesus, tidak melawan, dan tidak ada tampang sedikit pun sebagai penjahat seperti yang mereka sangkakan.

Namun respons orang Yahudi adalah, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” (Yohanes 19:4-7).

Dan usaha terakhir Pilatus untuk membebaskan Yesus pun gagal total!

Sebenarnya ketika Pilatus tahu bahwa Yesus tidak bersalah, maka ia harus segera melepaskanNya. Pilatus tidak perlu berkompromi dengan orang-orang Yahudi yang menolak keputusannya tersebut. Akibatnya, Pilatus justru semakin terdesak dan semakin sulit untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, yakni membebaskan Yesus yang tidak bersalah.

 

5. Pontius Pilatus Pada Akhirnya Menyerah Kepada Desakan Orang Yahudi Untuk Menyalibkan Yesus

Usaha keras Pilatus untuk membebaskan Yesus tidak membuahkan hasil. Segala tawaran Pilatus untuk berkompromi demi membebaskan Yesus tidak berhasil. Hal ini terjadi karena Pilatus sejak awal sudah salah dalam bertindak.

Ketika Pilatus tahu dengan pasti bahwa Yesus tidak bersalah, maka seharusnya tindakannya adalah melepaskan Yesus. Hal ini bisa dilakukannya dengan otoritasnya sebagai wali negeri serta dukungan militer yang kuat.

Seandainya rakyat melakukan perlawanan, maka Pilatus dengan sah bisa mengerahkan kekuatan militer dan dia tidak akan bisa dilawan. Kaisar di Roma pun tidak akan menyalahkannya jika Pilatus membebaskan Yesus, sebab ia telah melakukan penyelidikan yang cermat serta tidak menemukan apa pun kesalahanNya.

Namun, yang dilakukan Pilatus justru berkompromi dengan keinginan orang-orang Yahudi. Akibatnya Pilatus sudah terlambat untuk mengantisipasi keadaan, massa sudah semakin beringas!

Akibat kompromi yang dilakukannya, Pilatus pun menuai bencana. Ketika Pilatus bersikeras melakukan negosiasi, ia ditolak dan ia pun menyerah. Padahal istrinya sudah mengingatkannya agar tidak mencampuri perkara Yesus yang ia anggap sebagai “orang benar”, sebab ia mendapat mimpi dan susah tidur (Matius 27:19).

Sebenarnya ini adalah sebuah peringatan bagi Pilatus. Namun demikian, meski Pilatus tahu bahwa Yesus tidak bersalah dan telah diperingatkan oleh istrinya, ia akhirnya menyalibkan Yesus.

Alasan utama Pilatus menyerahkan Yesus untuk disalibkan sebenarnya bukan karena ingin menyenangkan orang Yahudi (lihat poin 6 di bawah sebagai buktinya), tetapi demi kepentingan dirinya sendiri.

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!