7 Fakta Tentang Raja Yosafat

 

5. Raja Yosafat Juga Seorang Yang Ahli Dalam Penataan Birokrasi Pemerintahan

Salah satu terobosan yang dilakukan Raja Yosafat semasa pemerintahannya adalah menata sistem pengadilan di Yehuda, yang sebelumnya tidak pernah terjadi di seluruh Israel dan Yehuda.

Dengan reformasi tersebut, pengadilan yang selama ini hanya terpusat di Yerusalem, sekarang ada di tiap wilayah atau kota di seluruh Yehuda. Sedangkan Yerusalem menjadi semacam pengadilan tingkat banding.

Untuk itu Raja Yosafat mengangkat hakim-hakim di setiap kota Yehuda dan di Yerusalem, serta berpesan agar mereka mengadili umat Yehuda secara jujur dan adil. Merekalah yang mewakili Yosafat dalam menghakimi umat Yehuda.

Raja Yosafat juga membagi masalah hukum menjadi dua bagian, yakni yang menyangkut hubungan seseorang dengan Tuhan (hukum keagamaan) dan yang menyangkut hubungan seseorang dengan orang lain (hukum sipil) (2 Tawarikh 19:4-11).

Inilah untuk pertama kalinya hukum sipil dan hukum keagamaan dipisahkan dalam sejarah bangsa Israel dan bangsa Yehuda, walaupun hal ini tetap berdasarkan aturan dalam Taurat yang telah diberikan Tuhan kepada Musa (Ulangan 17:9, 12).

Pengangkatan para hakim itu di satu sisi akan mempermudah rakyat Yehuda untuk mendapatkan keadilan hukum; di sisi lain, hal ini juga akan mempermudah Yosafat sendiri dalam menjalankan roda pemerintahannya, terutama di bidang hukum. Raja Yosafat tentu akan lebih fokus dalam tugas utamanya, sebab masalah-masalah hukum akan ditangani oleh orang lain.

 

6. Raja Yosafat Punya Cacat Karena Berkompromi Dengan Raja-Raja Israel Yang Jahat

Sekalipun Raja Yosafat dikenal sebagai raja yang saleh, cerdas, dan mengandalkan Tuhan, namun rupanya ia punya satu “cacat” dalam mengikut Tuhan, yakni ia berkompromi dengan raja-raja Israel yang fasik.

Pertama, dengan Ahab. Hal ini berawal tatkala Yosafat menjadi besan Ahab. Putranya yang kelak menjadi raja menggantikannya, Yoram, menikah dengan putri Ahab, Atalya, yang di kemudian hari membawa Yehuda kepada penyembahan berhala.

Pernikahan anaknya itu jelas punya unsur politis, yakni agar ia bisa bersekutu dengan Ahab untuk melawan musuh-musuhnya. Kompromi ini berakhir tragis. Ketika bangsa Israel dan bangsa Yehuda berperang melawan bangsa Aram, Ahab tewas dalam pertempuran tersebut. Yosafat sendiri nyaris tewas dalam pertempuran itu jika saja Tuhan tidak menolongnya.

Setelah Yosafat pulang dari peperangan melawan orang Aram, pelihat Yehu bin Hanani menegur Yosafat secara tegas. (2 Tawarikh 18:1-34). Dan Tuhan murka kepada Yosafat. Kedatangan orang Moab, orang Amon dan orang Meunim untuk menyerbu Yehuda adalah hukuman Tuhan atas dosa Yosafat ini (lihat poin 2 di atas).

Kedua, dengan Ahazia. Yosafat dan Ahazia membuat kapal-kapal yang dapat berlayar ke Tarsis. Tetapi Tuhan murka, kapal-kapal yang mereka buat itu pecah sehingga gagal berlayar ke Tarsis (2 Tawarikh 20:35-37).

Ketiga, dengan Yoram. Yosafat bersekutu dengan Yoram untuk berperang melawan orang Moab (2 Raja-raja 3:1-27), walaupun tidak disebutkan di Alkitab bahwa Tuhan murka atas hal ini.

 

7. Sebelum Meninggal, Raja Yosafat Membagikan Harta Warisan Kepada Anak-Anaknya Secara Adil

Sebelum meninggal, Raja Yosafat memberikan harta warisan kepada anak-anaknya. Yosafat memberikan kepada anak-anaknya emas, perak dan barang-barang berharga lainnya, bahkan kota-kota berkubu di Yehuda.

Karena jabatan raja sudah pasti jatuh ke tangan Yoram, anaknya yang sulung, maka harta warisan dibagi-bagikan Yosafat di antara anak-anaknya yang lain. (Ini tentu adalah cara yang adil dan bijaksana dari Yosafat).

Tetapi sayang, Yosafat sepertinya tidak mewariskan sikap takut akan Tuhan yang dimilikinya kepada anak-anaknya, terutama kepada Yoram. Sebab, akibat keserakahannya terhadap kekuasaan, Yoram membunuh semua saudara-saudaranya (2 Tawarikh 21:1-4).

Memang, pernikahan Yoram dengan Atalya, putri Izebel yang fasik, telah begitu mencengkeram hati Yoram dengan hal-hal duniawi, sehingga ia tidak segan-segan lagi untuk membunuh saudara-saudara kandungnya.

 

Itulah 7 fakta tentang Raja Yosafat yang perlu kita tahu.

 

Perhatian: Sebagian besar bahan penulisan artikel ini diambil dari tulisan saya yang berjudul “Seminggu Bersama Yosafat”, yang telah dimuat di renungan harian Manna Sorgawi.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!