7 Fakta Tentang Sifra Dan Pua Di Alkitab

Sifra dan Pua di Alkitab adalah dua bidan yang baik yang dicatat dalam Perjanjian Lama, khususnya di antara orang Israel di Mesir.

Karena itu menjadi penting bagi kita untuk membahas Sifra dan Pua lebih dekat, siapakah Sifra dan Pua di Alkitab, sehingga kita bisa meniru perbuatan mereka.

Baca juga: 7 Fakta Tentang Akwila dan Priskila Di Alkitab

Sifra dan Pua di Alkitab terutama dikenal sebagai dua bidan yang takut akan Allah, yang menolak perintah raja Firaun untuk membunuh bayi-bayi orang Israel.

Dan melalui catatan Alkitab, kita bisa tahu cukup banyak tentang Ananias dan Safira, sekalipun kisah mereka di Alkitab hanya dicatat dalam satu perikop, hanya dalam beberapa ayat saja.

Baca juga: 7 Fakta Tentang Ananias dan Safira Di Alkitab

Lalu, siapakah sebenarnya Sifra dan Pua?

Bagaimana karakter Sifra dan Pua?

Mengapa Sifra dan Pua menolak perintah raja Firaun untuk membunuh bayi-bayi orang Israel?

Hal apa saja yang dapat kita pelajari dari hidup Sifra dan Pua?

Baca juga: 7 Fakta Tentang Maria Magdalena Di Alkitab

Semuanya ini akan dibahas dalam artikel ini.

Di sini dicatat 7 fakta penting seputar Sifra dan Pua, berdasarkan catatan Keluaran 1:15-22.

Fakta-fakta apa sajakah itu?

Berikut pembahasannya.

1. Sifra dan Pua adalah dua bidan yang menolong persalinan orang Israel di Mesir

Sifra dan Pua adalah bidan-bidan di Mesir yang biasa menolong para perempuan Israel untuk bersalin.

Sebagai informasi, bangsa Israel berada di Mesir setelah Yusuf, anak Yakub, menjadi penguasa di Mesir di bawah Firaun.

Bangsa Israel berada di Mesir selama 400 tahun sebelum akhirnya mereka dibawa oleh Tuhan ke Tanah Perjanjian melalui Musa.

Alkitab tidak banyak membahas tentang Sifra dan Pua. Kisah kedua bidan ini hanya dicatat di dalam Keluaran 1:15-22.

 

2. Alkitab tidak menjelaskan latar belakang kebangsaan Sifra dan Pua, tetapi kemungkinan besar adalah orang Mesir 

Tidak ada catatan Alkitab tentang latar belakang Sifra dan Pua.

Bahkan latar belakang kebangsaan mereka pun tidak, apakah mereka orang Mesir atau orang Israel.

Tetapi kemungkinan besar Sifra dan Pua adalah orang Mesir, bukan orang Israel.

Alasannya yang pertama adalah karena orang Israel adalah budak-budak di Mesir setelah kematian Yusuf, jadi hampir tidak mungkin perempuan-perempuan Israel menjadi bidan pada masa itu.

Alasan kedua adalah, karena mereka diperintahkan raja Firaun untuk membunuh bayi-bayi orang Israel (lihat poin 3 di bawah).

Tentu sangat kecil kemungkinannya para bidan ini mau membunuh saudara-saudara sebangsanya.

Jadi lebih masuk akal jika kedua bidan ini dipandang sebagai orang Mesir.

 

3. Sifra dan Pua diperintahkan oleh raja Firaun untuk membunuh bayi-bayi orang Israel yang mereka tolong dalam persalinan

Orang Israel diperbudak di Mesir selama 400 tahun dan mereka diperlakukan dengan tidak adil.

Awalnya, ketika Yusuf anak Yakub berkuasa di Mesir, bangsa Israel diperlakukan oleh raja Mesir, Firaun, dengan baik.

Tetapi setelah Yusuf meninggal, dan raja Mesir yang baru, tampil berkuasa (yang juga disebut sebagai Firaun), maka keadaan orang Israel menjadi memburuk.

Mereka diharuskan oleh raja Firaun untuk bekerja paksa.

Dan karena orang Israel semakin bertambah banyak, maka Firaun berikhtiar untuk membunuh bayi laki-laki Israel agar mereka tidak bertambah banyak dan akibatnya memberontak kepada bangsa Mesir.

Jadi Firaun memerintahkan agar bidan-bidan yang membantu perempuan Ibrani/Israel melahirkan, yakni Sifra dan Pua, langsung membunuh bayi-bayi tersebut jika mereka laki-laki.

Tetapi jika bayi perempuan yang lahir, mereka boleh dibiarkan hidup.

Sebab perempuan tidak berbahaya, tidak bisa ikut perang dalam pemberontakan terhadap kuasa orang Mesir.

Lagipula perempuan bisa dinikahi oleh orang Mesir sehingga identitasnya sebagai orang Israel menjadi hilang.

 

4. Sifra dan Pua menolak perintah raja Firaun untuk membunuh bayi-bayi orang Israel, karena mereka takut akan Tuhan

Tetapi kedua bidan itu, yakni Sifra dan Pua, adalah orang-orang yang takut akan Tuhan, karena itu mereka tidak mau membunuh bayi-bayi Israel itu.

Jadi Sifra dan Pua menolak perintah raja Firaun untuk membunuh bayi-bayi Israel.

Sifra dan Pua lebih memilih menaati Tuhan yang tidak menghendaki kejahatan (pembunuhan bayi-bayi tidak berdosa), ketimbang menaati perintah jahat Firaun.

Jelas di sini bahwa Sifra dan Pua adalah para pejuang kemanusiaan atau pejuang Hak Asasi Manusia (Baca: 10 Tokoh Alkitab yang memperjuangkan keadilan dan HAM)

Sebab adalah hak bayi-bayi bangsa Israel untuk hidup, sekalipun di tanah perbudakan. Dan adalah tidak adil untuk membunuh bayi-bayi yang tidak berdosa, apalagi demi ambisi politik Firaun yang takut jika bangsa Israel akan memberontak kepadanya.

Meskipun Sifra dan Pua bukan orang Israel, namun mereka punya hati yang takut akan Tuhan, berbeda dengan kebanyakan orang Mesir.

Sangat jelas bahwa perbuatan mereka itu menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang takut akan Tuhan dan mengasihi sesama manusia.

Selain itu, Sifra dan Pua punya kesetiaan terhadap panggilan profesi mereka sebagai bidan, yakni membantu para wanita untuk melahirkan dengan selamat, baik si ibu maupun bayinya.

 

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!