Categories: TOKOH ALKITAB

7 Fakta Tentang Simon Tukang Sihir

 

5. Simon Tukang Sihir Tidak Mengerti Tentang Roh Kudus, Karena Ia Ingin Membelinya

Ketika jumlah orang percaya di Samaria semakin banyak, dan para rasul di Yerusalem menerima kabar akan hal itu, maka mereka mengutus dua rasul ke Samaria, yakni Petrus dan Yohanes. Para rasul ingin melihat secara langsung hasil pekerjaan Filipus di Samaria serta memberi bimbingan rohani yang dibutuhkan oleh para petobat baru di situ.

Karena Filipus merupakan diaken di gereja Yerusalem yang diangkat oleh para rasul, maka dia berada dalam pengawasan para rasul.

Setelah Petrus dan Yohanes tiba di Samaria, mereka berdoa dan menumpangkan tangan kepada orang-orang percaya di situ sehingga mereka menerima Roh Kudus. Hal ini sesuai dengan yang dinubuatkan oleh Nabi Yoel (Yoel 2:28-29) dan yang pernah dialami oleh jemaat di Yerusalem (Kisah Para Rasul 2:15-18).

Roh Kudus ini diberikan untuk memampukan orang percaya dalam bersaksi, seperti yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 1:8).

Hal ini rupanya sangat menarik perhatian Simon tukang sihir. Dia takjub akan pekerjaan Roh Kudus di antara orang-orang percaya di Samaria. Karena itu Simon orang Samaria menawarkan sejumlah uang kepada Petrus untuk membeli karunia Roh Kudus, supaya ketika ia menumpangkan tangannya kepada orang lain, orang itu beroleh Roh Kudus!

Dari sini terlihat bahwa Simon orang Samaria ternyata masih terpengaruh oleh “profesi” lamanya sebagai tukang sihir. Ia sudah terbiasa dengan hal-hal gaib dan spektakuler, seperti pencurahan Roh Kudus ini.

Jadi mungkin Simon orang Samaria menganggap Roh Kudus seperti sebuah sihir, sebuah kemampuan yang bisa didapat dengan cara-cara manusia, seperti melalui uang, lalu “menyalurkannya” kepada orang lain demi uang, atau demi harga dirinya, agar ia terlihat lebih hebat, seperti ketika ia membuat orang-orang Samaria takjub kepadanya dengan kemampuan sihirnya.

Jelas, Simon orang Samaria tidak paham tentang Roh Kudus. Ada dua hal yang menjadi kesalah-pahaman Simon orang Samaria tentang Roh Kudus. Pertama, Simon orang Samaria menganggap bahwa Roh Kudus bisa dibeli. Padahal Roh Kudus diberi secara cuma-cuma bagi mereka yang percaya kepadaNya dan yang merindukanNya.

Kedua, Simon orang Samaria beranggapan bahwa Roh Kudus dapat dipakai sesuka hatinya demi kehebatan dirinya. Padahal Roh Kudus bukan untuk menunjukkan kehebatan diri sendiri tetapi untuk bersaksi demi kemuliaan Tuhan sendiri.

Karena itulah, keinginan Simon orang Samaria yang ingin membeli kuasa Roh Kudus membuat Petrus marah dan mengecam keras Simon orang Samaria ini (Kisah Para Rasul 8:18-21).

Rupanya, kebersamaan Simon orang Samaria dengan Filipus selama ini (lihat poin 4 di atas) belum cukup memberikannya pelajaran firman Tuhan dan ajaran-ajaran dasar kekristenan secara lebih mendalam.

 

6. Petrus Memberi Simon Tukang Sihir Kesempatan Untuk Bertobat

Simon tukang sihir yang ingin membeli Roh Kudus dan memanfaatkanNya sesuka hatinya dan demi dirinya sendiri, rupanya bukan hanya menunjukkan ketidakpaham-annya atas ajaran-ajaran dasar kekristenan, melainkan juga menunjukkan keadaan hatinya yang sesungguhnya.

Hal ini terlihat dari respons Petrus terhadap keinginan Simon orang Samaria untuk “membeli” Roh Kudus. Selain mengecam dangkalnya pemahaman Simon orang Samaria tentang Roh Kudus, Petrus juga melihat bahwa hati Simon orang Samaria telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.

Sepertinya Simon orang Samaria kembali membiarkan dirinya dikuasai oleh keinginan dagingnya. Sebagai orang yang sudah menerima Injil dan memberi diri dibaptis, seharusnya Simon orang Samaria memberi dirinya untuk dipimpin oleh Roh Kudus.

Simon orang Samaria juga seharusnya semakin memperdalam kekristenannya, sebab sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, pengetahuannya akan firman Tuhan atau dasar-dasar ajaran kekristenan masih sangat minim. Buktinya ia belum mengenal kuasa Roh Kudus secara benar sehingga ia berpikir bahwa ia dapat membelinya dengan uang dan memberikan atau menjualnya kepada orang lain sesuka hatinya.

Demikian juga dalam hal pola pikir atau hatinya, Simon orang Samaria masih terjerat dengan kejahatan. Manusia lamanya sebagai tukang sihir masih lebih dominan. Padahal, seperti telah disebutkan, Simon orang Samaria selalu bersama-sama dengan Filipus sejak ia menjadi Kristen.

Memang tidak dijelaskan di Alkitab berapa lama Simon orang Samaria sudah percaya kepada Tuhan Yesus dan memberi dirinya dibaptis hingga kedatangan Petrus dan Yohanes ke Samaria. Pasti Simon orang Samaria sudah mendengar pengajaran firman dari Filipus ketika ia bersama-sama dengannya. Namun karena Simon orang Samaria masih membiarkan dirinya dikuasai manusia lamanya, rohaninya tidak bertumbuh.

Hal seperti ini bukanlah perkara ringan, sebab ini merupakan kejatuhan yang dalam dari seseorang yang sudah mengaku percaya Yesus dan telah dibaptis. Bagi orang seperti ini hanya ada satu solusi, yakni bertobat. Itulah sebabnya Petrus meminta Simon orang Samaria berdoa meminta ampun kepada Tuhan sehingga ia diampuniNya (Kisah Para Rasul 8:22-23).

Dengan meminta Simon orang Samaria untuk bertobat, Petrus tahu bahwa masih ada harapan bagi dia untuk diampuni oleh Tuhan, dan hatinya yang masih dipengaruhi oleh sihir pun masih bisa berubah. Memang, selalu ada “kesempatan kedua” dari Tuhan untuk umatNya.

 

7. Simon Tukang Sihir Enggan Untuk Bertobat Dan Kembali Menjadi Seorang Penyesat Ulung

Kesempatan telah diberikan kepada Simon tukang sihir untuk bertobat. Namun ternyata Simon tukang sihirtidak mengambil kesempatan tersebut. Ketika Petrus meminta Simon tukang sihir berdoa minta ampun kepada Tuhan, ia malah meminta agar Petrus dan Yohanes yang berdoa baginya (Kisah Para Rasul 8:24).

Sepintas hal ini merupakan kerendahan hati Simon tukang sihir, karena sepertinya ia menunjukkan ketidak-layakannya menghadap Tuhan. Simon orang Samaria memohon hanya lewat hamba-hambaNya, Petrus dan Yohanes.

Selain itu, sepertinya hal ini juga menunjukkan penghormatan Simon tukang sihir kepada para pelayan Tuhan, yang dianggapnya sebagai pengantara Tuhan, sehingga ia meminta bantuan doa mereka.

Namun, apa yang dilakukan oleh Simon orang Samaria sesungguhnya adalah bentuk kesombongan. Jadi hal ini bukanlah bentuk kerendahan hatinya di hadapan Tuhan, juga bukan bentuk penghormatannya kepada para hamba Tuhan, Petrus dan Yohanes.

Hal ini justru menunjukkan ketidak-pedulian Simon orang Samaria dan sikap anggap entengnya terhadap teguran Petrus. Ia merasa enggan untuk berdoa dan meminta ampun langsung kepada Tuhan atas dosa dan kesalahannya yang masih terjerat kejahatan sihir.

Jika Simon orang Samaria memang benar-benar merasa berdosa di hadapan Tuhan, ia sudah seharusnya langsung berdoa kepada Tuhan dan minta ampun kepadaNya. Tetapi Simon orang Samaria malah meminta Petrus dan Yohanes yang berdoa untuknya.

Hal ini menunjukkan bahwa Simon orang Samaria tidak ada kesungguhan untuk bertobat dan minta ampun kepada Tuhan. Mungkin karena itulah Petrus dan Yohanes tidak menanggapi permintaan Simon orang Samaria untuk mendoakannya.

Cara Simon orang Samaria inilah yang dahulu ditempuh oleh Saul tatkala ia ditegur oleh Nabi Samuel akibat ketidak-taatannya kepada Tuhan (1 Samuel 15:1-35). Cara sebaliknya dipakai oleh Daud tatkala Nabi Natan menegurnya atas dosanya yang berzinah dengan Batsyeba dan membunuh suami Batsyeba, Uria. Daud langsung bertobat dan meminta ampun kepada Tuhan secara pribadi (Mazmur 51:1-21).

Dari sikap Simon orang Samaria yang enggan bertobat dan meminta pengampunan Tuhan, maka tidaklah mengherankan jika hidupnya berakhir sangat tragis, seperti halnya akhir hidup Saul yang berakhir tragis.

Alkitab memang tidak mencatat akhir hidup Simon orang Samaria, tetapi tradisi gereja punya banyak catatan tentang akhir hidup Simon orang Samaria yang tragis.

Simon orang Samaria di kemudian hari dikenal sebagai seorang penyesat ulung dengan menyebut dirinya sebagai Tuhan. Ia dikenal sebagai Simon tukang sihir, atau dalam bahasa Latin: Simon Magus.

Simon orang Samaria atau Simon Magus, pada akhir hidupnya terkubur hidup-hidup, padahal ia berjanji akan bangkit pada hari ketiga seperti halnya Tuhan Yesus!

Betapa bahayanya sebuah  kehidupan yang tidak dibarengi dengan pertobatan!

 

Itulah 7 fakta tentang Simon tukang sihir yang perlu kita tahu.

 

Perhatian: Sebagian besar bahan penulisan artikel ini diambil dari tulisan saya yang berjudul “Seminggu Bersama Simon Orang Samaria”, yang telah dimuat di renungan harian Manna Sorgawi.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

 

Page: 1 2