Loading...
Loading...

7 Fakta Tentang Stefanus Di Alkitab

 

3. Stefanus Mengecam Keras Orang Yahudi Yang Menolak Yesus

Stefanus di Alkitab adalah orang Yahudi perantauan yang sudah menetap di Yerusalem. Orang Yahudi sepertiĀ  ini disebut juga sebagai orang Yahudi Hellenis atau orang Yahudi “diaspora” (perserakan). Orang-orang Yahudi diaspora biasanya lebih terbuka terhadap budaya lain, sebab mereka sudah terbiasa bertemu banyak budaya yang berbeda di perantauan.

Di sisi lain, mereka lebih kritis terhadap Taurat dan Bait Allah, dibanding dengan orang-orang Yahudi yang ada di kampung halaman (Yerusalem). Dan kelak orang-orang Yahudi diasporalah yang berperan dalam membawa Kabar Baik kepada orang-orang non-Yahudi di kota Antiokhia, sehingga melahirkan gereja non-Yahudi pertama di dunia (Kisah Para Rasul 11:19-21).

Stefanus, sebagaimana umumnya orang Yahudi diaspora, lebih “kritis” terhadap Taurat dan Bait Allah. Para penafsir Alkitab berkata bahwa Stefanuslah yang pertama-tama mengerti tentang arti korban Kristus yang telah menggenapi Taurat dan fungsi Bait Allah. Khotbah Stefanus di hadapan Mahkamah Agama Yahudi dipandang sebagai awal “revolusi teologi” dalam gereja mula-mula.

Dalam khotbah pembelaannya di hadapan Mahkamah Agama Yahudi, Stefanus menyimpulkan dua hal.

Pertama, adanya Bait Allah tidak menjamin orang Israel beribadah kepada Tuhan. Sebaliknya, para bapa leluhur mereka tidak mempunyai Bait Allah di pengembaraan, tetapi tetap menyembah Tuhan.

Kedua, bangsa Israel, sejak zaman Musa, selalu memberontak kepada Tuhan dan menentang utusan-utusanNya, yang berpuncak pada penentangan mereka terhadap Tuhan Yesus.

Itulah sebabnya Stefanus mengecam keras sikap mereka tersebut dengan menuduh mereka sebagai “orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga”, dan yang “selalu menentang Roh Kudus.” (Kisah Para Rasul 7:1-53).

Stefanus memakai cara yang “keras” seperti ini karena hati orang-orang Yahudi sudah sangat mengeras, jadi tidak bisa berkompromi lagi, harus “dilawan” dengan cara yang keras juga.

 

4. Stefanus Disambut Tuhan Yesus Di Sorga Dengan Berdiri Di Sebelah Kanan Bapa

Ketika Stefanus berkhotbah di hadapan Mahkamah Agama Yahudi, mereka sangat marah kepadanya, sebab Stefanus mengecam mereka dengan sangat keras. Akan tetapi ada satu hal yang luar biasa terjadi pada Stefanus. Stefanus melihat langit terbuka dan melihat Tuhan Yesus berdiri di sebelah kanan Bapa!

Menarik, karena di Alkitab Tuhan Yesus selalu digambarkan “duduk” di sebelah kanan Bapa. Namun dalam nas di atas dikatakan bahwa Tuhan Yesus “berdiri” di sebelah kanan Bapa. Apa yang terjadi? Tuhan Yesus “berdiri” untuk menghormati Stefanus, hambaNya yang setia!

Tuhan Yesus melakukan standing ovation (berdiri sambil bertepuk tangan) terhadap Stefanus. Biasanya standing ovation diberikan sebagai penghormatan tertinggi kepada seorang yang terhormat, ketika ia memasuki sebuah ruangan; atau kepada seorang seniman, ketika ia telah selesai mempertunjukkan kemampuannya di atas panggung.

Demikianlah yang dilakukan Tuhan Yesus. Ia menyambut Stefanus dengan penuh hormat di sorga, karena Stefanus telah melayaniNya sebagai saksi yang setia tanpa takut dan gentar (Kisah Para Rasul 7:54-56).

 

5. Ketika Stefanus Dilempari Batu Oleh Orang-Orang Yahudi Yang Tersinggung Dengan Khotbahnya, Ia Berdoa Bagi Mereka

Orang Yahudi yang marah karena khotbah Stefanus kemudian menyeret Stefanus ke luar kota (Yerusalem) dan melemparinya dengan batu. Tokoh penting di balik pembunuhan Stefanus ini adalah Saul, yang kemudian hari bertobat dan dikenal sebagai Paulus, rasul besar Tuhan Yesus (lihat poin 7 di bawah).

Sebelum Stefanus akhirnya meninggal karena dilempari batu, dengan penuh kepasrahan ia menyerahkan nyawanya kepada Tuhan Yesus. Hal ini mengingatkan kita pada Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus telah mengakhiri karya penebusanNya di kayu salib, Ia menyerahkan nyawaNya kepada Bapa (Lukas 23:46).

Loading...
2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!