7 Gereja Yang Tidak Merayakan Natal

Artikel ini membahas tentang denominasi gereja yang tidak merayakan natal dan alasan mengapa mereka tidak merayakan natal.

Seperti kita tahu, perayaan natal atau peringatan kelahiran Yesus Kristus sudah menjadi suatu tradisi bagi kebanyakan aliran dan denominasi gereja Kristen.

Setiap tanggal 24 Desember malam dan 25 Desember setiap tahun, gereja-gereja sibuk merayakan natal.

Bukan hanya itu, di sepanjang bulan Desember setiap tahun, bahkan juga hingga bulan Januari, natal dirayakan di mana-mana.

Baca juga: 7 Makna Natal Yang Sesungguhnya

Bukan hanya di gereja, tetapi juga di persekutuan-persekutuan doa interdenominasi, persekutuan kantor, sekolah, kampus, lingkungan tempat tinggal, dan perkumpulan-perkumpulan Kristen lainnya.

Kendati demikian, tidak semua aliran/denominasi gereja Kristen yang merayakan natal.

Setidaknya ada 7 gereja yang tidak merayakan natal.

Ada beberapa alasan mengapa ketujuh denominasi gereja ini tidak merayakan natal.

Ada denominasi gereja yang beralasan bahwa kita tidak tahu kapan Yesus lahir.

Baca juga: 10 Khotbah Terbaik Tentang Natal

Ada denominasi gereja yang beralasan bahwa merayakan natal tidak pernah diajarkan di Alkitab, juga tidak pernah dilakukan oleh gereja-gereja di Alkitab (Perjanjian Baru).

Ada juga denominasi gereja yang beralasan bahwa semua hari adalah sama, tiap hari adalah hari raya, bukan hanya 25 Desember.

Juga ada denominasi gereja yang beralasan bahwa 25 Desember, tanggal perayaan natal, merupakan tradisi penyembah berhala untuk merayakan dewa matahari, yang kemudian diubah oleh  gereja menjadi tanggal kelahiran Yesus.

Tentu adalah benar bahwa natal, yang merupakan salah satu peristiwa terpenting  dalam sejarah, tidak pernah dirayakan atau diperingati di Alkitab.

Gereja-gereja di Perjanjian Baru tidak pernah merayakan/memperingati hari natal.

Baca juga: 7 Nubuat Perjanjian Lama Yang Digenapi Saat Kelahiran Yesus

Alkitab juga tidak pernah mengajarkan agar orang percaya memperingati atau merayakan natal. Baik Tuhan Yesus maupun para rasulNya, tidak pernah mengajarkan hal itu.

Itulah sebabnya ada sejumlah denominasi/aliran gereja Kristen Protestan yang tidak merayakan natal.

Itulah juga sebabnya mengapa banyak orang non-Kristen yang mengkritik orang Kristen yang merayakan natal yang tidak diajarkan/tidak terdapat di Alkitab.

Jika demikian, apakah salah jika orang Kristen merayakan natal? Tentu saja tidak.

Baca juga: 7 Alasan Mengapa Orang Kristen Merayakan Natal

Sebab kendati perayaan natal tidak diajarkan di Alkitab dan tidak juga dipraktekkan oleh gereja mula-mula di Alkitab, tidak berarti bahwa hal tersebut adalah salah.

Ada banyak alasan mengapa kita sebagai orang Kristen boleh bahkan perlu untuk merayakan natal.

Sehingga merayakan natal tidaklah salah hanya karena tidak diajarkan dan dipraktekkan dalam Alkitab.

Nah artikel ini akan membahas tentang 7 gereja yang tidak merayakan natal dan alasan mengapa mereka tidak merayakan natal.

Berikut pembahasannya.

 

1. Quaker

Denominasi gereja yang tidak merayakan natal, yang pertama adalah kaum Quaker.

Kaum Quaker atau perkumpulan agama sahabat (Religious Society of Friends) adalah suatu denominasi gereja Protestan yang lahir pada abad 17 di Inggris.

Gereja ini memisahkan diri dari Gereja Inggris (Church of England).

Pendiri Quaker adalah George Fox, seorang tukang tenun asal Inggris.

Ciri khas gereja ini adalah penekanan pada pengalaman pribadi dengan Allah.

Kaum Quaker mempunyai anggota dewasa sebanyak 377.557 (data tahun 2017), dan 49 % berada di Afrika.

 

2. Advent

Denominasi gereja yang tidak merayakan natal, yang kedua adalah Advent.

Advent atau adventis, atau Gereja Advent Hari Ketujuh, adalah aliran gereja yang berdiri pada tahun 1863 di Amerika Serikat.

Aliran Advent dalam beberapa hal berbeda dari aliran-aliran gereja Protestan lainnya.

Ciri utama aliran gereja Advent adalah kepeduliannya pada aturan-aturan Perjanjian Lama, terutama ibadah pada hari Sabat/Sabtu, bukan pada hari Minggu sebagaimana umumnya gereja Kristen.

Selain itu Advent juga masih mengikuti aturan makanan halal dan haram; berbeda dengan aliran gereja-gereja Kristen lainnya, yang menganggap aturan-aturan Perjanjian Lama itu tidak lagi mengikat orang Kristen di Perjanjian Baru.

Menurut data dari General Conference of Seventh-day Adventists, jumlah anggota jemaat gereja-gereja aliran Advent di seluruh dunia tahun 2017 adalah 20.727.347 jiwa, yang tersebar di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

 

3. Saksi Jehova

Denominasi gereja yang tidak merayakan natal, yang ketiga adalah Saksi Jehova.

Aliran Saksi Jehova (Inggris: Jehovah’s Witnesses) lahir pada tahun 1870-an atas prakarsa Charles Taze Russell.

Saksi Jehova adalah aliran gereja protestan yang mempunyai beberapa ajaran yang sangat berbeda bahkan bertentangan dengan ajaran-ajaran gereja Protestan lainnya.

Salah satunya adalah dalam hal keilahian Tuhan Yesus.

Jika gereja-gereja Protestan umumnya mengakui/meyakini bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, yang ilahi, maka Saksi Jehova menolak keilahian Yesus, dan menganggapNya lebih rendah daripada Allah Bapa, bahkan diciptakan oleh Allah (Bapa).

Dengan demikian Saksi Jehova menolak doktrin Allah Tritunggal, yakni ajaran bahwa Allah adalah satu dalam tiga pribadi.

Selain itu, Saksi Jehova juga mempunyai Alkitabnya sendiri, yang diterjemahkan mengikuti ajaran yang mereka anut.

Sehingga, sebagai konsekwensinya, ayat-ayat yang merujuk pada keilahian Yesus diterjemahkan secara lain.

Saksi Jehova sendiri mengklaim jumlah anggotanya sekitar 8,58 juta jiwa, yang tersebar di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

 

4. Churches of Christ (Gereja Kristus)

Denominasi gereja yang tidak merayakan natal, yang keempat adalah Churches of Christ (Gereja Kristus).

Church of Christ adalah sebuah denominasi gereja yang lahir dari gerakan restorasi di AS pada tahun 1906.

Jumlah anggota jemaatnya lebih dari 3 juta jiwa, yang tersebar di berbagai negara, dan sepertiganya berada di AS.

Secara umum gereja Church of Christ tidak berbeda dengan aliran-aliran gereja Protestan lainnya.

Hanya saja gereja ini menganut sistem kepemimpinan gereja Kongregasional.

 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!