7 Hal Ajaib Yang Terjadi Saat Penyaliban Yesus

 

Artikel ini berisi tentang 7 hal ajaib yang terjadi saat penyaliban Yesus.

Sejauh yang dapat kita ketahui dari Alkitab, setidaknya ada 7 hal ajaib yang terjadi saat penyaliban Yesus.

Ketujuh hal ajaib ini dicatat di dalam ketiga Injil Sinoptik, yakni Injil Matius, Injil Markus, dan Injil Lukas.

Baca juga: 7 Makna Kematian Yesus Bagi Orang Percaya

Ketujuh hal ajaib yang terjadi saat penyaliban Yesus ini merupakan peristiwa yang terjadi baik sebelum maupun setelah Yesus mati di atas kayu salib.

Sebagian dari ketujuh peristiwa/hal ajaib yang terjadi saat penyaliban Yesus ini merupakan peristiwa yang terjadi pada alam atau sebuah bangunan/gedung.

Baca juga: 10 Nubuat Perjanjian Lama Yang Digenapi Saat Penyaliban Yesus

Sedangkan sebagian lagi dari ketujuh peristiwa ini merupakan peristiwa yang terjadi pada diri manusia.

Ketujuh peristiwa/hal ajaib yang terjadi saat penyaliban Yesus ini  jelas  merupakan campur tangan ilahi.

Baca juga: 10 Nubuat Perjanjian Lama Yang Digenapi Saat Kematian Yesus

Lalu apa-apa sajakah peristiwa-peristiwa/hal-hal ajaib yang terjadi saat penyaliban Yesus?

Berikut pembahasannya.

 

1. Seorang Penjahat Bertobat

Peristiwa/hal ajaib yang terjadi saat penyaliban Yesus yang pertama adalah pertobatan seorang penjahat.

Injil Lukas mencatat tentang kisah pertobatan penjahat ini.

“Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah. Lalu ia berkata: Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja. (Lukas 23:40-42).

Alkitab mencatat bahwa Tuhan Yesus disalibkan bersama dengan dua orang  penjahat, masing-masing di sebelah kanan dan kiriNya.

Salah satu dari orang yang disalibkan tersebut memohon kepada Yesus agar jika kelak Ia datang sebagai Raja, Ia mengingatnya.

Menjawab hal ini Yesus pun menjanjikan firdaus atau surga kepadanya (Lukas 23:43).

Inilah salah satu dari tujuh perkataan Yesus di kayu salib yang dicatat di Alkitab. (Baca: 7 Perkataan Yesus Di Kayu Salib Dan Maknanya)

Ketika orang banyak mengolok-olok Yesus, termasuk salah satu orang yang disalibkan bersamaNya,  penjahat ini berbeda. Ia menegur temannya itu karena ia tahu bahwa Yesus disalibkan bukan karena dosaNya, sementara ia dan temannya disalibkan karena memang mereka jahat dan layak dihukum mati.

Bukan hanya itu,  penjahat ini juga memohon kepada Yesus agar ia diselamatkan.

Jika kita membaca kitab-kitab Injil lainnya, yakni Injil Matius dan Injil Markus, maka kita dapat mengetahui bahwa kedua penjahat yang disalibkan bersama Yesus sama-sama mengolok-olok Dia (Matius 27:44; Markus 15:32).

Hal ini berarti bahwa penjahat yang satu ini akhirnya sadar dan bertobat.

Sangat mungkin hal ini terjadi karena ia melihat sikap Yesus yang berbeda: tenang, tidak mengumpat, mencaci, atau mengutuk orang-orang yang menyalibkanNya.

Jadi ketika penjahat ini melihat sikap Yesus yang sangat berbeda, ia menjadi kagum lalu menyesal dengan tindakannya yang mengolok-olok Yesus. Kemudian ia sadar akan keberdosaannya sehingga memohon belas kasihan Yesus.

Kendati demikian, pertobatan penjahat ini jelas merupakan sebuah keajaiban. Allah pasti campur tangan akan hal ini.

Bagaimana mungkin seorang penjahat yang sudah terbiasa berbuat jahat bisa sedrastis itu mengalami perubahan dan pertobatan?

Bukan hanya itu, bagaimana mungkin ia yang baru saja bersikap kasar terhadap Yesus dengan cara mengolok-olokNya, bisa secepat itu berbalik serta memohon keselamatan kepadaNya?

Dan, bagaimana seorang penjahat yang baru beberapa jam “mengenal” Yesus bisa begitu yakin bahwa Ia adalah Raja yang ilahi yang akan datang, yang berkuasa memberi keselamatan kekal kepada manusia?

Tak bisa disangkal bahwa ini adalah suatu keajaiban, dan – tidak diragukan lagi – ini adalah campur tangan ilahi!

 

2.  Terjadi Kegelapan Akibat Matahari Tidak Bersinar

Peristiwa/hal ajaib yang terjadi saat penyaliban Yesus yang kedua adalah kegelapan yang terjadi akibat matahari yang tidak bersinar.

Dalam Injil Lukas dicatat,

“Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. (Lukas 23:44-45a)

Alkitab mencatat bahwa Yesus mulai disalibkan pada pukul 9 pagi dan wafat pada pukul 3 sore, sekalipun Ia baru diturunkan dari kayu salib tersebut pada pukul 6 sore, ketika hari Sabat dimulai, yakni pada Jumat sore.

Dengan demikian, Yesus “mengalami/merasakan” penyaliban “hanya” selama 6 jam, sebab tiga jam terakhir, yakni pukul 3 sore hingga pukul 6 sore, Ia sudah wafat sehingga tidak lagi “merasakan” penderitaan penyaliban.

Dan setelah tiga jam Yesus disalibkan, yakni pada pukul 12 siang, Alkitab mencatat bahwa terjadi kegelapan di wilayah di mana Yesus disalibkan. Sebab matahari tidak bersinar.

Tentu ini adalah sebuah hal yang ajaib, kegelapan terjadi pada saat tengah hari! Matahari tak bersinar di siang bolong!

Keajaiban ini lebih mencolok lagi karena terjadi hanya di sebagian/sedikit wilayah, yakni hanya di sekitar tempat penyaliban Yesus, di daerah Golgota.

Dengan demikian hal ini bukanlah suatu hal yang alamiah atau suatu kebetulan, tetapi merupakan campur tangan ilahi.

Sebagian orang yang meragukan peristiwa ajaib ini menduga bahwa ini adalah peristiwa biasa, yakni gerhana matahari.

Namun dugaan seperti ini sangat tidak mungkin. Mengapa? Sebab penyaliban itu adalah bertepatan dengan Paskah orang Yahudi, yakni pada bulan purnama.

Jika demikian, tak bisa diragukan lagi bahwa kegelapan yang terjadi ini pastilah campur tangan ilahi.

Lalu apa makna kegelapan yang terjadi di siang bolong ini? Pasti hukuman atau peringatan Allah atas dosa manusia.

Allah murka terhadap manusia yang menyalibkan Anak Allah yang tak berdosa, yang datang ke dunia justru untuk menyelamatkan mereka.

Hukuman Tuhan ini bisa dibandingkan dengan tulah gelap gulita yang Tuhan timpakan di Mesir, yang hanya menimpa orang Mesir dan tidak dialami oleh orang Israel yang saat itu sedang berada di tengah-tengah orang Mesir (Keluaran 10:21-23).

 

3. Tabir Bait Suci Terbelah Dua

Injil Markus mencatat,

“Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. (Markus 15:38).

Tabir Bait Suci adalah tirai penghubung/pemisah antara ruang kudus dan ruang maha kudus di Bait Allah/Bait Suci orang Yahudi di Yerusalem.(Baca: 7 Bait Allah Di Alkitab)

Ruang Kudus adalah bagian depan dari Bait Suci sebagai tempat para imam Yahudi melakukan ritual agama setiap harinya.

Sedangkan Ruang Maha Kudus adalah bagian belakang Bait Suci, tempat Imam Besar melakukan ritual agama setahun sekali, yakni pada hari raya Yom Kippur atau Hari Raya Pendamaian. (Baca: 10 Hari Raya Israel Di Alkitab)

Ruang Maha Kudus adalah tempat di mana Imam besar Israel melakukan upacara pendamaian, untuk mendamaikan umat yang berdosa dengan Tuhan.

Jadi Ruang Maha Kudus adalah lambang kehadiran Tuhan.

Ketika Yesus wafat di kayu salib, maka tirai yang memisahkan ruang kudus dengan ruang maha kudus terbelah dua dari atas ke bawah.

Karena yang boleh masuk ke ruang kudus hanyalah para imam – orang awam tidak boleh – maka hanya para imamlah yang menyaksikan hal itu.

Dan boleh jadi para imam tersebut bertobat setelah menyaksikan kejadian itu (Kisah Para Rasul 6:7).

Sangat mungkin peristiwa robeknya tirai ini disaksikan oleh para imam tatkala mereka sedang melakukan upacara persembahan korban sore di Bait Allah, yakni pada pukul 3 petang. Sebab pada jam itulah Yesus wafat di kayu salib.

Peristiwa ini pasti tidak terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan karya ilahi dengan maksud dan tujuan tertentu. Mungkin inilah makna tersirat dari frasa “dari atas ke bawah”, artinya dari Tuhan sendiri.

Apalagi tempat di mana Yesus wafat, yakni Golgota, berada di luar tembok kota Yerusalem, tidak berada di lokasi yang sama dengan letak Bait Allah di pusat kota Yerusalem.

Jadi hanya campur tangan ilahi yang dapat merobek tirai itu, mengingat jarak kematian Yesus yang cukup jauh dari letak Bait Suci.

Para penulis Injil tidak memberi makna dari robeknya tabir Bait Suci ini. Tetapi penulis surat Ibrani mengatakan bahwa makna tabir yang robek itu adalah terbukanya jalan bagi semua orang percaya untuk bertemu dengan Allah di ruang maha kudus, hal yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi imam besar (Ibrani 10).

Makna lainnya, kendati tidak disebut di Alkitab, mungkin adalah hancurnya Bait Suci tersebut akibat ketidakpercayaan banga Israel, umat pilihan Tuhan, pada Yesus sebagai Mesias mereka.

Kehancuran Bait Suci orang Yahudi memang sebelumnya telah dinubuatkan oleh Tuhan Yesus dalam Khotbah Akhir Zaman (Matius 24), yang digenapi 40 tahun kemudian, tatkala bangsa Romawi menghancurkan Yerusalem dan Bait Suci mereka (lihat poin 7 di bawah).

 

4. Terjadi Gempa Bumi

Peristiwa/hal ajaib yang terjadi saat penyaliban Yesus yang keempat adalah terjadinya gempa bumi serta terbelahnya bukit-bukit batu.

Injil Matius mencatat,

“… dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,….” (Matius 27:51)

Selain kegelapan yang terjadi akibat matahari yang tidak bersinar (poin 2 di atas), terjadi juga tanda alam lain pada saat kematian Yesus, yakni gempa bumi.

Peristiwa gempa bumi tentu adalah suatu gejala alam yang biasa terjadi di berbagai tempat.

Alkitab sendiri mencatat beberapa gempa bumi yang pernah terjadi, yang merupakan gejala alam biasa, misalnya pada zaman raja Yerobeam (Amos 1:1).

Kendati demikian, gempa bumi yang terjadi pada saat penyaliban Yesus adalah peristiwa yang tidak biasa. Ini adalah peristiwa ajaib, campur tangan Allah sendiri, suatu tanda yang terjadi pada saat kematian Yesus di kayu salib.

Bahwa gempa bumi adalah lumrah dipakai oleh Allah sebagai tanda campur tangan kuasaNya, dapat dilihat dari banyaknya contoh di Alkitab.

Misalnya, ketika Tuhan hadir menyatakan diriNya di Gunung Sinai dan memberi 10 Perintah kepada Musa, terjadi gempa bumi. (Baca: 10 Perintah Allah Dan Maknanya)

Demikian juga ketika Tuhan menjawab doa Paulus dan Silas di dalam penjara, Dia melakukan gempa yang memporak-porandakan penjara tersebut (Kisah Para Rasul 16).

Dengan demikian harus dikatakan bahwa gempa yang terjadi saat kematian Yesus adalah gempa yang tidak biasa, tetapi sebagai campur tangan Allah secara langsung, seperti halnya kegelapan yang terjadi itu.

Jika demikian, apakah tujuan gempa tersebut?

Tampaknya ada dua. Pertama, sebagai tanda murka/hukumanNya kepada mereka yang menyalibkan Yesus, seperti dalam poin 2 di atas.

Kedua, untuk menunjukkan tanda yang lainnya, yang akan di bahas dalam poin 5 di bawah ini.

 

5. Kuburan-Kuburan Terbuka Dan Banyak Orang Mati Bangkit

Peristiwa/hal ajaib yang terjadi saat penyaliban Yesus yang kelima adalah terbukanya kuburan-kuburan yang mengakibatkan bangkitnya orang-orang mati dalam kubur tersebut.

Hal ini secara jelas dicatat di dalam Injil Matius.

“…dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.” (Matius 27:52-53)

Akibat yang terjadi dari gempa bumi (lihat poin 4 di atas) adalah kuburan-kuburan terbuka dan orang-orang kudus bangkit.

Yang dimaksud dengan orang-orang kudus di sini ada dua kemungkinan: umat Tuhan pada zaman Perjanjian Lama ataupun umat Tuhan pada zaman Perjanjian Baru.

Istilah “orang kudus” di Alkitab memang biasanya dikaitkan dengan orang Israel di Perjanjian Lama (Daniel 7:27 ) ataupun orang Kristen atau gereja di Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 9:32).

Kemudian, setelah Yesus bangkit, orang-orang kudus yang telah bangkit ini menampakkan diri di kota kudus, sebutan bagi kota Yerusalem. (Baca: 10 Fakta Tentang Yerusalem Menurut Pandangan Kristen).

Kebangkitan orang-orang kudus ini merupakan petunjuk awal tentang kebangkitan orang percaya dari kematian, yang didasarkan pada kebangkitan Tuhan Yesus (1 Korintus 15:20-23), serta lambang kemenangan orang percaya atas kematian, yang didasarkan pada kemenangan Tuhan Yesus atas kematianNya (1 Korintus 15:54-55).

Dan mereka tampaknya menampakkan diri hanya kepada orang-orang percaya saja, tidak kepada semua orang. Seperti Tuhan Yesus yang menampakkan diri hanya kepada murid-muridNya, kecuali kepada Paulus dan Yakobus saudaraNya yang kemudian menjadi rasul-rasulNya. (Baca: 10 Penampakan Yesus Setelah KebangkitanNya)

Tujuan penampakan orang-orang kudus itu adalah untuk meneguhkan dan menghibur umat Tuhan, bahwa mereka pun akan dibangkitkan juga dari kematian pada saat kedatangan Tuhan Yesus kedua kali.

Kita tidak tahu tentang nasib orang-orang kudus itu kemudian, apa saja yang mereka lakukan setelah penampakan mereka. Tetapi yang pasti, seperti manusia pada umumnya, mereka mati kembali.

Barulah pada akhir zaman mereka dibangkitkan kembali bersamaan dengan orang-orang percaya lainnya; sebagaimana dengan 7 Orang Yang  Pernah Dibangkitkan Di Alkitab, mereka mati lagi.

 

6. Kepala Pasukan Romawi Mengakui Yesus Sebagai Anak Allah

Peristiwa/hal ajaib yang terjadi saat penyaliban Yesus yang keenam adalah  kepala pasukan Romawi mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Injil Markus mencatat,

“Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”  (Markus 15:39)

Kepala pasukan Romawi ini adalah pemimpin para prajurit Romawi, biasanya membawahi 100 orang pasukan. Dialah yang bertanggung jawab atas seluruh proses penyaliban Yesus.

Sebagaimana umumnya orang Romawi, kepala pasukan ini adalah seorang penyembah berhala yang tidak percaya kepada Tuhan.

Namun pada peristiwa penyaliban Yesus, ada satu hal yang luar biasa terjadi atas dirinya. Kepala pasukan Romawi ini mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah!

Pengakuan spontan itu keluar dari mulutnya tatkala ia, yang langsung berhadapan dengan Yesus di kayu salib, melihat cara kematian Yesus yang luar biasa.

Cara mati Yesus yang luar biasa tersebut adalah adanya gejala-gejala alam yang tidak biasa, yang dapat disaksikannya sendiri, seperti kegelapan total dan gempa bumi yang terjadi, sebagaimana disebut di atas.

Selain itu, mungkin juga karena sikap Yesus yang tenang selama menjalani proses penyalibanNya, tidak mengumpat, mengutuk, dan berkata kasar/kotor, seperti umumnya orang-orang yang disalibkan. Malahan Ia berdoa bagi mereka yang menyalibkanNya.

Hal-hal ini semua tampaknya sangat menyentuh hati kepala pasukan ini, sehingga ia mengakui bahwa Yesus adalah benar Anak Allah, seperti yang diklaim oleh Yesus sendiri.

Kini dia sadar bahwa Yesus disalibkan bukan karena kesalahanNya, melainkan karena difitnah oleh orang-orang Yahudi, teman sebangsaNya.

Tetapi, apakah kepala pasukan ini, yang adalah seorang kafir/penyembah berhala tahu arti istilah Anak Allah? Apakah dia berpikir bahwa Yesus adalah setengah dewa?

Harus dikatakan bahwa pengakuan kepala  pasukan ini belum sepenuhnya bersifat Kristen, yakni memandang Yesus sebagai yang ilahi. Dia mungkin belum tahu persis akan arti dari istilah Anak Allah.

Kendati demikian, pengakuannya ini menunjukkan setidaknya ia berpikir bahwa Yesus bukanlah manusia biasa. Dia adalah manusia yang luar biasa, yang diperkenan oleh Allah.

Dalam Injil Lukas dikatakan bahwa kepala pasukan memuliakan Allah (Lukas 23:47), suatu perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang kafir yang mengalami kebaikan/mujizat Tuhan (misalnya, Lukas 17:15-16).

Artinya, kepala pasukan Romawi ini sangat mungkin telah beriman kepada Yesus, sekalipun belum sepenuhnya mengerti tentang keilahian Yesus, yakni konsep yang benar tentang istilah Anak Allah.

Memang, tradisi gereja menyebut bahwa kepala pasukan Romawi ini akhirnya percaya kepada Yesus, bahkan namanya juga disebut, yakni: Longinus.

Banyak cerita, buku atau film yang dibuat tentang Longinus ini.

Bagaimanapun, prajurit/perwira Romawi kafir tidaklah mustahil bertobat dan percaya kepada Yesus. Perwira di Kapernaum yang pernah Yesus tolong adalah salah satu contohnya. (Baca: 7 Orang Non-Israel Yang Pernah Dilayani Yesus).

 

7.  Orang Banyak Pulang Dengan Memukul-mukul Diri

Peristiwa/hal ajaib yang terjadi saat penyaliban Yesus yang ketujuh atau terakhir adalah orang banyak pulang dengan memukul-mukul diri

Hal ini dicatat di dalam Injil Lukas,

“Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri.   (Lukas 23:48).

Orang banyak ini digambarkan sebagai orang-orang yang datang berkerumun untuk menonton penyaliban Yesus. Di sini mereka digambarkan hanya sebagai “penonton” saja dari penyaliban Yesus.

Kendati demikian, dari Injil Matius kita tahu bahwa orang banyak ini bukan hanya penonton pasif saja dari penyaliban Yesus, melainkan juga para “pelaku aktif”.

Mereka inilah yang dihasut oleh para pemimpin Yahudi untuk membebaskan Barabas, seorang penjahat, dan dengan lantang meminta kepada Pilatus agar Yesus disalibkan.

Bahkan ketika Pontius Pilatus mencuci tangannya tanda tak bersalah/tidak bertanggung jawab atas kematian Yesus, orang banyak ini dengan sombongnya berkata bahwa mereka sendirilah, dan anak-anak mereka, yang menanggung darah Yesus! (Baca: 7 Fakta Tentang Pontius Pilatus)

Selain itu, mereka ini juga turut mengolok-olok Yesus, seperti halnya para pemimpin mereka, imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi (Matius 27:20-25, 39-40).

Sesungguhnya, perbuatan mereka ini sangatlah jahat.

Tetapi ketika Yesus mati di kayu salib disertai dengan tanda-tanda ajaib, sikap orang banyak ini berubah secara drastis. Kesombongan mereka berubah sekejap menjadi sebuah penyesalan.

Mereka memukul-mukul diri mereka sebagai tanda penyesalan. Mereka pulang ke rumah mereka masing-masing sebagai pecundang. Tetapi Yesus mati sebagai pemenang.

Tampaknya orang banyak ini menyesali apa yang telah mereka perbuat kepada Yesus. Setelah melihat penyaliban dan cara mati Yesus yang ajaib, disertai kegelapan dan gempa bumi, mungkin mereka menjadi sadar bahwa Yesus adalah benar-benar Anak Allah, seperti yang diakuiNya.

Boleh jadi mereka juga mulai insyaf atas kelatahan mereka yang mengatakan bahwa mereka dan anak-anak mereka siap menanggung darah Yesus.

Kita tidak tahu sampai sejauh mana penyesalan mereka itu terjadi, tetapi tampaknya hanya sekedar menyesal dan merasa bersalah saja, tidak sampai membawa mereka pada pertobatan.

Dan sikap mereka yang tidak bertobat ini, serta kesombongan mereka yang berkata akan menanggung darah Yesus, mendatangkan hukuman yang sangat mengerikan.

Orang Romawi, di bawah jenderal Titus, menyerbu Yerusalem, membunuh orang-orang Yahudi itu serta menghancurkan kota Yerusalem dan Bait Suci mereka. (Baca: 10 Hukuman Tuhan Terbesar Kepada Manusia).

Tidak ada dikatakan tentang para pemimpin Yahudi, apakah ada di antara mereka yang menyesali perbuatan mereka seperti yang dilakukan oleh orang banyak ini. Tampaknya mereka tetap pada kekerasan hati mereka yang tidak percaya kepada Yesus dan yang melihat penyaliban Yesus sebagai suatu hal yang tidak salah.

Bagaimanapun, para pemimpin Yahudi ini, beserta anak-anak mereka, juga turut mengalami beratnya penderitaan atas serbuan orang Romawi, sebagai hukuman atas dosa mereka akibat menolak dan menyalibkan Yesus.

 

Itulah 7 hal ajaib yang terjadi saat penyaliban Yesus dan kematianNya.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!