Categories: GEREJA

7 Jenis Kepemimpinan Gereja Dan Penjelasannya

Artikel ini membahas tentang 7 jenis kepemimpinan gereja dan penjelasannya.

Alkitab berkata bahwa Kristus adalah Kepala gereja. Dialah pemimpin GerejaNya.

Namun ketika Kristus naik ke surga, maka para muridNya menjadi pemimpin gereja secara nyata, yang bertanggung jawab kepadaNya sebagai Gembala Agung (1 Petrus 5:1-4).

Pertama-tama adalah kedua belas muridNya, yang adalah para rasul, lalu rasul-rasul lainnya seperti Paulus.

Baca juga: 7 Aliran Utama Dalam Gereja Kristen

Para rasul memimpin gereja mula-mula secara kolektif. Petrus adalah pemimpin utama gereja mula-mula, sesuai dengan nubuat Tuhan Yesus (Matius 16:17-19).

Tuhan Yesus sendiri memerintahkan Petrus untuk menggembalakan domba-dombaNya/gerejaNya  (Yohanes 21).

Baca juga: 10 Aliran Gereja Terbesar Dalam Kristen Protestan

Ketika jumlah anggota gereja bertambah, dan jumlah gereja lokal juga bertambah di berbagai tempat, maka para pemimpin baru mulai muncul.

Selain para rasul, sebagai pemimpin utama di gereja-gereja Perjanjian Baru, kemudian muncul juga jabatan-jabatan baru, yakni penatua dan diaken, yang membantu para rasul di dalam memimpin gereja.

Para penatua diangkat oleh para rasul (Kisah Para Rasul 14:23) atau wakil rasul (Titus 1:5) dari antara jemaat dengan persyaratan-persyaratan tertentu (1 Timotius 3).

Baca juga: 25 Gereja Terbesar Di Indonesia

Para rasul sendiri sebenarnya juga termasuk penatua (1 Petrus 5:1; 3 Yohanes 1:1).

Pada saat rasul-rasul masih hidup, penatua-penatua adalah ‘pemimpin kelas dua’, di bawah rasul-rasul.

Tetapi setelah generasi rasul tidak ada lagi, para penatua ini menjadi pemimpin-pemimpin tertinggi di masing-masing kota/gereja lokal (tampaknya pada zaman Alkitab dalam satu kota hanya ada satu gereja lokal).

Baca juga: 17 Gereja Dengan Jumlah Jemaat Terbesar Di Indonesia

Sedangkan para diaken awalnya sebenarnya diangkat untuk tugas-tugas sosial di jemaat, namun dalam perkembangannya mereka juga terlibat dalam pelayanan rohani.

Jabatan diaken pertama kali muncul di gereja Yerusalem, sekalipun kata ‘diaken’ tidak dipakai dalam kisah itu (Kisah Para Rasul 6).

Ketika para rasul tidak ada lagi, maka para diaken adalah pembantu para penatua di gereja lokal, mungkin dalam segala bidang, rohani maupun jasmani.

Baca juga: 10 Ciri Gereja Yang Ideal Menurut Alkitab

Di Alkitab Perjanjian Baru semua jemaat lokal berdiri setara. Tidak ada hirearki kepemimpinan, walau ada pengakuan atas gereja Yerusalem sebagai gereja induk.

Namun, tatkala gereja semakin berkembang di bumi, khususnya setelah zaman Alkitab Perjanjian Baru, maka kepemimpinan/organisasi gereja juga semakin berkembang.

Organisasi gereja ditata sedemikian, sehingga memunculkan hirearki kepemimpinan serta jabatan-jabatan baru dengan istilah dan cakupan tugas yang berbeda dalam setiap aliran/denominasi gereja.

Ada tiga jenis kepemimpinan/pemerintahan gereja dalam tradisi Kristen, yakni episkopal, presbiterian, dan kongregasional.

Baca juga: 4 Pandangan Tentang Perjamuan Kudus Dan Penjelasannya

Akan tetapi jika kita perhatikan, saat ini ada 7 jenis kepemimpinan gereja yang dipraktekkan dalam berbagai denominasi atau aliran gereja Kristen.

Gereja-gereja Kristen dari berbagai aliran atau denominasi menganut salah satu dari 7 jenis kepemimpinan gereja ini.

Lalu, apa sajakah ketujuh jenis kepemimpinan gereja tersebut?

Berikut pembahasannya.

 

1. Episkopal

Jenis kepemimpinan gereja yang pertama adalah kepemimpinan Episkopal.

Istilah ‘episkopal’ berasal dari bahasa Yunani (bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru), yakni: ‘episkopos’ (tunggal) atau ‘episkopoi’ (jamak), yang artinya uskup atau bishop.

Jadi jenis kepemimpinan episkopal adalah sistem kepemimpinan gereja yang otoritas tertingginya berada di tangan para uskup/bishop.

Sistem kepemimpinan episkopal adalah bersifat hirearkis, dari atas ke bawah.

Ada kepemimpinan paling rendah, yakni di gereja lokal, kemudian kepemimpinan tingkat wilayah, dari wilayah yang lebih kecil hingga wilayah yang lebih luas, lalu para uskup di atasnya.

Tidak ada satu pemimpin yang berada di puncak, yang memimpin semua para uskup dan gereja lokal/gereja-gereja wilayah.

Para uskup dianggap setara kedudukannya, walau ada satu orang uskup yang umumnya dipandang sebagai yang dituakan.

Namun uskup yang satu itu bukanlah pemimpin puncak, melainkan lebih pada simbol pemersatu atau semacam koordinator para uskup.

Kendati demikian, sistem kepemimpinan episkopal juga mempunyai beberapa variasi, yang berbeda di antara aliran gereja yang menerapkannya.

Sistem kepemimpinan episkopal umumnya dipakai di gereja-gereja Ortodoks, baik Ortodoks Oriental maupun Ortodoks Timur.

Sistem pemerintahan gereja episkopal muncul dari pandangan bahwa di Alkitab, istilah ‘presbuteros’ (tunggal) atau ‘presbuteroi’ (jamak), yang artinya penatua, dan istilah ‘episkopos/episkopoi, yang artinya penilik, menunjuk pada dua jabatan yang berbeda.

Artinya, Episkopos (penilik/pengawas jemaat) dipandang lebih tinggi daripada presbuteros (penatua jemaat).

Jadi menurut penganut sistem kepemimpinan episkopal, penilik yang disebut dalam 1 Timotius 3 dan penatua dalam Titus 1 adalah dua jabatan yang berbeda.

Dalam perkembangannya, misalnya dalam gereja Katolik, penilik itu disebut uskup, sedangkan penatua itu disebut imam, yang posisinya lebih rendah dari uskup.

Di samping itu juga dipandang ada hirearki jabatan dari para rasul ke para utusan rasul, dan dari para rasul ke para penatua.

Misalnya, Timotius dan Titus yang diberi hak dan wewenang untuk mengangkat para penatua, yang mengindikasikan posisi mereka lebih tinggi daripada para penatua, dan lebih rendah daripada para rasul (1 Timotius 3; Titus 1).

 

2. Presbiterian

Jenis kepemimpinan gereja yang kedua adalah kepemimpinan presbiterian.

Istilah ‘presbiterian’ berasal dari bahasa Yunani (bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru), yakni: ‘presbuteros’ (tunggal) atau ‘presbuteroi’ (jamak), yang artinya penatua atau tua-tua.

Jadi sistem kepemimpinan presbiterian adalah sistem pemerintahan gereja di mana otoritas tertinggi berada di tangan para penatua jemaat, dan penatuanya selalu jamak.

Mereka tidak memiliki hirearki jabatan, karena semua gereja lokal adalah sama dan setara, dan para penatuanya tentu juga setara, tidak ada yang lebih tinggi dan yang lebih rendah.

Sistem pemerintahan gereja presbiterian ini muncul dari pandangan bahwa para penatua adalah para pemimpin jemaat lokal di Alkitab. Dan bertentangan dengan sistem episcopal, mereka menyamakan kata presbuteroi dengan episkopoi.

Dasarnya adalah karena presbuteroi (penatua)  dipertukar-tempatkan dengan episkopoi (penilik) dalam Titus 1:5-7.

Dengan kata lain, menurut gereja-gereja yang menganut sistem kepemimpinan gereja presbiterian, penilik dan penatua menunjuk pada jabatan yang sama.

Sistem kepemimpinan gereja presbiterian merupakan “penemuan” John Calvin, seorang reformator utama gereja, sebagai kritik terhadap gereja Katolik yang menerapkan sistem pemerintahan gereja episkopal, bahkan kepausan (lihat poin 4 dibawah).

Calvin beranggapan bahwa sistem presbiterian adalah sistem yang diterapkan pada gereja-gereja Perjanjian Baru.

Sistem ini adalah bagian dari prinsip “imamat am semua orang percaya” (tidak membedakan secara tajam antara rohaniwan dan jemaat awam), salah satu hal yang diperjuangkan oleh para reformator.

Sistem presbiterian banyak dianut oleh gereja-gereja protestan, khususnya Calvinis/Reformed, yakni gereja-gereja yang berpegang pada ajaran Calvin.

Di Indonesia gereja-gereja penganut sistem presbiterian sinodal antara lain adalah GKI dan GPIB.

Namun dalam perkembangannya, dan penerapannya zaman sekarang, kepemimpinan gereja seperti ini umumnya tidak murni presbiterian, tetapi semi sinodal.

Karena itu sistem kepemimpinan gereja ini disebut juga dengan istilah presbiterian sinodal.

Sistem sinodal adalah sistem yang yang memberi otoritas pada sinode atau rapat para penatua dari berbagai gereja (lihat poin 5 di bawah).

Dengan demikian, maka sistem presbiterian sinodal memiliki otoritas baik pada para penatua maupun pada sinode.

Dalam sistem presbiterian, para penatua, yang disebut majelis jemaat, terdiri dari dua macam, yakni penatua rohaniwan dan penatua awam.

Penatua rohaniwan ini disebut juga pendeta, sedangkan penatua awam biasa disebut sebagai majelis, sekalipun pendeta juga termasuk majelis.

Pendeta biasanya sekolah Alkitab formal dan melayani gereja secara penuh, berkhotbah serta melayankan sakramen.

Sedangkan majelis umumnya tidak berkhotbah (atau jarang) dan biasanya tidak melayankan sakramen (tetapi ini tergantung pada denominasi gereja masing-masing).

Namun, seorang majelis awam bisa menjadi ketua majelis jemaat, bahkan ketua sinode gereja, yang tentu membawahi para majelis rohaniwan (pendeta).

 

3. Kongregasional

Kongregasional adalah sistem pemerintahan gereja yang berada pada gereja lokal, atau pada para anggota jemaat.

Istilah “kongregasional” berasal dari kata Inggris “congregation”, yang artinya jemaat.

Sistem kepemimpinan kongregasional pertama kali muncul dari jemaat Skotlandia pada abad  ke-16, sebagai protes terhadap gereja Anglikan (gereja induk mereka), yang mempunyai sistem kepemimpinan monolitik (lihat poin 4 di bawah).

Jemaat Skotlandia ini kemudian menjadi Gereja Kongregasional pertama di dunia, yang menyebar ke berbagai negara.

Tetapi sistem kepemimpinan Kongregasional juga menyebar ke berbagai aliran gereja Protestan, bukan hanya bagi gereja yang menyebut diri Gereja Kongregasional.

Sistem kepemimpinan Kongregasional juga banyak ditemukan di gereja-gereja beraliran Baptis.

Dalam sistem Kongregasional, kedudukan anggota jemaat sangat kuat.

Para pemimpin gereja bertanggung jawab kepada jemaat, serta diangkat dan diberhentikan oleh anggota jemaat.

Jadi ketika seorang pendeta/gembala gereja dianggap melakukan pelanggaran atau dinilai kurang “performed”, maka jemaat bisa memberhentikannya.

Di sisi lain, dalam gereja-gereja yang menganut sistem Kongregasional, seorang pendeta bisa “melamar” menjadi gembala jemaat.

Sistem Kongregasional mendapat dukungan dari beberapa ayat Alkitab, antara lain dari Kisah Para Rasul.

Ketika ada pemilihan diaken di jemaat mula-mula di Yerusalem, jemaatlah yang memilih mereka, bukan para rasul yang pada saat itu bertindak sebagi para pemimpin gereja (Kisah Para Rasul 6:3-5).

Dan juga ketika mereka meilih pemimpin/rasul pengganti Yudas, juga melibatkan jemaat (Kisah Para Rasul 1:23).

 

4. Monolitik

Sistem kepemimpinan monolitik adalah kepemimpinan yang menjulang dengan seorang pemimpin tertinggi di atasnya.

Istilah monolitik menunjuk pada “monolit” atau tugu, yang menjulang tinggi dan mempunyai satu “kepala” di atasnya.

Sistem kepemimpinan ini berbeda dengan sistem episkopal, sebab sistem episkopal umumnya tidak mempunyai satu kepala sebagai pemimpin tertinggi, walau ada satu uskup yang dituakan.

Sistem monolitik diterapkan oleh gereja Katolik dengan sistem kepausan yang dipakainya, di mana paus merupakan pemimpin tertinggi gereja Katolik sedunia.

Gereja-gereja Protestan juga cukup banyak yang menerapkan sistem kepemimpinan monolitik.

Salah satunya, di Indonesia, adalah HKBP,  di mana Ephorus bertindak sebagai pemimpin tertinggi atas seluruh gereja HKBP.

Seorang Ephorus membawahi seluruh pendeta secara berjenjang, mulai dari Praeses (pendeta distrik/wilayah besar), pendeta Resort (wilayah kecil), hingga Parhangir/Guru Jemaat (pemimpin tertinggi sebuah gereja lokal).

Page: 1 2