Loading...

7 Jenis Kepemimpinan Gereja Dan Penjelasannya

Loading...

 

2. Presbiterian 

Jenis kepemimpinan gereja yang kedua adalah kepemimpinan presbiterian.

Istilah ‘presbiterian’ berasal dari bahasa Yunani (bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru), yakni: ‘presbuteros’ (tunggal) atau ‘presbuteroi’ (jamak), yang artinya penatua atau tua-tua.

Jadi sistem kepemimpinan presbiterian adalah sistem pemerintahan gereja di mana otoritas tertinggi berada di tangan para penatua jemaat, dan penatuanya selalu jamak.

Mereka tidak memiliki hirearki jabatan, karena semua gereja lokal adalah sama dan setara, dan para penatuanya tentu juga setara, tidak ada yang lebih tinggi dan yang lebih rendah.

Sistem pemerintahan gereja presbiterian ini muncul dari pandangan bahwa para penatua adalah para pemimpin jemaat lokal di Alkitab. Dan bertentangan dengan sistem episcopal, mereka menyamakan kata presbuteroi dengan episkopoi.

Dasarnya adalah karena presbuteroi (penatua)  dipertukar-tempatkan dengan episkopoi (penilik) dalam Titus 1:5-7.

Dengan kata lain, menurut gereja-gereja yang menganut sistem kepemimpinan gereja presbiterian, penilik dan penatua menunjuk pada jabatan yang sama.

Sistem kepemimpinan gereja presbiterian merupakan “penemuan” John Calvin, seorang reformator utama gereja, sebagai kritik terhadap gereja Katolik yang menerapkan sistem pemerintahan gereja episkopal, bahkan kepausan (lihat poin 4 dibawah).

Calvin beranggapan bahwa sistem presbiterian adalah sistem yang diterapkan pada gereja-gereja Perjanjian Baru.

Sistem ini adalah bagian dari prinsip “imamat am semua orang percaya” (tidak membedakan secara tajam antara rohaniwan dan jemaat awam), salah satu hal yang diperjuangkan oleh para reformator.

Sistem presbiterian banyak dianut oleh gereja-gereja protestan, khususnya Calvinis/Reformed, yakni gereja-gereja yang berpegang pada ajaran Calvin.

Di Indonesia gereja-gereja penganut sistem presbiterian sinodal antara lain adalah GKI dan GPIB.

Namun dalam perkembangannya, dan penerapannya zaman sekarang, kepemimpinan gereja seperti ini umumnya tidak murni presbiterian, tetapi semi sinodal.

Karena itu sistem kepemimpinan gereja ini disebut juga dengan istilah presbiterian sinodal.

Sistem sinodal adalah sistem yang yang memberi otoritas pada sinode atau rapat para penatua dari berbagai gereja (lihat poin 5 di bawah).

Dengan demikian, maka sistem presbiterian sinodal memiliki otoritas baik pada para penatua maupun pada sinode.

Dalam sistem presbiterian, para penatua, yang disebut majelis jemaat, terdiri dari dua macam, yakni penatua rohaniwan dan penatua awam.

Penatua rohaniwan ini disebut juga pendeta, sedangkan penatua awam biasa disebut sebagai majelis, sekalipun pendeta juga termasuk majelis.

Pendeta biasanya sekolah Alkitab formal dan melayani gereja secara penuh, berkhotbah serta melayankan sakramen.

Sedangkan majelis umumnya tidak berkhotbah (atau jarang) dan biasanya tidak melayankan sakramen (tetapi ini tergantung pada denominasi gereja masing-masing).

Namun, seorang majelis awam bisa menjadi ketua majelis jemaat, bahkan ketua sinode gereja, yang tentu membawahi para majelis rohaniwan (pendeta).

 

3. Kongregasional 

Kongregasional adalah sistem pemerintahan gereja yang berada pada gereja lokal, atau pada para anggota jemaat.

Istilah “kongregasional” berasal dari kata Inggris “congregation”, yang artinya jemaat.

Sistem kepemimpinan kongregasional pertama kali muncul dari jemaat Skotlandia pada abad  ke-16, sebagai protes terhadap gereja Anglikan (gereja induk mereka), yang mempunyai sistem kepemimpinan monolitik (lihat poin 4 di bawah).

Jemaat Skotlandia ini kemudian menjadi Gereja Kongregasional pertama di dunia, yang menyebar ke berbagai negara.

Tetapi sistem kepemimpinan Kongregasional juga menyebar ke berbagai aliran gereja Protestan, bukan hanya bagi gereja yang menyebut diri Gereja Kongregasional.

Sistem kepemimpinan Kongregasional juga banyak ditemukan di gereja-gereja beraliran Baptis.

Dalam sistem Kongregasional, kedudukan anggota jemaat sangat kuat.

Para pemimpin gereja bertanggung jawab kepada jemaat, serta diangkat dan diberhentikan oleh anggota jemaat.

Jadi ketika seorang pendeta/gembala gereja dianggap melakukan pelanggaran atau dinilai kurang “performed”, maka jemaat bisa memberhentikannya.

Di sisi lain, dalam gereja-gereja yang menganut sistem Kongregasional, seorang pendeta bisa “melamar” menjadi gembala jemaat.

Sistem Kongregasional mendapat dukungan dari beberapa ayat Alkitab, antara lain dari Kisah Para Rasul.

Ketika ada pemilihan diaken di jemaat mula-mula di Yerusalem, jemaatlah yang memilih mereka, bukan para rasul yang pada saat itu bertindak sebagi para pemimpin gereja (Kisah Para Rasul 6:3-5).

Dan juga ketika mereka meilih pemimpin/rasul pengganti Yudas, juga melibatkan jemaat (Kisah Para Rasul 1:23).

 

Loading...

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!