7 Makna Kebangkitan Yesus Bagi Orang Percaya

Artikel ini berisi 7 makna kebangkitan Yesus bagi orang percaya.

Kematian dan kebangkitan Yesus merupakan hal yang sangat penting – kalau bukan yang terpenting – di Alkitab. Sebab keselamatan manusia terjadi karena kematian dan kebangkitan Yesus. Demikian juga dengan iman Kristen, ia didasarkan pada kematian dan kebangkitan Yesus. Tanpa kematian dan kebangkitanNya, tidak ada kekristenan.

Baca juga: 10 Fakta Tentang Paskah Menurut Alkitab

Sekalipun kematian dan kebangkitan Yesus merupakan dua peristiwa yang saling terkait dan tak terpisahkan, namun Alkitab mencatat makna masing-masing dari kematian dan kebangkitanNya tersebut.

Alkitab mencatat secara khusus makna kematian Yesus. Demikian juga Alkitab mencatat secara khusus makna kebangkitanNya.

Baca juga: 7 Makna Paskah Yang Sesungguhnya

Artikel kali ini akan membahas secara khusus makna kebangkitan Yesus bagi dunia pada umumnya dan bagi orang percaya pada khususnya. Apa sajakah itu? Berikut pembahasannya.

 

1. Yesus Membuktikan Bahwa Dia Berkuasa Atas Maut

Kebangkitan Yesus dari kematian membuktikan bahwa Dia berkuasa atas kematian/maut. Maut tidak berkuasa menahan Yesus di dalam kubur. Dan kematianNya yang sementara itu (3 hari menurut perhitungan Yahudi), bukan karena Ia tak berkuasa atas maut, tetapi karena Ia secara sukarela memberikan nyawaNya demi penebusan dosa manusia.

Tuhan Yesus berkata,

“Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yohanes 10:17-18).

Tidak ada seorang pun manusia yang berkuasa atas maut atau kematian. Pada akhirnya semua manusia akan mengalami kematian (kecuali mereka yang masih hidup ketika Yesus datang kedua kali).

Tetapi tidak dengan Yesus. Yesus memang mengalami kematian untuk beberapa saat, tetapi Ia bangkit kembali. Sesungguhnya, Yesus menyerahkan sendiri nyawaNya, tidak ada yang bisa mengambilnya dariNya, maut pun tidak bisa. Yesus berkuasa memberi nyawaNya, tetapi juga berkuasa “mengambilnya” kembali.

 

2. Yesus Membuktikan Bahwa Dia Adalah Anak Allah

Kebangkitan Yesus dari kematian bukan saja membuktikan kuasaNya atas maut, tetapi juga membuktikan bahwa Dia adalah Anak Allah yang berkuasa.

Tentang hal ini rasul Paulus menulis,

“… tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.” (Roma 1:3-4).

Jika Yesus adalah Anak Allah, berarti Dia adalah Allah, yang Ilahi, yakni Oknum kedua dari Allah Tritunggal. Pemakaian istilah “Anak Allah” bagi Yesus jelas menunjukkan keilahianNya. Yesus sendiri mengakui bahwa Dia adalah Anak Allah. (Baca: 10 Cara Yesus Menyatakan Dia Adalah Tuhan)

Ada banyak hal yang dapat membuktikan kekuasaan Yesus, atau yang dapat membuktikan keilahianNya. Dan kebangkitan dari kematian merupakan salah satu di antaranya.

Memang, bukan hanya Yesus yang pernah bangkit dari kematian. Alkitab mencatat beberapa orang yang pernah dibangkitkan dari kematian. (Baca: 7 Orang Di Alkitab Yang Pernah Dibangkitkan Dari Kematian)

Namun mereka semua mati lagi. Mereka bangkit hanya untuk sementara saja. Tetapi Yesus tidak. Setelah bangkit, Ia tidak mati lagi, maut tak berkuasa lagi atas diriNya. Ia hidup selamanya. Hal ini sudah pasti membuktikan keilahianNya. Jika Dia bukan Tuhan, pasti Ia mati lagi seperti orang-orang yang pernah bangkit tersebut.

Jadi hanya Anak Allah yang bisa mengalahkan maut. Manusia biasa, termasuk para nabi dan pemimpin agama, tidak ada yang bisa mengalahkan maut atau kematian. Mereka malah mengalami ketakutan akan kematian. Dan hanya Yesus yang bisa menyelamatkan mereka dari keadaan itu (Ibrani 2:15).

 

3. Nubuat Alkitab Terbukti Benar

Alkitab telah menubuatkan sebelumnya bahwa Yesus akan bangkit dari kematian. Hal ini terdapat di dalam beberapa ayat Perjanjian Lama. Salah satunya adalah dalam Mazmur Daud, yang dikutip oleh rasul Petrus dalam khotbahnya pada hari Pentakosta.

Dalam Mazmurnya, Daud mengatakan,

“Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” (Mazmur 16:8-11)

Dalam ayat di atas, Daud mengatakan bahwa Tuhan tidak menyerahkan dia ke dalam kematian. Namun demikian, dari perkataan Rasul Petrus kita mengetahui bahwa ternyata ayat-ayat itu mengacu kepada Mesias (Yesus), bukan kepada Daud, sekalipun yang menuliskan mazmur tersebut adalah Daud.

Seraya mengutip mazmur Daud di atas (Mazmur 16:8-11), Rasul Petrus mengatakan,

“Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.” (Kisah Para Rasul 2:20-32).

Kebangkitan Yesus dari kematian membuktikan bahwa Alkitab tidak pernah salah, apa yang tertulis di dalamnya selalu dapat dipercayai. Nubuatnya pasti tergenapi. (Baca : 10 Fakta Tentang Nubuat Menurut Alkitab)

 

4. Perkataan Yesus Berkuasa

Bukan hanya Perjanjian Lama, Tuhan Yesus sendiri pun berulang kali menubuatkan kematian dan kebangkitanNya. Ia bahkan sampai menubuatkan dengan rinci bahwa Ia akan bangkit pada hari yang ketiga.

“Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Matius 16:21)

“Dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” (Matius 17:23a).

“Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” (Matius 20:19).

Nubuat Yesus ini benar-benar terjadi. Ia wafat pada hari Jumat, yakni sehari menjelang hari Sabat/Sabtu (Markus 15:42), dan bangkit pada hari pertama dalam minggu itu, yakni pada hari Minggu (Matius 28:1-7).

Kebangkitan Yesus dari kematian membuktikan bahwa apa yang dikatakanNya pasti terjadi. PerkataanNya sungguh berkuasa (Markus 13:31).

 

5. Kebangkitan Orang Mati Adalah Suatu Kepastian

Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa kelak akan ada kebangkitan orang mati, baik orang yang percaya kepadaNya, maupun orang yang tidak percaya kepadaNya.

Banyak orang yang tidak percaya bahwa ada kebangkitan orang mati. Misalnya, para ateis. Mereka percaya bahwa setelah kehidupan di dunia ini, setelah seseorang mati, maka semuanya akan berakhir. Tidak ada kebangkitan, dan karenanya tidak ada penghakiman, tidak ada sorga dan neraka.

Di Alkitab, orang-orang Yunani juga tidak percaya adanya kebangkitan orang mati. Mereka berkeyakinan bahwa ketika seseorang telah mati, maka tubuh dan jiwanya akan terpisah. Tubuhnya akan hancur, sedangkan jiwanya hidup abadi. Kepercayaan seperti ini juga terdapat di antara anggota jemaat di kota Korintus berlatar belakang Yunani.

Karena itu rasul Paulus menulis kepada jemaat di Korintus bahwa kelak akan ada kebangkitan orang mati. Dan hal ini terbukti dari bangkitnya Yesus dari kematian.

“Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.” (1 Korintus 15:12-13)

Karena Yesus telah bangkit dari kematian, maka kita bisa menyimpulkan bahwa kebangkitan orang mati itu adalah nyata, yang benar-benar terjadi pada akhir zaman.

Sebagian dari mereka bangkit untuk dihukum kekal, sebagian lagi untuk beroleh hidup kekal. (Baca: 10 Peristiwa Terpenting Yang Akan Terjadi Pada Akhir Zaman)

 

6. Orang Percaya Pasti Dibangkitkan Untuk Beroleh Hidup Kekal

Karena kebangkitan orang mati adalah nyata, maka kebangkitan orang percaya juga pasti nyata. Kebangkitan orang percaya adalah suatu hal yang membahagiakan. Sebab kebangkitan itu akan membawa kita pada kehidupan kekal.

Kebangkitan untuk mendapat hukuman kekal tentu tidaklah ada artinya. Dan tidak ada orang yang mengharapkan hal itu. Tetapi kita dibangkitkan kelak untuk beroleh hidup yang kekal. Karenanya kita patut mengharapkannya dan bersukacita atasnya.

Rasul Paulus menulis,

”Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.” (1 Korintus 15:22-23).

Sebagaimana Yesus bangkit dari kematian dan hidup selama-lamanya, demikian juga orang yang percaya kepadaNya akan dibangkitkan pada akhir zaman dan menjalani kehidupan kekal. (Baca : 10 Fakta Tentang Surga Menurut Pandangan Kristen)

Kebangkitan Yesus adalah jaminan bagi kebangkitan orang percaya. Hal ini berarti bahwa kebangkitan Yesus adalah jaminan bagi kita untuk beroleh hidup yang kekal.

 

7. Orang Percaya Memasuki Hidup Yang Baru

Melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus, orang percaya akan hidup dalam suatu cara hidup yang baru.

Rasul Paulus menulis,

“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:4).

Di sini rasul Paulus membandingkan kematian dan kebangkitan Yesus dengan “kematian” dan “kebangkitan” orang percaya melalui baptisan.

Melalui baptisan, orang percaya telah “dikuburkan” bersama Kristus. Maksudnya, sebagaimana Kristus mati dan dikuburkan secara fisik, maka orang percaya juga telah “mati dan dikuburkan” secara kiasan.

Dan sebagaimana dengan kebangkitan Kristus dari kematian, maka orang percaya juga telah “dibangkitkan” secara kiasan untuk menjalani hidup yang baru di dalam Kristus.

Yang dimaksud rasul Paulus dengan “kematian” adalah kematian terhadap dosa. Dan yang dimaksud dengan “kebangkitan” adalah kehidupan yang baru, yang meninggalkan dosa dan hidup bagi Allah dalam Kristus (Roma 6:11-13).

Jadi sebagaimana Tuhan Yesus telah mati dan bangkit karena dosa kita, kita pun harus mati terhadap dosa dan hidup dalam kehidupan yang  baru, yaitu hidup yang memuliakan Allah.

 

Itulah 7 makna kebangkitan Yesus bagi orang percaya.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!