7 Makna Natal Yang Sesungguhnya

christmas-vatican

Dewasa ini natal sudah menjadi hari perayaan yang universal, bukan lagi hanya perayaan keagamaan umat kristiani. Kendati banyak orang di luar umat kristiani yang menolak sekedar untuk ikut merayakan natal (bahkan untuk mengucapkan Selamat Natal sekalipun), namun tampaknya lebih banyak lagi orang yang terlibat “merayakannya”.

“Merayakan” yang dimaksud di sini tentu bukan dalam arti religius, tetapi dalam arti umum, sekedar pesta dan bersenang-senang di hari libur. Bahkan di beberapa tempat, seperti di diskotik, natal “dirayakan” secara tidak benar, dengan huru-hara, pesta pora dan melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya.

Di sisi lain, hiruk-pikuk dan gemerlapnya perayaan natal, sekalipun dirayakan secara benar, dapat mengaburkan makna natal yang sesungguhnya.

Baca juga: 7 Alasan Mengapa Orang Kristen Merayakan Natal

Oleh karena itu, perlu direnungkan kembali makna natal yang sesungguhnya, sehingga esensi natal tidak hilang begitu saja oleh hiruk-pikuk dan gemerlapnya perayaan natal, bahkan oleh “perayaan” natal yang tidak benar.

Lalu, apakah makna natal yang sesungguhnya? Artikel ini akan mencoba membahasnya.

 

1. Natal Adalah Pengorbanan

Makna natal yang pertama adalah pengorbanan.

Karena kasihNya kepada manusia yang berdosa, Allah rela mengorbankan anakNya yang tunggal, Yesus Kristus, agar manusia terbebas dari dosa (Yohanes 3:16). Manusia yang telah jatuh dalam dosa seharusnya akan mati menanggung dosa-dosanya, namun Allah yang pengasih dan penyayang rela mengorbankan anakNya yang tunggal untuk mati menggantikan kita.

Allah berkorban dalam peristiwa natal. Demikian juga dengan orang-orang pada peristiwa natal, mereka juga turut berkorban.

Para majus mengorbankan persembahan-persembahan mereka: emas, perak, dan mur (Matius 2:11), sebagai “kado natal” terindah mereka kepada bayi Yesus.

Juga Yusuf dan Maria harus berkorban di hari natal. Maria dan Yusuf harus mengorbankan perasaan mereka untuk menerima bayi Yesus yang bukan anak mereka sendiri, dan ketika mereka masih belum resmi berstatus sebagai suami istri. Selain itu, mereka juga harus berkorban ketika pergi dari Nazaret ke Betlehem, di mana Maria dalam keadaan mengandung.

Dan ketika Herodes Agung berencana membunuh bayi-bayi di Betlehem, mereka juga harus mengungsi ke Mesir untuk beberapa lama, hingga Herodes Agung meninggal dunia.

Baca: 10 Pemeran Utama Dalam Peristiwa Natal Di Alkitab

Sah-sah saja jika kita mengharapkan kado natal pada hari natal. Tetapi alangkah baiknya jika kita juga memberikan kado di hari natal, terutama bagi mereka yang kurang mampu.

Tetapi yang terutama adalah “pengorbanan” kita bagi Yesus yang telah rela datang ke dunia untuk membebaskan kita dari belenggu iblis dan dosa serta memberi kita hidup kekal di sorga bersamaNya. Pengorbanan apakah yang telah kita lakukan untukNya?

 

2. Natal Adalah Solidaritas

Makna natal yang kedua adalah solidaritas.

Anak Allah yang kudus rela datang ke dunia dan menjadi sama seperti manusia. Dia adalah Allah, yang pada hakekatnya setara dengan Allah Bapa, namun Ia rela mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang manusia/hamba agar bisa mati bagi dosa-dosa dunia (Filipi 2:5-8).

Yesus adalah Tuhan, turun dari singgasanaNya di sorga dan datang ke bumi dengan cara berinkarnasi, mengambil rupa seorang manusia dan tinggal di antara manusia (Yohanes 1:1,14).

Yesus tinggal di antara manusia yang berdosa, bejat dan memberontak kepada Allah. Ia melakukan hal itu agar Ia dapat melayani manusia dan mati bagi mereka. Itulah sebabnya namaNya disebut Immanuel: Tuhan beserta kita (Matius 1:21-23).

Lewat natal kita diingatkan untuk menunjukkan rasa solidaritas dan persaudaraan terhadap mereka yang terhilang, miskin, terpinggirkan, dan menderita.

 

3. Natal Adalah Kesederhanaan

Makna natal berikutnya adalah kesederhanaan.

Anak Allah yang kudus lahir bukan di ibu kota Israel, Yerusalem, atau di ibu kota kekaisaran Romawi, Roma, namun di kota kecil Betlehem (Lukas 2:4-6). Dia juga tidak lahir di istana, namun di dalam palungan, atau tempat makan ternak (Lukas 2:7).

Dia juga tidak lahir di dalam keluarga raja atau bangsawan yang terhormat, juga tidak di dalam keluarga orang kaya, tetapi di dalam keluarga tukang kayu yang sederhana, Yusuf dan Maria.

Jika Dia mau, sebenarnya Ia bisa saja memilih lahir di kota besar saat itu, seperti Yerusalem atau Roma, atau lahir di keluarga kaya atau bangsawan, bukan di dalam keluarga tukang kayu yang sederhana. Namun Ia tidak melakukannya. Ia lahir dan hidup secara sederhana.

KelahiranNya pun diberitakan bukan kepada para raja, nabi atau orang besar, namun kepada para gembala domba yang sederhana (Lukas 2:8-12).

Kita patut merayakan natal secara sederhana, bukan dengan kemewahan, sebab peristiwa natal yang pertama  pun sangat sederhana.

Tidaklah salah membeli pakaian baru pada hari natal, membuat kue-kue dan makanan yang lezat, menghias gereja dan rumah kita dengan ornamen-ornamen natal, tetapi jangan sampai kesederhanan natal menjadi hilang dari perayaan kita.

 

4. Natal Adalah Universal

Makna natal lainnya adalah universalitas.

Natal adalah bagi semua orang dari segala bangsa. Hal ini tampak dari pemberitahuan malaikat kepada para gembala di padang Efrata. Malaikat tersebut mengatakan bahwa kabar yang dibawanya ditujukan bagi segala bangsa (Lukas 2:10).

Hal ini juga tampak dari kedatangan para majus dari Timur, yang jelas bukan orang Israel. Mereka datang dari negerinya untuk menyembah Juruselamat yang baru lahir. Mereka datang bukan atas inisiatif mereka sendiri, tetapi karena dituntun oleh Allah sendiri lewat sebuah bintang di langit.

Hal ini menunjukkan bahwa Allah memaksudkan natal untuk segala bangsa, termasuk orang-orang majus dari Timur ini.

Jadi natal ditujukan bukan hanya kepada orang Israel saja, sebagai umat plihan Tuhan, tetapi kepada semua bangsa di bumi (Lukas 2:30-32).

Kita dapat mengundang setiap orang untuk menerima kasih natal tersebut. Siapa saja yang mau percaya dan menerima bayi natal, dapat turut merayakan natal.

 

5. Natal Adalah Sukacita Besar

Makna natal selanjutnya adalah sukacita besar.

Peristiwa natal lebih dari 2000 tahun yang lalu, adalah kabar sukacita bagi manusia. Malaikat mengatakan kepada para gembala di padang Betlehem bahwa ia membawa kabar baik yang merupakan kesukaan besar (Lukas 2:10).

Mengapa natal merupakan sukacita besar? Sebab manusia yang sedang terbelenggu oleh dosa akan diselamatkan oleh seorang Juruselamat yang baru lahir, Yesus Kristus, serta memberikan kita hidup yang kekal.

Itulah sebabnya para bala tentara sorga yang bersukacita dengan nyanyian/puji-pujian mereka saat peristiwa natal (Lukas 2:13-14).

Selain para malaikat, orang-orang yang mengalami mujizat natal juga bersukacita dalam peristiwa natal, serta bersyukur kepada Allah.

Maria memuji-muji Tuhan karena ia sedang mengandung Juruselamat dunia. Demikian juga Zakharia, ia bersyukur kepada Tuhan, bukan hanya karena istrinya, Elisabet, yang akan melahirkan anak (Yohanes Pembaptis), tetapi juga karena Yesus sang Juruselamat dunia.

Hal yang sama dapat dilihat dalam nyanyian Simeon, yang menatang sang Juruselamat ketika masih bayi. Ia bersyukur karena telah melihat sang Juruselamat manusia (Lukas 2:28-30).

Kita patut bersukacita di hari natal, dengan memuji-muji Tuhan yang berkenan datang ke dunia dan berdiam di antara manusia dan menyelamatkan kita dari dosa.

 

6. Natal Adalah Penggenapan

Makna natal berikutnya adalah penggenapan.

Para nabi sebelumnya telah berulang-ulang telah menubuatkan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini, dan yang akhirnya tergenapi pada peristiwa natal tersebut (Lukas 1:69-75).

Tuhan bukanlah manusia sehingga Ia berdusta. Apa yang difirmankanNya pasti terjadi dan tergenapi.

Sebelumnya, sesaat setelah manusia jatuh ke dalam dosa, ribuan tahun sebelumnya,  Allah telah menjanjikan bahwa keturunan Hawa (Yesus) akan meremukkan kepala iblis (Kejadian 3:15).

Hal ini tentu baru akan terjadi tatkala Yesus datang ke dunia sebagai manusia, yakni pada peristiwa natal.

Melalui peristiwa natal, kasih Allah dibuktikan/digenapi bahwa Ia adalah Allah yang memegang janjiNya dan yang tidak akan pernah berdusta kepada manusia.

Melalui peristiwa natal kita juga diingatkan untuk tetap percaya pada firman, janji dan kasih setia Allah yang tidak pernah berubah bagi kita.

 

7. Natal Adalah Kemenangan

Makna natal yang terakhir adalah kemenangan.

Melalui kelahiran Tuhan Yesus, maka kesudahan iblis dan kejahatan semakin dekat. Manusia telah dibebaskan dari dosa. Kemenangan telah tiba bagi manusia. Melalui  peristiwa natal orang berdosa telah menang, kuasa iblis telah dihancurkan.

Melalui natal, Allah telah melawat umatNya, dan memberikan kemenangan dan keadilan bagi mereka (Lukas 1:50-54).

Memang kita masih hidup di dunia yang penuh dosa, kejahatan, penderitaan, dan ketidak-adilan. Kemenangan kita yang sesungguhnya baru terjadi saat kedatangan Tuhan Yesus kali kedua, di mana tidak ada lagi dosa, kejahatan, penderitaan, dan sakit penyakit. Namun  melalui peristiwa natal (kedatanganNya kali pertama) kita telah mencapai sebuah tahapan kemenangan.

Natal sudah seharusnya mengingatkan kita untuk bangkit dari kekalahan dan terus berjuang. Sesungguhnya kita telah diberi kemenangan dalam melawan iblis, dosa, serta berbagai kegagalan dan penderitaan hidup.

 

Itulah 7 makna natal yang sesungguhnya.

 

Perhatian:

Sebagian bahan artikel ini diambil dari tulisan saya yang berjudul “Memaknai Natal” , yang telah terbit di berbagai media online Kristen.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan komentar atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah.

 

Ikuti juga Halaman Rubrik Kristen di facebook dengan cara mengklik tombol facebook “ikuti” di bagian bawah artikel ini sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!