7 Menteri Jokowi Beragama Kristen

Yasona-Laoly

Ketika presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi menjabat sebagai presiden RI, ia segera membentuk kabinet yang akan membantunya, yang disebut Kabinet Kerja. Dalam kabinet tersebut, terdapat juga beberapa orang Kristen, baik Kristen Protestan maupun Kristen Katholik.

Selang beberapa lama, presiden Jokowi melakukan perombakan (reshuffle kabinet) sebanyak dua kali, Reshuffle Jilid I dan Reshuffle Jilid II. Beberapa menteri diberhentikan dan diganti dengan yang lain, sebagian lagi mengalami pergeseran posisi. Beberapa menteri Kristen/Katholik juga ikut mengalami reshuffle.

Baca juga: 25 Sinode Gereja Terbesar Di Indonesia

Reshuffle, selain untuk meningkatkan kinerja kabinet (mengganti/menggeser menteri-menteri yang dianggap kurang mampu dengan menteri-menteri baru yang dianggap lebih mampu), juga untuk mengakomodir kepentingan partai/ormas/kelompok pendukung pemerintah.

Dalam Kabinet Kerja yang dibentuk presiden Jokowi, termasuk dalam dua kali reshuffle yang dilakukannya, terdapat 7 anggota kabinet (menteri dan pejabat setingkat menteri) yang beragama Kristen atau Katholik. Tetapi dari ketujuh menteri tersebut hanya 5 orang yang kini masih menjabat, sedangkan 2 orang lagi sudah terkena reshuffle.

Tentu saja para menteri Kristen/Katholik tersebut tidak diangkat sebagai menteri untuk mewakili agama Kristen/Katholik, tetapi sebagai kaum profesional, Tim Sukses Jokowi, dan wakil partai/daerah mereka.

Baca juga: 20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler

Perlu dicatat, data ini adalah yang ada hingga saat ini. Sebab boleh jadi masih akan ada reshuffle kabinet Jokowi di sisa masa jabatannya yang masih hampir 3 tahun lagi (sehingga menambah/mengurangi jumlah menteri Kristen/Katholik). Apalagi jika ia masih terpilih menjadi presiden untuk periode kedua (yang tampaknya kemungkinan untuk hal itu sangat besar), yang bisa menambah jumlah menteri beragama Kristen/Katholik.

Lalu, siapa sajakah ketujuh anggota kabinet Jokowi yang beragama Kristen/Katholik, baik yang masih menjabat maupun yang sudah tidak menjabat? Berikut pembahasannya.

 

1. Yasonna H. Laoly (Politisi Partai PDI-P)

Yasonna Hamonangan Laoly, lahir di Sorkam, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 27 Mei 1953 dari ayah seorang Nias dan ibu Batak.

Yasonna saat ini menjabat sebagai Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Kabinet Kerja Jokowi yang menjabat sejak 27 Oktober 2014. Sebelumnya ia adalah anggota DPR RI periode 2004-2014 dari fraksi PDI-P.

Ia menempuh pendidikan dasar dan menengahnya di Sibolga. Pendidikan tinggi ditempuhnya di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Virginia Commonwealth University (gelar Master), North Carolina University (gelar doktor), dan Internship in Higher Education Administration Roanoke College, Salem Virginia, semuanya di Amerika Serikat.

Ia pernah bekerja sebagai Pengacara & Penasehat Hukum, dosen dan dekan Fakultas Hukum Universitas HKBP Nommensen Medan.

Ia mulai aktif berorganisasi sejak di Medan, antara lain sebagai Sekretaris BKS PGI-GMKI Sumut-Aceh, Wakil Bendahara KNPI Medan, Kepala Badiklatda PDI-P Sumut dan Wakil Ketua DPD PDI-P Sumut. Ia kemudian menjadi anggota DPRD Sumut pada periode 1999-2004.

Pada tahun 2004-2014 ia menjadi anggota DPR RI dari PDI Perjuangan. Di parlemen ia tergabung dalam Badan Anggaran DPR RI, dan di MPR RI, ia menjadi Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan, hingga ia diangkat menjadi menteri.

 

2. Ignasius Jonan (Profesional)

Ignasius Jonan lahir di Singapura, pada 21 Juni 1963, merupakan keturunan Tionghoa beragama Katholik.

Saat ini Jonan adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melalui reshuffle Kabinet Kerja Jilid II. Sebelumnya, Ignasius Jonan menjabat sebagai Menteri Perhubungan, tetapi terkena reshuffle Kabinet Kerja Jilid I.

Jonan sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) tahun 2009 s/d 2014. Sebelumnya ia adalah Direktur Utama PT. Bahana Pembinaan Usaha Indonesia, dan Director/Managing Director Citibank/Citigroup.

Ia merupakan alumnus SMA Katholik St. Louis 1 Surabaya, program studi S-1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya, dan Fletcher School, Tufts University, Amerika Serikat.

Jonan dikenal sebagai pejabat yang sederhana dan pekerja keras.

 

3. Yohana Yembise (Profesional/Representasi Papua)

Yohana Susana Yembise lahir di Manokwari, Papua, pada 1 Oktober 1958.

Saat ini Yohana Yembise adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Ia adalah menteri dan guru besar perempuan pertama dari Papua. Sebelum diangkat menjadi menteri, ia adalah seorang profesor di Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua.

Yohana menempuh pendidikan di SD Padang Bulan Jayapura, SMP Negeri 1 Nabire dan SMA Negeri Persiapan Nabire, semuanya di Papua.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan tingginya di Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Cenderawasih, Regional Language Center (RELC), SEAMEO Singapura, program Master di Departemen Pendidikan Simon Fraser University, Kanada, dan Program Doktoral di Universitas Newcastle, Inggris.

Yohana memulai karier dengan menjadi asisten dosen di bidang Bahasa dan Seni di Universitas Cenderawasih, lalu menjadi dosen tetap sejak 1987 hingga sekarang. Ia dikukuhkan menjadi profesor di universitas tersebut pada tahun 2012.

Yohana aktif berorganisasi dan pernah menjadi wakil ketua KNPI Kabupaten Paniai. Ia juga pernah mencalonkan diri menjadi Bupati Biak Numfor pada tahun tahun 2013, tetapi tidak terpilih.

 

4. Andi Widjajanto (Politisi Partai PDI-P/Tim Sukses Jokowi)

Andi Widjajanto lahir pada 3 September 1971.

Andi menjabat sebagai Sekretaris Kabinet RI sejak 3 November 2014 hingga 12 Agustus 2015. Tetapi ia terkena reshuffle sehingga ia harus meninggalkan jabatannya.

Sekretaris Kabinet pada masa presiden Suharto termasuk menteri, dengan sebutan “Menteri/Sekretaris Kabinet”. Kini jabatan tersebut tidak disebut lagi menteri, tetapi secara fungsi dan kedudukan dianggap setara dengan menteri, sehingga sering dianggap sebagai bagian dari kabinet.

Andi dikenal sebagai seorang pengamat pertahanan dan dosen tetap Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Selain itu, ia juga politikus PDI-Perjuangan. Sebelumnya ia aktif sebagai Deputi Tim Transisi menjelang terbentuknya Kabinet Kerja Jokowi dan berjasa besar dalam menyusun konsep kampanye hingga debat capres Jokowi.

Andi dianggap menghambat komunikasi antara partainya (PDI-P) dengan presiden Jokowi, yang juga merupakan kader PDI-P. Karena itu ia diganti oleh politisi PDI-P lainnya (Pramono Anung), yang dianggap mampu menjembatani hubungan PDI-P (pendukung utama pemerintah) dengan presiden Jokowi.

Jadi Andi kena reshuffle jelas bukan karena masalah kemampuan atau pelanggaran hukum yang dilakukannya, tetapi lebih pada masalah internal partai (konon ia tidak direstui oleh PDI-P sebagai menteri).

Setelah diresuffle, konon Andi ditawari tiga jabatan (yang bisa dipilihnya salah satunya), yakni: duta besar, wakil menteri pertahanan, atau kepala kantor kepresidenan. Namun faktanya, ia kini tidak menduduki satu pun dari ketiga jabatan tersebut.

Andi merupakan putra dari Mayor Jenderal TNI (Purn) Theo Syafei yang berasal dari Makassar, dan mantan Pangdam IX/ Udayana yang juga merupakan politikus senior PDI-P yang dekat dengan Megawati Soekarnoputeri (ketua umum PDI-P).

Andi Widjajanto menempuh pendidikan di FISIP jurusan HI Universitas Indonesia, School of Oriental and African Studies University of London, London School of Economics, dan Industrial College of Armed Forces, Washington. Ia adalah dosen tetap pada FISIP di Universitas Indonesia.

 

5. Luhut Panjaitan (Tim Sukses Jokowi)

Luhut Binsar Panjaitan lahir di Simargala, Huta Namora, Silaen, Toba Samosir, Sumatera Utara, pada 28 September 1947.

Saat ini ia adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia.

Ia menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia sejak 31 Desember2014 hingga 2 September 2015. Pada 12 Agustus 2015 ia ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan menggantikan Tedjo Edhy Purdijatno, pada reshuffle Kabinet Kerja Jilid I.

Dalam reshuffle Kabinet Kerja Jilid II pada tanggal 27 Juli 2016, dia diangkat/digeser menjadi Menteri Koordinator Kemaritiman menggantikan Rizal Ramli.

Sebelum masuk dalam Kabinet Kerja, Luhut Panjaitan adalah wakil ketua Dewan Penasehat Partai Golkar. Kemudian, ia mengundurkan diri dari jabatan tersebut dan menjadi Tim Sukses Jokowi-Jusuf Kalla pada pemilu presiden 2014. Sebab pada saat itu partai Golkar mendukung Prabowo Subianto sebagai capres (yang tidak disukai Luhut).

Luhut pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan saat Abdurrahman Wahid menjabat sebagai Presiden RI. Sebelum menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan, ia menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura.

Luhut adalah seorang pensiunan jenderal bintang empat, dan merupakan lulusan terbaik dari Akademi Militer Nasional angkatan tahun 1970 serta mendapat banyak penghargaan selama berdinas di militer.
Ia banyak menempuh pendidikan dan pelatihan di luar negeri. Antara lain, di George Washington University dan di National Defense University, keduanya di Amerika Serikat.

Setelah pensiun dari dinas militer, Luhut aktif sebagai pengusaha, dan kini menjadi seorang pengusaha sukses. Dari profesi pengusaha inilah ia kenal dan menjadi dekat dengan Jokowi (yang juga seorang pengusaha).

Pengaruh Luhut sangat kuat di pemerintahan saat ini, bahkan ia pernah dianggap menjadi orang terkuat kedua di Indonesia.

 

6. Thomas Lembong (Profesional)

Thomas Trikasih Lembong lahir di Jakarta pada 4 Maret 1971, dari ayah bernama T Yohanes Lembong (Ong Joe Gie), seorang dokter ahli jantung dan THT lulusan Universitas Indonesia asal Manado dan ibu bernama Yetty Lembong, seorang ibu rumah tangga asal Tuban, Jawa Timur.

Thomas Lembong atau biasa dipanggil Tom, kini adalah Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI sejak 27 Juli 2016.

Tetapi ia pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan Republik Indonesia sejak 12 Agustus 2015, menggantikan Rahmat Gobel ketika terjadi reshuffle Kabinet Kerja Jilid I. Namun pada reshuffle Kabinet Kerja jilid II, ia digeser menjadi kepala BKPM. Posisinya kemudian digantikan oleh Enggartiasto Lukita (lihat poin 7 di bawah).

Sebelum menjadi Menteri Perdagangan, Tom menjabat sebagai CEO dan anggota Investment Committee sekaligus salah satu dari pendiri Quvat Management (Quvat). Sebelumnya ia pernah bekerja di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Deutsche Bank, dan Morgan Stanley.

Tom mengenyam pendidikan dasar di Jerman ketika berusia 3 hingga 10 tahun ketika ayahnya studi di Jerman. Sekembalinya ke Jakarta, Tom meneruskan SD serta SMP di Sekolah Regina Pacis, Jakarta. Saat SMA, Tom pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Tom memperoleh gelar A.B. di bidang Arsitektur dan Tata Kota dari Universitas Harvard pada tahun 1994.

 

7. Enggartiasto Lukita (Politisi Partai Nasdem)

Enggartiasto Lukita lahir dengan nama Loe Joe Eng di Cirebon, Jawa Barat, pada 12 Oktober 1951.

Kini Enggartiasto Lukita menjabat sebagai Menteri Perdagangan RI. Ia menggantikan posisi Thomas Lembong sebagai Menteri Perdagangan sejak 27 Juli 2016, saat reshuffle Kabinet Kerja Jilid II. Ia diangkat menjadi menteri mewakili partai Nasdem, salah satu partai pendukung pemerintah.

Sebelum bergabung ke partai Nasdem pada 2013 lampau, Enggartiasto dikenal sebagai politisi partai Golkar dan anggota DPR RI dari partai tersebut (1997-1999 dan 2004-2009).

Di partai Golkar ia pernah menjabat sebagai anggota dewan penasehat dan wakil bendahara umum.

Di partai Nasdem, Enggartiasto dipercaya sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri. Dan pada Pemilu 2014, ia terpilih sebagai anggota DPR RI dari partai Nasdem, hingga ia diangkat sebagai menteri.

Enggartiasto menyelesaikan pendidikannya di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia).

Sejak usia muda ia sudah mengakrabi dunia organisasi. Tercatat, dia pernah aktif di GMKI, Hipmi, AMPI, dan Real Estate Indonesia (REI), sebagai ketua umum.

Di dunia usaha, Enggartiasto menekuni bidang properti dan menjabat di beberapa perusahaan, sebagai Komisaris Utama maupun sebagai Direktur Utama.

 

Itulah 7 anggota kabinet Jokowi yang beragama Kristen/Katholik.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah.

 

Ikuti juga Halaman Rubrik Kristen di facebook dengan cara mengklik tombol facebook “ikuti” di bagian bawah artikel ini sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!