Loading...
Loading...

7 Menteri Jokowi Beragama Kristen

Yasona-Laoly

Artikel ini akan membahas tentang 7 menteri Jokowi beragama Kristen dan Katolik.

Ketika presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi menjabat sebagai presiden RI, ia segera membentuk kabinet yang akan membantunya, yang disebut Kabinet Kerja. Dalam kabinet tersebut, terdapat juga beberapa orang Kristen, baik Kristen Protestan maupun Kristen Katolik.

Selang beberapa lama, presiden Jokowi melakukan perombakan (reshuffle kabinet) sebanyak dua kali, Reshuffle Jilid I dan Reshuffle Jilid II. Beberapa menteri diberhentikan dan diganti dengan yang lain, sebagian lagi mengalami pergeseran posisi. Beberapa menteri Kristen/Katholik juga ikut mengalami reshuffle.

Baca juga:  8 Wakil Menteri Jokowi Beragama Kristen 

Reshuffle, selain untuk meningkatkan kinerja kabinet (mengganti/menggeser menteri-menteri yang dianggap kurang mampu dengan menteri-menteri baru yang dianggap lebih mampu), juga untuk mengakomodir kepentingan partai/ormas/kelompok pendukung pemerintah.

Dalam Kabinet Kerja yang dibentuk presiden Jokowi, termasuk dalam dua kali reshuffle yang dilakukannya, terdapat 7 anggota kabinet (menteri dan pejabat setingkat menteri) yang beragama Kristen atau Katolik. Tetapi dari ketujuh menteri tersebut hanya 5 orang yang kini masih menjabat, sedangkan 2 orang lagi sudah terkena reshuffle.

Baca juga:  5 Menteri Jokowi Jilid 2 Beragama Kristen 

Tentu saja para menteri Kristen/Katolik tersebut tidak diangkat sebagai menteri untuk mewakili agama Kristen/Katolik, tetapi sebagai kaum profesional, Tim Sukses Jokowi, dan wakil partai/daerah mereka.

Perlu dicatat, data ini adalah yang ada hingga saat ini. Sebab boleh jadi masih akan ada reshuffle kabinet Jokowi di sisa masa jabatannya yang masih hampir 3 tahun lagi (sehingga menambah/mengurangi jumlah menteri Kristen/Katolik).

Baca juga: 82 Anggota DPR RI Beragama Kristen 

Apalagi jika ia masih terpilih menjadi presiden untuk periode kedua (yang tampaknya kemungkinan untuk hal itu sangat besar), yang bisa menambah jumlah menteri beragama Kristen/Katolik.

Lalu, siapa sajakah ketujuh menteri Jokowi beragama Kristen dan Katolik tersebut, baik yang masih menjabat maupun yang sudah tidak menjabat? Berikut pembahasannya.

 

1. Yasonna H. Laoly (Politisi Partai PDI-P)

Yasonna Hamonangan Laoly, lahir di Sorkam, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 27 Mei 1953 dari ayah seorang Nias dan ibu Batak.

Yasonna saat ini menjabat sebagai Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam Kabinet Kerja Jokowi yang menjabat sejak 27 Oktober 2014. Sebelumnya ia adalah anggota DPR RI periode 2004-2014 dari fraksi PDI-P.

Ia menempuh pendidikan dasar dan menengahnya di Sibolga. Pendidikan tinggi ditempuhnya di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Virginia Commonwealth University (gelar Master), North Carolina University (gelar doktor), dan Internship in Higher Education Administration Roanoke College, Salem Virginia, semuanya di Amerika Serikat.

Ia pernah bekerja sebagai Pengacara & Penasehat Hukum, dosen dan dekan Fakultas Hukum Universitas HKBP Nommensen Medan.

Ia mulai aktif berorganisasi sejak di Medan, antara lain sebagai Sekretaris BKS PGI-GMKI Sumut-Aceh, Wakil Bendahara KNPI Medan, Kepala Badiklatda PDI-P Sumut dan Wakil Ketua DPD PDI-P Sumut. Ia kemudian menjadi anggota DPRD Sumut pada periode 1999-2004.

Pada tahun 2004-2014 ia menjadi anggota DPR RI dari PDI Perjuangan. Di parlemen ia tergabung dalam Badan Anggaran DPR RI, dan di MPR RI, ia menjadi Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan, hingga ia diangkat menjadi menteri.

 

2. Ignasius Jonan (Profesional)

Ignasius Jonan lahir di Singapura, pada 21 Juni 1963, merupakan keturunan Tionghoa beragama Katholik.

Saat ini Jonan adalah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melalui reshuffle Kabinet Kerja Jilid II. Sebelumnya, Ignasius Jonan menjabat sebagai Menteri Perhubungan, tetapi terkena reshuffle Kabinet Kerja Jilid I.

Jonan sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) tahun 2009 s/d 2014. Sebelumnya ia adalah Direktur Utama PT. Bahana Pembinaan Usaha Indonesia, dan Director/Managing Director Citibank/Citigroup.

Ia merupakan alumnus SMA Katholik St. Louis 1 Surabaya, program studi S-1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya, dan Fletcher School, Tufts University, Amerika Serikat.

Jonan dikenal sebagai pejabat yang sederhana dan pekerja keras.

 

3. Yohana Yembise (Profesional/Representasi Papua)

Yohana Susana Yembise lahir di Manokwari, Papua, pada 1 Oktober 1958.

Saat ini Yohana Yembise adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Ia adalah menteri dan guru besar perempuan pertama dari Papua. Sebelum diangkat menjadi menteri, ia adalah seorang profesor di Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua.

Yohana menempuh pendidikan di SD Padang Bulan Jayapura, SMP Negeri 1 Nabire dan SMA Negeri Persiapan Nabire, semuanya di Papua.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan tingginya di Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Cenderawasih, Regional Language Center (RELC), SEAMEO Singapura, program Master di Departemen Pendidikan Simon Fraser University, Kanada, dan Program Doktoral di Universitas Newcastle, Inggris.

Yohana memulai karier dengan menjadi asisten dosen di bidang Bahasa dan Seni di Universitas Cenderawasih, lalu menjadi dosen tetap sejak 1987 hingga sekarang. Ia dikukuhkan menjadi profesor di universitas tersebut pada tahun 2012.

Yohana aktif berorganisasi dan pernah menjadi wakil ketua KNPI Kabupaten Paniai. Ia juga pernah mencalonkan diri menjadi Bupati Biak Numfor pada tahun tahun 2013, tetapi tidak terpilih.

 

4. Andi Widjajanto (Politisi Partai PDI-P/Tim Sukses Jokowi)

Andi Widjajanto lahir pada 3 September 1971.

Andi menjabat sebagai Sekretaris Kabinet RI sejak 3 November 2014 hingga 12 Agustus 2015. Tetapi ia terkena reshuffle sehingga ia harus meninggalkan jabatannya.

Sekretaris Kabinet pada masa presiden Suharto termasuk menteri, dengan sebutan “Menteri/Sekretaris Kabinet”. Kini jabatan tersebut tidak disebut lagi menteri, tetapi secara fungsi dan kedudukan dianggap setara dengan menteri, sehingga sering dianggap sebagai bagian dari kabinet.

Andi dikenal sebagai seorang pengamat pertahanan dan dosen tetap Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Selain itu, ia juga politikus PDI-Perjuangan. Sebelumnya ia aktif sebagai Deputi Tim Transisi menjelang terbentuknya Kabinet Kerja Jokowi dan berjasa besar dalam menyusun konsep kampanye hingga debat capres Jokowi.

Andi dianggap menghambat komunikasi antara partainya (PDI-P) dengan presiden Jokowi, yang juga merupakan kader PDI-P. Karena itu ia diganti oleh politisi PDI-P lainnya (Pramono Anung), yang dianggap mampu menjembatani hubungan PDI-P (pendukung utama pemerintah) dengan presiden Jokowi.

Jadi Andi kena reshuffle jelas bukan karena masalah kemampuan atau pelanggaran hukum yang dilakukannya, tetapi lebih pada masalah internal partai (konon ia tidak direstui oleh PDI-P sebagai menteri).

Loading...
14 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!