7 Pahlawan Kristen Yang Gugur Di Medan Tempur

Artikel ini membahas tentang 7 pahlawan Kristen yang gugur dalam pertempuran.

Ada 7 pahlawan Kristen yang gugur dalam pertempuran yang perlu kita ketahui.

Ada banyak pahlawan Indonesia beragama Kristen, Protestan maupun Katolik.

Sebagai bangsa yang lama dijajah oleh bangsa lain, lebih dari 350 tahun, Indonesia melahirkan banyak pejuang, baik yang langsung bertempur di lapangan, pengambil kebijakan dalam peperangan maupun mereka yang membantu melawan penjajah lewat perundingan.

Beberapa dari para pejuang ini kemudian ditetapkan sebagai pahlawan.

Selain itu, dalam sejarahnya Indonesia juga sering mengalami pemberontakan dari dalam negeri sendiri, dari antara sesama anak bangsa, yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan RI atau ingin mengganti Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara, seperti yang pernah dicoba oleh pihak PKI (Partai Komunis Indonesia).

Baca juga: 20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler

Mereka yang menentang para pemberontak ini juga melahirkan beberapa pahlawan.

Bahkan para pahlawan juga termasuk mereka yang tak pernah mengangkat senjata di medan perang, tapi dianggap punya jasa yang sangat besar bagi bangsa dan Negara Indonesia, melampaui tugas yang dibebankan kepada mereka.

Para pahlawan tersebut, sebagaimana keadaan Indonesia yang beragam saat ini, terdiri dari berbagai etnis dan agama yang ada di Indonesia.

Demikian juga dengan agama Kristen, baik Kristen Protestan maupun Kristen Katolik, terdapat banyak pahlawan yang ikut berjuang melawan penjajah atau para pemberontak yang ingin merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia atau mengganti Pancasila sebagai dasar Negara, ataupun mereka yang dinilai sangat berjasa bagi bangsa dan negara melebihi tugas yang mereka emban.

Baca juga: 4 Pahlawan Revolusi Beragama Kristen

Dari sekitar 160-an pahlawan Indonesia yang ditetapkan pemerintah hingga saat ini (jumlah pahlawan akan bertambah terus), setidaknya terdapat 30-an yang beragama Kristen Protestan dan Kristen Katolik, atau sekitar 20 persen dari total jumlah pahlawan Indonesia.

Dari 30-an pahlawan Indonesia beragama Kristen dan Katolik, di sini dicantumkan 7 di antaranya, yakni pahlawan Kristen yang gugur dalam pertempuran.

Nah, siapakah 7 pahlawan Kristen yang gugur dalam pertempuran tersebut?

Berikut profil mereka yang sebagian besar diambil dan diolah dari Wikipedia.

 

1. Kapitan Pattimura

Pahlawan Kristen pertama yang gugur dalam pertempuran adalah Kapitan Pattimura.

Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy lahir di Haria, pulau Saparua, Maluku, 8 Juni 1783.

Kedatangan kembali kolonial Belanda di Maluku pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat.

Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura.

Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya.

Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.

Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinasi Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya.

Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda.

Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon.

 

2. Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu lahir di Nusa Laut, Maluku, 4 Januari 1800.

Martha Christina Tiahahu adalah seorang putri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam Perang Pattimura tahun 1817.

Di kalangan para pejuang dan masyarakat sampai di kalangan musuh, ia dikenal sebagai gadis pemberani dan konsekuen terhadap cita-cita perjuangannya.

Sejak awal perjuangan, ia tetap mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran baik di Pulau Nusalaut maupun di Pulau Saparua.

Martha Christina Tiahahu berjuang untuk melepaskan ayahnya dari hukuman mati, tetapi ia tidak berdaya dan meneruskan bergerilyanya di hutan, tetapi akhirnya tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.

Di Kapal Perang Eversten, Martha Christina Tiahahu menemui ajalnya dan dengan penghormatan militer jasadnya diluncurkan di Laut Banda menjelang tanggal 2 Januari 1818.

 

3. Yos Sudarso

Pahlawan Kristen ketiga yang gugur dalam pertempuran adalah Yos Sudarso.

Laksamana Madya Yosaphat Sudarso lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada 24 November 1925.

Presiden Sukarno membentuk sebuah komando mandala untuk pembebasan Irian Barat yang berkedudukan di Makasar, dan Yos menjadi pemimpinnya.

Belanda menyiapkan kapal perusak dan pesawat pengintai untuk membasmi pasukan Yos. Yos kemudian mengeluarkan perintah bertempur kepada Belanda.

Yos memiliki strategi, dengan KRI macan tutul di bawah pimpinannya ia berusaha untuk menarik perhatian dari kapal Belanda agar kedua kapal lainnya bisa melarikan diri.

Namun tanggal 15 Januari 1962 di Laut Aru, di usianya yang masih muda, yaitu 36 tahun, ia tertembak oleh Hr. Ms. Eversten, kapal patroli milik Belanda dan kapal KRI macan tutul pun tenggelam.

Yos bersama rekan-rekannya gugur dan tenggelam bersama awak kapal tersebut.

 

4. Adi Sucipto

Adi Sucipto lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 3 Juli 1916.

Pada saat Agresi Militer Belanda I, Adi Sucipto dan Abdulrahman Saleh diperintahkan terbang ke India menggunakan pesawat Dakota VT-CLA.

Penerobosan blokade udara Belanda menuju India dan Pakistan berhasil dilakukan.

Pesawat ini mengangkut total 9 orang, antara lain: Agustinus Adi Sucipto, Abdulrahman saleh (kelak menjadi nama bandara di Malang) dan Adisumarmo (kelak menjadi nama bandara di Solo).

Sementara itu, di Lanud Maguwo, Yogyakarta, Kepala Staf S. Suryadarma telah menunggu kedatangan pesawat ini dan memerintahkan agar pesawat tidak perlu berputar-putar sebelum mendarat, untuk menghindari kemungkinan serangan udara terhadap pesawat tersebut, mengingat di dalam pesawat ada dua tokoh penting AURI, yakni Agustinus Adi Sucipto dan Abdulrachman Saleh.

Saat telah mendekati Lanud Maguwo pada 29 Juli 1947 pukul 16.30, pesawat ini pun tetap berputar-putar untuk bersiap mendarat.

Tetapi tiba-tiba muncul dua pesawat milik Belanda yang diawaki oleh Lettu B.J. Ruesink dan Serma W.E. Erkelens, langsung menembaki pesawat tersebut.

Akibatnya pesawat hilang kendali, jatuh dan terbakar. Semua orang di pesawat meninggal, kecuali A. Gani Handonocokro.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!