7 Pahlawan Kristen Yang Gugur Di Medan Tempur

 

5. Slamet Riyadi

Slamet Riyadi lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 26 Juli 1927, putra dari seorang tentara dan penjual buah.

Pada tahun 1950, Riyadi dikirim ke Maluku untuk memerangi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).

Setibanya di New Victoria, pasukan Riyadi diserang oleh pasukan RMS.

Ketika Riyadi sedang menaiki sebuah tank menuju markas pemberontak pada tanggal 4 November, selongsong peluru senjata mesin menembakinya.

Peluru tersebut menembus baju besi dan perutnya.

Setelah dilarikan ke rumah sakit kapal, Riyadi bersikeras untuk kembali ke medan pertempuran.

Para dokter lalu memberinya banyak morfin dan berupaya untuk mengobati luka tembaknya, namun upaya ini gagal.

Riyadi tewas pada malam itu juga, dan pertempuran berakhir di hari yang sama.

Riyadi dimakamkan di Ambon.

 

6. Wolter Monginsidi

Robert Wolter Monginsidi lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 14 Februari 1925.

Belanda berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Indonesia setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Mereka kembali melalui NICA (Netherlands Indies Civil Administration/Administrasi Sipil Hindia Belanda).

Dan Monginsidi terlibat dalam perjuangan melawan NICA di Makassar.

Pada tanggal 17 Juli 1946, Monginsidi dengan rekan-rekannya membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), yang selanjutnya menyerang posisi Belanda.

Dia ditangkap oleh Belanda pada 28 Februari 1947, tetapi berhasil kabur pada 27 Oktober 1947.

Belanda menangkapnya kembali dan kali ini Belanda menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Monginsidi dieksekusi oleh tim penembak pada 5 September 1949 saat ia berusia 24 tahun.

Jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Makassar pada 10 November 1950.

 

7. Arie Frederik Lasut

Pahlawan Kristen Indonesia terkahir yang terpopuler adalah Ajun Inspektur

Arie Frederik Lasut lahir di Kapataran, Lembean Timur, Minahasa, Sulawesi Utara, pada 6 Juli 1918.

Arie adalah seorang ahli pertambangan dan geologis.

Dia terlibat dalam perang kemerdekaan Indonesia dan pengembangan sumber daya pertambangan dan geologis pada saat-saat permulaan negara Republik Indonesia.

Pada bulan September 1945, Presiden menginstruksikan untuk mengambilalih instansi-instansi pemerintahan dari Jepang.

Lasut ikutserta dalam pengambilalihan jawatan geologis dari Jepang yang berhasil dilakukan secara damai.

Jawatan itu kemudian dinamakan Jawatan Pertambangan dan Geologi dengan Lasut sebagai kepala jawatan saat itu.

Lasut terus diincar oleh Belanda karena pengetahuannya tentang pertambangan dan geologi di Indonesia, tetapi ia tidak pernah mau bekerjasama dengan mereka.

Dan pada pagi hari tanggal 7 Mei 1949, Lasut diambil oleh Belanda dari rumahnya dan dibawa ke Pakem, sekitar 7 kilometer di utara Yogyakarta.

Di sana ia ditembak mati. Beberapa bulan kemudian jenazahnya dipindahkan ke pekuburan Sasanalaya Jl. Ireda di Yogyakarta di samping isterinya yang telah lebih dulu meninggal pada bulan Desember 1947.

 

Itulah 7 pahlawan Kristen yang gugur dalam pertempuran.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!