7 Penghalang Sehingga Doa Tidak Dikabulkan

man-praying

Artikel ini membahas tentang 7 penghalang sehingga doa tidak dikabulkan.

Doa-doa Kristen seringkali tidak dikabulkan oleh Tuhan. Hal ini terjadi karena ada penghambat/penghalang di dalam doa kita sehingga Tuhan tidak mengabulkannya.

Walaupun kita telah memenuhi 7 Syarat Agar Doa Dikabulkan, sebagaimana diajarkan di Alkitab, namun jika penghalang-penghalang terdapat dalam doa kita, maka doa kita akan terhalang dan tidak akan dikabulkan oleh Tuhan.

Baca juga: 7 Cara Berdoa Yang Benar Menurut Alkitab

Dalam Alkitab disebutkan setidaknya 7 penghalang sehingga doa tidak dikabulkan. Berikut pembahasannya.

 

1. Dosa/Kejahatan

Penghalang pertama bagi doa kita sehingga Tuhan tidak mengabulkannya adalah dosa atau kejahatan kita. Jika ada dosa dalam diri kita tentulah Tuhan tidak menjawab doa kita.

Dosa adalah penghambat kita untuk datang kepada Allah. Nabi Yesaya menjelaskan bahwa tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menolong kita dan telingaNya tidak kurang tajam untuk mendengar doa-doa kita. Namun dosa dan kejahatan kitalah yang membuat Dia tidak mendengarkan seruan kita serta membuatNya “menyembunyikan diri” kepada kita.

Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2)

Allah adalah kudus, karena itu kita pun harus kudus, terbebas dari pencemaran dosa (1 Petrus 1:15-16). Dan jika kita menghadap Allah dalam doa, kita pun harus kudus, jika kita ingin doa kita dikabulkanNya. Jika ada dosa dalam diri kita, maka kita harus bertobat terlebih lebih dahulu, meninggalkan dosa tersebut dan berbalik kepada Allah. Dengan demikian Allah akan mengabulkan doa-doa kita.

Jika tidak, maka Dia tidak akan mendengar doa-doa kita kepadaNya. (“mendengar” saja tidak, apalagi mengabulkannya).

 

2. Niat Jahat

Penghalang lain bagi doa Kristen adalah niat jahat. Di mata Tuhan kejahatan bukanlah hanya hal-hal yang “telah dilakukan” tetapi juga hal-hal yang “belum dilakukan”, yaitu hal-hal yang masih dipikirkan, direncanakan ataupun yang masih ada dalam hati.

Dalam Mazmur 66:18, pemazmur berkata bahwa Tuhan pasti tidak akan mendengar doanya jika seandainya ada niat jahat di dalam hatinya.

“Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah TUHAN tidak mau mendengar.”

Pemazmur yakin bahwa Tuhan telah mendengar doanya karena tidak ada niat jahat di dalam hatinya (Mazmur 66:19-20).

Niat jahat terutama berhubungan dengan kejahatan kepada orang lain, misalnya niat jahat untuk membalas dendam kepada orang lain. Niat jahat saja sudah dosa apalagi tindakan nyata. Terlebih lagi apa yang di kandung hati seseorang (masih niat), biasanya itulah yang akan dilakukannya. Dan hal itu akan menghalangi doa-doa kita, sehingga Tuhan tidak akan mengabulkannya.

Ingat misalnya ajaran Tuhan Yesus tentang definisi perzinahan. Seorang laki-laki yang mengingini seorang perempuan saja di dalam hatinya sudah termasuk ke dalam perzinahan. Artinya, apa yang ada di dalam hati dan pikian manusia, sekalipun belum dilakukan secara nyata kepada seseorang, sudah dianggap dosa di Alkitab.

Jadi jika tidak ingin doa kita terhalang, maka buanglah niat jahat dari dalam hati dan pikiran kita.

 

3. Pemberontakan Kepada Allah

Pemberontakan kepada Allah adalah penghalang lain bagi doa Kristen.

Dalam Ratapan 3:42-44 dilukiskan bahwa bangsa Yehuda telah memberontak kepada Allah sehingga Allah menimbulkan banyak malapetaka bagi mereka: kelaparan, pembunuhan, dan sebagainya. Untuk itu mereka berdoa kepada Allah, tetapi Allah tidak mendengar mereka, doa mereka tidak dapat “menembus”, sebab Allah menyelubungi diri-Nya dengan awan.

“Kami telah mendurhaka dan memberontak, Engkau tidak mengampuni. Engkau menyelubungi diri-Mu dengan murka, mengejar kami dan membunuh kami tanpa belas kasihan. Engkau menyelubungi diri-Mu dengan awan, sehingga doa tak dapat menembus.”

Hal ini terjadi pada zaman nabi Yeremia, dan kutipan firman Tuhan di atas adalah doa/ratapan Yeremia di hadapan Tuhan. Waktu itu bangsa Israel/Yehuda hidup dalam pemberontakan kepada Tuhan, menyembah ilah-ilah lain dengan meninggalkan Tuhan sehingga mereka dihukumNya.

Selain berbagai macam hukuman Tuhan atas dosa mereka, seperti kelaparan dan kematian, mereka juga dibuang ke Babel selama tujuh puluh tahun, sebagai puncak hukuman Allah atas mereka.

Pemberontakan akan menjadi penghalang bagi doa kita untuk dikabulkan, sehingga doa kita tidak dapat “menembus” Allah. Allah akan menyelubungi diriNya dengan awan sehingga menghalangi doa kita “naik ke atas”.

 

4. Hati Yang Bimbang

Penghalang doa yang lainnya adalah hati yang bimbang.

Hal diperingatkan oleh Rasul Yakobus,

“Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.” (Yakobus 1:6-7).

Dalam kutipan firman Tuhan di atas Yakobus sebenarnya berbicara mengenai hikmat. Ia berkata bahwa barangsiapa di antara mereka (orang-orang Kristen penerima suratnya) kekurangan hikmat, maka hendaklah ia memintanya/berdoa kepada Tuhan (ayat 5). Dan, lebih lanjut ia menjelaskan, dalam meminta hikmat tersebut janganlah ia bimbang, sebab orang yang bimbang tidak akan menerima sesuatu dari Tuhan.

Namun, walaupun ini pertama-tama berbicara dalam hal berdoa akan hikmat, tentu tidak berarti bahwa prinsip ini (tidak bimbang) hanya berlaku ketika kita berdoa untuk hikmat. Prinsip ini berlaku juga dalam segala hal yang kita minta kepada Tuhan. Singkatnya: meminta apa pun kepada Tuhan tidak boleh bimbang jika kita ingin doa kita dikabulkanNya.

Alkitab telah menjelaskan bahwa salah satu syarat agar doa kita dikabulkan Tuhan adalah jika kita berdoa dengan iman/penuh kepercayaan (Matius 21:22). Dan di sini kita juga diberitahu agar kita meminta sesuatu kepada Tuhan dengan iman. Tetapi di sini dipertegas lagi: memintanya dengan tidak bimbang. Artinya: Percaya. Kebimbangan hati adalah penghalang bagi doa-doa Kristen.

 

5. Motivasi Yang Salah

Motivasi yang salah adalah penghalang doa kita yang lain. Dalam Yakobus 4:3 dikatakan bahwa ada kalanya kita tidak menerima apa yang kita doakan karena kita salah dalam berdoa. Misalnya, menggunakan hasil doa kita untuk memuaskan hawa nafsu kita. Dengan kata lain, menyalah-gunakan hasil/jawaban doa.

“Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.”

Jika kita berpikir bahwa kita akan melakukan hal-hal yang tidak baik terhadap berkat-berkat yang akan Tuhan berikan sebagai jawaban atas doa kita, maka Tuhan tentu tidak akan memberikannya. Ini adalah motivasi yang salah dalam berdoa.

Hasil doa haruslah dipakai untuk hal-hal positif: untuk kemuliaan Tuhan, untuk memberkati orang lain, dan untuk kebaikan kita sendiri, bukan malah untuk hal-hal negatif: untuk merusak hidup kita dan menyakiti hati Tuhan.

 

6. Ketidak-hormatan Kepada Istri

Penghalang lainnya bagi doa Kristen adalah ketidak-hormatan kepada istri. Hal ini berlaku khusus bagi pria yang sudah menikah. Dalam 1 Petrus 3:7 diingatkan bahwa para suami harus hidup bijaksana dan menghormati istri mereka sehingga doa mereka tidak terhalang.

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.”

Menurut Alkitab, pria adalah kepala rumah tangga, dan karenanya ia kadang merasa harus di atas istrinya dalam segala hal. Hal ini bisa berakibat bahwa ia tidak/kurang menghormati istrinya. Terlebih lagi pada zaman dahulu, saat firman Tuhan di atas ditulis, posisi wanita sangat rendah dalam masyarakat.

Hal ini membuat orang Kristen bisa saja terpengaruh untuk memandang istrinya rendah dan tidak menghormatinya. Oleh karena itulah, firman Tuhan di atas mengingatkan para pria Kristen agar mereka menghormati istri mereka, jika mereka tidak ingin doa mereka terhalang.

Memang sudah sepatutnyalah seorang suami menghormati/mengasihi istrinya, sebab demikianlah yang diperintahkan oleh Tuhan. Tetapi bukan hanya karena itu, tetapi juga agar doanya tidak terhalang.

Tentu saja seorang istri juga harus menghormati suaminya, namun yang dibahas di sini adalah penghormatan suami kepada istrinya.

 

7. Kesombongan Rohani

Kita mungkin masih ingat perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang farisi dan pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah. Dalam doanya orang farisi itu menyombongkan dirinya karena telah merasa melakukan aturan-aturan dalam hukum taurat/firman Allah serta rajin dalam beribadah.

“Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” (Lukas 18:11-12).

Memang sudah sepantasnyalah kita senang jika kita telah melakukan firman Tuhan, akan tetapi jika kita meninggikan diri kita atas hal tersebut serta merendahkan orang lain, jelas hal itu tidak berkenan kepada Tuhan.

Pertama-tama doa orang farisi itu masih bagus, karena ia mengakui apa yang dilakukannya adalah dari Tuhan: “Aku mengucap syukur kepada-Mu.” Tetapi selanjutnya doanya itu adalah meninggikan dirinya sendiri, bukan Tuhan lagi, dengan sering berkata: “Aku.”

Apalagi ia mengakui bahwa ia tidak sama seperti “semua orang lain.” Bahkan dengan lebih sombong lagi ia berkata bahwa ia bukan seperti “pemungut cukai ini,” pemungut cukai yang sedang berdoa bersama-sama dengan dia saat itu di Bait Allah.

Orang farisi itu dengan sombongnya membandingkan dirinya yang saleh dengan pemungut cukai yang berdosa. Dan Tuhan tidak mendengar doanya. Justru doa pemungut cukai yang direndahkannya yang dikabulkan oleh Tuhan (Lukas 18:14a).

Doa dengan meninggikan diri seperti yang dilakukan oleh orang farisi di atas jelas tidak akan berkenan kepada Tuhan. Tuhan Yesus sendiri mengakhiri perumpamaanNya dengan berkata bahwa barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan (Lukas 18:14b).

 

Itulah 7 penghalang sehingga doa tidak dikabulkan.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!