7 Penghalang Sehingga Doa Tidak Dikabulkan

Namun, walaupun ini pertama-tama berbicara dalam hal berdoa akan hikmat, tentu tidak berarti bahwa prinsip ini (tidak bimbang) hanya berlaku ketika kita berdoa untuk hikmat. Prinsip ini berlaku juga dalam segala hal yang kita minta kepada Tuhan. Singkatnya: meminta apa pun kepada Tuhan tidak boleh bimbang jika kita ingin doa kita dikabulkanNya.

Alkitab telah menjelaskan bahwa salah satu syarat agar doa kita dikabulkan Tuhan adalah jika kita berdoa dengan iman/penuh kepercayaan (Matius 21:22). Dan di sini kita juga diberitahu agar kita meminta sesuatu kepada Tuhan dengan iman. Tetapi di sini dipertegas lagi: memintanya dengan tidak bimbang. Artinya: Percaya. Kebimbangan hati adalah penghalang bagi doa-doa Kristen.

 

5. Motivasi Yang Salah

Motivasi yang salah adalah penghalang doa kita yang lain. Dalam Yakobus 4:3 dikatakan bahwa ada kalanya kita tidak menerima apa yang kita doakan karena kita salah dalam berdoa. Misalnya, menggunakan hasil doa kita untuk memuaskan hawa nafsu kita. Dengan kata lain, menyalah-gunakan hasil/jawaban doa.

“Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.”

Jika kita berpikir bahwa kita akan melakukan hal-hal yang tidak baik terhadap berkat-berkat yang akan Tuhan berikan sebagai jawaban atas doa kita, maka Tuhan tentu tidak akan memberikannya. Ini adalah motivasi yang salah dalam berdoa.

Hasil doa haruslah dipakai untuk hal-hal positif: untuk kemuliaan Tuhan, untuk memberkati orang lain, dan untuk kebaikan kita sendiri, bukan malah untuk hal-hal negatif: untuk merusak hidup kita dan menyakiti hati Tuhan.

 

6. Ketidak-hormatan Kepada Istri

Penghalang lainnya bagi doa Kristen adalah ketidak-hormatan kepada istri. Hal ini berlaku khusus bagi pria yang sudah menikah. Dalam 1 Petrus 3:7 diingatkan bahwa para suami harus hidup bijaksana dan menghormati istri mereka sehingga doa mereka tidak terhalang.

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.”

Menurut Alkitab, pria adalah kepala rumah tangga, dan karenanya ia kadang merasa harus di atas istrinya dalam segala hal. Hal ini bisa berakibat bahwa ia tidak/kurang menghormati istrinya. Terlebih lagi pada zaman dahulu, saat firman Tuhan di atas ditulis, posisi wanita sangat rendah dalam masyarakat.

Hal ini membuat orang Kristen bisa saja terpengaruh untuk memandang istrinya rendah dan tidak menghormatinya. Oleh karena itulah, firman Tuhan di atas mengingatkan para pria Kristen agar mereka menghormati istri mereka, jika mereka tidak ingin doa mereka terhalang.

Memang sudah sepatutnyalah seorang suami menghormati/mengasihi istrinya, sebab demikianlah yang diperintahkan oleh Tuhan. Tetapi bukan hanya karena itu, tetapi juga agar doanya tidak terhalang.

Tentu saja seorang istri juga harus menghormati suaminya, namun yang dibahas di sini adalah penghormatan suami kepada istrinya.

 

7. Kesombongan Rohani

Kita mungkin masih ingat perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang farisi dan pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah. Dalam doanya orang farisi itu menyombongkan dirinya karena telah merasa melakukan aturan-aturan dalam hukum taurat/firman Allah serta rajin dalam beribadah.

“Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” (Lukas 18:11-12).

Memang sudah sepantasnyalah kita senang jika kita telah melakukan firman Tuhan, akan tetapi jika kita meninggikan diri kita atas hal tersebut serta merendahkan orang lain, jelas hal itu tidak berkenan kepada Tuhan.

Pertama-tama doa orang farisi itu masih bagus, karena ia mengakui apa yang dilakukannya adalah dari Tuhan: “Aku mengucap syukur kepada-Mu.” Tetapi selanjutnya doanya itu adalah meninggikan dirinya sendiri, bukan Tuhan lagi, dengan sering berkata: “Aku.”

Apalagi ia mengakui bahwa ia tidak sama seperti “semua orang lain.” Bahkan dengan lebih sombong lagi ia berkata bahwa ia bukan seperti “pemungut cukai ini,” pemungut cukai yang sedang berdoa bersama-sama dengan dia saat itu di Bait Allah.

Orang farisi itu dengan sombongnya membandingkan dirinya yang saleh dengan pemungut cukai yang berdosa. Dan Tuhan tidak mendengar doanya. Justru doa pemungut cukai yang direndahkannya yang dikabulkan oleh Tuhan (Lukas 18:14a).

Doa dengan meninggikan diri seperti yang dilakukan oleh orang farisi di atas jelas tidak akan berkenan kepada Tuhan. Tuhan Yesus sendiri mengakhiri perumpamaanNya dengan berkata bahwa barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan (Lukas 18:14b).

 

Itulah 7 penghalang sehingga doa tidak dikabulkan.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!