7 Perkataan Yesus Di Kayu Salib Dan Maknanya

Artikel ini berisi tentang 7 Perkataan Yesus di kayu salib/7 ucapan Yesus di kayu salib dan maknanya.

Alkitab mencatat hanya ada 7 Perkataan Yesus di kayu salib, selama Ia berada di atas kayu salib selama kurang lebih enam jam, mulai pukul sembilan pagi hingga pukul tiga sore.

Kendati demikian, Alkitab tidak mencatat urutan kronologis dari 7 perkataan Yesus di kayu salib tersebut.

Baca juga: 7 Makna Kebangkitan Yesus Bagi Orang Percaya

Karena itu kita tidak bisa menyusun perkataan-perkataanNya itu seratus persen secara kronologis. Kita hanya dapat mengurutkannya secara logis, berdasarkan hal-hal yang paling mungkin dari ketujuh perkataan Yesus di kayu salib itu.

Ketujuh perkataan Yesus di kayu salib tersebut dicatat dalam keempat kitab Injil, tetapi tidak secara merata.

Baca juga: 10 Nubuat Perjanjian Lama Yang Digenapi Saat Penyaliban Yesus

Tiga dari 7 perkataan Yesus di kayu salib dicatat dalam Injil Lukas, tiga lagi dicatat dalam Injil Yohanes, dan satu lagi dicatat secara bersama dalam Injil Matius dan Injil Markus.

Karena hanya ada tujuh perkataan Yesus di kayu salib, maka menjadi sangat penting untuk kita ketahui.

Baca juga: 10 Nubuat Perjanjian Lama Yang Digenapi Saat Kematian Yesus

Tentu semua perkataan Yesus sangat penting untuk kita ketahui, sebab perkataan-perkataanNya itu adalah perkataan hidup yang kekal (Yohanes 6:68).

Namun karena ini adalah perkataan-perkataan terakhirNya sebelum wafat, maka menjadi penting untuk kita ketahui secara khusus.

Jika perkataan-perkataan terakhir orang yang akan meninggal penting untuk kita ketahui, maka perkataan-perkataan terakhir Tuhan Yesus jauh lebih penting!

Baca juga: 10 Fakta Tentang Paskah Menurut Alkitab

Perkataan-perkataan apa sajakah yang terdapat dalam 7 perkataan Yesus di kayu salib?

Dan apakah makna 7 perkataan Yesus di kayu salib tersebut?

Berikut pembahasannya.

 

1. Doa Pengampunan Bagi Para MusuhNya

Perkataan Yesus di kayu salib yang pertama adalah doa pengampunan bagi musuh-musuhNya.

Setelah Yesus disalibkan, maka kata-kata pertama yang keluar dari mulutNya adalah doa pengampunan.

Injil Lukas mencatat doa Tuhan Yesus yang terkenal ini.

“Yesus berkata: Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. (Lukas 23:34a)

Tuhan Yesus berdoa kepada BapaNya agar Ia mengampuni orang-orang yang menganiaya, mengolok-olok, menghujat, dan menyalibkanNya.

Ia tidak berdoa agar orang-orang tersebut dihukum Allah. Ia tidak meminta pembalasan BapaNya terhadap para musuhNya, tetapi belas kasihan dan pengampunan.

Ini adalah suatu hal yang luar biasa.

Biasanya orang-orang yang disalibkan akan mengeluarkan kata-kata makian, umpatan, sumpah serapah, bahkan kutukan.

Namun Yesus sangat lain. Ia tidak melakukan hal-hal seperti itu. Ia justru melakukan hal sebaliknya: berdoa bagi mereka yang menyakitiNya!

Dengan berdoa bagi musuh-musuhNya – atau lebih tepatnya: orang-orang yang memusuhiNya – maka Yesus telah mempraktekkan apa yang diajarkanNya sendiri kepada murid-muridNya.

Yesus mengajarkan murid-muridNya untuk berdoa bagi musuh mereka (Matius 5:44). Sekarang Dia sendiri telah melakukan hal tersebut!

 

2. Jaminan Keselamatan Bagi Seorang Penjahat

Perkataan Yesus di kayu salib yang kedua  adalah jaminan keselamatan bagi seorang penjahat.

Tuhan Yesus disalibkan bersama dengan dua orang  penjahat, masing-masing di sebelah kanan dan kiriNya.

Salah satu dari orang yang disalibkan tersebut memohon kepada Yesus agar jika kelak Ia datang sebagai Raja, Ia mengingatnya.

Menjawab hal ini Yesus pun memberi jaminan keselamatan kepada penjahat tersebut.

“Kata Yesus kepadanya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. (Lukas 23:43).

Ketika orang banyak mengolok-olok Yesus, termasuk salah satu orang yang disalibkan bersamaNya,  maka penjahat ini berbeda. Ia justru memohon kepada Yesus agar ia diselamatkan.

Jika kita membaca kitab-kitab Injil lainnya, yakni Injil Matius dan Injil Markus, maka kita dapat mengetahui bahwa kedua penjahat yang disalibjan bersama Yesus sama-sama mengolok-olok Dia (Matius 27:44; Markus 15:32).

Hal ini berarti bahwa penjahat yang satu ini akhirnya sadar dan bertobat.

Sangat mungkin hal ini terjadi karena ia melihat sikap Yesus yang berbeda: tenang, tidak mengumpat, mencaci, atau mengutuk orang-orang yang menyalibkanNya, malahan berdoa bagi mereka (lihat poin 1 di atas).

Jadi ketika penjahat ini melihat sikap Yesus yang sangat berbeda, ia menjadi kagum lalu menyesal dengan tindakannya yang mengolok-olok Yesus. Kemudian ia sadar akan keberdosaannya sehingga memohon belas kasihan Yesus.

Dan Yesus, yang penuh belas kasihan akan orang berdosa, dan yang tujuanNya datang ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang (Lukas 19:10), menerima permohonan penjahat tersebut.

Yesus menjanjikan firdaus kepadanya. Firdaus dalam pandangan orang Yahudi adalah tempat orang-orang benar yang telah meninggal.

Dalam pandangan Kristen, firdaus adalah surga itu sendiri (Baca: 10 Fakta Tentang Surga Menurut Pandangan Kristen).

Dengan berkata bahwa penjahat tersebut akan berada bersama denganNya di dalam firdaus, maka Yesus sedang mengatakan kepada penjahat tersebut bahwa dia akan masuk surga.

Dengan kata lain, Tuhan Yesus menjanjikan keselamatan kekal kepada penjahat tersebut.

Sesungguhnya, keselamatan itu bukan hasil usaha manusia, karena kemampuannya dalam menjalankan aturan-aturan agama, melainkan karya Yesus di kayu salib, yang dianugerahkanNya kepada mereka yang percaya kepadaNya.

Yesus berkata, “hari ini juga”, maksudnya ketika Yesus dan penjahat itu sama-sama mati pada hari Jumat yang agung itu, maka sesungguhnya dia pasti masuk surga. Ini menunjukkan kepastian keselamatan di dalam Yesus.

Ketika seseorang percaya kepada Yesus, maka pada detik itu juga ia telah diselamatkan, dan jika kelak ia mati, ia akan masuk ke dalam Kerajaan Allah atau surga.

 

3. Kepedulian Kepada Maria, IbuNya

Perkataan Yesus di kayu salib yang ketiga adalah kepedulianNya kepada ibuNya.

“Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: Ibu, inilah, anakmu! Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: Inilah ibumu! Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yohanes 19:26-27).

Ketika Yesus disalibkan, Maria, ibu Yesus secara manusia, berada di dekat salib Yesus. Maria menyaksikan penderitaan Yesus dari dekat.

Selain itu, Yesus juga melihat Yohanes, murid yang dikasihiNya, satu dari tiga murid terdekatNya (selain Petrus dan Yakobus).

Karena itu, Yesus “menitipkan” Maria, ibuNya, kepada Yohanes.

Yohanes “menyetujui” permintaan Yesus tersebut, ia menerima Maria seperti ibunya sendiri dan membawanya ke rumahnya.

Tradisi gereja juga menceritakan bahwa Yohanes memelihara ibu Tuhan Yesus (Maria) sembari menggembalakan jemaat di Efesus, dan ibu Tuhan Yesus meninggal di sana.

Menurut Polikrates (130-196 Masehi), gembala jemaat di Efesus, Yohanes sendiri juga meninggal di Efesus. (Baca: 12 Murid Yesus Dan Akhir Hidup Mereka (1) )

Fakta bahwa Yesus “menitipkan” ibuNya kepada Yohanes, bukan kepada saudara-saudara Yesus sendiri, menunjukkan bahwa pada saat itu saudara-saudaraNya itu belum bertobat.

Saudara-saudara Yesus baru bertobat setelah Ia bangkit dari kematian (Baca: 7 Anggota Keluarga Yesus Yang Aktif Dalam Pelayanan).

Dengan “menitipkan” ibuNya kepada Yohanes, maka Yesus menunjukkan bahwa Ia sangat peduli dengan IbuNya setelah kepergianNya.

Yesus tidak memfokuskan diriNya kepada penderitaan berat yang sedang dialamiNya. Ia tetap peduli kepada ibuNya yang akan ditinggalkanNya, dan “yang jiwanya sedang ditembus oleh pedang” (Lukas 2:35).

 

4. Seruan Tentang Penderitaan Rohani

Perkataan Yesus di kayu salib yang keempat adalah seruan tentang penderitaan rohani yang sedang dihadapiNya.

Alkitab mengatakan bahwa ketika Yesus sedang berada di atas kayu salib, kegelapan menguasai seluruh daerah itu selama tiga jam, dari pukul 12 siang hingga pukul 3 sore.

Tampaknya dalam rentang waktu tiga jam ini tidak ada perkataan Yesus yang keluar. Tiga perkataanNya yang pertama tampaknya diucapkanNya sebelum tiga jam masa kegelapan tersebut.

Setelah masa kegelapan selama tiga jam itu berakhir, maka Yesus mengucapkan perkataanNya yang keempat.

Inilah satu-satunya perkataan yang dicatat dalam Injil Matius dan Injil Markus.

Injil Matius mencatat,

“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: Eli, Eli, lama sabakhtani? Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?(Matius 27:46)

Seruan Yesus ini tidak dipahami oleh orang-orang yang menyaksikan penyalibanNya. Mereka mengira bahwa Yesus sedang memanggil Nabi Elia, salah satu nabi terbesar di Perjanjian Lama.

Hal ini disebabkan kemiripan kata “Eli” atau Allah dalam bahasa Aram (bahasa sehari-hari Yesus adalah bahasa Aram, bukan bahasa Ibrani) dengan nama nabi Elia.

Kata-kata pilu ini diserukan oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib, tidak lama sebelum Ia menyerahkan nyawaNya kepada BapaNya.

Seruan ini merupakan kutipan dari ayat Perjanjian Lama, yakni Mazmur 22:2.

Ini adalah penderitaan terbesar yang pernah terjadi di dunia. Bagi Tuhan Yesus, ini bukan sekedar penderitaan secara fisik ataupun penderitaan secara psikologis.

Ia memang telah mengalami penderitaan fisik yang berat (dicambuk, dimahkotai duri, dipaku), maupun penderitaan psikologis (dihianati Yudas, diludahi, diolok-olok, ditinggalkan murid-muridNya).

Namun bukan karena itu Ia mengucapkan perkataanNya yang keempat ini.

Ini adalah penderitaan secara rohani, yang hanya bisa dialami oleh Yesus yang tidak berdosa.

Dosa seluruh dunia sedang ditimpakan kepadaNya. Ia, satu-satunya manusia yang tak berdosa, bertindak sebagai pengganti bagi seluruh manusia yang berdosa.

Ia mati menggantikan posisi manusia yang seharusnya dihukum karena dosanya (2 Korintus 5:21).

Di sini Yesus merasakan penderitaan yang tak terperikan, bukan hanya penderitaan jasmani dan jiwani, tetapi yang lebih besar lagi adalah penderitaan rohani.

Karena Yesus sedang memikul dosa seluruh manusia, maka Allah memalingkan mukaNya dari Yesus. Allah yang maha kudus merasa jijik dengan dosa manusia.

Karena itu untuk sementara Yesus “ditinggalkan” oleh BapaNya.

Ini memang masih menyimpan sebuah misteri bagi kita, yang di luar nalar kita manusia.

 

5. Seruan Tentang Penderitaan Jasmani

Perkataan Yesus di kayu salib yang kelima adalah seruanNya tentang penderitaan jasmani.

Hal ini secara jelas dicatat di dalam Injil Yohanes.

“Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia — supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci –: Aku haus!”  (Yohanes 19:28)

Inilah satu-satunya perkataan Yesus yang berkaitan dengan kebutuhan jasmaniNya.

Namun, sebenarnya Yesus tidak sedang mengajukan sebuah permintaan, Ia hanya mengemukakan sebuah fakta.

Kendati demikian, para prajurit Romawi menafsirkan perkataan Yesus itu sebagai sebuah permintaan, sehingga mereka memberiNya minum anggur asam.

Dengan meminum anggur tersebut, maka Yesus mendapat cukup kekuatan untuk menyerukan perkataanNya yang keenam (lihat poin 6 di bawah).

Yesus yang haus dan diberi minum anggur asam,  adalah penggenapan nubuat dalam Mazmur 69:22.

 

6. Seruan Kemenangan 

Perkataan Yesus di kayu salib yang keenam adalah seruan kemenangan.

Hal ini juga dicatat di dalam Injil Yohanes.

“Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: Sudah selesai. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.”  (Yohanes 19:30)

Kata-kata “sudah selesai” dalam bahasa Yunani, bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru, adalah “tetelestai”.

Arti kata “tetelestai” adalah sudah selesai dengan sempurna, sudah lengkap, tuntas tanpa kurang suatu apa pun.

Maksud Yesus dengan kata “selesai” di sini bukanlah penderitaanNya, tetapi misiNya di bumi dalam menyelamatkan manusia dari belenggu dosa.

Yesus telah menggenapi rencana BapaNya untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa, puncaknya adalah dengan mengorbankan diriNya sendiri sebagai korban penebus dosa bagi seluruh manusia.

Ia telah menyelesaikan tugas yang diberikan BapaNya kepadaNya secara sempurna dan tuntas.

Yesus adalah seorang pemenang sejati. Dia bukanlah pecundang, sekalipun harus melewati salib.

Sejak Dia datang ke dunia, Dia tetap di dalam jalur misi Allah, BapaNya, sampai Ia menyelesaikannya secara sempurna, tetelestai.

 

7.  Penyerahan NyawaNya Ke Tangan BapaNya

Perkataan Yesus di kayu salib yang ketujuh atau terakhir adalah penyerahan nyawaNya ke tangan Bapa.

Hal ini dicatat dengan jelas di dalam kitab Injil Lukas.

“Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. (Lukas 23:46).

Kata-kata ini diucapkan oleh Tuhan Yesus di kayu salib sebagai kata-kata terakhirNya, sebelum Ia wafat.

Perkataan terakhir Yesus di kayu salib bukanlah kata-kata umpatan, kata-kata penyesalan, kekecewaan, ataupun kata-kata ketidakpercayaan, melainkan penyerahan penuh diriNya kepada BapaNya.

Perkataan Yesus ini merupakan kutipan dari ayat di Perjanjian Lama, yang merupakan bagian dari mazmur Daud, yakni Mazmur 31:6.

Namun Yesus mengubah kata “Tuhan” dan “Allah” dengan “Bapa”. Ini menunjukkan keakrabanNya dengan BapaNya, sekaligus menunjukkan jati diriNya dan kesatuanNya dengan Allah. (Baca: 10 Gelar Yesus Terpopuler di Alkitab)

Mazmur 31:6 adalah doa penyerahan pemazmur kepada Allah.

Orang-orang Yahudi yang saleh sering berdoa dengan mengutip mazmur ini.

Dengan mengutip mazmur ini di penghujung hidupNya, Yesus menunjukkan bahwa diriNya adalah seorang manusia  yang saleh, yang selalu berserah kepada Allah.

Dan sejak doa ini dikutip oleh Yesus menjelang kematianNya, banyak orang Kristen yang berdoa seperti ini menjelang kematian mereka.

Perlu diperhatikan, Yesus sendiri yang “menyerahkan” nyawaNya kepada BapaNya.

Yesus meninggal bukan karena kehabisan tenaga atau karena hal-hal lainnya, melainkan karena Ia secara sukarela “menyerahkan” nyawaNya kepada BapaNya. Yesus berkuasa memberikan nyawaNya dan berkuasa pula mengambilnya kembali, tak seorang pun dapat merampas nyawaNya dariNya! (Yohanes 10:17-18).

 

Itulah 7 perkataan Yesus di kayu salib/7 ucapan Yesus di kayu salib dan maknanya.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!