Loading...

7 Perkataan Yesus Di Kayu Salib Dan Maknanya

Menjawab hal ini Yesus pun memberi jaminan keselamatan kepada penjahat tersebut.

“Kata Yesus kepadanya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. (Lukas 23:43).

Ketika orang banyak mengolok-olok Yesus, termasuk salah satu orang yang disalibkan bersamaNya,  maka penjahat ini berbeda. Ia justru memohon kepada Yesus agar ia diselamatkan.

Jika kita membaca kitab-kitab Injil lainnya, yakni Injil Matius dan Injil Markus, maka kita dapat mengetahui bahwa kedua penjahat yang disalibjan bersama Yesus sama-sama mengolok-olok Dia (Matius 27:44; Markus 15:32).

Hal ini berarti bahwa penjahat yang satu ini akhirnya sadar dan bertobat.

Sangat mungkin hal ini terjadi karena ia melihat sikap Yesus yang berbeda: tenang, tidak mengumpat, mencaci, atau mengutuk orang-orang yang menyalibkanNya, malahan berdoa bagi mereka (lihat poin 1 di atas).

Jadi ketika penjahat ini melihat sikap Yesus yang sangat berbeda, ia menjadi kagum lalu menyesal dengan tindakannya yang mengolok-olok Yesus. Kemudian ia sadar akan keberdosaannya sehingga memohon belas kasihan Yesus.

Dan Yesus, yang penuh belas kasihan akan orang berdosa, dan yang tujuanNya datang ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang (Lukas 19:10), menerima permohonan penjahat tersebut.

Yesus menjanjikan firdaus kepadanya. Firdaus dalam pandangan orang Yahudi adalah tempat orang-orang benar yang telah meninggal.

Dalam pandangan Kristen, firdaus adalah surga itu sendiri (Baca: 10 Fakta Tentang Surga Menurut Pandangan Kristen).

Dengan berkata bahwa penjahat tersebut akan berada bersama denganNya di dalam firdaus, maka Yesus sedang mengatakan kepada penjahat tersebut bahwa dia akan masuk surga.

Dengan kata lain, Tuhan Yesus menjanjikan keselamatan kekal kepada penjahat tersebut.

Sesungguhnya, keselamatan itu bukan hasil usaha manusia, karena kemampuannya dalam menjalankan aturan-aturan agama, melainkan karya Yesus di kayu salib, yang dianugerahkanNya kepada mereka yang percaya kepadaNya.

Yesus berkata, “hari ini juga”, maksudnya ketika Yesus dan penjahat itu sama-sama mati pada hari Jumat yang agung itu, maka sesungguhnya dia pasti masuk surga. Ini menunjukkan kepastian keselamatan di dalam Yesus.

Ketika seseorang percaya kepada Yesus, maka pada detik itu juga ia telah diselamatkan, dan jika kelak ia mati, ia akan masuk ke dalam Kerajaan Allah atau surga.

 

3. Kepedulian Kepada Maria, IbuNya

Perkataan Yesus di kayu salib yang ketiga adalah kepedulianNya kepada ibuNya.

“Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: Ibu, inilah, anakmu! Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: Inilah ibumu! Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. (Yohanes 19:26-27).

Ketika Yesus disalibkan, Maria, ibu Yesus secara manusia, berada di dekat salib Yesus. Maria menyaksikan penderitaan Yesus dari dekat.

Selain itu, Yesus juga melihat Yohanes, murid yang dikasihiNya, satu dari tiga murid terdekatNya (selain Petrus dan Yakobus).

Karena itu, Yesus “menitipkan” Maria, ibuNya, kepada Yohanes.

Yohanes “menyetujui” permintaan Yesus tersebut, ia menerima Maria seperti ibunya sendiri dan membawanya ke rumahnya.

Tradisi gereja juga menceritakan bahwa Yohanes memelihara ibu Tuhan Yesus (Maria) sembari menggembalakan jemaat di Efesus, dan ibu Tuhan Yesus meninggal di sana.

Menurut Polikrates (130-196 Masehi), gembala jemaat di Efesus, Yohanes sendiri juga meninggal di Efesus. (Baca: 12 Murid Yesus Dan Akhir Hidup Mereka (1) )

Fakta bahwa Yesus “menitipkan” ibuNya kepada Yohanes, bukan kepada saudara-saudara Yesus sendiri, menunjukkan bahwa pada saat itu saudara-saudaraNya itu belum bertobat.

Saudara-saudara Yesus baru bertobat setelah Ia bangkit dari kematian (Baca: 7 Anggota Keluarga Yesus Yang Aktif Dalam Pelayanan).

Dengan “menitipkan” ibuNya kepada Yohanes, maka Yesus menunjukkan bahwa Ia sangat peduli dengan IbuNya setelah kepergianNya.

Yesus tidak memfokuskan diriNya kepada penderitaan berat yang sedang dialamiNya. Ia tetap peduli kepada ibuNya yang akan ditinggalkanNya, dan “yang jiwanya sedang ditembus oleh pedang” (Lukas 2:35).

 

4. Seruan Tentang Penderitaan Rohani

Perkataan Yesus di kayu salib yang keempat adalah seruan tentang penderitaan rohani yang sedang dihadapiNya.

Alkitab mengatakan bahwa ketika Yesus sedang berada di atas kayu salib, kegelapan menguasai seluruh daerah itu selama tiga jam, dari pukul 12 siang hingga pukul 3 sore.

Tampaknya dalam rentang waktu tiga jam ini tidak ada perkataan Yesus yang keluar. Tiga perkataanNya yang pertama tampaknya diucapkanNya sebelum tiga jam masa kegelapan tersebut.

Setelah masa kegelapan selama tiga jam itu berakhir, maka Yesus mengucapkan perkataanNya yang keempat.

Inilah satu-satunya perkataan yang dicatat dalam Injil Matius dan Injil Markus.

Injil Matius mencatat,

“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: Eli, Eli, lama sabakhtani? Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?(Matius 27:46)

Seruan Yesus ini tidak dipahami oleh orang-orang yang menyaksikan penyalibanNya. Mereka mengira bahwa Yesus sedang memanggil Nabi Elia, salah satu nabi terbesar di Perjanjian Lama.

Hal ini disebabkan kemiripan kata “Eli” atau Allah dalam bahasa Aram (bahasa sehari-hari Yesus adalah bahasa Aram, bukan bahasa Ibrani) dengan nama nabi Elia.

Kata-kata pilu ini diserukan oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib, tidak lama sebelum Ia menyerahkan nyawaNya kepada BapaNya.

Seruan ini merupakan kutipan dari ayat Perjanjian Lama, yakni Mazmur 22:2.

Ini adalah penderitaan terbesar yang pernah terjadi di dunia. Bagi Tuhan Yesus, ini bukan sekedar penderitaan secara fisik ataupun penderitaan secara psikologis.

Ia memang telah mengalami penderitaan fisik yang berat (dicambuk, dimahkotai duri, dipaku), maupun penderitaan psikologis (dihianati Yudas, diludahi, diolok-olok, ditinggalkan murid-muridNya).

Namun bukan karena itu Ia mengucapkan perkataanNya yang keempat ini.

Ini adalah penderitaan secara rohani, yang hanya bisa dialami oleh Yesus yang tidak berdosa.

Dosa seluruh dunia sedang ditimpakan kepadaNya. Ia, satu-satunya manusia yang tak berdosa, bertindak sebagai pengganti bagi seluruh manusia yang berdosa.

Ia mati menggantikan posisi manusia yang seharusnya dihukum karena dosanya (2 Korintus 5:21).

Di sini Yesus merasakan penderitaan yang tak terperikan, bukan hanya penderitaan jasmani dan jiwani, tetapi yang lebih besar lagi adalah penderitaan rohani.

Karena Yesus sedang memikul dosa seluruh manusia, maka Allah memalingkan mukaNya dari Yesus. Allah yang maha kudus merasa jijik dengan dosa manusia (Habakuk 1:13a).

Karena itu untuk sementara Yesus “ditinggalkan” oleh BapaNya.

Ini memang masih menyimpan sebuah misteri bagi kita, yang di luar nalar kita manusia.

 

5. Seruan Tentang Penderitaan Jasmani

Perkataan Yesus di kayu salib yang kelima adalah seruanNya tentang penderitaan jasmani.

Hal ini secara jelas dicatat di dalam Injil Yohanes.

“Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia — supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci –: Aku haus!”  (Yohanes 19:28)

Inilah satu-satunya perkataan Yesus yang berkaitan dengan kebutuhan jasmaniNya.

6 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!