7 Tokoh Alkitab Yang Doanya Tidak Dikabulkan

35-abraham

Artikel ini membahas tentang 7 tokoh Alkitab yang doanya tidak dikabulkan.

Banyak orang Kristen yang doanya tidak Tuhan kabulkan. Selain karena tidak memenuhi syarat doa yang dikabulkan, juga karena adanya penghalang dalam doa kita. Tetapi bisa juga karena kedaulatan Tuhan sendiri, ada rencana Tuhan yang lebih baik bagi kita.

Bukan hanya kita, orang percaya pada zaman sekarang, tokoh-tokoh Alkitab pun ada juga doanya yang tidak dikabulkan. Entah itu karena kesalahan mereka sendiri, maupun karena rencana Tuhan sendiri yang harus digenapi dalam diri mereka.

Baca juga: 7 Cara Berdoa Yang Benar Menurut Alkitab

Di sini akan diberikan 7 contoh tokoh Alkitab yang doanya tidak dikabulkan oleh Tuhan. Hal ini bertujuan supaya kita tahu bahwa tokoh-tokoh Alkitab pun kadang doanya tidak dikabulkan, sehingga kita tidak menjadi kecewa jika suatu saat doa kita tidak Tuhan kabulkan.

Siapa sajakah 7 tokoh Alkitab yang doanya tidak dikabulkan?

 

1. Doa Abraham

Tokoh Alkitab yang doanya tidak dikabulkan pertama adalah Abraham.

Abraham adalah nenek moyang orang Israel. Tuhan memilih Abraham untuk menjadi saluran berkatNya bagi seluruh manusia di bumi. Lewat keturunan Abrahamlah akan lahir Juruselamat dunia. Tuhan berjanji bahwa istri Abraham yang sudah tua akan melahirkan anak (yang kelak akan menurunkan Juruselamat).

Namun janji Tuhan itu tampaknya tak kunjung datang, padahal Abraham sudah berusia 99 tahun dan istrinya, Sara, sudah 90 tahun serta sudah mati haid. Sepertinya tak ada lagi harapan untuk melahirkan anak dari istrinya, Sara.

Karena itulah Abraham berdoa agar kiranya Ismael saja yang diberkatinya sebagai anak perjanjian. Ismael adalah anak Abraham dari budaknya, Hagar. Mungkin Abraham berpikir sebentar lagi ia akan mati sementara anak perjanjian yang dijanjikan Tuhan tak kunjung lahir.

“Dan Abraham berkata kepada Allah: ‘Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!’ Tetapi Allah berfirman: ‘Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.’ ” (Kejadian 17:18-19).

Tuhan berkata tidak. Tuhan tidak mengabulkan doa Abraham. Memang Ismael akan diberkatinya juga, tetapi perjanjianNya berlaku lewat anak kandungnya dari istrinya, Sara, bukan dari budaknya, Hagar.

Setahun kemudian anak yang Tuhan janjikan itu pun lahir dari rahim Sara, sehingga janji Tuhan kepada Abraham tergenapi. Anak itu diberi nama Ishak.

Jelas doa Abraham itu baik, tetapi Tuhan punya rencana lain yang jauh lebih baik baginya.

 

2. Doa Musa

Tokoh Alkitab yang doanya tidak dikabulkan kedua adalah Musa.

Musa adalah pemimpin besar Israel. Ia membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir menuju Tanah Perjanjian di Kanaan. Ia memimpin bangsa Israel sekitar 40 tahun di padang gurun.

Namun sangat ironis, Musa sendiri tidak masuk ke Tanah Perjanjian itu. Ia hanya mengantar bangsa Israel sampai perbatasan Tanah Kanaan.

Musa Tuhan perintahkan naik ke gunung Nebo. Tuhan hanya memperbolehkannya melihat Tanah Perjanjian dari atas gunung tersebut, tetapi tidak boleh memasukinya. Kemudian Musa mati di gunung tersebut.

Dari menyeberangi sungai Yordan hinga masuk ke Tanah Perjanjian, bangsa Israel dipimpin oleh Yosua, abdi Musa, yang menggantikannya sebagai pemimpin Israel.

Musa memohon kepada Tuhan agar kiranya ia diperbolehkan masuk ke Tanah Perjanjian. Namun Tuhan menolak doa Musa tersebut.

“Juga pada waktu itu aku mohon kasih karunia dari pada TUHAN, demikian: … biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang baik yang di seberang sungai Yordan, tanah pegunungan yang baik itu, dan gunung Libanon. Tetapi TUHAN murka terhadap aku oleh karena kamu dan tidaklah mendengarkan permohonanku. TUHAN berfirman kepadaku: Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku.” (Ulangan 3:23, 25-26).

Alasan mengapa Musa tidak boleh masuk ke Tanah Perjanjian adalah karena ia tidak taat kepada perintah Tuhan. Ia dan Harun memberontak kepadanya. Ketika Tuhan memerintahkannya untuk memberi minum orang Israel dengan berkata kepada bukit batu agar airnya keluar, Musa malah memukulnya dua kali, sambil marah.

Tuhan memandang hal ini sebagai sebuah pemberontakan sehingga Ia murka kepada Musa dan Harun dan menghukum mereka dengan tidak mengijinkan mereka masuk ke Tanah Perjanjian (Bilangan 20:1-13).

Sebagian orang melihat kesalahan Musa sebagai kesalahan yang “kecil” dibanding jasanya dalam memimpin bangsa Israel di padang gurun. Namun rupanya Tuhan menginginkan ketaatan mutlak dari hamba-hambaNya. Ketaatan seorang pemimpin rohani dituntut lebih besar dari ketaatan orang biasa.

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!