8 Jenderal Kristen Yang Pernah Menjadi KASAD Atau WAKASAD

Artikel ini berisi tentang 8 Jenderal Kristen yang  pernah menjadi KSAD atau WAKASAD, baik Kristen Protestan maupun Kristen Katolik.

Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (KSAD atau KASAD) adalah sebutan terhadap pimpinan tertinggi dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).

Sebelum bernama KASAD,  pimpinan tertinggi TNI AD mempunyai sebutan yang berbeda-beda.

Baca juga: 4 Jenderal Kristen Yang Pernah Menjadi Panglima TNI

Mulai dari Menteri/Panglima Angkatan Darat
(Menpangad), hingga Panglima Angkatan Darat (Pangad).

Tapi intinya adalah bahwa mereka adalah  pemimpin tertinggi TNI AD, yang bertanggung jawab langsung kepada Panglima TNI.

Baca juga: 5 Jenderal Kristen Yang Sedang Bersinar

Dari sekian banyak para pimpinan tertinggi TNI AD yang pernah menjabat, terdapat juga KASAD yang beragama Kristen.

Selain itu sejumlah Jenderal Kristen juga  pernah menjadi Wakil KASAD atau WAKASAD.

Di sini akan dibahas tentang 8 Jenderal Kristen yang  pernah menjadi KASAD atau WAKASAD,  baik jenderal Kristen Protestan maupun jenderal Kristen Katolik.

Baca juga: 4 Pahlawan Revolusi Beragama Kristen

Kedelapan Jenderal Kristen yang  pernah menjadi KASAD atau WAKASAD ini menjabat pada masa-masa awal kemerdekaan, pada masa orde lama, masa orde baru, hingga masa reformasi.

Dua di antara mereka adalah Jenderal Kristen yang  pernah menjadi KASAD (yang satunya pernah juga WAKASAD), dan enam lagi adalah Jenderal Kristen yang  pernah menjadi WAKASAD.

Siapa sajakah 8 Jenderal Kristen yang  pernah menjadi KASAD atau WAKASAD?

Berikut pembahasannya.

 

1. Letnan Jenderal Bambang  (KASAD)

Jenderal Kristen yang pernah menjadi KASAD atau WAKASAD, yang pertama adalah Letnan Jenderal Bambang Sugeng.

Letjen Bambang Sugeng lahir di Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, pada 31 Oktober 1913.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Bambang diangkat menjadi Komandan Resiman TKR (kini TNI) di Wonosobo, Jawa Tengah, dengan pangkat Letnan Kolonel.

Ia juga memimpin pasukan TKR pada saat Agresi Militer Belanda I (1947) dan Agresi Militer Belanda II (1948).

Selain itu ia juga termasuk perwira yang terlibat dalam perencanaan Serangan Umum 1 Maret 1949. Sebagai penguasa teritorial, Bambang mengendalikan jalannya pertempuran di wilayah Divisi III Jawa Tengah dan Yogyakarta pada masa 1948-1949.

Dengan posisinya yang senior kemudian Pemerintah menunjuknya untuk menjadi wakil Panglima Besar Sudirman atau Wakil 1 Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) mulai 21 September 1944 hingga 27 Desember 1949.

Pada bulan Juni 1950 Bambang diangkat menjadi Panglima Divisi I/TT V Jawa Timur. Lalu menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ke-3 yang menjabat dari tanggal 22 Desember 1952 hingga 8 Mei 1955.

Bambang-lah yang memprakarsai pencatatan setiap prajurit TNI atau Nomor Registrasi Pusat (NRP) yang kemudian ditiru oleh pencatatan organisasi sipil atau Nomor Induk Pegawai (NIP). (Baca juga: 20 Jenderal Terbaik Indonesia  Beragama Kristen)

Setelah berhasil menyatukan kembali para perwira TNI Angkatan Darat melalui Piagam Djogja 1955, Bambang mengundurkan diri sebagai KSAD pada tanggal 8 Mei 1955.

Setelah berhenti dari dinas militer, Bambang diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Vatikan (1956 – 1960), Duta Besar Indonesia untuk Jepang (1960-1964), dan Duta Besar Indonesia untuk Brasil (1964-1966).

Bambang Sugeng meninggal di Jakarta pada 22 Juni 1977 dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Tegalrejo, Magelang. Saat itu pangkatnya adalah Mayor Jenderal. Pemerintah Indonesia kemudian menaikkan pangkatnya menjadi Letnan Jenderal (Kehormatan).

 

2. Jenderal Maraden Panggabean (KASAD)

Jenderal Kristen yang pernah menjadi KASAD atau WAKASAD, yang kedua adalah Jenderal Maraden Panggabean.

Jenderal Saur Halomoan Maraden Panggabean lahir di Tarutung, Sumatera Utara, pada 29 Juni 1922.

Jenderal Maraden mendapat jenjang karier yang sempurna di militer serta memiliki jabatan bergengsi di pemerintahan pada zaman Presiden Suharto.

Ia menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada tahun 1968-1969, Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) tahun 1969–1973, Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan Menteri Pertahanan dan Keamanan tahun 1971–1978.

Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam) tahun 1978-1983, dialah Menkopolkam pertama Indonesia.

Selanjutnya pada tahun 1983-1988, Maraden menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Kini lembaga DPA diganti dengan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Maraden aktif dalam kegiatan organisasi di Golongan Karya (Golkar) dan pernah menjadi anggota Dewan Pembina (1973), Ketua Dewan Pembina (1974-1978), dan Ketua Presidium Harian Dewan Pembina Golkar (1979-1988).

Jenderal Maraden Panggabean meninggal di Jakarta, pada 28 Mei 2000 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta dengan upacara militer.

 

3. Letnan Jenderal Sahala Rajagukguk (WAKASAD)

Jenderal Kristen yang pernah menjadi KASAD atau WAKASAD, yang ketiga adalah Letnan Jenderal Sahala Rajagukguk.

Letjen Adolf Sahala Rajagukguk lahir di Muara, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 31 Desember 1938.

Sahala Rajagukguk mempunyai banyak penugasan di Timor Timur (TimTim). Antara lain menjadi Komandan Korem 164/Wira Dharma/Timor Timur, Panglima Kolakops TNI Timor Timur, dan Panglima Koopskam TNI Timor Timur.

Kemudian ketika berpangkat Mayor Jenderal (bintang dua) ia menjadi Panglima Kodam XIII Merdeka, Wakil Komandan Seskoad, Asisten Operasi KSAD, dan Panglima Kodam IX/Udayana.

Jabatannya terus naik hingga ia menjadi Panglima Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) tahun 1987-1988, suatu jabatan yang sangat strategis di tubuh TNI Angkatan Darat. Di sini pangkatnya naik menjadi Letnan Jenderal (bintang tiga).

Ia mencapai puncak karier militernya ketika dilantik menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad). Jabatan inilah yang diembannya hingga ia pensiun dari dinas militer.

Setelah pensiun dari dinas militer, ia diangkat menjadi Duta Besar RI untuk India.

Letjen Sahala meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil di Pangururan, Sumatera Utara, pada 16 November 2002. Ia meninggal bersama istri dan iparnya.

 

4. Letnan Jenderal F.X.Sudjasmin (WAKASAD)

Jenderal Kristen yang pernah menjadi KASAD atau WAKASAD, yang keempat adalah Letnan Jenderal F.X. Sudjasmin.

Letjen TNI (Purn.) Fransiskus Xaverius Sudjasmin lahir pada 26 Agustus 1943.

Sebelum menjabat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat, ia merupakan salah satu Perwira TNI yang berjasa dalam memberantas PKI.

Letjen FX. Sudjasmin merupakan lulusan Akademi Militer Nasional tahun 1964.

Jabatan yang pernah diemban oleh Letjen F.X. Sudjasmin, antara lain: Komandan Komando Resort Militer 073/Makuratama, Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad, dan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) II/Sriwijaya.

Ia kemudian menjadi Inspektur Jenderal TNI AD, lalu menjadi Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!