82 Anggota DPR RI Beragama Kristen

Artikel ini membahas tentang 82 Anggota DPR RI beragama Kristen dan Katolik.

Anggota DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia) periode 2014-2019 dilantik dan resmi bekerja sebagai wakil rakyat setelah terpilih dari partai mereka masing-masing mewakili sejumlah Daerah Pemilihan (Dapil) yang ada di Indonesia.

Dari antara 560 anggota DPR RI tersebut, terdapat sejumlah anggota DPR RI beragama Kristen dan Katolik. Jumlah anggota DPR RI beragama Kristen dan Katolik yang dilantik pada periode pertama dan mereka yang masuk pada periode selanjutnya, atau disebut sebagai Anggota DPR Pergantian Antar Waktu (PAW), ada sebanyak 82 orang.

Jadi saat ini beberapa dari mereka sudah tidak menjabat lagi dengan berbagai alasan, misalnya karena terpilih dalam pemilihan kepala daerah atau pilkada (sebagai gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, atau walikota/wakil walikota).

Baca juga: 20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler

Kita perlu mengenal mereka lebih dekat sehingga kita bisa menilai kinerja mereka selama duduk di kursi parlemen, apakah mereka sudah berhasil memperjuangkan aspirasi masyarakat yang mereka wakili (bukan hanya masyarakat beragama Kristen/Katolik) atau belum.

Selain itu, tentu kita juga perlu mendoakan mereka, khususnya mereka yang masih bertugas hingga saat ini.

Baca juga: 7 Menteri Jokowi Beragama Kristen

Lalu, siapa sajakah 82 anggota DPR RI beragama Kristen dan Katolik pada periode 2014-2019? Berikut daftarnya, yang diurutkan secara abjad.

 

1. Adian Yunus Yusak Napitupulu (PDI-P)

Adian Yunus Yusak Napitupulu lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada tanggal 9 Januari 1971.

Dia maju dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat (Jabar V) dan berhasil mengumpulkan sebanyak 35,589 suara.

Sejak mahasiswa Adian aktif di berbagai organisasi, seperti di Senat Mahasiswa Fakultas Hukum UKI dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Adian merupakan pendiri ataupun pemimpin sejumlah organisasi, seperti Aliansi Pemuda Indonesia(API), Komunitas Mahasiswa Se-Jabotabek (Forum Kota /Forkot), Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98), Benteng Demokrasi Rakyat (BENDERA), dan Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI).

Ia kemudian terpilih sebagai anggota DPR dari PDI-P.

Adian merupakan lulusan Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, satu dari 20 Universitas Kristen Terbaik Di Indonesia.

 

2. Agustina Wilujeng Pramestuti (PDI-P)

Agustina Wilujeng Pramestuti, S.S, lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 11 Agustus 1971.

Ia menjadi anggota DPR RI setelah berhasil meraup suara di dapil Jateng IV sebesar 56,707 suara. Dia berada di Komisi IV yang membidangi Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Kelautan, Perikanan, dan Pangan.

Sebelumnya ia adalah anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dan anggota DPRD Kota Semarang.

Agustina menempuh pendidikannya di jurusan Sastra Inggris, Universitas Diponogoro, Semarang.

Organisasi yang pernah diikutinya antara lain adalah GMNI UNDIP Semarang dan Sekretaris dan wakil ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah.

 

3. Andreas Eddy Susetyo (PDI-P)

Andreas Eddy Susetyo, M.M, lahir di Malang, Jawa Timur, pada 22 Maret 1960.

Ia berhasil menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di Dapil Jawa Timur V (Malang Raya, Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu) setelah memperoleh 56.160 suara.

Ia berada di Komisi XI DPR, yang membidangi Keuangan, Perencanaan Pembangunan, dan Perbankan.

Ia menempuh pendidikan S1, Teknik Elektro, di Institut Teknologi Surabaya; S2, Manajemen, di Prasetiya Mulya, Jakarta; serta di Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat.

Sebelumnya ia bekerja di beberapa perusahaan besar, antara lain di beberapa bank ternama: BCA, Niaga dan Mandiri.

 

4. Andreas Hugo Pareira (PDI-P)

Andreas Hugo Pareira lahir di Flores, Nusa Tenggara Timur pada 31 Mei 1964.

Andreas merupakan anggota DPR dari PDI-P dan satu dari 25 Politisi Indonesia Terpopuler Beragama Kristen.

Ia berada di Komisi I, yang membidangi Pertahanan, Intelijen, Luar Negeri, dan Komunikasi dan Informatika.

Andreas aktif di PDI Perjuangan sejak tahun 1999. Sejak tahun 2011 ia menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Internasional dan Pertahanan DPP PDI-P.

Sebelum terjun ke dunia politik, Andreas Pareira merupakan seorang akademisi yang berprofesi sebagai dosen di FISIP Univesitas Katholik Parahyangan, Bandung.

Andreas meraih gelar Doktorandus (Drs) dari FISIP Universitas Katholik Parahyangan, Bandung, gelar Magister Sosiologi Politik dari Universitas Pasau, Jerman, serta gelar Doktor Politik Internasional dari Universitas Giessen, Jerman.

 

5. Anita Jacoba Gah (Demokrat)

Anita Jacoba Gah, S.E, lahir di Jakarta pada 9 Maret 1974.

Anita Jacoba Gah adalah anggota DPR dari Partai Demokrat mewakili Dapil Nusa Tenggara Timur II setelah berhasil memperoleh sebanyak 42.887 suara.

Anita Jacoba Gah menjadi Anggota DPR-RI Pergantian Antar Waktu (PAW) untuk periode 2014-2019. Anita menggantikan Jefirstson Riwu Kore yang mengundurkan diri karena maju sebagai Calon Walikota Kupang pada Pilkada Serentak 2017 (lihat poin 37 di bawah).

Anita sebelumnya sudah bertugas di DPR-RI selama 2 periode (2004-2009 dan 2009-2014) dan duduk di Komisi VIII dan Komisi X.

Pada masa kerja 2014-2019 Anita kembali bertugas di Komisi X yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, olahraga dan kepemudaan.

Pendidikan yang ditempuhnya adalah D3, Musik Gereja, di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, dan S1, Manajemen, di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nasional, Jakarta.

Anita aktif berorganisasi di komunitas seni suara dan kepemudaan gereja. Selain menjadi pengajar vokal di Sanggar Ananda, GPIB Effatha dan GPIB Gideon, Anita juga aktif menjadi Pengurus di Gerakan Pemuda GPIB Effatha dan juga Pemuda GMIT di Kota Kupang.

 

6. Anthon Sihombing (Golkar)

Anton Sihombing lahir di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 28 Februari 1952.

Anton duduk di Komisi IV DPR RI (bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, dan perikanan) setelah berhasil maraih 66.601 suara dari Dapil Sumatera Utara II.

Selain itu, ia juga merupakan anggota Badan Anggaran DPR. Sebelumnya ia duduk di Komisi III DPR (2002-2004).

Di Partai Golkar ia pernah menjadi koordinator lapangan (1971) dan jurkam (1998-2008). Kemudian, Wakil Ketum dan Ketum Depipus Baladhika Karya (1998-2000 dan 2002-2008) serta Wakil Sekjen Depinas SOKSI.

Anton merupakan politisi senior Golkar dan saat ini masih menjabat sebagai Ketua DPP Partai Golkar bidang kemaritiman.

Anton pernah menjadi Ketua Pengurus Pelaut Indonesia di Eropa yang berkedudukan di Hamburg, Jerman.

Dia menyelesaikan pendidikan S-1 di Akademi Ilmu Pelayaran, S-2 di Universitas Suropati, dan S-3 di Universitas Satyagama, semuanya di Jakarta.

 

7. Aria Bima (PDI-P)

Aria Bima lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 29 Mei 1965.

Ia adalah anggota DPR RI periode 2004-2009, periode 2009-2014, dan periode 2014 – 2019 dari PDI Perjuangan Daerah Pemilihan Jawa Tengah V yang meliputi Kota Surakarta (Solo), Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten.

Ia berhasil mengumpulkan 96,163 suara.

Aria Bima ditugaskan di Komisi VI (membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, koperasi, UKM, BUMN, dan Badan Standardisasi Nasional). Ia juga pernah menjadi Ketua Pansus Panja Gula DPR.

Aria Bima aktif di bidang organisasi sejak mahasiswa, antara lain menjadi Ketua Senat Fisipol UGM pada tahun 1987-1989, dan Sekretariat Komisariat GMNI Fisipol UGM.

Ia kemudian menjadi Bendahara DPC PDIP Kabupaten Bekasi pada tahun 1998-2001, juga menjadi Depercab DPC Kabupaten Bekasi dari tahun 2001-2004. Aria Bima juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPD PDIP Jawa Tengah.

Arya Bima merupakan lulusan Fisipol UGM Yogyakarta, Jurusan sosiologi.

 

8. Aryo P.S. Djojohadikusumo (Gerindra)

Aryo Djojohadikusumo lahir di Jakrata pada 25 April 1983.

Ia menjadi anggota DPR dari dapil Jakarta III setelah berhasil meraih 53. 268 suara.

Ia duduk di Komisi VII DPR (membidangi Energi Sumber Daya Mineral, Riset & Teknologi, Lingkungan Hidup).

Aryo merupakan putra dari Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo, dan juga keponakan dari Calon Presiden Indonesia di Pemilu 2014, Prabowo Subianto.

Aryo aktif di Gerindra sejak 2010, dengan mendirikan organisasi sayap Partai Gerindra, Tunas Indonesia Raya (TIDAR) dan sampai sekarang masih menjadi Ketua Umum.

Sejak tahun 2010, Aryo resmi menjadi kader partai Gerindra dan sekarang menjabat sebagai Wakil Sekretariat Jendral Partai tersebut.

Aryo menempuh pendidikan S1 di University of Durham, Inggris; S2 di Southeast Asian Studies, University of London School of Oriental and African Studies, Inggris; dan Executive Program di Tsinghua School of Economics & Management, Beijing, China.

 

9. Asdy Narang (PDI-P)

Asdy Narang, S.H, M.Comm, lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 19 Maret 1976.

Ia menjadi anggota DPR-RI periode 2014-2019 untuk Dapil Kalimantan Tengah dengan perolehan suara 64,560.

Di DPR ia berada di Komisi X (Pendidikan, Kebudayaan, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, Olahraga, Perpustakaan).

Sebelumnya ia juga menjabat sebagai anggota DPR-RI periode 2009-2014 untuk daerah pemilihan yang sama dan bertugas di Komisi III yang membidangi hukum, HAM dan keamanan.

Asdy adalah keponakan dari mantan Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, yang juga mantan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan.

Asdy adalah seorang pengusaha sukses dan menjabat sebagai Direktur Utama di PT. Kharisma Duta Mining (pertambangan) dan Komisaris PT. Sistech Media Softindo (ISP provider di Kalimantan Tengah).

Asdy menempuh pendidikan S1 Hukum di Universitas Trisakti, Jakarta; dan S2 Master of Commercial Law, di Deakin University, Australia.
Ia juga menjabat sebagai Ketua DPD Taruna Merah Putih Provinsi Kalimantan Tengah sejak 2009 – sekarang.

 

10. Bara Hasibuan (PAN)

Bara Krishna Hasibuan adalah politisi senior dari Partai Amanat Nasional (PAN) mewakili Dapil Sulawesi Utara. Bara adalah salah satu pendiri PAN dan menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN Bidang Hubungan Internasional (2010-sekarang).

Bara dilantik menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 pada 10 Januari 2017 sebagai Pergantian Antar Waktu (PAW) menggantikan Yasti Soepredjo Mokoagow yang mengundurkan diri karena mencalonkan diri sebagai Bupati Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, pada Pilkada Serentak 2017 silam.

Pada masa kerja 2014-2019, Bara bertugas di Komisi VII yang membidangi Energi Sumber Daya Mineral, Riset & Teknologi, Lingkungan Hidup.

Pendidikan yang ditempuhnya adalah: S1 dan S2 Political Science, Boston University, Amerika Serikat; dan S2 Public Administration, Harvard Kennedy School of Government, Boston, Amerika Serikat.

Bara adalah putra dari advokat senior, mantan Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden, dan mantan Pemimpin Umum Harian Suara Pembaruan, Dr. Albert Hasibuan.

 

11. Benny Kabur Harman (Demokrat)

Benny Kabur Harman, S.H. lahir di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 19 September 1962.

Benny merupakan anggota Fraksi Partai Demokrat dan duduk di Komisi II DPR RI. Ia juga pernah menjadi Ketua Komisi III DPR RI.

Ia maju dari Dapil Nusa Tenggara Timur I dan berhasil meraup suara sebanyak 53,701.

Ia mendapatkan gelar Sarjana Hukum dari Universitas Brawijaya Malang. Sedangkan Magister Hukum dan Doktor Hukum diraihnya dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta.

Ia tercatat sebagai pendiri sekaligus Direktur Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) mulai tahun 1995 hingga 1998. Ia juga mendirikan Center for Information and Economic-Law Studies (CINLES) dan juga berposisi sebagai direktur eksekutif.

Sebelum terjun ke dunia politik, Benny K. Harman seorang advokat, yang antara lain bekerja sebagai Staf Non Litigasi pada kantor YLBHI Jakarta, Pendiri Pusat Studi Lingkungan Indonesia (1989-1992), dan Kepala Divisi Kajian Strategi YLBHI Jakarta (1992-1995).

Ia juga pernah menjadi Wartawan bidang hukum dan politik Harian Media Indonesia (1989-1996), serta Kepala Litbang Harian Media Indonesia (1996-1998).

Ia juga sempat berpasangan dengan Alfred M Kase untuk maju sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2008, tapi gagal.

 

12. Charles Honoris (PDI-P)

Charles Honoris lahir di Jakarta pada 23 Juli 1984.

Ia adalah anggota DPR RI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Dapil DKI Jakarta III (Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu).

Charles Honoris memperoleh suara terbanyak di Dapil DKI III dengan 96.842 suara mengalahkan seniornya Effendi Simbolon dan Ketua DPR RI Marzuki Alie (dari Partai Demokrat).

Charles ditugaskan di Komisi I DPR RI yang membidangi Pertahanan, Luar Negeri, Intelijen dan Komunikasi Informatika.

Ia merupakan kader muda PDI-P yang sejak tahun 2012 menjadi Ketua DPD Taruna Merah Putih DKI Jakarta, organisasi sayap kepemudaan PDI Perjuangan.

Charles mengenyam pendidikan ilmu politik di International Christian University Tokyo, Jepang.

Ia adalah putra dari Luntungan Honoris, seorang pengusaha nasional, Luntungan Honoris (presiden komisaris PT. Modernland Realty Tbk).

 

13. Charles Jones Mesang (Golkar)

Charles Jonas Mesang lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 3 Januari 1952.

Charles telah menjadi anggota DPR RI selama empat periode berturut-turut, sejak tahun 1997 hingga terpilih kembali tahun 2014.

Pada pemilihan umum 2014, Charles Mesang maju untuk daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II dan berhasil mendapat suara sebanyak 54,514.

Pada periode 2014-2019 Charles bertugas di Komisi IX yang membidangi kesehatan, transmigrasi, tenaga kerja dan kependudukan. Kemudian pada April 2015, Charles bertugas di Komisi II yang membidangi kepemiluan, aparatur dan reformasi birokrasi dan pemerintahan dalam negeri.

Ia menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Indonesia Jakarta.

Pengalaman organisasinya adalah sebagai anggota DPP Organisasi masyarakat Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) dan Ketua Departemen Kesra DPD Tk II pada Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).

 

14. Daniel Lumban Tobing (PDI-P)

Daniel Lumban Tobing lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 14 Desember 1967.

Pada saat pemilu, ia berhasil meraih 48, 648 suara, namun tak bisa mengantarkannya ke gedung parlemen.

Akan tetapi, ia akhirnya dilantik menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mewakili Dapil Jawa Barat VII menggantikan Tono Bahtiar, yang meninggal dunia dengan tiba-tiba.

Ia duduk di Komisi IX (Tenaga Kerja & Transmigrasi, Kependudukan, Kesehatan).

Daniel juga merupakan anggota DPR-RI periode 2009-2014 dan duduk di Komisi IV (pertanian, perkebunan dan pangan) dan di Komisi VI (koperasi, perdagangan, perindustrian, BUMN).

Daniel adalah Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Jawa Barat.

Pendidikan S1-nya ia tempuh di University of Kyoto, Jepang.

 

15. Darmadi Durianto (PDI-P)

Darmadi Durianto, yang berasal dari etnis Tionghoa, lahir di Mempawah, Kalimantan Barat, pada 25 Juni 1967.

Pada Pileg tahun 2014 Darmadi Durianto terpilih sebagai anggota DPR RI dari Dapil Jakarta III dengan perolehan 52.861 suara. Saat ini ia bertugas di Komisi VI DPR RI yang membidangi urusan BUMN, Perdagangan, Perindustrian dan UKM koperasi.

Darmadi meraih gelar sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya, Jakarta dan gelar MBA dari University of Manila, Filipina pada.

Ia aktif sebagai pengajar di Program Magister Manajemen IBII Jakarta serta Unika Atma Jaya, Jakarta. Juga sering menjadi nara sumber di radio dan menulis di majalah bisnis, serta memberikan seminar dan pelatihan tentang marketing di berbagai daerah.

Karier organisasinya antara lain: Wakil Ketua Badan Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan DPP PDI Perjuangan, Ketua Departemen Hubungan Internasional DPP PDI-Perjuangan, Dewan Pakar Megawati Institute, dan Dewan Pembina Perkumpulan Peduli Rakyat Kalimantan.

 

16. Djenri Alting Keintjem (PDI-P)

Djenri Alting Keintjem, SH, MH dilantik pada 15 Desember 2015 menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dalam Pergantian Antar Waktu (PAW).

Djenri menggantikan Olly Dondokambey yang mengundurkan diri untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Sulawesi Utara pada Pilkada Serentak 2015 (lihat poin 59 di bawah).

Djenri maju dari Dapil Sulawesi Utara dan kini duduk di Komisi XI yang membidangi keuangan, perbankan dan perencanaan pembangunan.

Sebelum menjadi legislator di DPRD, DJenri adalah mantan dosen hukum di Universitas Sam Ratulangi, Manado, dan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara sejak 1999 hingga 2014.

Djenri adalah Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Sulawesi Utara (2010-2015).

Pendidikannya ia tempuh di program S1 dan S2 Hukum, di Universitas Sam Ratulangi, Manado.

 

17. Edison Betaubun (Golkar)

Edison Betaubun lahir di Ohoiel, Maluku, pada 5 Oktober 1957.

Edison terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019 dari dapil Maluku dengan perolehan 58.765 suara. Ia duduk di Komisi XI yang membidangi Keuangan, Perencanaan Pembangunan, dan Perbankan.

Ia juga merupakan anggota DPR periode 2009-2014, yang berada di komisi III (Hukum) sebelum pindah ke Komisi XI (Keuangan, Anggaran, Moneter).

Pendidikan yang ditempuhnya adalah: S1, Universitas Pattimura, Ambon, Maluku, dan S2, Universitas Indonesia, Jakarta.
Karier politiknya antara lain adalah Ketua Angkatan Muda Partai Golkar dan Wakil Ketua DPD Golkar Maluku.

 

18. Effendi M.S. Simbolon (PDI-P)

Effendi Muara Sakti Simbolon lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 1 Desember 1964.

Ia merupakan anggota DPR RI dari Dapil Jakarta III yang berhasil meraup suara sebanyak 89.028.

Effendi ditunjuk sebagai wakil ketua Komisi VII yang fokus pada bidang Energi Sumber Daya Mineral, Riset, Teknologi dan Lingkungan Hidup.

Ia juga menjadi anggota DPR di periode 2004-2009 dan 2009-2014.

Effendi pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI-P Bidang Sumber Daya dan Dana PDIP, dan sempat diusung sebagai bakal calon Sekretaris Jenderal PDIP untuk periode tahun 2010 hingga 2015.

Dia juga sempat ikut bertarung dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara periode 2013-2018, namun tidak berhasil.

Effendi menyelesaikan studi S-1 Ekonomi di Universitas Jayabaya, Jakarta, S-2 dan S-3 Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran, Bandung. Pendidikan non-formal pernah dia tempuh di Universitas Charleston, Amerika Serikat.

Sebelum menjadi anggota DPR ia bekerja di beberapa perusahaan swasta.

 

19. Effendy Sianipar (PDI-P)

Effendy Sianipar lahir di Tarutung, Sumatera Utara, pada 8 Juni 1957.

Ia terpilih menjadi anggota DPR RI dari Dapil Riau I dengan perolehan suara sebanyak 69.425.

Ia duduk di Komisi IV yang membidangi Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Kelautan, Perikanan, dan Pangan.

Pendidikannya ia tempuh di ATN/STTN Jakarta Jurusan Teknik Sipil, dan di Universitas Darma Agung Medan, Sumatera Utara, Jurusan Teknik Sipil.

Karier organisasi dan Politik Effendy antara lain: Ketua Badan Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan DPP PDI Perjuangan, Sekjen DPN Aspanji, Wakil Ketua LPJK DKI Jakarta, Ketua Umum BPD Gapensi DKI Jakarta, Dewan Pertimbangan Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) DKI Jakarta, Ketua PA PD Alumni GMNI DKI Jakarta.

 

20. Eko Wijaya (Demokrat)

Eko Wijaya Parsito lahir di Pangkalpinang, Bangka-Belitung, pada 20 November 1980.

Pada pileg 2014, ia terpilih menjadi anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Dapil Bangka-Belitung, dengan perolehan 35.570 suara.

Ia bertugas di Komisi VII yang membidangi energi, sumber daya mineral, lingkungan hidup, riset & teknologi.

Pendidikannya ia tempuh di program S1, University of Technology Sydney, Australia.

Sebelum terpilih menjadi anggota DPR periode 2014-2019, Eko adalah Ketua DPD Demokrat Provinsi Bangka-Belitung, menjadikannya sebagai ketua DPD Demokrat termuda se-Indonesia.

 

21. Elion Numberi (Golkar)

Pendeta Elion Numberi, S.Th lahir di Jayapura, Papua, pada 14 Juli 1961.

Ia berhasil menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Dapil Papua setelah memperoleh 85.374 suara.

Awalnya Elion duduk di Komisi X DPR-RI, lalu dipindahkan ke Komisi V, kemudian dipindahkan lagi menjadi anggota Komisi VIII yang membidangi Agama, Sosial, dan Pemberdayaan Perempuan.

Sebelumnya, pada periode 2009-2014, Elion adalah salah satu senator Indonesia dari Provinsi Papua. (Baca juga: 26 Senator Indonesia Beragama Kristen)

Elion menempuh pendidikan S1-nya di Sekolah Tinggi Teologia ISTTI El Shaddai, Manado, Sulawesi Utara.

Sebelum memulai karier politiknya, Pendeta Elion Numberi adalah Pemimpin Jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Pelangi Kasih di Jayapura. Lalu Elion menjadi Anggota Komisi Pusat Pemuda GPdI di Jakarta.

Elion adalah putra dari Freddy Numberi, mantan Gubernur Papua dan mantan Menteri Perhubungan RI.

 

22. Eriko Sotarduga (PDI-P)

Eriko Sotarduga Sitorus lahir di Medan, Sumatera Utara, pada tanggal 10 April 1969.

Ia menjadi anggota DPR RI setelah berhasil meraih suara sebanyak 61.888 dari Dapil Jakarta II.

Eriko memiliki latar belakang pengusaha. Ia pernah menjabat sebagai Direktur PT Manajemen Bahan Bakar Andalan, Direktur PT Dwi Mekar Persada dan PT Tri Teknik Kalimantan Abadi di Balikpapan.

Ia meraih gelar Sarjana dalam bidang Teknik Industri, dari Universitas Trisakti, Jakarta.

Eriko adalah Deklarator Banteng Muda Indonesia dan pernah menjabat sebagai Sekjen di Banteng Muda Indonesia, Jakarta.

Saat ini Eriko Sotarduga adalah anggota legislatif untuk dapil DKI Jakarta 2 (Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan Luar Negeri) dari Fraksi PDI Perjuangan. Ia berada di Komisi VI yang membidangi Perdagangan, Perindustrian, Investasi, Koperasi, UKM & BUMN, dan juga Badan Anggaran.

Eriko Sotarduga dianggap salah satu orang yang berpengaruh dalam Partai PDI Perjuangan karena ia dilibatkan dalam pembahasan tentang Kongres IV PDIP di kediaman Megawati bersama Hasto Kristiyanto, Rokhmin Dahuri dan Puan Maharani.

 

23. Erma Suryani Ranik (Demokrat)

Erma Suryani Ranik lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, pada 14 Mei 1976.

Ia terpilih menjadi Anggota DPR-RI mewakili Dapil Kalimantan Barat setelah memperoleh 34,420 suara.

Ia duduk di Komisi III DPR yang membidangi Hukum, HAM, dan Keamanan.

Pada periode 2009-2014 Erma bertugas sebagai Anggota DPD RI (Dewan Perwakilan Daerah) mewakili provinsi Kalimantan Barat.

Pendidikannya ia tempuh di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat.

Erma dikenal sebagai aktivis lembaga swadaya masyarakat, dan pernah bekerja di Filipina.

Ia juga mendapat kesempatan mengikuti Program Studi Banding yang diadakan oleh Departemen Pembangunan Internasional Inggris (DFID), dan pernah sebagai pembicara dalam sebuah seminar di Universitas Sophia di Tokyo, Jepang dan Pusat Study HAM Oslo University, Norwegia.

 

24. Erwin T.P.L. Tobing (PDI-P)

Irjen (Purn) Drs. Erwin T.P.L. Tobing adalah seorang purnawirawan jenderal polisi dengan pangkat terakhir Inspektur Jenderal (bintang dua).

Ia dikenal sebagai mantan Kapolda Kalimantan Barat.

Ia menjadi anggota DPR Pergantian Antar Waktu (PAW) setelah anggota DPR Karolin Margaret Natasa (lihat poin 43 di bawah) terpilih menjadi Bupati Landak, Kalimantan Barat.

Erwin maju dalam pileg 2014 silam dari Dapil Kalimantan Barat, namun meraih suara di bawah Karolin Margaret Natasa.

Hingga saat ini Erwin T.P.L Tobing memang belum dilantik. Tetapi partainya, PDI-P, sudah memasukkan namanya sebagai anggota DPR PAW ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

 

25. Esti Wijayati (PDI-P)

My Esti Wijayati lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 17 Juni 1968.

Ia merupakan anggota DPR dari Dapil Yogyakarta dengan perolehan suara sebanyak 99.440.

Ia duduk di Komisi X yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, pemuda dan olahraga, dan perpustakaan.

Sebelumnya ia merupakan anggota daerah DPRD Kabupaten Sleman periode 1999-2004 serta anggota DPRD Provinsi D.I. Yogyakarta periode 2004-2009 dan 2009-2014.

Di dalam partai PDI Perjuangan Yogyakarta, ia memiliki jabatan sebagai Wakil Ketua Bidang Politik.

Ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Sanata Dharma (dahulu IKIP Sanata Dharma), Yogyakarta.

 

26. Evert Ernest Mangindaan (Demokrat)

Letnan Jenderal TNI (Purn) E.E. Mangindaan lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 5 Januari 1943.

Mangindaan adalah adalah anggota DPR dari dapil Sulawesi Utara dengan perolehan suara sebanyak 81.152.

Mangindaan saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) periode 2014-2019.

Ia pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan serta Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia.

Sebelumnya ia adalah Gubernur Sulawesi Utara periode 1995-2000. Setelah itu, ia terpilih sebagai anggota DPR dan menjabat sebagai Ketua Komisi II periode 2004-2009.

Ia juga merupakan Ketua Harian Dewan Pembina Partai Demokrat.

Mangindaan adalah seorang mantan perwira tinggi militer yang pernah menjabat sebagai Pangdam VIII/Trikora.

 

27. Fary Djemy Francis (Gerindra)

Fary Djemy Francis lahir di Watampone, Sulawesi Selatan, pada 7 Februari 1968.

Ia merupakan anggota DPR dari dapil Nusa Tenggara Timur II selama dua periode (2009-2014; 2014-2019). Di periode kedua ia memperoleh suara sebanyak 48,351.

Di dua periode tersebut ia duduk di Komisi V (Perhubungan, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Pembangunan Pedesaan dan Kawasan Tertinggal, Meteorologi, Klimatologi & Geofisika), bahkan di periode kedua ia menjabat sebagai Ketua di Komisi tersebut.

Fary sebelumnya adalah seorang aktivis di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Organisasi yang pernah diikutinya antara lain adalah: Sekretaris Umum Senat Universitas Timor Timur, Ketua PERKANTAS Provinsi Timor Timur, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) KNPI Timor Timur Bidang Kaderisasi, Dewan Penasehat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI)

Kini ia adalah Ketua DPP Gerindra Bidang Keuangan dan Moneter, Ketua DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (organisasi sayap kepetanian Gerindra).

Pendidikannya ia tempuh di program S1, Ekonomi Pertanian, Universitas Timor Leste, Dili, Timor-Timur; dan S2, Manajemen Agribisnis, Institut Pertanian Bogor, Bogor, Jawa Barat.

 

28. Ferry Kase (Hanura)

Ferry Kase adalah anggota DPR dari Dapil Nusa Tenggara Timur II.

Ia dilantik menjadi Pejabat Antar Waktu (PAW) DPR-RI 2014 menggantikan Saleh Husin, kader Hanura yang diangkat menjadi Menteri Perindustrian pada Kabinet Kerja Jokowi.

Ferry bertugas di Komisi X yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, pendidikan dan olahraga.

Sebelumnya, Ferry adalah anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (2009-2014).

Ia adalah seorang mantan perwira TNI Angkatan Darat di Kodam Jaya, Jakarta (1995-2008).

Ferry juga merupakan Ketua Pemuda Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hanura Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Islam Syekh Yusuf, Tangerang, Banten.

 

29. G. Michael Jeno (PDI-P)

Ir. G. Michael Jeno, M.M, lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, pada 9 Januari 1969.

Ia merupakan anggota DPR dari dapil Kalimantan Barat dengan perolehan suara sebanyak 55.121.

Michael Jeno duduk di Komisi XI (Keuangan, Perencanaan Pembangunan, dan Perbankan).

Ia meraih gelar Sarjana Teknik Planologi, ITB, Bandung, Jawa Barat, serta

Magister Manajemen, Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Jakarta.

Jabatan organisasi yang pernah diembannya, antara lain: Bendahara umum Dewan Adat Dayak, Kalbar, Ketua LSM Organization for Environment and Development of Asset Sustainability (OEDAS), Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Kalbar, dan Ketua Himpunan Mahasiswa Katolik Kalimantan Barat di Bandung.

 

30. Hendrawan Supratikno (PDI-P)

Hendrawan Supratikno lahir di Cilacap, Jawa Tengah, pada 21 April 1960.

Ia menjadi anggota DPR dari Dapil Jawa Tengah X setelah memperoleh suara sebanyak 68.380.

Ia bertugas di Komisi VI pada periode 2009-2014, dan bertugas di Komisi XI (Perbankan dan Keuangan) pada periode 2014-sekarang. Ia juga menjabat sebagai Ketua bidang Perekonomian DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan periode 2015-2020.

Nama Hendrawan Supratikno dikenal sebagai politisi Senayan beretnis Tionghoa yang memiliki latar belakang akademik yang kuat. Sebelum menjadi anggota DPR, Hendrawan merupakan profesor di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI ini mulai populer saat terlibat aktif dalam Panitia Khusus Angket Century akhir tahun 2009 lalu.

Sewaktu mahasiswa, ia dikenal sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) yang dulu merupakan onderbouw Parkindo, salah satu partai penyusun PDI dan PDIP.

Hendrawan adalah anggota DPR RI daerah pemilihan Jawa Tengah 10 (Kabupaten Pemalang, Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Kabupaten Batang).

Ia menempuh pendidikannya di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga (meraih gelar Drs. 1983), Katholieke Universiteit Leuven, Belgia, (meraih gelar M. Ba. 1986), Free University (VUA), Amsterdam, Belanda, (meraih gelar Ph. D. 1998).

 

31. Henky Kurniadi (PDI-P)

Henky Kurniadi lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 2 Juli 1963.

Ia menjadi anggota DPR dari Dapil Jawa Timur I setelah memperoleh suara sebanyak 43,434.

Ia awalnya duduk di Komisi XI DPR-RI, lalu ditugaskan di Komisi IV, dan kini bertugas di Komisi II yang membidangi pemerintahan dalam negeri & otonomi daerah, aparatur & reformasi birokrasi, kepemiluan, pertanahan & reforma agraria.

Ia adalah ketua Yayasan Henky Kurniadi & Friends, Surabaya.

Selain itu, Henky juga salah satu pengurus Komite Rusia Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Dalam berorganisasi, ia pernah aktif di DPD KNPI Jawa Timur dan Ketua umum Percasi Jawa Timur.

Ia menempuh pendidikannya di program Sarjana Ekonomi, Universitas Surabaya (Ubaya), Jawa Timur; Sarjana Hukum, Universitas Bhayangkara, Jakarta; dan Program S2, Universitas Bhayangkara, Surabaya.

 

32. Herman Hery (PDI-P)

Herman Herry lahir di Ende, Nusa Tenggara Timur, pada 26 November 1962.

Ia adalah politisi dan legislator senior dari PDIP mewakili Dapil Nusa Tenggara Timur (NTT) II dengan perolehan suara sebesar 109,406.

Herman telah menjadi Anggota DPR-RI selama tiga periode. Pada masa kerja 2014-2019 Herman duduk di Komisi III yang membidangi hukum, hak asasi manusia dan keamanan.

Herman adalah Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Banteng Muda Indonesia (BMI), organisasi sayap kepemudaan PDI-P.

Herman adalah seorang pengusaha dan menjabat sebagai Presiden Komisaris dari Grup Dwimukti (kontraktor dan perhotelan di Kupang, NTT). Herman juga aktif di asosiasi pengusaha, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) NTT, sebagai anggota.

Pendidikan yang ditempuhnya adalah di SMA Katholik, Ende, NTT (1982) dan SLTA, Program Paket-C (2003).

 

33. Indah Kurnia (PDI-P)

Indah Kurnia lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 11 Agustus 1962.

Indah terpilih menjadi Anggota DPR-RI mewakili Dapil Jawa Timur I setelah memperoleh 68,497 suara. Indah duduk di Komisi XI yang membidangi perbankan, keuangan dan perencanaan pembangunan.

Di periode sebelumnya (2009-2014) ia juga duduk sebagai anggota DPR.

Indah dikenal sebagai mantan manajer klub sepak bola wanita pertama di Indonesia. Ia adalah mantan Manajer Klub Persebaya Surabaya yang berhasil membawa Persebaya meraih Juara Liga Indonesia pada 2006.

Sebelumnya Indah lama bekerja di Bank BCA dan terakhir menjadi Pimpinan BCA Tunjungan Surabaya (2000-2008). Indah juga pernah sebagai salah satu direktur di Grup Maspion (property).

Ia menempuh pendidikan S1 dan S2 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Artha Bodhi Iswara, Surabaya.

 

34. Irine Yusiana Roba Putri (PDI-P)

Irine Yusiana Roba Putri, S.Sos, lahir di Yogyakarta, pada 4 April 1984.

Irine berhasil menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019 setelah memperoleh 52.677 suara untuk daerah pemilihan Maluku Utara.

Kini ia duduk di Komisi X yang membidangi Pendidikan, Kebudayaan, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, Olahraga, dan Perpustakaan.

Sebelum menjadi anggota DPR, Irine aktif di partai PDI-P sebagai anggota Departemen Pemuda dan Olahraga DPP PDI-P (2010-2015).

Pendidikan S1-nya ia tempuh di Universitas Katholik Atma Jaya, Yogyakarta; dan S2 di Monash University, Melbourne, Australia.

 

35. Itet Tridjajati Sumarijanto (PDI-P)

Itet Tridjajati Sumarijanto, MBA, lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 22 Oktober 1946.

Itet menjadi anggota DPR RI dari dapil Lampung II dengan perolehan suara sebanyak 40.203.

Ia juga merupakan anggota DPR pada periode sebelumnya (2009-2014 ).

Itet adalah anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sejak tahun 1965. Pada tahun 1966, Itet menjadi Ketua bidang seni untuk Persatuan Pelajar Indonesia di Australia.

Pendidikannya ia tempuh di Medical Record Administrator Australia (MRA), bidang Expert Medical Record (Ahli Dokumen Medis), Sydney, Australia.

 

36. Ivan Doly Gultom (Golkar)

Ivan Doly Gultom dilantik menjadi Anggota DPR-RI Pergantian Antar Waktu (PAW) periode 2014-2019 mewakili Partai Golongan Karya (Golkar) untuk Dapil DKI Jakarta III.

Ia menggantikan posisi Tantowi Yahya, yang diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru.

Pada pileg 2014 lalu, Ivan Doly Gultom berhasil meraih suara 21.047, tetapi kalah suara dari Tantowi Yahya sehingga tidak bisa masuk ke Senayan. Lewat PAW akhirnya ia bisa duduk di DPR.

Ia menempuh pendidikan S1 di Pepper Dine University, Amerika Serikat.

Ia pernah menjabat sebagai wakil ketua DPD Golkar DKI Jakarta dan wakil ketua Kosgoro 57 (sayap Partai Golkar).

 

37. Jefirstson R. Riwu Kore (Demokrat)

Dr. Jefirstson Riwu Kowe, M.M, M.H lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 13 Januari 1960.

Ia terpilih menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 mewakili Dapil Nusa Tenggara Timur II setelah memperoleh 105,924 suara.

Jefirstson bertugas di Komisi X, yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pemuda & olahraga, ekonomi kreatif dan pariwisata.

Ia juga merupakan anggota DPR pada periode 2009-2014.

Jefirstson adalah Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Nusa Tenggara Timur.

Pada Oktober 2016, Jefirstson mengundurkan diri dari DPR-RI karena mencalonkan diri sebagai Calon Walikota Kupang pada Pilkada Serentak 2017 (dan ia terpilih).

Pendidikan yang ditempuhnya adalah: S1, Akuntansi, Universitas Pendidikan Nasional, Denpasar, Bali; S2, Keuangan, Universitas Pelita Harapan, Jakarta; S3, Ekonomi, Universitas 17 Agustus, Surabaya; Program Pasca Sarjana, Hukum, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

 

38. Jimmy Demianus Ijie (PDI-P)

Jimmy Demianus Ijie lahir di Fategomi, Maybrat, Papua Barat, pada 21 Maret 1968.

Jimmy menjadi anggota DPR setelah berhasil meraih 69.908 suara di dapilnya.

Ia merupakan Wakil Ketua DPRD Papua Barat periode 2009-2004 dan Ketua DPRD Provinsi Papua Barat Periode 2004-2009.

Ia memiliki beberapa pengalaman organisasi. Antara lain: Sekjen Komnas Reaktivisasi Papua Barat, Ketua DPD PDI Perjuangan Papua Barat, Ketua HKTI Papua Barat, dan Ketua PERBASI Papua Barat.

Pendidikannya ia tempuh di Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan; dan Fakultas Hukum, Universitas Jakarta (Unija), Jakarta.

 

39. Johnny G. Plate (Nasdem)

Johnny G. Plate, S.E, lahir di Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 10 September 1956.

Ia terpilih menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur I setelah memperoleh 33.704 suara.

Johnny duduk di Komisi XI yang membidangi keuangan, perencanaan pembangunan dan perbankan.

Johnny G. Plate sebelumnya adalah seorang pengusaha.

Ia juga merupakan Ketua Departemen Energi SDA dan Lingkungan Hidup, DPP Partai NasDem.

Pendidikannya ia tempuh di Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) dan S1, Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta.

 

40. Juliari P. Batubara (PDI-P)

Juliari P. Batubara lahir di Jakarta pada 22 Juli 1972.

Ia merupakan anggota DPR dari dapil Jawa Tengah I dengan perolehan suara 128.956.

Ia duduk di Komisi VI, bidang Perdagangan, Perindustrian, Investasi, Koperasi, UKM & BUMN, Standarisasi Nasional.

Ari, panggilan akrabnya, adalah seorang profesional yang bekerja di perusahaan keluarga.

Ia menempuh pendidikannya di Riverside City College dan di Chapman University, California, keduanya di Amerika Serikat.

Ari merupakan Pengurus DPP PDI Perjuangan sebagai Wakil Bendahara.

 

41. Junico B.P. Siahaan (PDI-P)

Junico Bisuk Partahi Siahaan, S.E, yang lebih dikenal sebagai Nico Siahaan, lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 13 Juni 1969.

Ia menjadi anggota DPR dari Dapil Jawa Barat I dengan perolehan 64.980 suara.

Nico bertugas di Komisi X DPR, yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, pemuda dan olahraga, dan ekonomi kreatif.

Nico Siahaan dikenal luas di Indonesia sebagai pembawa acara, terutama acara kuis di televisi swasta.

Pengalaman organisasinya adalah Persatuan Golf Indonesia (PGI) dan Taruna Merah Putih (sayap Partai PDI Perjuangan).

Ia meraih gelar S1 Ekonomi dari Universitas Padjajaran, Bandung.

 

42. Junimart Girsang (PDI-P)

Dr. Junimart Girsang lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 3 Juni 1963.

Ia adalah anggota DPR RI mewakili daerah pemilihan Sumatera Utara III dengan perolehan suara sebesar 76.819.

Di DPR dia duduk di Komisi III, yang membidangi hukum, Hak Asasi Manusia, dan keamanan.

Nama Junimart juga terkenal sebagai Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR saat sedang menangani Skandal Politik di Kasus PT Freeport Indonesia pada 2015 yang dikenal sebagai “Papa Minta Saham”, yang melibatkan Ketua DPR Setya Novanto.

Sebelum menjadi anggota DPR, Junimart Girsang dikenal sebagai seorang advokat hukum yang cukup terkenal.

Sebagai pengacara atau kuasa hukum, Junimart banyak menangani kasus yang melibatkan para petinggi publik dan pesohor Indonesia.

Junimart pernah bertindak sebagai tim kuasa hukum Mabes POLRI atas pembelaan terhadap tuduhan pelanggaran HAM berat, tim penasehat hukum Megawati Soekarno Putri ketika menjabat Presiden RI, kuasa hukum mantan Gubernur Bank Indonesia, Soedradjad Djiwandono, serta tim pembela Muhammad Nazaruddin dalam kasus korupsi di DPR tahun 2013.

Junimart adalah kakak kandung dari pengacara kondang lainnya, Juniver Girsang.

Junimart merupakan alumnus Fakultas Hukum Universitas Katholik Parahyangan Bandung (S-1), Universitas Satyagama Jakarta (S-2) dan Universitas Padjajaran Bandung (juga S-2).

 

43. Karolin Margret Natasa (PDI-P)

Karolin Margret Natasa lahir di Mempawah, Kalimantan Barat, pada 12 Maret 1982.

Ia adalah anggota Komisi IX DPR RI periode 2009-2014 dan 2014-2019 dari daerah pemilihan Kalimantan Barat dengan perolehan suara sebanyak 397.481 (pada periode kedua).

Hal ini menjadikan Karolin sebagai caleg peraih suara terbanyak se-Indonesia.

Karolin merupakan putri dari Gubernur Kalimantan Barat, Drs. Cornelis, M.H.

Pengalaman organisasinya adalah Ketua Umum Pemuda Katholik Indonesia (satu-satunya perempuan yang pernah menempati posisi itu).

Karolin kemudian mundur dari DPR untuk maju sebagai calon Bupati Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, periode 2017-2022 (dan ia menang mutlak).

 

44. Katherine A. Oendoen (Gerindra)

Katherine Angela Oendoen lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, pada 14 November 1960.

Katherine berhasil menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari dapil Kalimantan Barat setelah memperoleh 38.455 suara.

Ia duduk di Komisi VII DPR, yang membidangi Energi, Sumber Daya Mineral, Riset & Teknologi, dan Lingkungan Hidup.

Sebelum terjun ke dunia politik, Katherine Oendoen adalah seorang profesional swasta di industri asuransi (Allianz) dan setelah itu menjabat sebagai Direktur Keuangan dari PT Global Pacific di industri pipa gas.

Pengalaman organisasinya adalah di Forum Dayak Kalimantan, Jakarta.

 

45. Lasarus (PDI-P)

Lasarus, S.Sos, M.Si, lahir di Sintang, Kalimantan Barat, pada 15 Juni 1970.

Ia berhasil menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Dapil Kalimantan Barat setelah memperoleh 173.154 suara.

Lasarus adalah Wakil Ketua Komisi V DPR-RI yang membidangi perhubungan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, pembangunan desa dan kawasan tertinggal. Ia juga menduduki posisi yang sama di DPR pada periode sebelumnya (2009-2014).

Sebelum menjadi anggota DPR, ia menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat pada periode 2004-2009.

Pendidikan yang ditempuhnya adalah program S1 dan S2 di Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat.

Pengalaman organisasinya adalah: Pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sintang, Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Kalimantan Barat, dan Anggota Departemen Infrastruktur DPP PDI Perjuangan.

 

46. Libert Kristo Ibo (Demokrat)

Libert Kristo Ibo, S.Sos, S.H, M.H, lahir di Jayapura, Papua, pada 12 September 1975.

Ia terpilih menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 mewakili Dapil Papua setelah memperoleh 166,734 suara.

Libert bertugas di Komisi II yang membidangi kepemiluan, pemerintahan dalam negeri dan otonomi daerah.

Ia adalah Ketua Divisi Hukum dan HAM Partai Demokrat dan sering memenangkan sengketa pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi.

Libert adalah anak dari Bupati Puncak Jaya, Drs. Henock Ibo (2012-2017).

Pendidikannya ia tempuh di S1, Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sam Ratulangi, Manado; S2, Magister Hukum, Universitas Sam Ratulangi, Manado.

 

47. Luther Kombong (Gerindra)

Luther Kombong lahir di Rantepao, Sulawesi Selatan, pada 27 September 1950.

Ia menjadi anggota DPR periode 2014-2019 dari dapil Kalimantan Timur dengan perolehan suara sebanyak 84,001.

Sebelumnya ia menjabat sebagai anggota DPD RI selama dua periode, 2004-2009 dan 2009-2014.

Ia pernah menjadi pegawai negeri sipil di Dinas Kehutanan dan menjadi direktur utama PT. Pancakarya Margabhakti dan PT. Dwiwira Lestari Jaya.

Pendidikannya adalah di SKMA Kehutanan.

Pada Jumat, 9 Juni 2017 silam, Luther Kombong meninggal dunia di Singapura.

 

48. Marinus Gea (PDI-P)

Marinus Gea, S.E, lahir di Gunungsitoli, Nias, Sumatera Utara, pada tanggal 6 Januari 1973.

Ia menjadi anggota DPR dari dapil Banten III dengan perolehan suara sebanyak 42.285.

Ia duduk di Komisi IX DPR-RI yang membidangi tenaga kerja dan transmigrasi, kependudukan, serta kesehatan.

Marinus Gea mulai aktif di dunia politik pada tahun 2003 ketika ia menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Partai Damai Kasih Bangsa (PDKB).
Pada tahun 2012 ia terlibat di organisasi sayap partai PDI-Perjuangan, Taruna Merah Putih, dan menjadi Ketua DPC Taruna Merah Putih Kota Tangerang.

Ia juga pernah menjadi salah seorang pengurus pusat dari organisasi buruh SPSI.

Pendidikan S1 dan S2-nya ia tempuh di Universitas Mercu Buana, Jakarta, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Akuntansi.

 

49. Markus Nari (Golkar)

Markus Nari, M.Si lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada tanggal 17 September 1963.

Ia merupakan anggota DPR dari Partai Golkar mewakili Dapil Sulawesi Selatan III dengan perolehan suara sebanyak 76.608.

Kini Markus Nari duduk di Komisi II DPR (pemerintahan, pemilu, sekretariat negara).

Ia pernah menjadi anggota dan ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.

Pendidikannya ia tempuh di Universitas Kristen Indonesia Paulus Makassar; Universitas Hasanuddin, Makassar; dan di Universitas Negeri Makassar.

 

50. Marsiaman Saragih (PDI-P)

Marsiaman Saragih, lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada 15 Maret1952.

Ia menjadi anggota DPR dari dapil Riau II dengan perolehan suara sebanyak 26.650.

Marsiaman dikenal sebagai Sekretaris Umum Presidium PMS (Partuha Maujana Simalungun), sebuah organisasi masyarakat Simalungun, Sumatera Utara.

Ia memulai minatnya di politik dengan aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sejak 1978, lalu bergabung dengan PDI Perjuangan sejak tahun 1999.

Ia pernah maju sebagai calon Bupati Simalungun, Sumatera Utara, namun tidak terpilih.

Pendidikannya ia tempuh di Program S1 Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta.

 

51. Martin Hutabarat (Gerindra)

Martin Hutabarat, S.H, lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada 26 November 1951.

Martin merupakan anggota DPR-RI dari dapil Sumatera Utara III dengan perolehan suara sebanyak 29,925.

Ia duduk di Komisi III yang membidangi Hukum dan HAM.

Selain itu, ia juga merupakan anggota Dewan Pembina Partai Gerindra.

Ia dikenal cukup kontroversial di kalangan DPR.

Martin menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta.

 

52. Maruarar Sirait (PDI-P)

Maruarar Sirait, yang akrab dipanggil Ara, lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 23 Desember 1969.

Ia maju dari dapil Jawa Barat IX dan memperoleh suara sebanyak 131,618.

Saat duduk di bangku kuliah, Ara mulai aktif berorganisasi dengan bergabung dalam Resimen Mahasiswa Universitas Katholik Parahyangan (Unpar) Bandung, dan aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Bandung.

Kemudian ia bergabung ke dalam partai politik, yakni Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P), sejak tahun 1999.

Ara sudah menjadi anggota DPR-RI sejak periode 2004-2009 hingga kini.

Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai salah satu Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI-P.

Ara adalah lulusan FISIP Universitas Katholik Parahyangan, Bandung, dan merupakan putra dari Sabam Sirait, politisi senior PDI-P.

 

53. Masinton Pasaribu (PDI-P)

Masinton Pasaribu, S.H, lahir di Sibolga, Sumatera Utara pada Pada 11 Februari 1971.

Masinton berhasil menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Daerah Pemilihan DKI Jakarta II. Ia memperoleh 30.989 suara.

Di DPR ia berada di Komisi III, yang membidangi Hukum, HAM, dan keamanan. Sebagai anggota DPR baru, ia begitu populer.

Masinton dikenal sebagai aktivis gerakan mahasiswa tahun 1998, FAMRED (Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi), dan aktivis buruh melalui FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia).

Setelah lulus kuliah, bersama dengan aktivis pergerakan pro demokrasi, seperti Budiman Sudjatmiko, Beathor Suryadi, dkk, Masinton meneruskan pergerakan dan perjuangannya melalui partai politik PDI-P dengan membentuk Relawan Perjuangan Demokrasi (REPDEM).

REPDEM akhirnya menjadi organisasi sayap dari PDI-P. Dan pada Kongres II REPDEM di Jakarta pada 2011 silam, Masinton Pasaribu terpilih menjadi Ketua Umum DPN REPDEM, periode 2011-2016.

Masinton meraih gelar Sarjana Hukum dari Sekolah Tinggi Hukum Indonesia, Jakarta.

 

54. Melchias Markus Mekeng (Golkar)

Melchias Marcus Mekeng lahir di Jakarta pada 8 Desember 1963.

Ia adalah anggota DPR-RI dari dapil Nusa Tenggara Timur I dan berhasil memperoleh suara sebanyak 73,120.

Mekeng duduk di Komisi XI yang membidangi keuangan, perencanaan pembangunan dan perbankan.

Dia sudah menjadi anggota DPR tiga periode, sejak 2004 hingga sekarang.

Ia pernah menjadi Anggota MPR RI Utusan Daerah Nusa Tenggara Timur dan Wakil Bendahara Umum Partai Golkar.

Pendidikannya ia tempuh di De La Sale University, Manila, Filipina.

 

55. Mercy Chriesty Barends (PDI-P)

Mercy Christy Barends, S.T, lahir di Ambon, Maluku, pada 25 Desember 1972.

Ia berhasil menjadi anggota DPR RI 2014-2019 setelah memperoleh 65.166 suara untuk daerah pemilihan Maluku.

Mercy duduk di Komisi VII yang membidangi energi sumber daya mineral dan lingkungan hidup.

Pendidikan S1-nya adalah Teknik Mesin Kapal, Universitas Pattimura, Ambon.

Mercy pernah memimpin Lembaga Partisipasi Pembangunan Masyarakat (LPPM)/Maluku (The Community Institute for Participation in Development/Maluku), LSM yang bergerak dalam hal pemulihan pasca konflik.

Mercy juga pernah menjadi wakil ketua DPRD Maluku.

 

56. Michael Watimena (Demokrat)

Michael Wattimena adalah Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Dapil Papua Barat dengan perolehan suara sebanyak 83,744.

Michael, yang lebih dikenal dengan panggilannya BMW (Bang Michael Wattimena), lahir di Itawaka, Maluku, pada 12 Januari 1969.

Ia adalah seorang wiraswastawan dan petinggi di organisasi sayap muda Partai Demokrat, Insan Muda Demokrat Indonesia (IMDI).

Pada periode 2009-2014, Michael bertugas di Komisi V DPR-RI yang membidangi perhubungan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, pedesaan dan kawasan tertinggal. Pada periode 2014-2019, Michael kembali bertugas di Komisi yang sama sebagai Wakil Ketua Komisi V.

Michael Wattimena sejak di bangku kuliah sudah aktif berorganisasi di organisasi kegerejaan Gereja Protestan Maluku (GPM), satu dari 25 Sinode Gereja Terbesar Di Indonesia.

Ia juga aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GKMI) dan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI). Michael menjabat Ketua GAKMI periode 2011-2014.

Ia menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Pattimura, Ambon, dan S2-nya di STIE IPWIJA, Jakarta.

 

57. Mindo Sianipar (PDI-P)

Mindo Sianipar lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, pada 24 Oktober 1953.

Mindo berhasil menjadi anggota DPR RI 2014-2019 setelah memperoleh 73.341 suara untuk daerah pemilihan Jawa Timur VIII.

Di DPR ia menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IV.

Mindo juga merupakan angota DPR pada periode 2009-2014.

Mindo memulai perjalanan organisasinya melalui Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI).

Ia pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Usaha Kecil dan Koperasi DPP PDIP, dan kini adalah Ketua Bidang Pertanian DPP PDIP.

Pendidikannya adalah S1 Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat.

 

58. Nurdin Tampubolon (Hanura)

Nurdin Tampubolon lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada 29 Desember 1954.

Nurdin adalah anggota DPR RI periode 2009-2014 dan 2014-1019, dari daerah pemilihan Sumatera Utara I dengan perolehan suara 49.859 (periode kedua).

Pada tahun 2009-2011 ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VI DPR RI yang membidangi Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM, serta BUMN. Kini masih aktif sebagai anggota Komisi XI DPR RI yang membidangi Keuangan, Pasar modal, dan Perbankan.

Dia juga menjabat sebagai Bendahara Fraksi Hanura DPR RI (2013-sekarang), Ketua Fraksi Partai Hanura DPR RI (2014-2019), serta Wakil Ketua Umum Partai Hanura (2015-2020).

Nurdin Tampubolon pernah menjabat sebagai anggota MPR mewakili Sumatera Utara, serta anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) mewakili Sumatera Utara (2004-2009).

Nurdin merupakan alumnus Sarjana Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (FT-USU), dan menerima gelar Doktor Kehormatan dari Amerika Serikat, tahun 1999.

 

59. Olly Dondokambey (PDI-P)

Olly Dondokambey, S.E. lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 18 November 1961.

Ia adalah anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Utara selama tiga periode (2004-2009; 2009-2014; 2014-2019).

Ia maju dari dapil Sulawesi Utara dan berhasil meraih 237.620 suara.

Sejak 2009, Ia dipercaya menjadi Bendahara Fraksi PDI Perjuangan. Kemudian dia menjabat sebagai Bendahara Umum DPP PDIP hingga dua periode (2010-2015; 2015-2020).

Di tingkat daerah, Olly terpilih menjadi Ketua DPD I PDIP Sulawesi Utara sejak tahun 2012, dan terpilih kembali untuk periode 2015-2020.

Ia kemudian mengundurkan diri dari DPR dan terpilih sebagai gubernur Sulawesi Utara. (Baca: 10 Gubernur Dan Wakil Gubernur Beragama Kristen Di Indonesia)

Pendidikannya ditempuh di Akademi Akuntansi Manado dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tri Dharma Widya, Jakarta.

 

60. Pius Lustrilanang (Gerindra)

Pius Lustrilanang lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 10 Oktober 1968.

Ia merupakan anggota DPR dari dapil Nusa Tenggara Timur I dengan perolehan suara 55,432.

Pius bertugas sebagai Wakil Komisi IX yang membidangi tenaga kerja, transmigrasi dan kesehatan.

Pius juga adalah anggota DPR periode 2009-2014.

Nama Pius sempat populer pada akhir tahun 90-an, ketika dia melapor ke Komnas HAM tentang penculikan dan penyekapan yang dialaminya selama 2 bulan, yang dilakukan oleh orang-orang tak dikenal.

Pius dikenal sebagai seorang aktivis, dan menempuh pendidikan di Universitas Katholik Parahyangan, Bandung dan Universitas Indonesia, Jakarta.

Jabatan lain yang dipegang oleh Pius adalah CEO dari PT Brigass Trilanang Security.

 

61. Ramson Siagian (Gerindra)

Ramson Siagian lahir di Simalungun, Sumatera Utara, pada 5 April 1957.

Ramson merupakan anggota DPR RI periode 2014-2019 dari dapil Jawa Tengah X dengan perolehan suara sebanyak 28,535.

Sebelumnya, periode 1999-2004 dan 2004-2009, ia merupakan anggota DPR RI dari partai PDI-P. Ia juga pernah menjadi salah satu Ketua DPP PDI-P.

Di DPR ia pernah menjadi Anggota Panitia Anggaran DPR RI, Wakil Ketua Fraksi PDI-P DPR RI Bidang Anggaran, Anggota Komisi IV (PU, Perhubungan), Anggota Komisi V (Perdagangan, UKM, BUMN), Anggota Komisi VIII (ESDM, Ristek, Lingkungan Hidup), dan anggota Komisi XI (Ekonomi, Keuangan, Perbankan).

Ramson punya banyak pengalaman berorganisasi, antara lain sebagai Ketua GMNI Cabang Jakarta (1979-1981), Pengurus Yayasan Soekarno (1980-1983), Pengurus PDI Pro Mega Jakarta (1997).

Sebelum terjun ke dunia politik dan menjadi salah satu wakil rakyat, ia merupakan seorang pengusaha.

Ramson menempuh pendidikannya di Universitas Jayabaya Jakarta serta Program Doktor Universitas Maryland, AS (kuliah jarak jauh).

 

62. Ribka Tjiptaning (PDI-P)

Ribka Tjiptaning (baca: Ciptaning) lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 1 Juli 1959.

Ribka mencalonkan diri dan terpilih sebagai legislator dari Dapil Jawa Barat IV (Kab. Sukabumi dan Kota Sukabumi) pada pemilihan legislatif tahun 2014 dengan perolehan suara sebanyak 43.393.

Ribka adalah Ketua Komisi IX DPR RI (membidangi masalah tenaga kerja dan transmigrasi, kependudukan, dan kesehatan) pada periode 2009-2014. Selain itu, ia juga merupakan anggota Badan Urusan Rumah Tangga DPR RI.

Ia terlahir dari keluarga ningrat Jawa yang kaya raya, namun orang tuanya tidak pernah pulang lagi ke rumah karena dituduh terlibat pemberontakan G-30S/PKI.

Stigma sebagai anak PKI melekat dalam diri Ribka, sehingga sempat menghalanginya untuk terlibat dalam dunia politik, hingga diskriminasi terhadap keluarga mantan PKI dicabut oleh mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur).

Ribka pernah digadang-gadang sebagai calon Menteri Kesehatan di Kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla, namun tidak terpilih.

Ribka merupakan alumnus Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta dan berprofesi sebagai dokter.

 

63. Robert Joppy Kardinal (Golkar)

Robert Joppy Kardinal lahir di Sorong, Papua Barat, pada 7 April 1960.

Robert Joppy Kardinal menjadi anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Papua Barat dengan perolehan suara sebanyak 65.690.

Ia juga adalah anggota DPR pada periode sebelumnya.

Robert mengawali perjalanan politiknya dengan aktif di organisasi Pemuda Pancasila sebagai Ketua bidang Pengerahan Massa, Ketua Harian DPW Pemuda Pancasila DKI Jakarta, Pengurus DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), dan Barisan Inti AMPG.

Pendidikan S1-nya ia tempuh di Universitas 17 Agustus 45, Jakarta.

 

64. Roberth Rouw (Gerindra)

Roberth Rouw lahir di Serui, Papua, pada 9 Juni 1961.

Ia berhasil menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Dapil Papua setelah memperoleh 128.598 suara.

Roberth pernah menjadi anggota Komite Eksekutif PSSI yang ditugaskan untuk menyelamatkan konflik internal di PSSI, KPSI dan ISL. Roberth ditugasi menjadi Ketua Komite Wasit PSSI.

Ia juga pernah menjadi tim sukses pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa pada pilpres 2014 silam.

Roberth Rouw memulai karier politiknya dengan aktif menjadi anggota di organisasi paramiliter pendukung Orde Baru, Pemuda Pancasila (PP).

Roberth adalah Ketua Majelis Pengurus Wilayah (MPW) PP DKI Jakarta. Ia juga menjabat menjadi Komisaris di sebuah perusahaan rekanan Dinas Pekerjaan Umum di Serui, Papua yaitu PT Sinar Purna Karya.

Roberth adalah adik kandung dari Bupati Kepulauan Yapen, Papua, Tonny Tesar.

 

65. Rooslynda Marpaung (Demokrat)

Rooslynda Marpaung lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 3 Agustus 1969.

Ia terpilih menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 mewakili Dapil Sumatera Utara II setelah memperoleh 54,940 suara.

Rooslynda bertugas di Komisi XI yang membidangi keuangan, perencanaan pembangunan dan perbankan.

Rooslynda adalah mantan anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara (2009-2014) mewakili Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN).

Pendidikannya adalah S1, Teknik, Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.

 

66. Rudianto Tjen (PDI-P)

Rudianto Tjen (baca: Cen) lahir di Sungailiat, Bangka-Belitung, pada 27 Mei 1958.

Ia merupakan anggota DPR dari dapil Bangka Belitung dan berhasil meraih 72.400 suara.

Ia duduk di Komisi IX yang membawahi kesehatan, transmigrasi, ketenagakerjaan, dan kependudukan.

Pada periode sebelumnya, ia juga merupakan anggota DPR di Komisi yang sama dengan sekarang.

Rudianto Tjen memulai karier di bidang politik dengan menjabat sebagai bendahara DPD PDIP Bangka Belitung. Ia kemudian menjadi wakil rakyat di DPRD Bangka pada tahun 1999-2004.

Pendidikannya ia tempuh di Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida), Jakarta.

 

67. Rufinus Hotmaulana Hutauruk (Hanura)

Rufinus Hotmaulana Hutauruk, SH, M.M, M.H, lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada 4 Juni 1954.

Ia adalah anggota DPR dari dapil Sumatera Utara II dengan perolehan suara sebanyak 26.438.

Ia dikenal sebagai seorang pengacara senior yang sering menangani kasus-kasus besar di Indonesia.

Ia mempunyai praktek hukum sendiri dengan nama Law Offices of Rufinus Hotmaulana & Partners.

Rufinus adalah Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hanura. Sebelumnya ia merupakan kader Partai Golkar.

Pendidikan yang ditempuhnya adalah: S1 Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta; S2 Magister Manajemen, Universitas Krisnadwipayana, Jakarta; S2 Hukum, Universitas Padjajaran, Bandung; S3 Hukum, Universitas Padjajaran, Bandung.

 

68. Ruhut Sitompul (Demokrat)

Ruhut Sitompul lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 24 Maret 1954.

Ruhut merupakan anggota DPR dari dapil Sumatera Utara I dengan perolehan suara sebanyak 34,685.

Ia pernah menjabat sebagai salah satu Ketua DPP Partai Demokrat. Sebelum masuk ke partai Demokrat, Ruhut merupakan politisi Partai Golkar.

Ruhut sangat populer sebagai politisi dan semakin populer berkat perannya sebagai tokoh Poltak yang mengaku sebagai Raja Minyak dari Tarutung di sinetron Gerhana, serta dalam beberapa sinetron lainnya.

Sebelum terjun ke dunia politik, ia dikenal sebagai seorang pengacara. Ia pernah menangani kasus-kasus yang kontroversial dan kurang populer di masyarakat. Di antaranya adalah menjadi pengacara Ketua Umum Partai Golkar saat itu, Akbar Tandjung, dan pengacara sejumlah yayasan milik mantan Presiden Soeharto.

Ketika pilpres 2014 silam, ia mendukung Jokowi-JK ketika partainya menyatakan netral. Bahkan ketika partainya mencalonkan Agus Harimurti Yodhoyono (putra SBY, ketua Umum partai Demokrat) sebagai calon gubernur DKI Jakarta, Ruhut malah mendukung pasangan Ahok-Djarot. Hal ini membuatnya terpaksa hengkang dari partai Demokrat dan mundur dari DPR.

Ruhut menyelesaikan pendidikan akademiknya di Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 1979.

 

69. Sahat Silaban (Nasdem)

Sahat Silaban lahir di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 19 Januari 1960.

Ia terpilih menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Dapil Sumatera Utara II setelah memperoleh 67.555 suara.

Ia duduk di Komisi V yang berkaitan dengan perhubungan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, pembangunan desa & kawasan tertinggal, meteorologi dan geofisika.

Sahat adalah pengusaha di industri kontraktor dan menjabat sebagai Direktur Utama PT Tobas Tegarindo dan aktif di asosiasi pengusaha konstruksi Indonesia (GAPEKSINDO).

Ia pernah terlibat di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, sebagai Ketua III Panitia Pemekaran kabupaten tersebut. Ia juga aktif di organisasi Paguyuban Silaban di Indonesia maupun di seluruh dunia.

 

70. Samsudin Siregar (Hanura)

Samsudin Siregar, S.H, lahir di Pematang Bandar, Sumatera Utara, pada 9 Februari 1969.

Ia berhasil menjadi anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Dapil Sumatera Utara III setelah memperoleh 34.030 suara.

Samsudin bertugas di Komisi VIII DPR-RI yang membidangi sosial, pemberdayaan perempuan, dan agama.

Samsudin adalah mantan Direktur Utama PT Sarinah Jaya dan Anggota DPRD Propinsi Sumatera Utara periode 2004-2009.

Samsudin memulai perjalanan politiknya dengan aktif berorganisasi di organisasi sayap muda Partai Golkar Pemuda Panca Marga (PPM). Samsudin menjabat Ketua PPM Simalungan periode 1998-2003, Wakil Ketua PPM Propinsi Sumatera Utara periode 2008-2012, dan Ketua Pimpinan Pusat PPM di Jakarta periode 2011-2016.

Samsudin kemudian bergabung di Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) menjadi Bendahara Umum. Tetapi PPRN gagal menjadi partai peserta Pemilu 2014. PPRN akhirnya memutuskan bergabung dengan Partai Hanura.

Ia meraih gelar S1 Hukum, di Universitas Darma Agung, Medan.

 

71. Suasana Dachi (Gerindra)

Suasana Dachi, S.H, lahir di Teluk Dalam, Nias, Sumatera Utara, pada 25 Januari 1967.

Ia terpilih menjadi anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Dapil Sumatera Utara II setelah memperoleh 82,496 suara. Suasana duduk di Komisi VIII.

Suasana adalah mantan anggota DPRD Provinsi Sumatera mewakili Partai Hanura. Ia adalah salah satu tokoh yang memperjuangkan pemekaran Kabupaten Nias Selatan.

Salah satu adik dari Suasana adalah Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Nias Selatan. Dan adik yang lainnya adalah Bupati Nias Selatan.

Suasana mengawali karier politiknya dengan bergabung menjadi kader dari organisasi sayap kepemudaan Partai Golkar, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Ia menjabat sebagai Wakil Ketua KNPI Sumatera Utara.

Pendidikannya adalah di program S1 Hukum, Universitas Dharma Andalas, Padang, Sumatera Barat.

 

72. Sukur Nababan (PDI-P)

Sukur Nababan, S.T, lahir pada 14 Oktober 1968 di Padang, Sumatera Barat.

Dia bergabung dengan partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan terpilih dari Daerah Pemilihan Jawa Barat VI dengan suara sebanyak 123,493.

Ia menduduki jabatan anggota komisi VI DPR-RI pada periode 2009-2014.

Ia terpilih kembali sebagai anggota DPR pada periode 2014-2019 dan duduk di Komisi V yang membidangi perumahan rakyat, pekerjaan umum dan transportasi.

Selain itu, ia juga merupakan salah satu Ketua DPP PDI-P.

Pada Oktober 2015, Sukur menjadi salah satu anggota dari Panitia Khusus (Pansus) Kasus Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II).

Sukur dikenal sebagai salah satu pakar bisnis dan motivator serta memiliki dan memimpin sebuah perusahaan MLM.

Sukur menyelesaikan studinya di Jurusan Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Generasi Muda, dan Universitas Amir Hamzah, semuanya di kota Medan.

 

73. Tony Wardoyo (PDI-P)

Tony Wardoyo lahir di Jakarta pada 13 November 1958.

Ia adalah Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk Dapil Papua dengan perolehan suara sebanyak 136. 642.

Pada periode 2004-2009 dan 2009-2014, Tony adalah Anggota DPR-RI tetapi dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tony pernah bertugas di tiga komisi berbeda, Komisi I, Komisi II dan Komisi III.

Tony memiliki sejumlah pengalaman organisasi antara lain, Ketua III Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jerman; Sekretaris I Forum Alumni Luar Negeri Indonesia; Anggota Dewan Pakar Ekonomi Perhimpunan Alumni Jerman2002-2007; dan Bendahara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Sejumlah pengalaman kerja ia miliki antara lain, Supervisor RufferGembH Berlin Jerman; Direktur PT Adira; dan Direktur Utama PT Leo Kencana Utama Jakarta.

Pendidikannya ia tempuh di Studiengemeinscharft Darmstadt dan di Johannes Gutenberg University, Mainz, keduanya di Jerman.

 

74. Trimedya Panjaitan (PDI-P)

Trimedya Panjaitan, S.H, M.H, lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 6 Juni 1966.

Trimedya adalah seorang anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dengan perolehan suara 101.415 mewakili Dapil Sumatera Utara II.

Ia berada di Komisi III DPR RI yang membidangi Hukum dan Perundang-undangan, Hak Asasi Manusia, serta Keamanan.

Sebelumnya, Trimedya juga pernah menjabat sebagai ketua Komisi III DPR RI.

Selain itu, ia juga menduduki posisi sebagai Ketua Bidang Hukum DPP PDIP 2010-2015 dan periode 2015-2020.

Trimedya sebelumnya merupakan seorang advokat.

Ia merupakan alumnus Fakultas Hukum Universitas Pancasila Jakarta.

 

75. Vanda Sarundajang (PDI-P)

Vanda Sarundajang lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 11 Agustus 1974.

Vasung, panggilan akrab Vanda Sarundajang, berhasil menjadi anggota DPR-RI periode 2014-2019 setelah memperoleh suara sebanyak 126.197 untuk Dapil Sulawesi Utara.

Vanda Sarundajang juga adalah anggota DPR RI pada periode sebelumnya, 2009-2014. Selama di DPR-RI, Vanda adalah anggota Komisi VI yang mengurusi bidang perdagangan, industri, investasi, koperasi dan BUMN.

Vanda Sarundajang adalah putri dari mantan Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Harry Sarundajang.

Vanda memulai perjalanan politiknya dengan aktif berorganisasi sebagai Wakil Bendahara Umum di Kerukunan Keluarga Kawanua; Bendahara dari Kerapatan Gereja Masehi Injil Minahasa (KGPM) dan Pemuda Panca Marga, serta Ketua Dewan Pimpinan Daerah Taruna Merah Putih (TMP) Sulut.

Pendidikannya ditempuhnya di Program S1, Sastra Inggris, Universitas Kristen Indonesia, Jakarta.

 

76. Verna Gladies Merry Inkiriwang (Demokrat)

Verna Gladies Merry Inkiriwang lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 27 November 1983.

Ia terpilih menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Partai Demokrat mewakili Dapil Sulawesi Tengah setelah memperoleh 74,983 suara. Ia juga merupakan anggota DPR di periode sebelumnya.

Sejak terpilih di 2009 sampai dengan sekarang, Verna duduk di Komisi IX yang membidangi tenaga kerja, transmigrasi, kependudukan dan kesehatan.

Verna adalah seorang dokter medis yang sempat praktek di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Malalayang, Manado. Namun ia lebih dikenal sebagai mantan Noni Manado dan Runner-up dari Miss Indonesia di 2007.

Verna, yang merupakan putri dari mantan Bupati Poso, Drs. Piet Inkiriwang, adalah siswi teladan ketika di bangku sekolah. Verna sempat menjabat sebagai Sekretaris dari OSIS dan terpilih sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) mewakili Sulawesi Utara.

Pendidikannya adalah S1 Kedokteran, di Universitas Sam Ratulangi, Manado.

 

77. Viktor Bungtilu Laiskodat (Nasdem)

Viktor Bungtilu Laiskodat lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 17 Februari 1965.

Ia adalah anggota DPR RI dari Partai NasDem dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II, dengan perolehan suara sebanyak 77.555.

Ia menjabat sebagai Ketua Bidang Pertanian dan Maritim DPP Partai NasDem (2013-2018) dan merupakan Ketua Fraksi Partai NasDem di DPR RI.

Sebelum di Partai Nasdem, ia pernah menjadi Anggota DPR RI dari Partai Golkar, pada periode 2004-2009.

Ia juga salah satu anggota Badan Pemenangan Pilpres Jokowi-JK (2014).

Viktor adalah alumnus Sekolah Tinggi Hukum Indonesia. Dan sebelum menjadi politisi, ia merupakan seorang pengacara/Konsultan Hukum, yang pernah menjadi Wakil Ketua Penasihat Himpunan Advokat Indonesia.

 

78. Wenny Warouw (Gerindra)

Brigadir Jendral Polisi (Purn) Drs. Wenny Warouw lahir di Tondano, Sulawesi Utara pada 13 Juni 1950.

Ia terpilih menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Partai Gerindra mewakili Dapil Sulawesi Utara setelah memperoleh 35,660 suara.

Wenny bertugas di Komisi III yang membidangi Hukum, Hak Asasi Manusia dan Keamanan.

Mengabdikan dirinya selama 34 tahun menjadi polisi, Wenny dikenal sebagai seorang investigator ulung dan sempat menjabat sebagai Direktur Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Polri dan menyelidiki kasus tindak pidana di bidang perbankan, pajak, asuransi, cyber crime, money laundering serta hak atas kekayaan intelektual.

Ia pernah mencalonkan diri pada Pilkada Gubernur Sulawesi Utara pada 2005 silam, namun tidak berhasil.

Pendidikan yang ditempuhnya adalah di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Kepolisian, Sukabumi & Magelang; S1, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta; Sekolah Staf dan Pimpinan (SESPIM) Polri; dan Sekolah Staf dan Komando (SESKO) ABRI, Bandung.

 

79. Wihadi Wiyanto (Gerindra)

Wihadi Wiyanto, S.H, lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, pada 25 Juli 1966.

Pada pileg 2014, ia terpilih menjadi anggota DPR-RI mewakili Dapil Jawa Timur IX, dengan perolehan 29.133 suara.

Wihadi bertugas di Komisi III yang membidangi Keamanan, Hak Asasi Manusia dan Hukum.

Wihadi Wiyanto sebelum bergabung di Partai Gerindra lebih dikenal sebagai pakar Hak Cipta dan pemain utama di industri VCD/DVD di Indonesia.

Wihadi bertahun-tahun aktif di industri perfilman dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Industri Rekaman Video Indonesia (ASIREVI). Saat ini Wihadi Wiyanto juga menjabat sebagai Direktur PT Duta Cinema Multimedia Jakarta.

Pendidikannya ia tempuh di S2, Hukum, Universitas Pelita Harapan, Jakarta.

 

80. Willem Wandik (Demokrat)

Willem Wandik, lahir di Tolikara, Papua, pada 17 Agustus 1975.

Ia terpilih menjadi anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Partai Demokrat mewakili Dapil Papua setelah memperoleh 178,682 suara.

Willem bertugas di Komisi V yang membidangi perhubungan, pekerjaan umum dan pembangunan pedesaan dan kawasan tertinggal.

Willem adalah aktivis Papua dan tokoh adat Tolikara.

Pada Pilkada 2013, Willem terpilih menjadi Bupati Puncak, Papua, untuk periode 2013-2018. Namun Willem mengundurkan diri setelah terpilih menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 pada Pileg 2014 yang lalu.

Sejak 16 April 2017, Willem menjadi anggota baru di Badan Legislasi setelah sebelumnya menempati kursi anggota Badan Musyawarah DPR-RI.

Pendidikannya ia tempuh di Program S1, Universitas Teknologi Surabaya, Jawa Timur.

 

81. Willy M. Yoseph (PDI-P)

Willy Midel Yoseph lahir di Murung Raya, Kalimantan Tengah, pada 1 Mei 1960.

Willy terpilih menjadi anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) mewakili Dapil Kalimantan Tengah setelah memperoleh 147,175 suara.

Pada masa kerja 2014-2019 Willy bertugas di Komisi II yang membidangi pemerintahan dalam negeri, aparatur dan reformasi birokrasi, kepemiluan dan otonomi daerah.

Willy adalah mantan Bupati Murung Raya, Kalimantan Tengah, selama dua periode (2003-2013).

Pada Pilkada Serentak 2015, Willy Yoseph mencalonkan diri menjadi Gubernur Kalimantan Tengah, tetapi gagal.

Pendidikannya ditempuh di S1 Teknik Kehutanan, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan; S2 Manajemen, Sekolah Tinggi Manajemen PPM, Jakarta; dan S3 Manajemen Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jakarta.

 

82. Yoseph Umarhadi (PDI-P)

Yoseph Umar Hadi, M.Si, M.A, lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 14 Maret 1958.

Yoseph adalah anggota DPR RI periode 2014-2019 dari dapil Jawa Barat VIII (Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kota Cirebon) dengan perolehan 66.181 suara.

Sebelumnya, pada periode 2004-2009 dan periode 2009-2014, ia juga merupakan anggota DPR RI.

Saat ini ia duduk sebagai anggota Komisi V yang membidangi urusan Perhubungan, Telekomunikasi, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Pembangunan Pedesaan dan Kawasan Tertinggal.

Dalam berorganisasi, ia berpengalaman sebagai Aktivis PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) dan anggota Senat Mahasiswa IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (sekarang Universitas Sanata Dharma).

Yoseph menempuh pendidikan di STF Driyarkasa Jakarta, IKIP Sanata Dharma Yogyakarta, dan Universias Satyagama, Jakarta.

 

Itulah 82 anggota DPR RI beragama Kristen dan Katolik.

 

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

 

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artikel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

 

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU.

 

4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!