Loading...
Loading...

82 Anggota DPR RI Beragama Kristen

Artikel ini membahas tentang 82 Anggota DPR RI beragama Kristen dan Katolik.

Anggota DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia) periode 2014-2019 dilantik dan resmi bekerja sebagai wakil rakyat setelah terpilih dari partai mereka masing-masing mewakili sejumlah Daerah Pemilihan (Dapil) yang ada di Indonesia.

Dari antara 560 anggota DPR RI tersebut, terdapat sejumlah anggota DPR RI beragama Kristen dan Katolik.

Baca juga: 82 Anggota DPR RI Periode 2019-2024 Beragama Kristen 

Jumlah anggota DPR RI beragama Kristen dan Katolik yang dilantik pada periode 2014-2019, ditambah mereka yang masuk pada pertengahan periode tersebut, atau disebut sebagai Anggota DPR Pergantian Antar Waktu (PAW), ada sebanyak 82 orang.

Jadi saat ini beberapa dari mereka sudah tidak menjabat lagi dengan berbagai alasan, misalnya karena terpilih dalam pemilihan kepala daerah atau pilkada (sebagai gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, atau walikota/wakil walikota).

Baca juga: 20 Pahlawan Indonesia Beragama Kristen Terpopuler

Kita perlu mengenal mereka lebih dekat sehingga kita bisa menilai kinerja mereka selama duduk di kursi parlemen, apakah mereka sudah berhasil memperjuangkan aspirasi masyarakat yang mereka wakili (bukan hanya masyarakat beragama Kristen/Katolik) atau belum.

Selain itu, tentu kita juga perlu mendoakan mereka, khususnya mereka yang masih bertugas hingga saat ini.

Baca juga: 7 Menteri Jokowi Beragama Kristen

Lalu, siapa sajakah 82 anggota DPR RI beragama Kristen dan Katolik pada periode 2014-2019? Berikut daftarnya, yang diurutkan secara abjad.

 

1. Adian Yunus Yusak Napitupulu (PDI-P)

Adian Yunus Yusak Napitupulu lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada tanggal 9 Januari 1971.

Dia maju dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat (Jabar V) dan berhasil mengumpulkan sebanyak 35,589 suara.

Sejak mahasiswa Adian aktif di berbagai organisasi, seperti di Senat Mahasiswa Fakultas Hukum UKI dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Adian merupakan pendiri ataupun pemimpin sejumlah organisasi, seperti Aliansi Pemuda Indonesia(API), Komunitas Mahasiswa Se-Jabotabek (Forum Kota /Forkot), Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98), Benteng Demokrasi Rakyat (BENDERA), dan Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI).

Ia kemudian terpilih sebagai anggota DPR dari PDI-P.

Adian merupakan lulusan Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, satu dari 20 Universitas Kristen Terbaik Di Indonesia.

 

2. Agustina Wilujeng Pramestuti (PDI-P)

Agustina Wilujeng Pramestuti, S.S, lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 11 Agustus 1971.

Ia menjadi anggota DPR RI setelah berhasil meraup suara di dapil Jateng IV sebesar 56,707 suara. Dia berada di Komisi IV yang membidangi Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Kelautan, Perikanan, dan Pangan.

Sebelumnya ia adalah anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dan anggota DPRD Kota Semarang.

Agustina menempuh pendidikannya di jurusan Sastra Inggris, Universitas Diponogoro, Semarang.

Organisasi yang pernah diikutinya antara lain adalah GMNI UNDIP Semarang dan Sekretaris dan wakil ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah.

 

3. Andreas Eddy Susetyo (PDI-P)

Andreas Eddy Susetyo, M.M, lahir di Malang, Jawa Timur, pada 22 Maret 1960.

Ia berhasil menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di Dapil Jawa Timur V (Malang Raya, Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu) setelah memperoleh 56.160 suara.

Ia berada di Komisi XI DPR, yang membidangi Keuangan, Perencanaan Pembangunan, dan Perbankan.

Ia menempuh pendidikan S1, Teknik Elektro, di Institut Teknologi Surabaya; S2, Manajemen, di Prasetiya Mulya, Jakarta; serta di Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat.

Sebelumnya ia bekerja di beberapa perusahaan besar, antara lain di beberapa bank ternama: BCA, Niaga dan Mandiri.

 

4. Andreas Hugo Pareira (PDI-P)

Andreas Hugo Pareira lahir di Flores, Nusa Tenggara Timur pada 31 Mei 1964.

Andreas merupakan anggota DPR dari PDI-P dan satu dari 25 Politisi Indonesia Terpopuler Beragama Kristen.

Ia berada di Komisi I, yang membidangi Pertahanan, Intelijen, Luar Negeri, dan Komunikasi dan Informatika.

Andreas aktif di PDI Perjuangan sejak tahun 1999. Sejak tahun 2011 ia menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Internasional dan Pertahanan DPP PDI-P.

Sebelum terjun ke dunia politik, Andreas Pareira merupakan seorang akademisi yang berprofesi sebagai dosen di FISIP Univesitas Katholik Parahyangan, Bandung.

Andreas meraih gelar Doktorandus (Drs) dari FISIP Universitas Katholik Parahyangan, Bandung, gelar Magister Sosiologi Politik dari Universitas Pasau, Jerman, serta gelar Doktor Politik Internasional dari Universitas Giessen, Jerman.

 

5. Anita Jacoba Gah (Demokrat)

Anita Jacoba Gah, S.E, lahir di Jakarta pada 9 Maret 1974.

Anita Jacoba Gah adalah anggota DPR dari Partai Demokrat mewakili Dapil Nusa Tenggara Timur II setelah berhasil memperoleh sebanyak 42.887 suara.

Anita Jacoba Gah menjadi Anggota DPR-RI Pergantian Antar Waktu (PAW) untuk periode 2014-2019. Anita menggantikan Jefirstson Riwu Kore yang mengundurkan diri karena maju sebagai Calon Walikota Kupang pada Pilkada Serentak 2017 (lihat poin 37 di bawah).

Anita sebelumnya sudah bertugas di DPR-RI selama 2 periode (2004-2009 dan 2009-2014) dan duduk di Komisi VIII dan Komisi X.

Pada masa kerja 2014-2019 Anita kembali bertugas di Komisi X yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, olahraga dan kepemudaan.

Pendidikan yang ditempuhnya adalah D3, Musik Gereja, di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, dan S1, Manajemen, di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nasional, Jakarta.

Anita aktif berorganisasi di komunitas seni suara dan kepemudaan gereja. Selain menjadi pengajar vokal di Sanggar Ananda, GPIB Effatha dan GPIB Gideon, Anita juga aktif menjadi Pengurus di Gerakan Pemuda GPIB Effatha dan juga Pemuda GMIT di Kota Kupang.

 

6. Anthon Sihombing (Golkar)

Anton Sihombing lahir di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 28 Februari 1952.

Anton duduk di Komisi IV DPR RI (bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, dan perikanan) setelah berhasil maraih 66.601 suara dari Dapil Sumatera Utara II.

Selain itu, ia juga merupakan anggota Badan Anggaran DPR. Sebelumnya ia duduk di Komisi III DPR (2002-2004).

Di Partai Golkar ia pernah menjadi koordinator lapangan (1971) dan jurkam (1998-2008). Kemudian, Wakil Ketum dan Ketum Depipus Baladhika Karya (1998-2000 dan 2002-2008) serta Wakil Sekjen Depinas SOKSI.

Anton merupakan politisi senior Golkar dan saat ini masih menjabat sebagai Ketua DPP Partai Golkar bidang kemaritiman.

Anton pernah menjadi Ketua Pengurus Pelaut Indonesia di Eropa yang berkedudukan di Hamburg, Jerman.

Dia menyelesaikan pendidikan S-1 di Akademi Ilmu Pelayaran, S-2 di Universitas Suropati, dan S-3 di Universitas Satyagama, semuanya di Jakarta.

 

7. Aria Bima (PDI-P)

Aria Bima lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 29 Mei 1965.

Ia adalah anggota DPR RI periode 2004-2009, periode 2009-2014, dan periode 2014 – 2019 dari PDI Perjuangan Daerah Pemilihan Jawa Tengah V yang meliputi Kota Surakarta (Solo), Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten.

Ia berhasil mengumpulkan 96,163 suara.

Aria Bima ditugaskan di Komisi VI (membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, koperasi, UKM, BUMN, dan Badan Standardisasi Nasional). Ia juga pernah menjadi Ketua Pansus Panja Gula DPR.

Aria Bima aktif di bidang organisasi sejak mahasiswa, antara lain menjadi Ketua Senat Fisipol UGM pada tahun 1987-1989, dan Sekretariat Komisariat GMNI Fisipol UGM.

Ia kemudian menjadi Bendahara DPC PDIP Kabupaten Bekasi pada tahun 1998-2001, juga menjadi Depercab DPC Kabupaten Bekasi dari tahun 2001-2004. Aria Bima juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPD PDIP Jawa Tengah.

Arya Bima merupakan lulusan Fisipol UGM Yogyakarta, Jurusan sosiologi.

 

8. Aryo P.S. Djojohadikusumo (Gerindra)

Aryo Djojohadikusumo lahir di Jakrata pada 25 April 1983.

Ia menjadi anggota DPR dari dapil Jakarta III setelah berhasil meraih 53. 268 suara.

Ia duduk di Komisi VII DPR (membidangi Energi Sumber Daya Mineral, Riset & Teknologi, Lingkungan Hidup).

Aryo merupakan putra dari Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo, dan juga keponakan dari Calon Presiden Indonesia di Pemilu 2014, Prabowo Subianto.

Aryo aktif di Gerindra sejak 2010, dengan mendirikan organisasi sayap Partai Gerindra, Tunas Indonesia Raya (TIDAR) dan sampai sekarang masih menjadi Ketua Umum.

Sejak tahun 2010, Aryo resmi menjadi kader partai Gerindra dan sekarang menjabat sebagai Wakil Sekretariat Jendral Partai tersebut.

Aryo menempuh pendidikan S1 di University of Durham, Inggris; S2 di Southeast Asian Studies, University of London School of Oriental and African Studies, Inggris; dan Executive Program di Tsinghua School of Economics & Management, Beijing, China.

 

9. Asdy Narang (PDI-P)

Asdy Narang, S.H, M.Comm, lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 19 Maret 1976.

Ia menjadi anggota DPR-RI periode 2014-2019 untuk Dapil Kalimantan Tengah dengan perolehan suara 64,560.

Di DPR ia berada di Komisi X (Pendidikan, Kebudayaan, Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, Olahraga, Perpustakaan).

Sebelumnya ia juga menjabat sebagai anggota DPR-RI periode 2009-2014 untuk daerah pemilihan yang sama dan bertugas di Komisi III yang membidangi hukum, HAM dan keamanan.

Asdy adalah keponakan dari mantan Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, yang juga mantan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan.

Asdy adalah seorang pengusaha sukses dan menjabat sebagai Direktur Utama di PT. Kharisma Duta Mining (pertambangan) dan Komisaris PT. Sistech Media Softindo (ISP provider di Kalimantan Tengah).

Asdy menempuh pendidikan S1 Hukum di Universitas Trisakti, Jakarta; dan S2 Master of Commercial Law, di Deakin University, Australia.
Ia juga menjabat sebagai Ketua DPD Taruna Merah Putih Provinsi Kalimantan Tengah sejak 2009 – sekarang.

 

10. Bara Hasibuan (PAN)

Bara Krishna Hasibuan adalah politisi senior dari Partai Amanat Nasional (PAN) mewakili Dapil Sulawesi Utara. Bara adalah salah satu pendiri PAN dan menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN Bidang Hubungan Internasional (2010-sekarang).

Bara dilantik menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 pada 10 Januari 2017 sebagai Pergantian Antar Waktu (PAW) menggantikan Yasti Soepredjo Mokoagow yang mengundurkan diri karena mencalonkan diri sebagai Bupati Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, pada Pilkada Serentak 2017 silam.

Pada masa kerja 2014-2019, Bara bertugas di Komisi VII yang membidangi Energi Sumber Daya Mineral, Riset & Teknologi, Lingkungan Hidup.

Pendidikan yang ditempuhnya adalah: S1 dan S2 Political Science, Boston University, Amerika Serikat; dan S2 Public Administration, Harvard Kennedy School of Government, Boston, Amerika Serikat.

Bara adalah putra dari advokat senior, mantan Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden, dan mantan Pemimpin Umum Harian Suara Pembaruan, Dr. Albert Hasibuan.

 

11. Benny Kabur Harman (Demokrat)

Benny Kabur Harman, S.H. lahir di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 19 September 1962.

Benny merupakan anggota Fraksi Partai Demokrat dan duduk di Komisi II DPR RI. Ia juga pernah menjadi Ketua Komisi III DPR RI.

Ia maju dari Dapil Nusa Tenggara Timur I dan berhasil meraup suara sebanyak 53,701.

Ia mendapatkan gelar Sarjana Hukum dari Universitas Brawijaya Malang. Sedangkan Magister Hukum dan Doktor Hukum diraihnya dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta.

Ia tercatat sebagai pendiri sekaligus Direktur Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) mulai tahun 1995 hingga 1998. Ia juga mendirikan Center for Information and Economic-Law Studies (CINLES) dan juga berposisi sebagai direktur eksekutif.

Sebelum terjun ke dunia politik, Benny K. Harman seorang advokat, yang antara lain bekerja sebagai Staf Non Litigasi pada kantor YLBHI Jakarta, Pendiri Pusat Studi Lingkungan Indonesia (1989-1992), dan Kepala Divisi Kajian Strategi YLBHI Jakarta (1992-1995).

Ia juga pernah menjadi Wartawan bidang hukum dan politik Harian Media Indonesia (1989-1996), serta Kepala Litbang Harian Media Indonesia (1996-1998).

Ia juga sempat berpasangan dengan Alfred M Kase untuk maju sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2008, tapi gagal.

 

12. Charles Honoris (PDI-P)

Charles Honoris lahir di Jakarta pada 23 Juli 1984.

Ia adalah anggota DPR RI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Dapil DKI Jakarta III (Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu).

Charles Honoris memperoleh suara terbanyak di Dapil DKI III dengan 96.842 suara mengalahkan seniornya Effendi Simbolon dan Ketua DPR RI Marzuki Alie (dari Partai Demokrat).

Charles ditugaskan di Komisi I DPR RI yang membidangi Pertahanan, Luar Negeri, Intelijen dan Komunikasi Informatika.

Ia merupakan kader muda PDI-P yang sejak tahun 2012 menjadi Ketua DPD Taruna Merah Putih DKI Jakarta, organisasi sayap kepemudaan PDI Perjuangan.

Charles mengenyam pendidikan ilmu politik di International Christian University Tokyo, Jepang.

Ia adalah putra dari Luntungan Honoris, seorang pengusaha nasional, Luntungan Honoris (presiden komisaris PT. Modernland Realty Tbk).

 

13. Charles Jones Mesang (Golkar)

Charles Jonas Mesang lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 3 Januari 1952.

Charles telah menjadi anggota DPR RI selama empat periode berturut-turut, sejak tahun 1997 hingga terpilih kembali tahun 2014.

Pada pemilihan umum 2014, Charles Mesang maju untuk daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II dan berhasil mendapat suara sebanyak 54,514.

Pada periode 2014-2019 Charles bertugas di Komisi IX yang membidangi kesehatan, transmigrasi, tenaga kerja dan kependudukan. Kemudian pada April 2015, Charles bertugas di Komisi II yang membidangi kepemiluan, aparatur dan reformasi birokrasi dan pemerintahan dalam negeri.

Ia menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Indonesia Jakarta.

Pengalaman organisasinya adalah sebagai anggota DPP Organisasi masyarakat Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) dan Ketua Departemen Kesra DPD Tk II pada Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).

 

14. Daniel Lumban Tobing (PDI-P)

Daniel Lumban Tobing lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 14 Desember 1967.

Pada saat pemilu, ia berhasil meraih 48, 648 suara, namun tak bisa mengantarkannya ke gedung parlemen.

Akan tetapi, ia akhirnya dilantik menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mewakili Dapil Jawa Barat VII menggantikan Tono Bahtiar, yang meninggal dunia dengan tiba-tiba.

Ia duduk di Komisi IX (Tenaga Kerja & Transmigrasi, Kependudukan, Kesehatan).

Daniel juga merupakan anggota DPR-RI periode 2009-2014 dan duduk di Komisi IV (pertanian, perkebunan dan pangan) dan di Komisi VI (koperasi, perdagangan, perindustrian, BUMN).

Daniel adalah Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Jawa Barat.

Pendidikan S1-nya ia tempuh di University of Kyoto, Jepang.

 

15. Darmadi Durianto (PDI-P)

Darmadi Durianto, yang berasal dari etnis Tionghoa, lahir di Mempawah, Kalimantan Barat, pada 25 Juni 1967.

Pada Pileg tahun 2014 Darmadi Durianto terpilih sebagai anggota DPR RI dari Dapil Jakarta III dengan perolehan 52.861 suara. Saat ini ia bertugas di Komisi VI DPR RI yang membidangi urusan BUMN, Perdagangan, Perindustrian dan UKM koperasi.

Darmadi meraih gelar sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya, Jakarta dan gelar MBA dari University of Manila, Filipina pada.

Ia aktif sebagai pengajar di Program Magister Manajemen IBII Jakarta serta Unika Atma Jaya, Jakarta. Juga sering menjadi nara sumber di radio dan menulis di majalah bisnis, serta memberikan seminar dan pelatihan tentang marketing di berbagai daerah.

Karier organisasinya antara lain: Wakil Ketua Badan Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan DPP PDI Perjuangan, Ketua Departemen Hubungan Internasional DPP PDI-Perjuangan, Dewan Pakar Megawati Institute, dan Dewan Pembina Perkumpulan Peduli Rakyat Kalimantan.

 

16. Djenri Alting Keintjem (PDI-P)

Djenri Alting Keintjem, SH, MH dilantik pada 15 Desember 2015 menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 dalam Pergantian Antar Waktu (PAW).

Djenri menggantikan Olly Dondokambey yang mengundurkan diri untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Sulawesi Utara pada Pilkada Serentak 2015 (lihat poin 59 di bawah).

Djenri maju dari Dapil Sulawesi Utara dan kini duduk di Komisi XI yang membidangi keuangan, perbankan dan perencanaan pembangunan.

Sebelum menjadi legislator di DPRD, DJenri adalah mantan dosen hukum di Universitas Sam Ratulangi, Manado, dan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara sejak 1999 hingga 2014.

Djenri adalah Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Sulawesi Utara (2010-2015).

Pendidikannya ia tempuh di program S1 dan S2 Hukum, di Universitas Sam Ratulangi, Manado.

 

17. Edison Betaubun (Golkar)

Edison Betaubun lahir di Ohoiel, Maluku, pada 5 Oktober 1957.

Edison terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019 dari dapil Maluku dengan perolehan 58.765 suara. Ia duduk di Komisi XI yang membidangi Keuangan, Perencanaan Pembangunan, dan Perbankan.

Ia juga merupakan anggota DPR periode 2009-2014, yang berada di komisi III (Hukum) sebelum pindah ke Komisi XI (Keuangan, Anggaran, Moneter).

Pendidikan yang ditempuhnya adalah: S1, Universitas Pattimura, Ambon, Maluku, dan S2, Universitas Indonesia, Jakarta.
Karier politiknya antara lain adalah Ketua Angkatan Muda Partai Golkar dan Wakil Ketua DPD Golkar Maluku.

 

18. Effendi M.S. Simbolon (PDI-P)

Effendi Muara Sakti Simbolon lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 1 Desember 1964.

Ia merupakan anggota DPR RI dari Dapil Jakarta III yang berhasil meraup suara sebanyak 89.028.

Effendi ditunjuk sebagai wakil ketua Komisi VII yang fokus pada bidang Energi Sumber Daya Mineral, Riset, Teknologi dan Lingkungan Hidup.

Ia juga menjadi anggota DPR di periode 2004-2009 dan 2009-2014.

Effendi pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI-P Bidang Sumber Daya dan Dana PDIP, dan sempat diusung sebagai bakal calon Sekretaris Jenderal PDIP untuk periode tahun 2010 hingga 2015.

Dia juga sempat ikut bertarung dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara periode 2013-2018, namun tidak berhasil.

Effendi menyelesaikan studi S-1 Ekonomi di Universitas Jayabaya, Jakarta, S-2 dan S-3 Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran, Bandung. Pendidikan non-formal pernah dia tempuh di Universitas Charleston, Amerika Serikat.

Sebelum menjadi anggota DPR ia bekerja di beberapa perusahaan swasta.

 

19. Effendy Sianipar (PDI-P)

Effendy Sianipar lahir di Tarutung, Sumatera Utara, pada 8 Juni 1957.

Ia terpilih menjadi anggota DPR RI dari Dapil Riau I dengan perolehan suara sebanyak 69.425.

Ia duduk di Komisi IV yang membidangi Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Kelautan, Perikanan, dan Pangan.

Pendidikannya ia tempuh di ATN/STTN Jakarta Jurusan Teknik Sipil, dan di Universitas Darma Agung Medan, Sumatera Utara, Jurusan Teknik Sipil.

Karier organisasi dan Politik Effendy antara lain: Ketua Badan Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan DPP PDI Perjuangan, Sekjen DPN Aspanji, Wakil Ketua LPJK DKI Jakarta, Ketua Umum BPD Gapensi DKI Jakarta, Dewan Pertimbangan Kamar Dagang Dan Industri (Kadin) DKI Jakarta, Ketua PA PD Alumni GMNI DKI Jakarta.

 

20. Eko Wijaya (Demokrat)

Eko Wijaya Parsito lahir di Pangkalpinang, Bangka-Belitung, pada 20 November 1980.

Pada pileg 2014, ia terpilih menjadi anggota DPR-RI periode 2014-2019 dari Dapil Bangka-Belitung, dengan perolehan 35.570 suara.

Ia bertugas di Komisi VII yang membidangi energi, sumber daya mineral, lingkungan hidup, riset & teknologi.

Pendidikannya ia tempuh di program S1, University of Technology Sydney, Australia.

Sebelum terpilih menjadi anggota DPR periode 2014-2019, Eko adalah Ketua DPD Demokrat Provinsi Bangka-Belitung, menjadikannya sebagai ketua DPD Demokrat termuda se-Indonesia.

Loading...
4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!