Ahab dan Izebel, Ferdy dan Putri: pasangan suami-istri pembunuh

Ditetapkannya Putri Candrawathi, istri Ferdy Sambo, sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan terhadap Brigadir Yosua, mendapat respons yang positif dari masyarakat Indonesia. Betapa tidak, sudah hampir 1,5 bulan berlalu sejak pembunuhan Brigadir Yosua, namun baru sekarang Putri dijadikan sebagai tersangka. Sementara para tersangka lainnya, yang merupakan ajudan  Ferdy Sambo, begitu cepat jadi tersangka, padahal Putri adalah tuan rumah, tempat di mana jenazah Brigadir Yosua ditemukan.

Namun, meski agak terlambat, status Putri Candrawathi yang berubah menjadi tersangka pembunuhan terhadap Brigadir Yosua, tetap saja berita baik bagi masyarakat. Apalagi Putri dikenakan pasal pembunuhan berencana, sama halnya dengan empat tersangka lainnya yang sudah lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka, termasuk suami Putri, Ferdy Sambo. Masyarakat seperti merasa puas mendengar berita tersebut.

Putri yang menjadi tersangka pembunuhan, bahkan pembunuhan berencana terhadap bawahannya sendiri, tentu sangat memprihatinkan. Apalagi hal itu dilakukannya bersama suaminya.

Memang, perempuan yang melakukan pembunuhan seperti Putri juga banyak, bahkan pembunuhan yang dilakukan bersama pasangan. Tetapi yang membuat kasus Putri ini lebih ironis adalah karena ia dan suaminya merupakan pejabat negara di bidang penegakan hukum, yang seharusnya memberi teladan kepada masyarakat. Terlebih lagi karena mereka melakukan pembunuhan itu kepada ajudan sendiri yang notabene adalah orang yang seharusnya mereka lindungi dan ayomi.

Meski demikian, ada juga kasus yang persis sama dengan kasus Putri ini: pembunuhan berencana yang dilakukan pasangan suami-istri pejabat negara terhadap orang lain yang seharusnya mereka lindungi dan ayomi. 

Mereka adalah Izebel dan suaminya, Ahab, raja dan ratu Israel Utara pada zaman Alkitab. Izebel dan suaminya, Ahab, membunuh Nabot (yang merupakan rakyat mereka sendiri) secara licik karena menginginkan kebunnya. Pembunuhan ini terjadi karena dorongan Izebel.

Alkisah, raja Ahab sangat menginginkan kebun anggur Nabot, yang berdekatan dengan istana Ahab. Ahab ingin membelinya atau menukarnya dengan kebun lain. Tetapi Nabot tidak mau memberikannya kepada Ahab, sebab itu adalah milik pusaka nenek moyangnya.

Hal ini membuat Ahab sangat jengkel. Ketika Ahab menceritakan hal itu kepada istrinya, Izebel, maka istrinya menyusun siasat busuk untuk membunuh Nabot dan mengambil kebun miliknya.

Izebel memerintahkan para tua-tua di Yizreel, di kotanya Nabot, untuk mengadili Nabot. Mereka disuruhnya menyediakan dua saksi palsu melawan Nabot dengan tuduhan sebagai orang yang mengutuki Allah dan raja, lalu mereka harus melemparinya hingga mati.

Para tua-tua di kota Nabot menuruti perintah istri raja yang jahat tersebut. Setelah Nabot tewas, Ahab pun mengambil kebun anggur Nabot menjadi miliknya.

Tetapi hal ini membuat Tuhan marah kepada Ahab dan Izebel. Akibat pembunuhan Nabot ini, dan akibat dosa-dosa mereka yang lain, Ahab dan keluarganya mendapat hukuman yang sangat mengerikan, yang disampaikan oleh nabi Elia. Tuhan memunahkan keluarga Ahab melalui Yehu, yang kemudian menjadi raja Israel Utara.

Bagaimana pun pembunuhan adalah kejahatan yang sangat keji, karena telah merenggut nyawa orang lain yang Tuhan berikan. Tidak ada satu manusia pun di bumi ini yang berhak mengambil hidup orang lain selain Tuhan, Sang Pemberi hidup.

Karena itu, para pembunuh sudah seharusnya mendapat hukuman yang sangat berat, setimpal dengan perbuatan mereka. Semoga Putri dan suaminya pun demikian, dihukum seberat-beratnya, seperti ratu Izebel dan suaminya, raja Ahab.

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!