Duduk Dekat Kaki Yesus

Duduk Dekat Kaki Yesus

Bacaan: Lukas 10:38-42

“Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya.”

(Lukas 10:39)

 

Ketika Dr. John G. Mitchell menggembalakan sebuah gereja di Grand Rapids, Michigan, ia menerima berita dari salah seorang pemuda di gerejanya, yang hendak meninggalkan Amerika Serikat untuk menjadi utusan gerejawi di Cina.

Sebelum keberangkatan pemuda ini dengan kapal laut, ia mengirim telegram kepada pendeta Mitchell dari San Fransisco, meminta gembalanya untuk memberikan kepadanya kata-kata nasihat terakhir, sebelum ia berlayar menuju ladang misi.

Segera pendeta Mitchell menelegram kembali kepadanya, “Duduklah dekat kaki Yesus, kemudian beritahukan kepada orang-orang Cina apa yang kau lihat.”

Ketika Tuhan Yesus pergi ke sebuah rumah di Betania, Ia disambut oleh dua orang perempuan kakak beradik, Marta dan Maria.

Marta adalah seorang yang sibuk. Ia melayani Yesus dengan baik. Namun sayang, kesibukannya dalam melayani di dapur membuatnya kehilangan kesempatan berharga untuk berbicara secara pribadi dengan Yesus.

Berbeda dengan Marta, Maria duduk di dekat kaki Tuhan Yesus dan terus mendengar perkataanNya. Hal ini membuat Marta merasa terganggu. Ia meminta Tuhan Yesus menyuruh saudaranya itu membantunya di dapur.

Namun Marta justru mendapat teguran dari Tuhan Yesus.

Apa yang membuat Marta ditegur? Apakah semata-mata karena kesibukannya melayani? Tidak. Melayani Yesus adalah baik.

Namun yang membuat Marta ditegur Yesus adalah karena ia lebih mementingkan pelayanannya ketimbang bersekutu secara pribadi dengan Tuhan. Padahal itulah yang terpenting, dan itu telah dipilih oleh Maria.

Jika hari-hari ini kita terlalu sibuk melayani, dalam berbagai bentuknya, hati-hatilah agar itu tidak sampai merusak hubungan pribadi kita dengan Tuhan Yesus.

Tuhan senang jika kita melayani, namun Ia lebih senang lagi jika kita duduk di dekat kakiNya.

Jangan sampai kita terlalu sibuk melayani namun lupa untuk duduk dekat kakiNya, berbicara denganNya dalam doa pribadi kita serta mendengar Ia berbicara kepada kita lewat firmanNya. Tanpa itu maka pelayanan kita akan terasa hambar.

Sebuah pelayanan yang menjadi berkat bagi orang lain adalah pelayanan yang timbul dari persekutuan yang intim dengan Tuhan Yesus.

 

(Catatan: renungan ini merupakan tulisan saya yang sebelumnya sudah pernah dimuat di renungan harian Manna Sorgawi).

Jika artikel ini memberkati Anda, jangan lupa untuk membagikannya kepada rekan-rekan jejaring sosial Anda (facebook, twitter, google plus, whatsapp, dll) melalui tombol share yang tersedia pada artikel ini.

Anda juga dapat memberikan tanggapan, komentar, saran atau pertanyaan seputar artiklel ini pada kolom komentar yang tersedia di bawah. Tetapi semua komentar harus dimoderasi terlebih dahulu, dan hanya komentar yang memenuhi syarat yang akan dipublikasikan.

Silakan juga bergabung dengan Fans Page Facebook Rubrik Kristen dengan cara mengklik “Like” atau “Sukai” pada Fans Page Facebook Rubrik Kristen di situs ini, sehingga Anda selalu mendapat info artikel-artikel terbaru dari situs ini. Terima kasih. GBU

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!