Ferdy Sambo: antara iba dan marah

Acara rekonstruksi kasus pembunuhan Brigadir Yosua yang dilangsungkan kemarin berjalan dengan baik. Masyarakat sangat antusias dalam mengikuti acara tersebut, baik secara langsung di tempat, lewat televisi, maupun lewat media online, termasuk media sosial. Hal ini terbukti dari komentar-komentar mereka di media sosial maupun di kolom komentar media-media online.

Media mewawancarai para nara sumber yang relevan, seperti pihak kepolisian, pihak pengacara para tersangka dan pengacara keluarga korban, Komnas HAM, Kompolnas, dan LPSK. Terutama para pengamat, yang sibuk mengomentari rekonstruksi yang sedang berlangsung. Akibatnya, rekonstruksi tersebut semakin mendapat perhatian luas dari masyarakat.

Ada pemandangan yang menyedihkan dalam acara rekonstruksi kasus pembunuhan Brigadir Yosua yang dihadiri Komnas HAM, Kompolnas, dan LPSK tersebut. Tersangka utama dalam kasus pembunuhan Brigadir Yosua, Ferdy Sambo, tampil memakai baju khas tahanan berwarna oranye dengan tangan yang terikat. Ini adalah penampilan perdana Ferdy di hadapan publik usai ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Penampilan istri Ferdy, Putri Candrawati, jauh lebih baik. Putri masih terlihat “natural,” memakai pakaian serba putih, juga sepatu putih, dan tas cantik berbandrol – menurut media – 17 juta-an. Putri tidak mengenakan baju tahanan, juga tidak diikat tangannya, sekalipun ada tulisan nama dan statusnya sebagai tersangka yang dikalungkan di lehernya.

Memang, sudah sewajarnya Ferdy memakai baju tahanan dengan tangan yang terikat, sebagaimana umumnya para tersangka dalam kasus kriminal, khususnya pembunuhan. Itu juga dialami oleh para tersangka lainnya dalam kasus pembunuhan Brigadir Yosua, kecuali Putri, seperti yang telah disebut di atas.

Tetapi masalahnya adalah Ferdy merupakan jenderal bintang dua yang – sebelum dipecat – mempunyai segala kelebihan dan fasilitas yang dimiliki. Ia punya jabatan dan pangkat, yang melekat dalam baju dinasnya, para ajudan yang siap mengawal, rumah dan mobil mewah, protokoler, dan segala harta yang dimilikinya. Tetapi kini ia harus meninggalkan itu semua dan mendekam di tahanan, sambil menanti vonis hakim: 20 tahun penjara, penjara seumur hidup, atau hukuman mati.

Dengan penampilannya yang memprihatinkan saat rekonstruksi itu, serta statusnya sebagai tersangka pembunuhan, banyak warganet yang sempat merasa sedih melihat Ferdy, bahkan tidak sedikit juga yang merasa iba. Tetapi bila mengingat perbuatannya yang begitu sadis dalam menghilangkan nyawa orang lain, Brigadir Yosua, mereka berbalik menjadi marah.

Ferdy, tanpa seragam dinas, tanpa pangkat dan jabatan, serta tanpa pengawalan para ajudan, tidak ada bedanya dari rakyat biasa yang paling sederhana. Bahkan dengan pakaian “kebesaran” para tahanan berwarna oranye yang dikenakannya serta tangan yang terikat, membuatnya terlihat begitu hina dalam tontonan masyarakat. Apalagi Ferdy seorang yang lama berkarier di bagian reserse Polri. Ferdy yang biasanya menindak para penjahat, sekarang harus berganti peran sebagai penjahat itu sendiri!

Hal ini sangat kontras dengan keberadaannya sebelum tersangkut kasus pembunuhan Brigadir Yosua. Hanya dalam satu bulan, Ferdy telah berubah dari seorang jenderal yang begitu terhormat dan hidup dalam kemewahan, menjadi seorang terdakwa pembunuhan berencana, yang terancam menua di penjara, atau menghabiskan hidup di penjara, bahkan menghadapi hukuman mati.

Tetapi begitulah hidup. Hidup berjalan sesuai skenario yang menjalani hidup. Ferdy telah membuat skenario untuk hidup yang akan dijalaninya. Karena kemarahan yang tidak terbendung, dia harus menanggung resiko seumur hidup. Memang, banyak orang yang menyayangkan hal ini. Seorang jenderal bintang dua tidak bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Tetapi itulah keputusan yang telah diambil Ferdy.

Ini bukan takdir ilahi, tetapi pilihan bebas seorang anak manusia. Karena hidup adalah pilihan. Pilihan dan keputusan yang kita buat saat ini, itulah yang kelak akan kita jalani, baik atau pun buruk. Sebagaimana yang kita alami saat ini merupakan pilihan bebas kita di masa lalu.

Dunia bukanlah panggung sandiwara yang skenarionya telah ditulis oleh Sang Pencipta. Ini adalah panggung sandiwara yang skenarionya ditulis oleh kita manusia. Mau seperti apa kita kelak, itu tergantung pada kita sendiri.

 

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

 

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!