Ferdy Sambo, Raja Daud di Alkitab, dan pembunuhan berencana terhadap bawahan

Oleh: Haris JO

Kasus pembunuhan Irjen Ferdy Sambo atas ajudannya, Brigadir J alias Nopriansyah Yosua Hutabarat sangat menghebohkan dalam satu bulan terakhir ini serta mendapat perhatian luas dari masyarakat Indonesia. Media-media secara masif memberitakan kasus ini setiap hari, bahkan media-media dari luar negeri. 

Terlebih lagi setelah sang jenderal, mantan Kadiv Propam Polri, akhirnya mengakui bahwa dia sendirilah pelaku pembunuhan tersebut setelah para saksi buka suara. Sebelumnya Ferdy Sambo mengaku bahwa Brigadir J tewas baku tembak dengan Brigadir E di rumah dinasnya di Jakarta Selatan, setelah Brigadir J melecehkan istrinya, PC, ketika ia sedang tidak di rumah. Belakangan diketahui bahwa alibi tersebut adalah bohong.

Ferdy Sambo membunuh Brigadir J melalui tangan ajudannya yang lain, Brigadir E, sekalipun mungkin sang jenderal sendiri pun ikut menembak Brigadir J, sebagaimana kesaksian Brigadir E. Pembunuhan ini telah direncanakan sang jenderal sebelumnya, sehingga masuk kategori pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman 20 tahun, hukuman seumur hidup, hingga hukuman maksimal, yakni hukuman mati.

Kasus ini menjadi menarik karena pelakunya adalah seorang jenderal polisi bintang dua dan dilakukan terhadap ajudannya sendiri, yang notabene berada dalam tanggung jawabnya. Kasus ini semakin menarik karena sejak awal Irjen Ferdy Sambo telah mengatur sebuah skenario yang menyesatkan untuk melepaskannya dari jerat hukum, hingga akhirnya terbongkar bahwa pelakunya adalah sang jenderal sendiri. 

Hingga saat ini motif pembunuhan itu memang belum dapat dipastikan, karena sang jenderal hanya mengaku bahwa motifnya adalah karena ingin menjaga martabat keluarga, yang arti konkretnya belum jelas, tetapi sepertinya masih menyangkut pelecehan. Di sisi lain, mayoritas masyarakat tidak mempercayai motif tersebut, mengingat sejak awal kasus ini telah direkayasa.

Namun demikian, terlepas dari itu, kasus pembunuhan seorang atasan atau seorang pimpinan terhadap bawahan adalah hal yang sangat menarik. Sebab seorang pemimpin sudah seharusnya bertanggung jawab untuk melindungi dan mengayomi bawahannya, bukan malah menghancurkannya.

Kasus pembunuhan Brigadir J ini mengingatkan kita pada sebuah kisah Alkitab, yakni pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Raja Daud terhadap prajuritnya sendiri, Uria. Ada sejumlah contoh pembunuhan berencana yang dicatat di Alkitab Perjanjian Lama. Tetapi yang paling menarik adalah kisah pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Daud, raja Israel, terhadap prajuritnya bernama Uria.

Alkisah, Raja Daud, setelah mapan menjadi raja Israel, sedang berjalan-jalan di atas istananya, lalu melihat Batsyeba, seorang perempuan cantik, sedang mandi. Lalu Daud menyuruh memanggilnya dan melakukan hubungan seksual dengannya, padahal Batsyeba saat itu sudah menikah dengan Uria, salah satu prajurit Daud sendiri.

Untuk menutupi perbuatannya, Raja Daud pun menyuruh Uria segera pulang ke rumahnya. Maksudnya adalah agar ia tidur dengan istrinya, Batsyeba, sehingga ketika Batsyeba hamil, orang tidak mencurigainya, karena ia bersama suaminya, sehingga Raja Daud tidak disalahkan.

Tetapi sebagai prajurit sejati, Uria tidak mau pulang, sebab ia merasa “tidak enak” berada di rumah sementara teman-temannya yang lain masih ada dalam pertempuran.

Ketika siasatnya ini gagal, Raja Daud pun merancangkan siasat yang lain, yang lebih licik. Raja Daud memerintahkan anak buahnya, pamglima perang, Yoab, untuk membunuh Uria dengan cara menempatkannya di bagian paling depan dalam pertempuran! Dan perintah itu pun dituruti sehingga Uria tewas dibunuh musuh. Setelah Uria mati, maka Raja Daud pun mengambil Batsyeba menjadi istrinya.

Kematian Uria atas perintah Raja Daud tidak diketahui oleh orang banyak, kecuali oleh Yoab, anak buahnya yang menerima perintah pembunuhan Uria dari Raja Daud. 

Tetapi tentu Tuhan mengetahui hal ini. Akibatnya Ia sangat murka dan menghukum Raja Daud dengan berbagai hukuman yang sangat berat. Melalui nabi Natan, Tuhan menegur keras Raja Daud dan menyampaikan hukumanNya.

Tuhan berkata bahwa pedang tidak akan berkesudahan dari keluarga Raja Daud, dan bahwa istri-istri Raja Daud akan diperkosa di hadapan umum. Selain itu, anak hasil hubungan Raja Daud dengan Batsyeba juga akan mati (2 Samuel 12:1-12).

Ketika Raja Daud mendengar teguran Tuhan, ia pun bertobat dan merendahkan diri di hadapanNya, setelah sebelumnya ia berkelit. Mazmur 51 adalah doa pertobatan Raja Daud. Kendati demikian, konsekuensi dosa Raja Daud, tetap ada. Hukuman Tuhan atasnya tetap terjadi, seperti yang dikatakan oleh nabi Natan (2 Samuel 12:13-14).

Memang setelah kasus pembunuhan Uria ini, pembunuhan banyak terjadi di dalam keluarga Raja Daud, seperti Absalom membunuh Amnon, saudaranya, dan Salomo membunuh Adonia, saudaranya. Istri-istri Raja Daud pun diperkosa oleh anaknya sendiri, Absalom, di hadapan bangsa Israel.

Kisah pembunuhan yang dilakukan oleh Raja Daud terhadap prajuritnya sendiri, Uria, punya banyak kesamaan dengan kisah pembunuhan yang dilakukan oleh Jenderal Ferdy Sambo terhadap ajudannya sendiri, Brigadir J. 

Antara lain adalah: 

  1. Ferdy Sambo dan Raja Daud sama-sama seorang pemimpin yang berkuasa dan punya pengaruh.
  2. Ferdy Sambo dan Raja Daud sama-sama membunuh bawahannya sendiri yang seharusnya dilindunginya.
  3. Ferdy Sambo dan Raja Daud sama-sama melakukan pembunuhan berencana.
  4. Ferdy Sambo dan Raja Daud sama-sama memakai tangan orang lain untuk menghabisi bawahannya.
  5. Ferdy Sambo dan Raja Daud sama-sama punya motif pembunuhan yang berkaitan dengan perempuan, sekalipun dalam konteks yang berbeda.
  6. Ferdy Sambo dan Raja Daud sama-sama berkelit sebelum akhirnya mengakui perbuatannya.
  7. Ferdy Sambo dan Raja Daud sama-sama mendapat hukuman berat atas perbuatannya.

Bagaimanapun, kasus pembunuhan seperti yang dilakukan Ferdy Sambo dan Raja Daud, serta kasus-kasus kejahatan lainnya, banyak terjadi di dunia ini, bahkan setiap hari.

Tetapi kita harus tahu bahwa cepat atau lambat, kasus-kasus seperti ini pada akhirnya akan terungkap serta akan mendapat hukuman yang setimpal. Jika tidak di dunia ini, nanti, di akhirat.

 

 

Haris J.O aktif menulis sejak 2010. Tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media di Indonesia, baik cetak maupun online, baik tulisan rohani maupun tulisan sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!