Jalan Terjal Raja Charles Memimpin Inggris

Pasca wafatnya Ratu Elizabeth pada 8 September 2022 silam, Pangeran Charles naik tahta menggantikan ibunya untuk memimpin Kerajaan Inggris yang maha luas.

Kerajaan Inggris (United Kingdom) terdiri dari Inggris Raya (Great Britain, yang mencakup tiga negara, yakni: Inggris, Skotlandia, Wales); dan Irlandia Utara.

Masih ada belasan negara lain di luar empat negara tersebut yang masih bagian dari Kerajaan Inggris, yang terbesar adalah Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Jadi Inggris adalah negara monarkhi/kerajaan modern terbesar di dunia, mencakup negara-negara di tiga benua: Eropa, Amerika, dan Australia, dengan total penduduk lebih dari 130 juta.

Itulah sebabnya sejak dulu Kerajaan Inggris disebut sebagai kerajaan di mana matahari tidak pernah terbenam. Sebab ketika matahari hampir terbenam di satu wilayah kerajaannya, matahari telah terbit di wilayah lain kerajaannya.

Bukan hanya itu, saat ini Inggris adalah salah satu negara paling berpengaruh di dunia, baik secara politik, militer, ekonomi, dan sosial-budaya.

Inilah kerajaan/negara yang sedang dipimpin oleh Pangeran Charles, lebih tepatnya, Raja Charles III, meskipun ibunya, Ratu Elizabeth II, belum dimakamkan.

Sayangnya, Raja Charles dikenal sebagai tokoh yang kontroversial, sehingga ia adalah figur yang kurang dihormati oleh rakyat Inggris, setidaknya tidak dihormati seperti ibunya, Ratu Elizabeth II.

Salah satu kontroversi Raja Charles adalah perselingkuhannya dengan istrinya yang sekarang, Camilla, sebelum resmi menjadi istrinya.

Saat itu Camilla masih punya suami, dan Charles juga punya istri, yakni Putri Diana. Hal ini kemudian menjadi penyebab perpisahannya dengan istrinya saat itu, Putri Diana.

Selain itu, ia juga beberapa kali menerima uang dari sejumlah pihak. Antara lain dari saudara tiri Osama bin Laden, dan dari Perdana Menteri Qatar, Sheikh Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani.

Raja Charles juga seorang yang rasis. Hal ini terungkap ketika ia bertanya ke istrinya, Camilla, tentang warna kulit cucunya kelak dari pernikahan anaknya, Pangeran Harry, dan menantunya, Meghan.

Meghan, menantu Raja Charles, diketahui memang masih ada keturunan Afrika.

Bahkan Raja Charles juga dituduh sering mencampuri urusan politik dengan membuat memo untuk sejumlah anggota kabinet Inggris sehingga ia, sebagai Pengeran, tidak bertindak netral.

Sifat Raja Charles yang kontroversial ini tak pelak membuat banyak warga Inggris menjadi khawatir.

Tentu hal ini cukup beralasan. Sebab sekarang Raja Charles bukan lagi seorang Pangeran yang hanya mengurusi satu bagian kecil dari Kerajaan Inggris, tetapi telah menjadi raja atas seluruh Kerajaan Inggris yang maha besar.

Apakah Raja Charles yang telah berusia 73 tahun tersebut mampu memimpin negara/kerajaan sebesar itu tanpa kontroversi? Atau bagaimanakah cara Pangeran Charles memimpin kerajaan yang maha luas tersebut?

Inilah yang harus dijawab oleh Raja Charles sebagai Raja Inggris, sehingga publik tidak ragu pada kepemimpinannya.

Tidak bisa dipungkiri, Raja Charles naik tahta dengan membawa beban. Ia punya tugas yang maha berat untuk membuktikan kepada warga Inggris bahwa ia mampu memimpin kerajaan tanpa kontroversi dan membuat negara tersebut menjadi negara yang tetap disegani seperti pada masa kepemimpinan ibunya, Elizabeth II.

Semoga Raja Charles dimampukan untuk mewujudkan hal ini, sehingga mendapat dukungan penuh dari seluruh warga Kerajaan Inggris, seperti yang nyata dalam lagu kebangsaan mereka, “God Save the king!”

 

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!