Jika terbukti diskriminatif, SMAN 2 Depok harus ditindak tegas

 

Beberapa hari belakangan ini, sedang banyak diperbincangkan tentang adanya diskriminasi terhadap murid-murid beragama Kristen di SMA Negeri 2 Depok, Jawa Barat.

Hal itu terjadi setelah viralnya sebuah foto di media sosial di mana para siswa Kristen harus memakai tangga atau lorong sekolah untuk kegiatan Rohani Kristen (RohKris), yakni saat teduh setiap pagi sebelum kegiatan sekolah dimulai.

Pengambil foto tersebut adalah guru Agama Kristen SMA Negeri 2 Depok, sekaligus Pembina Rohani Kristen di sekolah tersebut, Mayesti Sitorus. Lalu Mayesti mengirim foto tersebut di grup WA alumni SMA Negeri 2 Depok.

Kemudian foto itu beredar luas di media sosial dengan narasi adanya diskriminasi terhadap murid-murid beragama Kristen di SMA Negeri 2 Depok. Tetapi tidak jelas siapa yang pertama sekali mengunggahnya.

Dan hal ini mendapat banyak tanggapan dari netizen sehingga menjadi viral.

Mayesti Sitorus sendiri mengakui bahwa murid-murid Kristen di SMA Negeri 2 Depok tidak mendapat tempat yang layak untuk melakukan kegiatan kerohanian. Dan jika memakai ruangan MG (multiguna) akan memakan waktu karena jaraknya, padahal jam 07.00 WIB anak-anak sudah mulai belajar.

Namun kepala SMAN 2 Depok, Wawan Ridwan, membantah telah melakukan diskriminasi terhadap murid-murid Kristen di sekolahnya. Wawan mengatakan tidak ada praktik diskriminasi terhadap kelompok agama tertentu di SMAN 2 Depok.

Yang menarik adalah bahwa Pembina Rohani Kristen SMA Negeri 2 Depok, yang mengambil foto yang viral tersebut, Mayesti Sitorus, belakangan justru telah membuat surat pernyataan bahwa apa yang dikatakannya tidak benar.

Tetapi netizen tidak begitu saja percaya akan hal tersebut. Ada dugaan surat pernyataan tersebut dibuat karena tekanan pihak SMA Negeri 2 Depok setelah foto yang dianggap menunjukkan sikap diskriminatif tersebut viral di media sosial.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) sendiri, Nadiem Makarim, telah menyatakan keprihatinannya.

Menurut Nadiem, pendidikan harus diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif. Karena hal ini sesuai dengan undang-undang.

Bahkan Nadiem mengatakan bahwa kini Kemendikbudristek melalui Inspektorat Jenderal sedang melakukan investigasi terhadap SMA Negeri 2 Depok.

Demikian juga dengan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), melalui ketuanya, Pdt. Gomar Gultom, telah mengecam diskriminasi tersebut dan meminta pemerintah untuk menindaknya.

Karena itu, jika terbukti benar melakukan diskriminasi, maka kepala sekolah SMA Negeri 2 Depok harus ditindak tegas. Hal ini untuk membuat efek jera dan menjadi pelajaran bagi sekolah-sekolah negeri lainnya di seluruh Indonesia.

Tetapi sebelum itu, Mendikbudristek Nadiem Makarim harus memastikan terlebih dahulu bahwa pengusutan dugaan diskriminasi tersebut dilakukan secara benar. Tidak terjadi kongkalikong.

 

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!