Kamaruddin Simanjuntak, Pengacara yang Cerdas, Berani, dan Religius

Tidak bisa dipungkiri, Kamaruddin Simanjuntak adalah pengacara terpopuler di Indonesia saat ini. Hal ini terjadi karena Kamaruddin sedang menangani sebuah kasus yang sangat populer dan menjadi perhatian seluruh Indonesia: kasus penembakan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Melalui itu Kamaruddin menjadi primadona, sering diundang berbicara di televisi, di youtube, dan di berbagai media lainnya, serta ucapan-ucapannya sering dikutip dan menjadi rujukan bagi media atau orang-orang yang ingin tahu lebih jauh masalah kematian Brigadir Yosua.

Tetapi Kamaruddin menjadi populer bukan semata-mata karena kasus yang ditanganinya, tetapi juga karena cara yang dilakukannya dalam menangani kasus tersebut. Sebagai pengacara keluarga Brigadir Yosua, Kamaruddin terlihat begitu cerdas dan berani, sehingga statement-statementnya di media mendapat perhatian luas di masyarakat, bahkan turut andil – jika bukan pemicu utama – dalam mendorong kepolisian untuk mengambil langkah-langkah penting atas pengungkapan kasus penembakan Brigadir Yosua.

Tentu saja – saya yakin – bahwa dalam menangani kasus penembakan Brigadir Yosua, Kamaruddin tidak bertujuan supaya populer; popularitas bukanlah tujuan utama dia. Tetapi cara dia bekerja, cerdas, berani, dan lantang dalam bersuara – selain karena kasus yang ditanganinya adalah kasus yang populer – tak pelak lagi membuat namanya semakin melambung tinggi.

Saya agak terlambat mengetahui profil Kamaruddin Simanjuntak ini. Saya pernah membuat sebuah artikel tentang pengacara-pengacara Kristen terbaik di Indonesia, tetapi nama Kamaruddin Simanjuntak tidak termasuk di dalamnya. Bukan karena Kamaruddin tidak masuk kualifikasi, tetapi karena saat itu saya sama sekali belum pernah mendengar namanya, dan tidak punya data-data tentang dia.

Belakangan saya baru tahu bahwa Kamaruddin sebenarnya sudah cukup dikenal sebagai seorang pengacara handal, terbukti dari sejumlah kasus hukum yang pernah ditanganinya, seperti kasus Hambalang yang terkenal itu. Bahkan Kamaruddin juga pernah mendapat penghargaan dari salah satu majalah Kristen di Indonesia atas dedikasinya terhadap profesi pengacara.

Dengan mencuatnya kasus kematian Brigadir Yosua, yang ikut pula membuat nama Kamaruddin semakin populer, maka orang-orang semakin rajin mencari profilnya di dunia maya serta track recordnya sebagai pengacara. Saya pun demikian. Melalui acara televisi, youtube, berita-berita di media online dan media sosial, saya semakin banyak tahu tentang Kamaruddin serta sepak terjangnya dalam dunia kepengacaraan, khususnya dalam pengungkapan kasus kematian Brigadir Yosua.

Bagi saya, Kamaruddin adalah seorang pengacara yang cerdas, berani, dan berempati. Dia begitu cerdas dengan argumen-argumennya serta punya data-data penting yang tidak dimiliki orang lain. Dia juga berani menyerang institusi kepolisian yang baginya tidak profesional dalam mengungkap kasus kematian Brigadir Yosua
yang sedang ditanganinya.

Dan keputusan Kamaruddin untuk menjadi pengacara keluarga Brigadir Yosua, yang konon tanpa bayaran, membuktikan rasa empatinya yang dalam terhadap keluarga korban. Dia merasa terpanggil untuk menolong sesamanya. Apalagi Kamaruddin satu marga dengan ibunya Yosua, membuatnya semakin terpanggil dalam membantu, karena adanya “mudar na makkuling” (panggilan sebagai saudara sedarah).

Hal ini semua membuat publik semakin jatuh hati kepada Kamaruddin, serta mendukungnya untuk membongkar kasus kematian Brigadir Yosua, termasuk membuka kebobrokan di institusi kepolisian yang diyakini oleh Kamaruddin ada kaitannya dengan penembakan Brigadir Yosua.

Ada hal lain menurut saya yang menarik dari Kamaruddin. Dia orangnya terlihat religius. Setidaknya hal itu tercermin dari ucapan-ucapannya maupun tulisan-tulisannya yang muncul di media sosialnya. Kata-kata rohani, ayat-ayat Alkitab, maupun nyanyian rohani sering menghiasi media sosialnya.

Yang tidak kalah menariknya bagi saya dari tulisan-tulisan Kamaruddin adalah penyebutan Elohim bagi Tuhan. Jadi dia menghindari penyebutan kata “Allah” (bahasa Arab) dan menggantinya dengan kata “Elohim” (bahasa Ibrani).

Belakangan ini memang semakin banyak orang Kristen yang menolak memakai kata Allah dan menggantinya dengan kata Elohim. Alasannya adalah karena istilah Allah dianggap berasal dari nama dewa. Namun demikian, sebenarnya artinya sama saja, tergantung pada makna “sebutan” tersebut bagi kita.

Tetapi terlepas dari itu, kita sudah seharusnya angkat jempol bagi Kamaruddin atas keberaniannya dalam memperjuangkan pengungkapan kasus penembakan Brigadir Yosua. Kamaruddin telah menunjukkan kepada kita profesi pengacara yang sesungguhnya: cerdas, berani, berempati, bahkan religius.

Semoga Kamaruddin Simanjuntak mampu, bersama polisi, membongkar kasus penembakan Brigadir Yosua hingga tuntas, secara terang benderang.

 

Haris JO aktif menulis sejak 2010. Tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!