Ketika LGBT Gagal Menunjukkan Eksistensinya Di Piala Dunia

Piala Dunia tahun ini agak berbeda dari Piala Dunia sebelum-sebelumnya.

Piala Dunia 2022 yang diadakan di Qatar menimbulkan sejumlah kontroversi yang membuat suasana menjadi tidak enak.

Salah satunya adalah perihal LGBT.

Para pelaku dan pendukung LGBT berusaha menarik perhatian dunia di Qatar untuk menunjukkan eksistensi mereka.

Mereka berusaha membawa atribut-atribut LGBT berwarna khas pelangi, seperti bendera, pakaian, maupun aksesori.

Bahkan hal ini telah menyusup hingga ke sejumlah tim negara yang turut ambil bagian dalam Piala Dunia kali ini.

Beberapa kapten timnas negara Barat tadinya akan mengenakan ban kapten warna pelangi khas LGBT, One Love, di lengan mereka, alih-alih memakai ban kapten standard FIFA.

Tetapi hal ini dilarang keras oleh FIFA, bahkan akan memberi sanksi terhadap timnas yang nekat melanggar aturan tersebut.

Hal ini dilakukan oleh FIFA bukan karena mereka tidak suka dengan LGBT, tetapi semata-mata untuk menghormati tuan rumah Qatar yang memang sangat anti dengan LGBT.

Sama halnya dengan aturan pembatasan alkohol yang diterapkan oleh negara Qatar, juga dituruti oleh FIFA.

Tetapi ada juga yang ngeyel, salah satunya Jerman.

Sebelum bertanding melawan Jepang, dalam sesi foto resmi, kesebelasan tim panzer melakukan aksi tutup mulut dengan mengatupkan tangan kanan ke mulut masing-masing.

Tindakan yang kemudian menjadi viral itu jelas adalah bentuk “pemberontakan” timnas Jerman ke FIFA.

Bukan hanya itu, kapten kesebelasan Jerman, Manuel Neuer, memaksa memakai ban kapten berwarna pelangi khas LGBT, One Love,  dengan cara menyembunyikan ban kapten standard FIFA.

Bahkan juga pejabat Jerman, Nancy Faeser, yang ikut menyaksikan pertandingan Jerman versus Jepang, ikut memakai ban pelangi khas LGBT One Love, di lengan kirinya.

Perempuan yang menjabat Menteri Dalam Negeri Jerman itu bahkan duduk berdampingan dengan presiden FIFA, Gianni Infantino, seolah-olah berusaha mengejeknya dan melakukan provokasi.

Itulah cara Jerman dalam “membela” LGBT. Bagi mereka LGBT harus diberi hak yang sama seperti kaum “normal,” tidak didiskriminasi.

Menurut mereka membungkam LGBT berarti membungkam Hak Asasi Manusia (HAM).

Apa yang bisa kita simpulkan dari hal ini adalah bahwa LGBT di seluruh dunia hari-hari ini sedang berusaha menunjukkan eksistensi mereka.

Mereka berharap untuk diterima dunia sebagai orang-orang yang “normal.”

Tidak heran, mereka memanfaatkan even sebesar Piala Dunia, ke mana mata dunia sedang tertuju.

Tetapi usaha mereka gagal. Mereka tidak sadar bahwa tuan rumah Piala Dunia kali ini adalah Qatar, negara Muslim yang sangat mengharamkan LGBT.

FIFA sebagai badan penyelenggara Piala Dunia tentu memilih lebih manut kepada tuan rumah ketimbang kepada kelompok LGBT yang berusaha memanfaatkan momen Piala Dunia demi keuntungan mereka sendiri.

 

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!