Komnas HAM yang melempem

Pernyataan Komnas HAM baru-baru ini bahwa ada dugaan kuat terjadinya pelecehan seksual terhadap Putri Candrawati oleh Brigadir Yosua, mendapat sorotan tajam dari publik. Betapa tidak, Komnas HAM seperti menghidupkan kembali motif yang telah digugurkan oleh Polri.

Kabareskrim sendiri dengan tegas telah mengatakan bahwa tidak ditemukan bukti adanya pelecehan seksual yang dilakukan oleh Brigadir Yosua terhadap atasannya, Putri. Itulah sebabnya aduan Putri kepada polisi tentang pelecehan tersebut telah dihentikan penyidikannya lewat SP3 Polri atau Surat Perintah Penghentian Penyidikan. Sehingga menjadi tanda tanya kenapa Komnas HAM justru kembali “menghidupkan” kasus ini.

Sebelumnya Putri memang telah mengatakan bahwa ia dilecehkan di rumah dinas suaminya, Ferdy Sambo, di Duren Tiga, Jakarta. Tetapi kemudian penyidikannya telah dihentikan oleh Polri karena tidak cukup bukti. Tetapi kini Putri mengatakan bahwa pelecehan itu terjadi di rumahnya di Magelang. Dan inilah yang diyakini oleh Komnas HAM, meskipun bukti untuk itu tidak ada.

Ketua Komnas HAM Taufan Damanik mengatakan bahwa kasus pelecehan seksual berbeda dengan kasus kejahatan lainnya. Kasus pelecehan seksual tidak perlu ada bukti-bukti, cukup dengan keterangan korban dan saksi. Sebab menurutnya, bukti pelecehan sulit didapatkan karena biasanya terjadi di tempat yang tertutup.

Apa yang dikatakan ketua Komnas HAM ini memang benar adanya. Karena undang-undang berkata demikian. Tetapi yang dilupakan oleh ketua Komnas HAM ini adalah fakta bahwa Putri dan suaminya sudah terbukti berbohong dalam kasus kematian Brigadir Yosua.

Misalnya, Ferdy Sambo telah merekayasa kematian Brigadir Yosua seolah-olah terjadi karena tembak menembak. Padahal karena ditembak oleh Bharada Eliezer atas perintah Sambo. Juga kesaksian Putri di awal yang mengatakan bahwa ia mengalami pelecehan di Duren Tiga, ternyata terbukti tidak benar.

Karena itu sangat sulit untuk mempercayai kesaksian Putri yang kedua tentang pelecehan di Magelang tanpa didukung oleh bukti-bukti yang ada. Bahkan sekalipun ada kesaksian dari ajudan Sambo yang lain dan dari ART nya, bahwa mereka melihat Putri menangis dan mengaku dilecehkan, bukan melihat sendiri Putri dilecehkan, hal itu belum lah cukup sebagai bukti yang kuat.

Dari pernyataan Komnas HAM ini terlihat bahwa Komnas HAM lebih mirip jurubicara keluarga Sambo ketimbang sebuah lembaga negara yang mengawasi jalannya pengungkapan kasus kematian Brigadir Yosua. Padahal tujuan kehadiran Komnas HAM dalam kasus ini adalah untuk menjaga proses pengungkapannya agar berjalan dengan benar.

Tidak heran Komnas HAM mendapat kritik dari publik. Bahkan tidak sedikit netizen yang menuding bahwa Komnas HAM telah “bermain” dalam kasus ini.

Lagipula Komnas HAM seperti berusaha menggiring opini publik. Sebab pelecehan itu masih bersifat dugaan. Seharusnya Komnas HAM lebih fokus untuk mendorong Polri dalam menyelidiki motif para tersangka lewat bukti-bukti yang ada, bukan menerima begitu saja pengakuan Putri tentang pelecehan. Kalaupun mereka punya pandangan, mereka cukup menyampaikannya kepada pihak Polri.

Sebenarnya bukan hanya kali ini saja keberadaan Komnas HAM dalam kasus pembunuhan Brigadir Yosua disorot oleh publik. Sepertinya sangat kurang perhatian terhadap keluarga korban, Brigadir Yosua. Padahal keluarga Brigadir Yosua lah pihak yang paling dirugikan dalam kasus ini.

Hal ini terlihat misalnya dari tidak adanya protes dari pihak Komnas HAM ketika pengacara keluarga Brigadir Yosua diusir saat rekonstruksi pembunuhan Brigadir Yosua berlangsung. Memang, pengacara keluarga korban tidak harus ikut dalam suatu rekonstruksi kasus. Tetapi tidak salah juga jika pengacara keluarga Brigadir Yosua hadir dalam acara rekonstruksi tersebut.

Padahal pihak Polri sudah berulangkali mengatakan bahwa pengungkapan kasus ini akan dilakukan secara transparan. Bahkan hal itu juga disampaikan langsung oleh Kapolri.

Sejak awal, kehadiran Komnas HAM dalam kasus ini sangat diharapkan oleh publik. Publik berharap Komnas HAM bisa menjadi perpanjangan tangan keluarga Brigadir Yosua untuk menemukan keadilan. Tetapi ternyata jauh panggang dari api. Komnas HAM justru seperti berada di pihak tersangka. Wajar jika publik menjadi kecewa.

Semoga ke depan Komnas HAM masih bisa memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap kasus penembakan Brigadir Yosua ini, sehingga publik tidak semakin kecewa dan kehilangan kepercayaan terhadap Komnas HAM.

 

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!