Mudahnya para pemimpin Kristen di Sumut terbawa-bawa dalam politik

Beberapa hari lalu dalam kunjungannya ke Sumatera Utara, Anies Baswedan bertemu dengan sejumlah pemimpin Kristen/para pendeta yang mendukung pencapresan mantan gubernur DKI Jakarta tersebut.

Hal ini kemudian memantik kontroversi, serta mendapat sorotan tajam dari kalangan Kristen.

Betapa tidak. Anies Baswedan, yang umumnya bagi kalangan Kristen dicap memainkan politik identitas pada pilkada DKI Jakarta pada 2017 silam, justru dianggap sebagai seorang tokoh perekat Indonesia yang majemuk.

Apalagi para pemimpin Kristen/para pendeta di Sumatera Utara tersebut terindikasi mengatasnamakan umat Kristen, seolah-olah menjadi perpanjangan tangan umat Kristen, khususnya di Sumatera Utara.

Hal ini rupanya membuat gerah sejumlah organisasi Kristen di Sumatera Utara. Salah satunya adalah Dewan Pimpinan Wilayah Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI) Sumatera Utara.

Melalui ‘press release’ mereka, MUKI Sumut mengecam tindakan sejumlah pemimpin Kristen/para pendeta di Sumut yang terlibat dalam politik praktis, dukung mendukung terhadap orang tertentu.

Bahkan MUKI Sumut mengatakan bahwa Anies Baswedan bukanlah figur yang tepat untuk didukung, sebab justru tokoh yang memainkan politik identitas, yang merobek persatuan bangsa.

MUKI Sumut juga mengimbau agar umat Kristen tidak mudah terombang-ambing karena narasi politik pihak tertentu.

Apa yang dilakukan oleh MUKI Sumut tentu sudah tepat. Sebab memang para pemimpin Kristen/para pendeta sudah seharusnya bersifat netral dalam politik.

Para pemimpin Kristen/para pendeta sudah seharusnya tidak terlibat politik praktis, dukung mendukung terhadap parpol atau orang tertentu.

Tetapi apa yang dipertontonkan oleh para pemimpin Kristen/para pendeta di Sumut, yang secara terang-terangan mendukung Anies Baswedan, bukanlah sikap yang bijaksana.

Apalagi pemilu/pilpres masih lama. Sehingga sikap dukung-mendukung yang terlalu cepat, di luar masa kampanye, justru menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.

Para pemimpin Kristen/para pendeta di Sumut ini jelas tidak memberi keteladanan kepada jemaat Tuhan dalam hal sikap politik.

Sikap seperti ini justru akan membuat jemaat antipati, terlebih bagi mereka yang punya pandangan politik yang berbeda.

Dan cukup wajar jika umat Tuhan mempertanyakan motif dan tujuan para pemimpin Kristen/para pendeta di Sumut ini, yang sepertinya terlalu bernafsu dalam mendukung Anies Baswedan.

Apakah mereka mendapat keuntungan materi dari dukungan tersebut?

Jika tidak, lalu buat apa mereka terlalu bersemangat dalam memberi dukungan kepada Anies Baswedan?

Apa urgensinya mereka buru-buru memberi dukungan ke Anies Baswedan, di saat penyelenggaraan pilpres masih lebih satu tahun lagi?

Semoga para pemimpin Kristen/para pendeta lainnya di Sumut dan di seluruh Indonesia tetap menjaga netralitasnya dalam pilpres mendatang.

Kalaupun harus mendukung figur tertentu, hendaknya mendukung figur yang punya rekam jejak yang bagus, terutama dalam menjaga pluralitas bangsa.

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!