Mungkinkah kisah Istri Potifar dan Yusuf terulang pada Putri dan Brigadir Yosua?

Ada hal yang menjengkelkan bagi warganet dari Putri Candrawathi, yang bersama suaminya, Ferdy Sambo, dan beberapa ajudan mereka, telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir Yosua. Putri bersikukuh sebagai korban pelecehan seksual oleh almarhum Brigadir Yosua, meskipun penyelidikan terhadap dugaan pelecehan ini telah dihentikan oleh Polri.

Sejak awal terungkapnya kematian Brigadir Yosua di rumah dinas suami Putri, Ferdy Sambo, memang pelecehan seksual adalah motif yang didengungkan oleh Ferdy dan Putri. Putri memakai istilah pelecehan, sedangkan Ferdy memakai istilah “perbuatan yang melukai harkat dan martabat keluarga.” Tetapi artinya sama saja.

Ferdy dan Putri selalu konsisten dengan motif tersebut, sejak mereka belum ditetapkan sebagai tersangka, hingga sekarang, setelah ditetapkan sebagai tersangka. Bagi mereka, Brigadir Yosua telah melecehkan Putri secara seksual, atau telah melakukan perbuatan yang melukai harkat dan martabat keluarga mereka.

Hal yang berubah adalah tempat kejadian perkara atau TKP. Jika sebelumnya TKP berada di rumah dinas Ferdy di Duren Tiga, Jakarta Selatan, maka kini TKP nya berada di rumah pribadi keluarga Ferdy di Magelang, Jawa Tengah.

Hingga kini, memang penyidik Polri masih tetap mendalami dugaan pelecehan seksual ini sebagai satu dari dua kemungkinan motif pembunuhan Brigadir Yosua. Sebab Kapolri baru-baru ini mengatakan bahwa motif pembunuhan Brigadir Yosua hanya ada dua kemungkinan: pelecehan seksual atau perselingkuhan. Selain itu, kata Kapolri, tidak ada.

Meski demikian bukan berarti Polri telah menerima pelecehan sebagai motif utama pembunuhan Brigadir Yosua, hal itu baru terungkap secara jelas di pengadilan nanti. Tetapi yang jelas, hingga kini motif pelecehan itu masih “dipegang” Polri, belum “dibuang” sama sekali, meskipun motif ini telah dihentikan (SP3) sebelumnya karena minim bukti. Boleh jadi hal ini semakin membuat Putri bersikukuh dengan motif tersebut.

Di sisi lain, mayoritas warganet tidak percaya pelecehan sebagai motif utama pembunuhan Brigadir Yosua. Hal ini tercermin dari hasil survei Indikator yang dirilis baru-baru ini. Juga lewat komentar-komentar mereka di dunia maya, seperti di media sosial dan di berita-berita media online mainstream.

Bukannya tanpa alasan warganet meragukan motif pelecehan. Ferdy dan Putri sudah berbohong sebelumnya. Ferdy berbohong dengan menyebut Brigadir Yosua meninggal karena tembak-menembak, sebelum akhirnya mengakui perbuatannya sebagai perencana pembunuhan Brigadir Yosua. Sementara Putri berbohong dengan mengakui telah dilecehkan di rumah dinas Ferdy di Duren Tiga, Jakarta Selatan tetapi hal itu tidak terbukti sehingga penyidikannya dihentikan.

Sebaliknya, mayoritas warganet lebih percaya Putri melecehkan Brigadir Yosua dengan cara menggodanya. Bagi warganet, Brigadir Yosua tidak mungkin berani melecehkan istri atasannya. Tetapi sangat mungkin bagi Putri melecehkan Brigadir Yosua. Kita memang tidak tahu yang sebenarnya. Sebab, seperti yang dikatakan Kabareskrim, hanya Putri, Yosua, dan Tuhan yang tahu. Tetapi tetap ada kemungkinan hal itu yang terjadi: pelecehan terhadap Brigadir Yosua.

Mungkinkah karena itu Putri ngotot sebagai korban pelecehan seksual demi menjaga harga dirinya? Sebenarnya motif pembunuhan ini tidak terlalu berpengaruh pada vonis hakim di pengadilan. Putri dan 4 tersangka lainnya, termasuk suaminya, telah disangkakan dengan pasal pembunuhan berencana dengan hukuman minimal 20 tahun penjara. Tetapi motif pelecehan harus dipertahankan sekedar untuk menjaga harga diri dan martabat keluarga.

Jika ini yang terjadi maka ada kemiripan kasus ini dengan kisah Yusuf dan istri Potifar di Alkitab. Ini kisah yang sudah begitu familiar bagi orang Kristen, sehingga boleh dikatakan sebagian besar orang Kristen tahu kisah ini.

Alkisah, Yusuf dijual oleh saudara-saudara Yusuf sendiri ke Mesir karena cemburu. Yusuf mereka jual kepada seorang Ismael yang kemudian membawa Yusuf ke Mesir. Lalu Yusuf dijual kepada seorang pegawai istana Firaun yang bernama Potifar. Yusuf kemudian menjadi kepala rumah tangga Potifar dan orang kepercayaannya.

Yusuf adalah seorang pemuda yang tampan serta punya karakter yang baik. Karena itu istri Potifar sangat tertarik kepadanya, dan ia berkali-kali menggoda Yusuf agar mau berhubungan intim dengannya. Tetapi Yusuf tidak pernah mau menuruti ajakan istri Potifar itu, karena ia takut akan Tuhan dan sangat menghormati Potifar.

Suatu ketika, saat istri Potifar terus ngotot menggoda Yusuf, Yusuf melarikan diri dan meninggalkan bajunya yang ditarik oleh istri Potifar. Merasa kesal dengan penolakan Yusuf, maka istri Potifar pun memfitnah Yusuf dengan berkata bahwa Yusuf ingin memperkosanya, lalu ia berteriak sehingga Yusuf pergi melarikan diri serta meninggalkan pakaiannya.

Suaminya, Potifar, dan para pegawainya tentu saja lebih percaya kepada istri Potifar, sebab ia seorang istri pejabat dan majikan Yusuf, sedangkan Yusuf hanya pelayannya.

Maka Potifar menjadi sangat marah, lalu ia memasukkan Yusuf ke dalam penjara. Namun di penjara, atas penyertaan Tuhan, Yusuf menjadi orang kepercayaan kepala penjara Yusuf kemudian bahkan menjadi pemimpin tertinggi di Mesir di bawah kuasa Firaun.

Banyak warganet yang membandingkan kisah Yusuf di Alkitab ini dengan kisah Brigadir Yosua, sekalipun Brigadir Yosua belum tentu hidup sejujur Yusuf.

Mungkinkah kisah Yusuf dengan istri Potifar yang terulang pada kisah Brigadir Yosua dengan Putri? Hanya Putri dan Tuhan yang tahu.

 

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

 

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!