Pendeta Gilbert: antara popularitas dan kontroversi

Siapa yang tidak kenal dengan Pendeta Gilbert Lumoindong?

Rasanya hampir semua orang Kristen di Indonesia pernah mendengar namanya, atau sekedar melihat wajahnya di televisi, media cetak, dan media online.

Banyak juga yang pernah mendengar khotbah-khotbahnya atau mengikuti langsung ibadah yang dipimpinnya, di mana ia yang berkhotbah.

Pendeta Gilbert juga sudah dikenal luas oleh masyarakat umum, bukan hanya di kalangan orang Kristen.

Hal ini tak terlepas dari kepopuleran Pendeta Gilbert di dunia maya. Dengan perkembangan media digital yang sangat pesat saat ini, maka nama Pendeta Gilbert pun dengan cepat dapat dikenal.

Apalagi Pendeta Gilbert juga punya media sosial seperti youtube, facebook, dan instagram, dengan ratusan ribu pengikut.

Boleh dikatakan Pendeta Gilbert adalah pendeta atau rohaniwan Kristen paling populer di Indonesia saat ini.

Bahkan ia telah menjelma sebagai seorang selebriti rohani, yang segala tindak tanduknya dipantau orang banyak.

Tentu Pendeta Gilbert populer bukan hanya karena itu, tetapi karena pelayanannya juga telah menjadi berkat bagi banyak orang.

Tetapi menjadi populer punya konsekuensi atau resiko. Dia harus siap dikritik bahkan dihujat orang banyak (netizen) ketika ia dianggap melakukan kesalahan atau hal-hal yang tidak pantas, seperti pada umumnya dengan selebriti.

Itulah yang terjadi saat ini terhadap Pendeta Gilbert, tatkala ia membela Ferdy Sambo dan istrinya, pasangan suami istri yang menjadi tersangka pembunuhan Brigadir J.

Netizen meluapkan kekesalannya melalui kritik bahkan hujatan di media sosial.

Pendeta Gilbert sejatinya adalah pendeta yang kontroversial. Di balik kesuksesan pelayanannya, dia juga melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang pendeta, apalagi pendeta “besar” seperti dia.

Salah satu kontroversi Pendeta Gilbert adalah masuknya dia ke ranah politik ataupun ranah hukum yang bukan bidangnya.

Ranah hukum yang dimaksud adalah peristiwa yang terjadi terakhir ini seperti yang telah disinggung di atas, yakni pembelaannya terhadap Ferdy dan istrinya.

Pernyataannya yang membela Ferdy dan istrinya seharusnya tak perlu dilakukannya. Sebab Ferdy dan istrinya adalah para tersangka pembunuhan yang penetapannya dilakukan melalui suatu proses hukum yang benar dan berlandaskan fakta-fakta.

Sehingga Pendeta Gilbert tidak perlu lagi membuat opini-opini lain yang justru menyesatkan.

Kontroversi Pendeta Gilbert lainnya adalah ketika ia mendoakan gubernur Jakarta Anies Baswedan menjadi Presiden RI.

Hal yang sama sebenarnya pernah juga dilakukan Pendeta Gilbert menjelang pilpres 2014 lalu, di mana dia saat itu menjadi bagian dari pendeta-pendeta yang mendukung pasangan capres/cawapres Prabowo-Hatta.

Dalam suatu acara untuk mendukung Prabowo-Hatta, Pendeta Gilbert memimpin doa agar pasangan Prabowo-Hatta memenangi pilpres 2014 dan menjadi presiden RI.

Dengan melakukan hal-hal ini, Pendeta Gilbert telah masuk ke ranah politik sehingga ia tidak lagi netral.

Padahal sebagai seorang pendeta atau gembala jemaat, Pendeta Gilbert seharusnya netral dalam politik, agar tidak menimbulkan konflik dengan jemaatnya yang tidak punya pandangan politik yang sama dengannya.

Yang agak aneh adalah bahwa Pendeta Gilbert justru mendukung pihak-pihak yang sebenarnya merupakan kelompok atau oknum yang secara ideologi, kebijakan, atau program, punya nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai kristiani.

Misalnya Gubernur Anies, yang dianggap melakukan politik identitas dalam pilkada Jakarta pada 2017 yang lalu, sehingga ia dapat memenangi pilgub dan mengalahkan Ahok yang dikenal lebih nasionalis.

Demikian juga dengan pasangan Prabowo-Hatta, yang saat itu didukung oleh sebagian parpol dan ormas yang memperjuangkan niai-nilai yang tidak sesuai aspirasi Kristen, seperti penerapan hukum syariah.

Kalaupun Pendeta Gilbert tidak netral, tetapi jika dia mendukung kelompok atau oknum yang punya ideologi dan kebijakan yang sesuai dengan aspirasi Kristen, mungkin masih bisa dimaklumi.

Tetapi jika dia sudah tidak netral, dan yang didukung pun yang tidak sesuai dengan aspirasi Kristen, maka ini sangat aneh.

Semoga Pendeta Gilbert segera sadar akan tindakannya yang keliru sehingga wibawanya sebagai hamba Tuhan yang selama ini dihormati dan dikagumi tidak tercoreng dan nama Tuhan tidak dipermalukan.

 

 

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!