Putri Yang Diperlakukan Bak Seorang Putri

Hingga hari ini Putri Candrawati, salah satu tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir Yosua, belum juga ditahan. Padahal ia telah ditetapkan sebagai tersangka sejak dua minggu yang lalu. Pasal yang disangkakan kepadanya juga tidak main-main: pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman minimal 20 tahun penjara.

Pihak kepolisian mengatakan bahwa Putri tidak ditahan karena tiga alasan: kesehatan yang belum stabil, alasan kemanusiaan (mungkin karena suaminya sudah ditahan), dan karena memiliki bayi yang harus dirawat, selain juga jaminan dari pengacara Putri bahwa Putri akan kooperatif dan tidak akan melarikan diri.

Tetapi alasan seperti ini tidak bisa diterima oleh publik, yang terutama tercermin dari komentar-komentar mereka di media sosial. Sebab Putri terlihat sehat dan baik-baik saja saat ikut rekonstruksi kasus. Alasan kemanusiaan juga tidak bisa diterima, dikarenakan perbuatan Putri yang tidak mengindahkan kemanusiaan sama sekali ketika turut membunuh Brigadir Yosua.

Sedangkan untuk alasan punya bayi, warganet beralasan bahwa ada banyak contoh di Indonesia di mana seorang perempuan tetap ditahan meski memiliki bayi/anak kecil, bahkan sedang hamil. Sebut saja Vanessa Angel (almarhum), Sheila Marcia, dan Angelina Sondakh.

Seperti kita tahu, alasan penahanan seorang terdakwa biasanya ada tiga: agar terdakwa tidak melarikan diri, tidak menghilangkan barang bukti, dan tidak mengulangi lagi perbuatannya. Dalam konteks Putri, ini semua penting, terutama agar Putri tidak menghilangkan barang bukti.

Putri memang terasa berbeda dibanding para tersangka lainnya dalam kasus pembunuhan Brigadir Yosua. Bukan hanya karena ia tidak ditahan, tetapi juga penampilannya dalam acara rekonstruksi kasus pembunuhan tersebut beberapa hari yang lalu.

Tidak seperti para tersangka lainnya, ketika melakukan rekonstruksi, Putri tidak mengenakan baju tahanan atau “berseragam” khas terdakwa, baju warna oranye (karena ia tidak ditahan?). Tangannya juga tidak diikat, sekalipun ada tulisan nama dan statusnya sebagai tersangka yang dikalungkan di lehernya.

Putri memilih memakai pakaian serba putih dan sepatu putih. Tak ketinggalan tas bermerek seharga – menurut media – 17 juta-an. Rupanya sekalipun telah ditetapkan menjadi tersangka, Putri tidak melupakan pentingnya mode.

Putri betul-betul berbeda dari para terdakwa umumnya; bukan hanya berbeda dari para terdakwa dalam kasus pembunuhan Brigadir Yosua, tetapi juga berbeda dari para terdakwa dalam kasus-kasus lainnya. Putri begitu istimewa dibanding para terdakwa, seperti gaya hidupnya yang istimewa dibanding kebanyakan orang Indonesia.

Seperti namanya, Putri benar-benar diperlakukan bak seorang Putri dalam sebuah kerajaan. Dan ini melukai rasa keadilan masyarakat, khususnya keluarga Brigadir Yosua.

Tetapi, jauh sebelum ini Putri juga telah terlihat seperti diperlakukan secara istimewa.

Lembaga-lembaga negara semacam Komnas Perempuan dan LPSK dibuat tidak berkutik. Kedua lembaga negara tersebut bolak-balik ke rumah Putri untuk memeriksanya. Putri tidak mendatangi Komnas Perempuan dan LPSK, tetapi Komnas Perempuan dan LPSK lah yang mendatangi Putri dengan alasan bahwa ia masih tergoncang!

Keterangan Putri juga berubah-ubah. Awalnya ia berkata bahwa Brigadir Yosua telah melecehkannya di rumah dinas suaminya di Duren Tiga, Jakarta. Belakangan ia mengaku bahwa pelecehan itu terjadinya di rumahnya di Magelang.

Herannya, sekalipun tidak cukup bukti akan aduan ini, dan Polri telah menghentikan penyelidikannya, kini Polri dan Komnas Ham justru kembali menerima aduan tersebut sebagai motif bagi pembunuhan Brigadir Yosua!

Luar biasa Putri ini.

Mengapa Putri seperti begitu istimewa di mata Polri? Sukar bagi publik untuk tidak mengaitkan hal ini dengan status Putri. Ya, karena ia adalah istri seorang jenderal. Sekalipun jenderal itu sendiri sudah dipecat dan ditahan dalam kasus yang sama dengan Putri. Ataukah – seperti dugaan banyak netizen – karena Putri telah “memberi sesuatu” kepada Polri?

Sulit dibayangkan bahwa Putri akan diperlakukan istimewa seandainya dia bukan seorang istri pejabat, apalagi pejabat Polri!

Entah berapa lama Putri seperti diperlakukan secara istimewa. Publik jadi bertanya-tanya. Apakah nanti Putri benar-benar dihukum sesuai dakwaan, pembunuhan berencana? Apakah dia akan berpakaian “modis” selama mengikuti sidang di pengadilan? Apakah ia akan punya ruangan khusus di dalam penjara?

Menarik untuk terus mengikuti kasus pembunuhan Brigadir Yosua ini sehingga pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa terjawab semua.

 

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!