Raja Charles III: Raja Inggris dan Raja Gereja Inggris

Ketika Pangeran Charles naik tahta menggantikan ibunya untuk memimpin Kerajaan Inggris pada 8 September 2022 silam, dia bukan hanya menjadi pemimpin politik atau pemimpin sipil Inggris, tetapi juga menjadi pemimpin spiritual mereka, yakni pemimpin tertinggi gereja Inggris.

Gereja Inggris (Church of England), adalah “gereja negara” di Inggris dan Wales, yang memisahkan diri dari Gereja Katolik, pasca reformasi gereja di Inggris pada abad 16.

Gereja Inggris adalah gereja beraliran Anglikan dengan jumlah penganut sekitar 26 juta jiwa, yang mencakup separoh dari penduduk Inggris.

Aliran Anglikan sendiri tersebar di seluruh dunia, dengan jumlah anggota jemaat mencapai 85 juta jiwa (data dari “adherents” tahun 2011).

Gereja Inggris berpusat di Westminster, dengan pemimpinnya Uskup Agung Canterbury, yang juga menjadi pemimpin seluruh Gereja Anglikan di dunia.

Tetapi Gereja Inggris sebenarnya dipimpin oleh raja atau ratu Inggris. Jabatan tersebut melekat pada raja/ratu Inggris yang sedang memerintah, siapa pun dia, dan bagaimana pun dia.

Sekalipun kepemimpinan raja/ratu Inggris atas Gereja Inggris umumnya hanya sebatas seremonial, atau sebagai simbol, namun dalam hal tertentu peran raja/ratu Inggris atas Gereja Inggris cukup berpengaruh.

Hal ini sesuai dengan tradisi Gereja Inggris, dan yang tercantum dalam AD/ART mereka, yakni “39 Articles,” atau “Thirty-Nine Articles.”

Misalnya, raja/ratu Inggris berperan mengangkat para pemimpin dari Gereja Inggris melalui saran dari Perdana Menteri Inggris, yang juga mendapat saran dari para pemimpin Gereja Inggris.

Karena saat ini raja Inggris adalah Raja Charles III, maka tentu dia lah yang menjadi kepala gereja Inggris. Raja Charles III juga berwenang untuk mengangkat para pemimpin penting dari Gereja Inggris, melalui saran dari Perdana Menteri Inggris.

Sekalipun Raja Charles III dikenal sebagai tokoh yang kontroversial dan kurang dihormati oleh sebagian rakyat Inggris, namun hal itu tidak bisa menafikan sosok Raja Charles III di tubuh Gereja Inggris.

Suka tidak suka, mau tidak mau, Gereja Inggris harus menerima fakta bahwa Raja Charles III adalah pemimpin tertinggi mereka. Sebab dia adalah raja Inggris yang sah, yang kepadanya melekat jabatan sebagai penguasa tertinggi Gereja Inggris.

Inilah konsekuensi dari sistem kepemimpinan Gereja Inggris, yang menempatkan Gereja di bawah pemimpin politik/pemimpin sipil. Atau yang menempatkan Gereja di bawah Negara.

Sebab pada dasarnya Gereja adalah bersifat rohani, bukan bersifat politik. Jika sebuah kerajaan atau sebuah negara mempunyai kriteria yang tinggi untuk pemimpinnya, terlebih lagi Gereja!

Tetapi itulah Gereja Inggris dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan tidak ada sistem kepemimpinan gereja yang sempurna.

Boleh jadi sistem kepemimpinan gereja seperti ini justru membuat gereja tidak semena-mena, sebab ada kontrol dari luar Gereja.

Sementara dari pihak kerajaan, hal ini juga bisa berdampak positif. Fakta bahwa raja/ratu Inggris adalah kepala Gereja atau pemimpin tertinggi Gereja Inggris, akan membuat mereka hidup lebih hati-hati dan bertindak secara bijak.

Tentu itulah harapan para pemimpin Gereja Inggris, bahkan harapan seluruh warga jemaat Gereja Inggris. Mereka pasti ingin agar Raja Charles III sadar bahwa jabatannya sebagai raja Inggris juga sekaligus membuatnya sebagai “raja” atas gereja Tuhan.

Karena itu Raja Charles III didorong untuk hidup lebih hati-hati dan bertindak dengan bijak, tidak lagi melakukan hal-hal yang kontroversial seperti ketika ia masih menjadi seorang pangeran dalam Kerajaan Inggris.

Apakah Raja Charles III mampu mewujudkan hal ini? Tentu hanya waktu yang dapat menjawabnya.

 

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!