Spiritualitas Ratu Elizabeth II


Ratu Elizabeth II baru saja dimakamkan setelah meninggal 11 hari sebelumnya. Ratu Inggris yang memerintah selama 70 tahun itu meninggal pada usia yang sangat tua, 96 tahun.

Sebagai seorang pemimpin tertinggi Kerajaan Inggris, Ratu Elizabeth II juga merangkap sebagai pemimpin tertinggi dari Gereja Inggris (Church of England), yakni “gereja negara” di Kerajaan Inggris, dengan gelar Pembela Iman.

Memang siapa pun yang menjadi raja/ratu Inggris, dia akan otomatis menyandang jabatan dan gelar tersebut. Hal itu secara historis dimulai dari Raja Henry VIII yang memulai pemisahan Gereja Inggris dari Gereja Katolik yang berpusat di Roma.

Tetapi Ratu Elizabeth II tidak hanya memimpin Gereja Inggris secara formalitas. Dia memainkan peran penting di dalamnya, seperti mengangkat para uskup atas saran Perdana Menteri, serta memberi pidato resmi lima tahunan dalam Sinode Umum gereja tersebut usai memilih para uskup baru.

Ratu Elizabeth II adalah seorang pemimpin dunia yang sangat populer. Bukan saja karena masa kepemimpinannya yang sangat lama, penguasa terlama dalam sejarah Inggris, tetapi juga karena sifatnya yang patut untuk diteladani.

Salah satu sifat Ratu Elizabeth II yang patut diteladani adalah spiritualitasnya. Sebagai seorang penganut agama Kristen (Anglikan), Ratu Elizabeth II termasuk seorang yang saleh atau taat beragama.

Ratu Elizabeth II adalah seorang pengikut Kristus sejati, di mana iman kekristenannya mendasari seluruh aspek hidupnya, termasuk dalam memerintah kerajaan Inggris.

Dalam artikel berjudul Church of England pays tribute to Queen Elizabeth’s witness and legacy of faith, yang terbit di situs vaticannews.ca, Francesca Sabatinelli & Linda Bordoni menulis bahwa ketika Ratu Elizabeth II dimahkotai pada tahun 1952, dia bersumpah untuk mengabdikan hidupnya untuk melayani Tuhan dan masyarakat.

Kemudian Francesca Sabatinelli & Linda Bordoni mengutip pernyataan Uskup Agung Anglikan, Justin Welby, tentang Ratu Elizabeth II. “Sebagai murid Kristen yang setia, dan juga Gubernur Tertinggi Gereja Inggris, dia menghidupi imannya setiap hari dalam hidupnya, kepercayaan kepada Tuhan dan cinta yang mendalam kepadaNya adalah dasar dalam bagaimana dia menjalani hidupnya – jam demi jam, hari demi hari.”

Masih dalam artikel yang sama, Francesca Sabatinelli & Linda Bordoni juga mencatat komentar Jules Cave Bergquist, pendeta Gereja Anglikan di Italia tentang Ratu Elizabeth II, “Dia pergi ke gereja setiap hari Minggu dan di kesempatan lain. Dia memiliki Kapel Kerajaan di semua istananya, dia memiliki seluruh kelompok pendeta – tidak hanya untuk mengambil layanan – tetapi juga untuk memberikan nasihat spiritualnya. Dan setiap kali dia harus memberikan pidato, di televisi atau di radio kepada orang-orangnya, baik di Natal atau di saat-saat krisis lainnya, dia selalu berbicara tentang imannya sendiri.”

Sementara dalam artikelnya yang terbit di christianitytoday.com, Died: Queen Elizabeth II, British Monarch Who Put Her Trust in God
In her seven-decade reign, Dudley Delffs menulis tentang pernyataan Ratu Elizabeth II pada tahun 2000, “Bagi saya ajaran Kristus dan pertanggungjawaban pribadi saya di hadapan Tuhan memberikan kerangka untuk mengarahkan hidup saya. Saya, seperti banyak dari kalian, telah mendapatkan penghiburan besar di masa-masa sulit dari perkataan dan teladan Kristus.”

Dudley Delffs juga mencatat pernyataan Ratu Elizabeth II pada Natal tahun 2002, tahun kematian saudara perempuannya, Putri Margaret, dan Ibunya. “Saya menyadari betapa saya mengandalkan iman untuk membimbing diri saya melewati saat-saat yang baik maupun buruk. Setiap hari adalah awal yang baru. Saya tahu bahwa satu-satunya cara untuk menjalani hidup adalah dengan mencoba melakukan apa yang benar, memandang jauh ke depan, memberikan yang terbaik dalam segala hal yang saya alami hari ini, dan menaruh kepercayaan saya kepada Tuhan.”

Sementara dalam pidato di tahun 2016, Dudley Delffs mengutip perkataan ratu yang paling lama memerintah di dunia, “Milyaran orang sekarang mengikuti ajaran Kristus dan di dalam Dia mereka menemukan cahaya penuntun bagi kehidupan mereka. Saya salah satu dari mereka karena teladan Kristus membantu saya melihat nilai dalam melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.”

Dudley Delffs, yang juga penulis The Faith of Queen Elizabeth, menyimpulkan tentang spiritualitas Ratu Elizabeth II, “Yang Mulia Ratu mempercayakan iman pribadinya kepada Tuhan dan mempercayai Kristus sebagai sauhnya di tengah banyaknya badai yang ia alami, baik menyangkut publik maupun pribadi. Sampai pada akhirnya, ia memenuhi sumpah sakral penobatannya kepada Tuhan, hidup dengan setia dan melayani mereka yang dipercayakan kepadanya.”

Ratu Elizabeth II bukan hanya ratu Inggris, ia benar-benar sebagai Pembela Iman Kristen, seperti gelarnya dalam Gereja Inggris. Tetapi bukan hanya bagi Gereja Inggris atau gereja beraliran Anglikan, tetapi juga bagi semua gereja Kristen.

Dan yang terpenting lagi adalah bahwa ia benar-benar menjadi seorang teladan dalam iman Kristen, menjadi teladan dalam mempraktekkan ajaran Kristus, Guru dan Tuhannya.

 

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!