Tentang Gereja Inggris, Gerejanya Raja Charles III

Gereja Inggris (Church of England) adalah gerejanya Ratu Elizabeth II dan putranya, Raja Charles III. Dan tentu gereja seluruh anggota Kerajaan Inggris.

Gereja Inggris adalah “Gereja Negara” di Inggris dan Wales, dan anggotanya mencakup separoh dari penduduk Inggris.

Gereja Inggris adalah gereja yang unik. Dia merupakan perpaduan gereja Katolik dengan Gereja Protestan. Itulah ciri semua gereja yang beraliran Anglikan, seperti halnya Gereja Inggris.

Gereja-gereja beraliran Anglikan dibangun berdasarkan praktek, liturgi, dan identitas Gereja Inggris (Church of England), pascareformasi Inggris.

Istilah “anglikan” berasal dari kata “anglo” (bandingkan dengan istilah anglo-saxson), yang menunjuk pada negara Inggris Raya.

Gereja Anglikan sedunia berpusat di Canterbury, London, dengan pemimpin tertingginya Uskup Agung Canterbury.

Aliran Gereja Anglikan tersebar di seluruh dunia, dan jumlah anggota jemaatnya adalah 85 juta jiwa (berdasarkan data dari “adherents” tahun 2011).

Di Amerika Serikat dan Kanada, gereja ini lebih dikenal dengan istilah gereja episkopal, yang merujuk pada bentuk organisasi gereja tersebut, yakni episkopal atau dipimpin oleh para uskup/bishop, dan mempunyai kepemimpinan tersendiri.

Gereja Inggris memisahkan diri dari Gereja Katolik dan berpusat di Westminster, dan secara seremonial dikepalai oleh raja/ratu Inggris, yang saat ini adalah Raja Charles III.

Uniknya, Gereja Inggris berpisah dari gereja Katolik bukan karena adanya perbedaan dalam hal doktrin, liturgi, organisasi gereja, budaya, ataupun politik, seperti halnya berpisahnya aliran-aliran gereja lainnya.

Gereja Inggris berpisah dari gereja Katolik adalah karena alasan pribadi!

Raja Inggris masa itu, Henry VIII, berniat untuk membatalkan pernikahannya dengan Catherine of Aragon (dengan alasan tidak mempunyai anak) pada tahun 1534.

Tetapi raja Henry VIII tidak mendapat restu dari Paus di Roma, sebagai pemimpin tertinggi atas Gereja Katolik sedunia, termasuk di Inggris.

Karena itu, raja Henry VIII memisahkan Gereja Katolik di Inggris dari Gereja Katolik yang berpusat di Roma. Dengan demikian gereja Inggris menolak supremasi Paus atas gereja Inggris.

Gereja Inggris kemudian dibawa ke arah reformasi, mengikuti ajaran Martin Luther dan John Calvin, namun sistem organisasi gereja tetap mengikuti gereja Katolik (episkopal) dengan pusatnya di London.

Tetapi dalam perjalanannya, terjadi pergolakan dalam Gereja Inggris, gereja terbelah dua (bahkan sampai memakan banyak korban jiwa).

Sebagian menginginkan Gereja Inggris direformasi mengikuti ajaran para reformator Protestan (dikenal dengan istilah “low church”), sebagian lagi menginginkan Gereja Inggris kembali ke Gereja Katolik (dikenal dengan istilah “high church”).

Pada awalnya, pada masa pemerintahan Raja Edward VI, pihak “low Church” mendapat angin, gereja ditata ke arah protestanisme. Tetapi pada masa Ratu Mary I dan Raja Philip, Gereja Inggris dibawa kembali ke Gereja Katolik.

Hingga kemudian pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I, diambil kesepakatan dan jalan tengah, bahwa Gereja Inggris adalah Katolik sekaligus Protestan (reformasi).

Inilah yang dikenal dengan istilah “via media” atau “jalan tengah”.

Jadi pada dasarnya Gereja Inggris, juga gereja-gereja beraliran Anglikan, bukanlah Katolik, tetapi juga bukan Protestan, melainkan berada di antara dua aliran gereja tersebut.

Bukan saja karena ajarannya/liturginya/tata gerejanya dalam hal tertentu merupakan perpaduan antara Katolik dan Protestan, namun karena di dalam gereja itu sendiri terdapat dua aliran, yakni aliran yang lebih mirip Katolik dan aliran yang lebih mirip Protestan (khususnya Calvinist).

Ciri khas Gereja Inggris, yang mengikat seluruh aliran Anglikan di seluruh dunia adalah “39 Artikel” (the Thirty-nine Articles) sebagai semacam pengakuan iman, dan “Buku doa umum” (the Book of Common Prayer) sebagai bahan liturgi/tata ibadah.

Itulah gerejanya raja Inggris yang baru dilantik, Raja Charles III, dan juga gereja seluruh anggota kerajaan.

Dan sebagai raja Inggris, Raja Charles III juga bertindak sebagai pemimpin seremonial Gereja Inggris, dengan gelar “Gubernur Tertinggi Gereja Inggris” (Supreme Governor of the Church of England) dan “Pembela Iman” (Defender of the Faith).

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!