Wisuda Brigadir Yosua Di UT Dan Pengalaman Saya Belajar Di Kampus Tersebut

Hari ini Brigadir Yosua sedianya akan diwisuda sebagai Sarjana Hukum di Universitas Terbuka, Tangerang Selatan, Banten. Namun takdir berkata lain. Brigadir Yosua sudah terlebih dahulu menghadap Sang Pencipta, sehingga mimpinya untuk diwisuda sebagai peraih gelar Sarjana Hukum harus dibawanya ke liang kubur.

Sebagai gantinya, ayah Brigadir Yosua, Samuel Hutabarat, “diwisuda” mewakili anaknya. Samuel Hutabarat datang jauh-jauh dari kampung halamannya di Jambi untuk mengikuti prosesi wisuda anaknya, yang juga dihadiri ribuan wisudawan lainnya dari seluruh Indonesia. 

Samuel Hutabarat menerima ijazah Brigadir Yosua sebagai Sarjana Hukum, suatu ilmu yang sedianya sangat membantu Brigadir Yosua di dalam kariernya sebagai penegak hukum. Brigadir Yosua lulus dengan nilai IP 3,28. Sebuah pencapaian yang luar biasa di tengah kesibukannya sebagai anggota Polri dan ajudan yang harus siap sedia setiap saat. 

Ayah Brigadir Yosua, Samuel Hutabarat, pasti sangat sedih mengikuti acara wisuda ini. Sebab anaknya tidak bisa ikut diwisuda untuk “merayakan” ketekunan dan keberhasilannya dalam menuntut ilmu selama bertahun-tahun. Tetapi Samuel Hutabarat juga pasti bangga dengan pencapaian anaknya yang berhasil menjadi seorang sarjana. Bahkan setelah matinya pun Brigadir Yosua masih bisa membuat orang tuanya bangga. 

Brigadir Yosua menempuh pendidikan hukumnya di Universitas Terbuka (UT), salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia, serta merupakan perguruan tinggi terbesar di Indonesia dengan jumlah mahasiswa yang terdaftar 346.584 orang, baik Diploma, Sarjana (S1), dan Magister (S2), menurut data UT tahun 2022.

Tetapi tidak seperti perguruan tinggi lainnya di Indonesia, UT umumnya melakukan pembelajaran jarak jauh, sekalipun ada juga beberapa kelas tatap muka secara sukarela (tidak wajib). Karena itulah UT dapat menampung mahasiswa sebanyak 300 ribuan orang, karena tidak perlu masuk kelas semua.

UT mempunyai semacam “kantor cabang” di setiap provinsi, dulu umumnya berada di dalam kampus salah satu PTN di setiap provinsi. Namanya adalah Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ). Tetapi acara wisuda mahasiswa hanya diadakan di UT pusat, di Tangerang Selatan, Banten. Jadi semua wisudawan dari seluruh provinsi di Indonesia harus hadir di Jakarta.

Itulah sebabnya, Brigadir Yosua, yang diwakili oleh ayahnya, diwisuda di UT pusat, di Tangerang Selatan, Banten. Padahal Brigadir Yosua terdaftar di UPBJJ Jambi, kampung halamannya. Saya baca di berita bahwa ibu Brigadir Yosua juga alumni UT, dan adiknya, yang juga seorang polisi, masih menempuh studi di UT.

UT memiliki mutu yang bagus, sebab telah terakreditasi di BAN PT. Dan para penulis modul pembelajaran, yang menjadi bahan pelajaran para mahasiswa, adalah dosen-dosen dari berbagai PTN di Indonesia. Sehingga mutunya boleh dikatakan setara PTN. Tidak heran jika banyak tokoh terkenal di Indonesia yang mengambil kuliah di UT. Sebut saja Wiranto, Moeldoko, Djoko Suyanto, dan Bambang Susatyo. Hal ini tidak mengherankan. Sebab dengan sistem belajar jarak jauh, tokoh-tokoh ini bisa mengatur waktu belajar secara bebas, sehingga tidak mengganggu pekerjaan mereka.

Berbicara tentang UT, saya jadi ingat waktu saya pernah menempuh pendidikan di PTN yang satu ini. Waktu itu saya mengambil jurusan Administrasi Negara, yang di dalam perguruan tinggi lain disebut Ilmu Politik. Saya sejak lama memang sudah tertarik dengan dunia politik. 

Saya dulu kuliah di UT karena ada seorang teman perempuan yang punya calon suami sedang kuliah di kampus ini. Orang tersebut (mohon maaf saya lupa namanya) mengajak saya kuliah di UT setelah kami sering ngobrol-ngobrol tentang politik. Saya sangat senang berbicara dengan dia, dan mengagumi wawasan dia tentang dunia politik. 

Jadi setelah dia mengetahui keinginan saya untuk masuk universitas, dia pun mengajak saya ke UT dan memberitahu saya bahwa perkuliahan di kampus itu tidak mengganggu pekerjaan saya sebagai seorang karyawan, biayanya pun tidak akan menguras kantong. Waktu itu saya baru saja lulus SLTA dan belum lama bekerja. 

Singkat cerita, dengan senang hati saya menyanggupi ajakannya untuk kuliah di UT. Setelah mempersiapkan berkas-berkas dan sejumlah uang untuk pendaftaran, biaya kuliah, dan beli modul, kami pun berangkat menuju kantor perwakilan atau UPBJJ UT Jakarta yang saat itu berada di kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Rawamangun, Jakarta Timur, yang dulu bernama IKIP Jakarta. Setelah saya resmi sebagai mahasiswa UT, saya pun belajar dengan antusias, dengan membaca modul-modul yang ada.

Tetapi sayang, perkuliahan saya di UT tidak berlanjut. Saya hanya bertahan selama dua semester. Setelah ujian akhir semester 2 dan memasuki semester 3, saya berhenti. Bukan karena saya tidak tertarik lagi belajar di UT melainkan karena saya sudah tidak ada uang. Sebab waktu itu sedang terjadi krisis moneter di Indonesia sehingga banyak perusahaan yang melakukan PHK, termasuk perusahaan tempat saya bekerja. Saya pun di-PHK.

Saya kadang masih berpikir untuk melanjutkan perkuliahan yang sempat tertunda di UT. Tetapi kemudian timbul pertanyaan: apakah itu masih perlu dilanjutkan atau tidak, mengingat butuh waktu dan biaya. Lagipula situasinya sudah berbeda. Sekarang saya sudah punya ilmu dan gelar di bidang lain. Sementara andai pun perkuliahan itu dilanjut dan berhasil mendapat gelar di bidang ilmu politik, belum tentu ilmu dan ijazah tersebut bermanfaat untuk mendapat pekerjaan. Sekalipun akan ada kepuasan tersendiri jika studi yang terbengkalai itu pada akhirnya berhasil diselesaikan hingga tuntas. 

Akhir kata, saya mengucapkan selamat kepada ayah almarhum Brigadir Yosua, yang hari ini hadir untuk mewakili anaknya menjalani wisuda Sarjana Hukum di UT, Banten. Juga kepada ibu Brigadir Yosua, dan seluruh keluarga besar mereka. Wisuda ini membuktikan bahwa Brigadir Yosua adalah seorang anak yang cerdas dan tekun, dan yang bisa membanggakan orang tua dan saudara-saudaranya, bahkan setelah ia telah tiada.

Semoga lewat wisuda Brigadir Yosua hari ini, kasus kematiannya dapat terungkap secara terang benderang, dan keadilan benar-benar ditegakkan untuk memberi rasa adil bagi keluarga Brigadir Yosua, serta memberi efek jera kepada para pelaku-pelaku kejahatan lainnya. 

 

Haris JO adalah seorang penulis yang tulisan-tulisannya telah banyak dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun media online, baik media Kristen maupun media sekuler.

 

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!